Hal pertama yang Gisel sadari saat keluar dari pintu pesawat di Bandara Incheon adalah dingin.

 

Bukan dingin yang biasa. Bukan dingin AC mall yang dia kira sudah jadi standar dingin yang dia kuasai. Ini dingin jenis lain — dingin yang menusuk. Dingin yang masuk ke pori-pori dan tinggal di sana. Dingin yang membuat Gisel langsung mempererat jaketnya, jaket yang dia pikir sudah terlalu tebal untuk dipakai keluar dari rumah, ternyata di sini seperti memakai handuk basah.

 

"Astaga," gumamnya. "Korea... kamu serius?"

 

Korea, tentu saja, tidak menjawab. Tapi udara menjawab. Dengan tiupan dingin lagi yang mendarat di pipi Gisel.

 

Dia berjalan mengikuti rombongan penumpang menuju imigrasi. Antri. Jadi panik karena dia tidak tahu kalau form imigrasinya harus diisi di pesawat — dia pikir bisa diisi di counter. Petugas imigrasi memberinya form dan pulpen dengan ekspresi yang sangat datar tapi entah kenapa Gisel rasa ada nada "saya sudah lihat ratusan turis Indonesia hari ini, satu lagi gak masalah".

 

Gisel mengisi form sambil bibir bergetar — bukan karena nervous, tapi karena dingin. Saat akhirnya selesai dan dia diberi cap di paspornya, dia membungkuk berkali-kali sambil mengucapkan "kamsahamnida" sampai petugas itu tersenyum tipis dan berkata, "Welcome to Korea."

 

Bahasa Inggris. Petugasnya pakai bahasa Inggris.

 

Gisel sempat tertawa kecil dalam hati. Sudah dia hapal 50 frasa Korea, ternyata cukup pakai "thank you" doang.

 

Mengambil koper memerlukan waktu lebih lama dari yang Gisel duga. Conveyor belt-nya panjang dan ramai, dan koper Gisel yang berwarna pink fanta — yang menurut Lina "warnanya kayak permen karet anak SD" — ternyata cukup mudah dikenali.

 

Yang sulit adalah mengangkatnya. Karena beratnya sudah ekstra dan lengan Gisel sudah pegal duduk di pesawat enam jam.

 

Setelah dua percobaan dan satu erangan kecil, Gisel berhasil menarik kopernya ke trolley. Yang satu lagi lebih ringan, jadi tidak sesulit. Dia lega.

 

Sekarang. Bagian yang menentukan.

 

Gisel mengeluarkan HP-nya. Membuka email konfirmasi dari Yonsei University. Di sana tertulis:

 

> "Mahasiswa pertukaran akan dijemput oleh mentor mereka di > area Arrival Hall, Pintu Keluar 14. Mentor akan memegang > papan dengan nama mahasiswa yang dijemput. Estimasi waktu > tunggu: 30 menit."

 

Gisel mengangguk pada dirinya sendiri. Dia mendorong trolley-nya. Berjalan mengikuti tanda "Arrival Hall". Berjalan, berjalan, berjalan — bandara Incheon ternyata besar sekali, lebih besar dari Soekarno-Hatta, dan trolley-nya terus terasa lebih berat dari kekuatannya.

 

"Kenapa orang Korea efisien banget bandaranya gede banget kayak gini," gumam Gisel pelan. "Niat ya, niat banget bikin turis cape jalan."

 

Setelah sepuluh menit berjalan, dia akhirnya sampai ke Arrival Hall. Cari Pintu 14.

 

Pintu 1. Pintu 2. Pintu 3. Pintu 4...

 

Dia berjalan terus. Pintu 12. Pintu 13.

 

Pintu 14 — di sana. Dengan kerumunan orang yang menunggu. Beberapa pegang papan kertas dengan nama, beberapa pegang balon, beberapa cuma berdiri sambil sesekali mengintip ke arah yang tepat baru muncul.

 

Gisel memindai mereka. Mata-matanya mencari. Mencari... papan yang bertulisan "GISEL AULIA".

 

Tidak ada.

 

Dia memindai lagi. Lebih teliti. Mungkin tulisannya kurang besar. Mungkin papan kecil yang—

 

Tidak ada.

 

Tidak ada papan dengan namanya.

 

"Oke," kata Gisel pada dirinya sendiri. "Tenang. Mungkin mentor-nya telat."

 

Dia melihat ke ATM yang ada di dekat situ. Mungkin sebaiknya dia tarik uang Won dulu sambil menunggu. Dia mendorong trolley-nya ke ATM itu. Memasukkan kartu debitnya. Memilih bahasa Inggris (untungnya ada).

 

Layar menampilkan: "Transaction declined. Please contact your bank."

 

"Hah?" Gisel menatap layar itu. "Loh. Kenapa nih?"

 

Dia coba lagi. Sama. Coba menarik jumlah yang lebih kecil. Sama. Coba lagi dengan kartu yang berbeda. Sama. Sama. Sama.

 

"Astaga," desisnya. "Ya Tuhan. Tolong."

 

Dia sudah mau menelepon Mama — meskipun saat itu di Indonesia sudah tengah malam — tapi dia ingat kalau dia sudah aktivasi roaming. Hp-nya menampilkan: "no service".

 

"Apa," Gisel bicara keras-keras pada hp-nya. "Tadi di pesawat kamu masih sehat. Kenapa sekarang—"

 

Dia menatap pengaturan hp-nya. Aha. Mode pesawat masih menyala dari tadi pesawat take-off. Belum dimatikan.

 

Setelah dimatikan, ada signal. Tapi tetap tidak ada koneksi internet karena dia harus memilih provider Korea dulu, dan dia tidak tahu cara memilihnya, dan ya — Gisel, untuk pertama kalinya hari itu, mulai panik betulan.

 

Dia berdiri di tengah Arrival Hall. Trolley di sampingnya. Hp tidak ada koneksi. ATM tidak bisa dipakai. Mentor tidak muncul. Bahasa Korea-nya hanya sebatas "anyong" dan "kamsahamnida" yang sudah dia pakai semua.

 

Dan dia dingin. Sangat dingin.

 

"Oke," gumamnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Oke, Sel. Tenang. Tarik napas."

 

Dia menarik napas. Dingin lagi. Hidungnya hampir beku.

 

"Plan B. Plan B apa, ya. Subway. Aku bisa naik subway. Aku udah hapal jalurnya. Aku bisa ke Yonsei sendiri."

 

Dia mendorong trolley-nya menuju area subway. Tapi tanda "Subway" yang dia ikuti ternyata membawanya ke jalan keluar yang berbeda. Dia berjalan kembali. Coba ikuti tanda yang berbeda. Ternyata itu jalan ke parkiran. Dia kembali lagi.

 

Setelah lima belas menit muter-muter — yang membuat tangannya mulai kram karena trolley itu berat — Gisel akhirnya sampai di pintu masuk subway.

 

Tapi ada masalah baru: dia harus beli kartu transportasi T-Money. Mesinnya semua dalam bahasa Korea dengan opsi bahasa Inggris yang tampaknya error. Dan uangnya — Gisel hanya punya beberapa lembar Won yang dia tukar di Indonesia. Dia tidak tahu apakah itu cukup.

 

Dia berdiri di depan mesin itu selama lima menit. Mencoba memencet ini dan itu. Hampir frustrasi.

 

Lalu seseorang menepuk bahunya.

 

"Gisel-ssi?"

 

Gisel berbalik dengan refleks.

 

Suara itu — cara dia mengucapkan namanya — sudah cukup untuk membuat Gisel sadar bahwa ini bukan orang asing yang random.

 

Yang berdiri di hadapannya adalah seorang laki-laki muda. Tinggi — Gisel hanya sampai bahunya. Rambut hitam yang disisir rapi tapi tidak terlalu rapi sehingga masih terasa casual. Jaket cokelat yang potongannya bagus. Wajah yang... oke, Gisel akan jujur — wajah yang akan membuatnya sub ke akun TikTok orang ini kalau dia ketemu di FYP.

 

Mata laki-laki itu — hitam, dengan ekspresi yang ramah tapi tidak terlalu ramah, seperti orang yang sopan tapi tidak ingin terlihat over.

 

"Anda Gisel Aulia dari Indonesia?"

 

Bahasa Indonesia. Dia ngomong bahasa Indonesia.

 

Tapi untuk dua detik pertama, otak Gisel belum proses itu. Karena dia masih sibuk menyiapkan respons bahasa Korea yang sudah dia hapal dari aplikasi.

 

"Ne," kata Gisel cepat. "Anyong-haseyo. Je ireumeun Gisel ibnida. Saya berasal—"

 

Dia berhenti. Karena dia akhirnya ingat kata "Indonesia" yang tadi dia lupa.

 

"In... Inguk," lanjutnya — yang sebenarnya artinya "Inggris" bukan "Indonesia" — "Ah, bukan. Maksud saya — Indonesia. Indonesia jeong-mal jeong... hwagi... uh..."

 

Laki-laki itu tertawa. Tidak keras. Tertawa kecil saja, tertawa yang berasal dari sudut bibirnya yang sedikit terangkat. Dan Gisel sadar — dia tertawa karena Gisel.

 

Tunggu sebentar.

 

Tunggu, tunggu, tunggu.

 

"Kamu... kamu ngomong bahasa Indonesia?"

 

"Ya," kata laki-laki itu, masih dengan senyum kecil. "Saya mentor pertukaran Anda. Nama saya Hansol Jeong. Senang bertemu denganmu, Gisel-ssi."

 

Gisel menatapnya. Diam. Otaknya error. Sungguh-sungguh error. Seperti komputer yang baru saja ditampar oleh paket update yang tidak compatible.

 

Pertama, dia sudah hapal 50 frasa bahasa Korea yang barusan dia mulai pakai dan sekarang ternyata tidak perlu.

 

Kedua, mentor pertukarannya... ngomong bahasa Indonesia. Lancar. Dengan logat yang sangat tipis — hampir tidak ada.

 

Ketiga, mentor pertukarannya... ganteng. Ganteng dalam arti yang sangat khusus, jenis ganteng yang Gisel dulu sebut "ganteng museum" — yaitu ganteng yang terasa seperti karya seni yang harusnya dipajang dan tidak boleh disentuh.

 

Keempat — dan ini yang paling membingungkan otak Gisel — dia sedang menatap orang ini terlalu lama tanpa mengatakan apa-apa, dan suasana mulai jadi awkward.

 

"Gisel-ssi," panggil Hansol pelan. "Kamu... oke?"

 

"Oh!" Gisel tersentak. "Iya. Iya. Saya oke. Saya—" Dia melirik mesin T-Money. Melirik trolley-nya. Melirik kembali ke Hansol. "Saya... pikir mentor saya nggak datang."

 

"Saya datang. Saya cuma... sedikit telat. Maaf. Macet di jalan."

 

"Tidak apa-apa."

 

Mereka berdiri. Hening. Hansol terus menatap Gisel dengan ekspresi yang setengah ramah setengah... apa ya. Geli? Mungkin. Dan Gisel tidak tahu harus bilang apa lagi karena SEMUA respons yang sudah dia hapal adalah dalam bahasa Korea.

 

Akhirnya Hansol yang memecah keheningan.

 

"Apakah saya sedang membuatmu bingung?"

 

"Iya," jawab Gisel jujur. "Sangat bingung."

 

Hansol benar-benar tertawa kali ini. Tawa yang lebih lepas. Dan Gisel, meskipun masih bingung, ikut tersenyum.

 

"Saya... saya pikir mentor saya akan ngomong Korea."

 

"Saya bisa Korea. Saya orang Korea, Gisel-ssi."

 

"Tapi kamu ngomong Indonesia."

 

"Iya."

 

"Kenapa?"

 

Hansol diam sebentar. Lalu menjawab dengan hati-hati, "Itu... cerita panjang. Mungkin nanti."

 

"Oke." Gisel mengangguk.

 

"Boleh saya bawa koper Anda?"

 

"Tidak usah, saya bisa—"

 

"Berat sekali, kelihatannya." Hansol sudah meraih trolley itu sebelum Gisel sempat selesai protes. Dia mengangkat salah satu koper dengan satu tangan — koper yang Gisel tarik dengan susah payah dengan dua tangan.

 

"Anda punya," kata Hansol sambil mendorong trolley, "berapa banyak baju di sini?"

 

"Itu bukan baju."

 

"Bukan?"

 

"Itu skincare."

 

Hansol berhenti berjalan. Menatap kopernya. Lalu menatap Gisel.

 

"...skincare?"

 

"Iya."

 

"Berapa banyak skincare?"

 

"Lengkap. Sepuluh step routine."

 

"Untuk enam bulan?"

 

"Cadangan, Hansol-ssi. Cadangan."

 

Hansol diam. Kemudian dia menggeleng pelan. Dan untuk pertama kalinya, Gisel mendengar Hansol mengucapkan sesuatu yang akan terus dia ucapkan selama enam bulan ke depan dan, sebenarnya, selama bertahun-tahun setelah itu juga:

 

"Astaga, ya ampun."

 

Bahasa Indonesia. Lengkap dengan intonasi yang sangat lokal.

 

Gisel menatap Hansol. Hansol menatap Gisel. Lalu Hansol — seolah baru sadar dia tadi mengatakan apa — sedikit tersenyum seperti orang yang ketahuan rahasia.

 

"Sori," kata Hansol. "Itu... refleks."

 

Gisel tidak bisa menjawab. Karena di otaknya yang masih error sejak sepuluh menit terakhir, sekarang ada satu kesimpulan baru yang sedang dia coba proses:

 

Mentor pertukarannya — Hansol Jeong, orang Korea, ganteng, tinggi — barusan mengucapkan "astaga ya ampun" seperti mas-mas Indonesia yang lagi protes harga bensin naik.

 

Mereka berjalan menuju mobil Hansol di parkiran. Gisel terus memerhatikan Hansol dari samping — tidak lama-lama, hanya curi-curi pandang. Cara dia berjalan. Cara dia mengangguk pada satpam. Cara dia mengeluarkan kunci mobil dari saku jaketnya.

 

Semua itu terasa... biasa. Seperti orang-orang yang Gisel lihat di bandara hari ini. Hanya saja, orang ini, bisa bahasa Indonesia.

 

"Hansol-ssi," kata Gisel, akhirnya. "Saya boleh tanya?"

 

"Boleh."

 

"Kamu... pernah tinggal di Indonesia?"

 

Hansol berhenti sebentar. Menengok ke Gisel. Lalu kembali membuka pintu mobil dengan tenang.

 

"Cerita panjang, Gisel-ssi," katanya lagi. "Mungkin nanti."

 

Mereka memasukkan koper ke bagasi. Hansol membuka pintu penumpang untuk Gisel — bukan dengan dramatis, hanya seperti kebiasaan. Gisel masuk. Hansol berjalan ke pintu pengemudi.

 

Mobil dinyalakan. AC dihidupkan. Akhirnya, Gisel merasa hangat.

 

Hansol melirik Gisel. "Kamu lapar?"

 

"Sedikit."

 

"Mau makan dulu sebelum ke asrama? Saya tahu tempat yang enak. Tidak jauh."

 

"Boleh."

 

"Kamu suka makanan apa?"

 

"Apa aja."

 

"Pedas?"

 

"Boleh."

 

"Banyak nasi?"

 

"Banyak banget."

 

Hansol tersenyum sedikit. Tidak menatap Gisel — dia menatap kaca depan, tangan di stir. Tapi senyum itu ada.

 

"Saya kira begitu," katanya pelan.

 

Mobil itu meluncur keluar dari parkiran Bandara Incheon. Di luar, langit Korea sudah agak gelap karena ini sudah sore. Lampu-lampu jalan mulai menyala. Ada salju tipis di tepi jalan — sisa hujan salju kemarin.

 

Gisel menatap ke luar jendela. Ke kota yang sudah lama dia mimpikan tapi sekarang terasa sangat asing dan sangat real secara bersamaan.

 

Dan di sebelahnya, mengemudi dengan tenang, ada seorang laki-laki yang dia baru temui sepuluh menit yang lalu, yang sudah mengaduk-aduk semua ekspektasi yang dia bawa dari Indonesia.

 

"Hansol-ssi," panggil Gisel pelan.

 

"Ya?"

 

"Selamat datang di hari pertama saya yang super aneh."

 

Hansol melirik Gisel. Lalu — untuk pertama kalinya — dia benar-benar tersenyum lebar. Senyum yang membuat sudut matanya berkerut. Senyum yang akan Gisel ingat malam itu saat dia mencoba tidur di kasur asramanya yang baru.

 

"Selamat datang di Korea, Gisel-ssi."