Pukul 7.30 pagi, Gisel sudah bangun, mandi, dan berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, menatap pantulan dirinya seolah dia sedang mempertimbangkan apakah dia siap menghadapi hari ini.

 

"Anyong-haseyo," katanya pada cermin, mengulang frasa yang sudah dia hapal. "Je ireumeun Gisel ibnida."

 

Cermin tidak menjawab.

 

"Hari kedua," kata Gisel ke cermin lagi. "Hari kedua, jangan malu-maluin diri lagi ya, Sel."

 

Dia menatap baju-baju yang sudah dia siapkan tadi malam — tiga opsi, semua sudah dia pertimbangkan sambil setengah mengantuk. Pilihan A: rok plus blouse — terlalu rapi untuk orientasi kampus. Pilihan B: celana jeans plus sweater abu — biasa, aman. Pilihan C: dress kasual yang dia beli khusus untuk pertukaran ini — mungkin terlalu effort.

 

Dia memilih opsi B. Aman. Karena dia sudah mengaku ke Lina tadi malam — sambil chat sebelum tidur — bahwa dia sedikit gugup menghadapi Hansol hari ini. Dan Lina yang mengetahui Gisel sangat baik berkata, "Sel, ya udah pilih yang biasa aja. Kalau kamu effort terus, dia tahu kamu nervous. Pilih biasa — biar dia yang nervous."

 

Logika Lina selalu aneh. Tapi entah kenapa selalu masuk akal.

 

Gisel mengenakan jeans dan sweater. Mengikat rambutnya yang panjang — gerai biasa terlalu effort, kuncir kuda lebih santai. Dia menatap dirinya di cermin lagi.

 

"Oke, Sel. You can do this."

 

Dia mengambil tasnya. Menatap koper-kopernya yang masih berantakan dari semalam — dia tertidur sebelum sempat bongkar. Nanti saja, pikirnya. Setelah orientasi.

 

Pukul 7.55, dia turun ke lobi asrama.

 

Hansol sudah di sana.

 

Sudah duduk di sofa di lobi. Dengan jaket yang berbeda dari kemarin — kali ini hitam, lebih formal. Membaca sesuatu di HP-nya. Saat Gisel keluar dari lift, Hansol mendongak. Berdiri.

 

"Pagi."

 

"Pagi. Kamu... datang lebih awal?"

 

"Kebiasaan."

 

"Saya kira saya yang lebih awal."

 

"Tidak sebagus itu, sayangnya."

 

Gisel tertawa kecil. Itu yang sudah dia perhatikan dari kemarin: humor Hansol kering, datar, dan kadang tiba-tiba muncul di tengah kalimat biasa.

 

"Sudah sarapan?" tanya Hansol.

 

"Belum."

 

"Saya bawakan."

 

Gisel menatap. Hansol menyerahkan sebuah paper bag. Di dalamnya: gimbap (mirip seperti sushi tapi lebih sederhana) dan satu kotak susu pisang berwarna kuning.

 

"Ini... untuk saya?"

 

"Iya. Mahasiswa pertukaran biasanya tidak tahu ke mana harus sarapan di hari pertama. Saya beli di convenience store dekat sini."

 

"Kamu beli untuk saya?"

 

"Iya. Itu yang saya bilang."

 

Gisel menatap gimbap dan susu pisang itu. Lalu menatap Hansol. Lalu menatap gimbap lagi. Lalu — entah kenapa — matanya tiba-tiba berair.

 

Bukan karena dramatis. Tapi karena dia mengingat tadi malam saat tidur, dia berpikir hari ini dia akan bangun dan tidak ada siapa-siapa yang menanyakan apakah dia sudah sarapan. Hari pertama tinggal sendirian. Dan sekarang, di hari kedua, ada orang yang membawakannya sarapan tanpa diminta.

 

Astaga, Sel. Kamu nangis karena gimbap. Tarik diri.

 

"Kamu kenapa?" tanya Hansol, tampaknya menyadari.

 

"Tidak apa-apa."

 

"Anda... menangis?"

 

"Tidak. Mata saya cuma — debu. Banyak debu di Korea."

 

"Tidak ada debu di lobi ini."

 

"Hansol, please."

 

Dia tertawa. Bukan keras. Hanya tertawa kecil seperti orang yang baru saja menemukan hal yang lucu yang tidak akan diceritakan ke orang lain.

 

"Ya udah," katanya. "Tidak ada debu. Tapi gimbap-nya tetap dimakan."

 

"Iya."

 

Mereka naik subway ke kampus utama Yonsei. Gisel makan gimbap-nya di subway, sambil sambil curi-curi pandang ke penumpang lain — yang semua sibuk dengan HP masing-masing atau memakai earphone. Tidak seperti di Jakarta yang setiap naik MRT pasti ada yang ngobrol keras-keras atau nelepon sambil ketawa-ketawa.

 

"Korea sepi banget," gumam Gisel.

 

"Sepi?"

 

"Iya. Subway-nya sepi. Bukan dari segi orang — banyak orang. Tapi dari segi suara. Semua orang diam."

 

"Iya. Itu kebiasaan di sini. Tidak boleh ngobrol keras di transportasi umum."

 

"Tidak boleh?"

 

"Bukan tidak boleh secara hukum. Tapi tidak sopan."

 

"Astaga."

 

"Kenapa?"

 

"Saya kalau ngobrol di MRT Jakarta, biasa keras-keras. Tetangga saya kemarin di Jakarta pasti dengar percakapan saya sama Lina dari ujung gerbong."

 

"Kalau di sini, Anda akan diliatin orang dengan tatapan yang membuat Anda malu sendiri."

 

"Halah. Saya kuat malu."

 

"Itu klaim yang berani untuk seseorang yang menangis karena gimbap setengah jam yang lalu."

 

Gisel menatap Hansol. Hansol pura-pura sibuk dengan HP-nya. Tapi ada senyum di sudut bibirnya yang dia coba sembunyikan.

 

"Hansol," kata Gisel, dengan suara yang sebenarnya berusaha tegas. "Itu nge-roast ya."

 

"Apa itu nge-roast?"

 

"...Kamu ngerti maksudnya."

 

"Saya tidak ngerti. Saya orang Korea. Banyak istilah Indonesia yang saya tidak tahu."

 

"Hansol."

 

"Iya?"

 

"Kamu ngerti."

 

Hansol akhirnya menatap Gisel langsung. Senyum tipis. "Iya, saya ngerti. Saya cuma bercanda."

 

"Kamu bercanda banyak."

 

"Itu juga yang saya tidak sadari sampai kemarin. Mungkin karena saya jarang ngobrol pakai bahasa Indonesia. Sekarang seperti — terlalu bersemangat."

 

"Terlalu bersemangat?"

 

"Iya. Maaf."

 

"Bukan minta maaf. Saya cuma — kaget. Saya kira mahasiswa S2 di Korea itu serius semua. Diam. Misterius."

 

"Saya serius. Saya cuma — pegang bahasa Indonesia dengan cara saya sendiri."

 

"Caranya sendiri?"

 

"Iya. Cara saya sendiri."

 

Gisel menatap Hansol. Lalu menatap susu pisangnya. "Kamu aneh."

 

"Banyak orang bilang begitu."

 

Tur kampus dimulai jam 9. Mereka naik ke atas bukit di kampus Yonsei — kampus yang ternyata jauh lebih besar dari yang Gisel bayangkan. Dengan gedung-gedung tua bergaya arsitektur klasik yang membuat Gisel sudah mengeluarkan HP- nya untuk foto-foto.

 

"Gisel."

 

"Iya?"

 

"Foto-foto bisa nanti. Sekarang saya kasih informasi penting dulu."

 

"Oh." Gisel menyimpan HP-nya kembali. "Oke. Maaf."

 

"Itu gedung utama. Di sebelahnya gedung perpustakaan. Anda nanti akan sering ke sana karena kebanyakan kelas pertukaran mahasiswa diadakan di gedung sebelah ini—"

 

Hansol menjelaskan setiap gedung dengan detail yang profesional. Gisel berusaha mendengarkan, mengangguk-ngangguk seperti murid baik. Tapi dia juga curi-curi pandang ke Hansol saat Hansol menjelaskan — cara dia menunjuk dengan jari, cara dia berbicara dengan tempo yang teratur, cara matanya fokus saat memberi informasi.

 

"...dan di sini ada kafetaria utama. Buka dari jam tujuh sampai jam sembilan malam. Murah. Saya rekomendasikan menu nasi dengan kimchi dan bulgogi. Itu juga yang biasanya saya pesan kalau saya tidak punya waktu masak sendiri."

 

"Kamu masak sendiri?"

 

"Iya."

 

"Apa yang kamu masak?"

 

Hansol menatap Gisel. "Kenapa?"

 

"Saya cuma penasaran."

 

"Saya masak hal-hal sederhana. Ramyeon. Bibimbap. Kalau sedang malas, hanya nasi dengan telur. Kalau sedang sangat malas..."

 

Dia berhenti.

 

"Sangat malas... apa?"

 

"Sangat malas — saya tidak masak. Saya pesan."

 

Gisel tertawa. "Kamu nge-prank saya? Itu jeda dramatisnya untuk sangat-malas-saya-tidak-masak?"

 

"Itu bukan prank. Itu cerita yang biasa."

 

"Hansol."

 

"Iya?"

 

"Kamu... ada hal yang aneh."

 

"Aneh apa?"

 

Gisel berhenti berjalan. Menatap Hansol. Hansol berhenti juga.

 

"Kamu," kata Gisel, mencoba memilih kata-katanya hati-hati. "Kamu kayak... mas-mas."

 

"Mas-mas?"

 

"Iya. Kayak mas-mas."

 

"Mas-mas... yang seperti apa?"

 

"Yang Indonesia banget. Yang ngomong 'astaga' setiap dua menit. Yang ngegoda dengan deadpan-deadpan. Yang—"

 

"Yang seperti tetangga Anda di Jakarta?"

 

"...Hansol."

 

"Iya?"

 

"Itu komplain?"

 

Gisel menatap dia. Dia menatap Gisel balik.

 

"Bukan komplain," kata Gisel akhirnya. "Tapi — beda dari yang saya ekspektasi."

 

"Yang Anda ekspektasi seperti apa?"

 

Gisel diam. Karena kalau dia jujur, dia akan bilang: yang saya ekspektasi adalah oppa Korea yang ngomong Korea. Yang matanya dingin. Yang misterius. Yang dingin tapi diam-diam hangat. Yang kalau bicara bahasa Indonesia, dengan logat yang sangat Korea — kayak "saya... cintaaaa... pada-mu". Yang kayak itu.

 

Bukan yang ngomong "astaga ya ampun" sambil ngeroast saya.

 

Tapi dia tidak bisa bilang itu. Karena terdengar bodoh. Dan juga terdengar... entah kenapa, tidak tepat. Karena Hansol bukan oppa drama Korea. Dia hanya... Hansol.

 

"Saya... saya tidak tahu yang saya ekspektasi," kata Gisel akhirnya.

 

"Oke."

 

Mereka mulai berjalan lagi.

 

Tapi di tengah jalan, Hansol berkata pelan, tidak menatap Gisel:

 

"Saya tahu. Anda mengharapkan oppa drama Korea."

 

Gisel terdiam.

 

"Maaf saya bukan itu," lanjut Hansol. "Saya tahu mahasiswa pertukaran Indonesia banyak yang fans K-Drama. Anda mungkin juga."

 

"Hansol—"

 

"Tidak apa-apa. Saya cuma... menyebutkan. Bukan berarti saya tersinggung."

 

Gisel menelan ludahnya. Dia berhenti berjalan lagi.

 

"Hansol."

 

"Iya?"

 

"Maaf."

 

"Untuk apa?"

 

"Untuk... mengharapkan kamu jadi sesuatu yang kamu bukan."

 

Hansol menatap Gisel. Lama. Lebih lama dari kemarin di bandara.

 

"Anda tidak harus minta maaf untuk itu," katanya akhirnya. "Itu hal yang biasa. Banyak yang berharap Korea seperti drama. Anda akan berubah pikiran sendiri setelah tinggal di sini beberapa minggu."

 

"Tapi saya tetap minta maaf."

 

"Oke. Diterima."

 

"Dan satu hal lagi—"

 

"Iya?"

 

Gisel mengambil napas. "Kamu — kamu, mas-mas Indonesia ini — kamu sebenarnya... lebih asyik daripada oppa drama yang saya bayangkan."

 

Hansol terdiam.

 

Diam yang panjang.

 

Lalu dia menoleh. Menatap Gisel langsung di matanya.

 

Dan untuk dua detik penuh — dua detik yang Gisel akan ingat nanti malam saat mencoba tidur — Hansol tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatap. Dengan ekspresi yang Gisel tidak bisa baca. Bukan datar. Bukan ramah. Sesuatu yang ada di antaranya.

 

Lalu dia berkata, sangat pelan:

 

"Itu... pujian yang aneh, Gisel."

 

"Kamu tidak suka?"

 

"Saya — tidak tahu."

 

"Tidak tahu maksudnya gimana?"

 

"Tidak tahu maksudnya — saya jarang dipuji."

 

"Saya kasihan ke kamu."

 

"Anda kasihan?"

 

"Iya. Saya kasihan sama kamu. Karena kamu — meskipun mas-mas- mas-mas — sebenarnya layak banyak pujian."

 

Hansol diam lagi.

 

Lalu dia menggeleng pelan. Dia memutar tubuhnya, melanjutkan berjalan. "Ayo, kita lanjutkan tur. Masih banyak gedung yang belum saya tunjukkan."

 

Gisel mengikuti. Tapi saat Hansol berjalan duluan, dia melihat bagian belakang telinga Hansol — dan dia bisa bersumpah, meskipun dari samping dia tidak yakin — bahwa telinga Hansol sedikit memerah.

 

Tur selesai pukul dua belas siang. Hansol mengantar Gisel sampai pintu asrama lagi.

 

"Hari ini istirahat dulu. Besok orientasi formal di gedung mahasiswa internasional jam sepuluh. Saya jemput jam sembilan."

 

"Oke."

 

"Kamu perlu apa-apa?"

 

"Tidak ada. Terima kasih."

 

"Kalau ada apa-apa, kabari saya. Saya akan datang."

 

"Iya. Terima kasih, Hansol."

 

Hansol mengangguk. Mau berbalik. Lalu berhenti.

 

"Gisel."

 

"Iya?"

 

"Tadi yang Anda bilang — bahwa saya lebih asyik daripada oppa drama yang Anda bayangkan."

 

"Iya?"

 

"Jangan ditarik kembali, ya."

 

Dan sebelum Gisel sempat membalas, Hansol sudah berjalan pergi, dengan punggung yang Gisel hanya bisa lihat menjauh, memasuki lift di ujung lobi.

 

Gisel berdiri di lobi itu sendirian, dengan paper bag kosongnya yang tadi berisi gimbap dan susu pisang, dan kalimat Hansol yang baru saja diucapkan masih bergema di kepalanya.

 

"Jangan ditarik kembali, ya."

 

Astaga, gumam Gisel pada dirinya sendiri sambil masuk ke lift. Astaga. Astaga.

 

Dia menatap pantulan dirinya di kaca lift saat naik ke lantai empat. Dan dia mengakui satu hal yang dia tidak akan akui ke Lina dan Ratna nanti malam saat chat:

 

Hari kedua di Korea. Dan mentor pertukaran-nya — yang bukan tipe oppa yang dia bayangkan, yang ngomong "astaga" seperti mas-mas Indonesia — baru saja membuat dia berdebar kecil di dada sebelah kiri.

 

Gisel mengetuk dadanya pelan.

 

"Tenang, hati. Tenang. Baru hari kedua."