Restoran tempat Hansol mengajak Gisel makan adalah restoran kecil di lantai dua sebuah ruko, dengan lampu-lampu kuning yang membuat suasananya hangat — kontras dengan dingin di luar yang membuat Gisel bersyukur ada lapisan jaketnya yang ekstra.

 

"Ini namanya kimbap?" tanya Gisel, menatap menu yang ada gambar makanan-makanan yang tampak familiar — atau lebih tepatnya, familiar dari drama Korea yang sering dia tonton.

 

"Iya. Ada juga ramyeon. Kimchi-jjigae. Sundubu-jjigae. Mau yang mana?"

 

"Yang mana yang nggak terlalu pedas?"

 

Hansol melirik Gisel dengan tatapan yang sebenarnya cuma sepersekian detik tapi cukup untuk membuat Gisel sadar dia sudah mengatakan sesuatu yang menarik perhatian Hansol.

 

"Kamu tidak suka pedas?"

 

"Saya suka. Cuma — hari pertama. Saya... takut salah pilih."

 

"Saya kira semua orang Indonesia suka pedas?"

 

"Hansol-ssi," kata Gisel, mencoba menjelaskan dengan gaya yang berusaha sopan tapi gagal sopan. "Stereotipe seperti itu salah. Tidak semua orang Indonesia suka pedas. Saya, contohnya, hanya suka pedas yang... level tertentu. Kalau sudah masuk level keringat di pelipis, saya menyerah."

 

"Oke." Hansol mengangguk, seolah dia sedang mempertimbangkan informasi penting. "Saya pesankan kimchi-jjigae yang biasa. Tidak terlalu pedas."

 

"Dan saya nggak harus pesan?"

 

"Anda tamu hari pertama. Saya yang traktir."

 

Gisel mau protes. Tapi melihat ekspresi Hansol yang sudah sepertinya tidak akan menerima penolakan, dia hanya mengangguk.

 

"Kamsahamnida."

 

"Indonesia-nya?"

 

"Terima kasih."

 

"Lebih natural pakai bahasa sendiri, kan?"

 

Gisel tertawa kecil. "Iya."

 

Mereka menunggu pesanan. Suasana hening lagi. Di restoran itu, ada beberapa orang Korea lain yang sedang makan — tertawa, ngobrol, suara mereka terdengar ringan. Gisel mendengarkan percakapan mereka — tidak mengerti apa-apa, tentu saja, tapi ada irama yang menarik dari bahasa Korea yang diucapkan penuturnya sendiri. Berbeda dengan rekaman aplikasi yang sudah dia dengarkan ratusan kali.

 

Hansol mengeluarkan HP-nya. "Anda butuh internet, kan?"

 

"Iya. Tapi saya nggak tau cara settingnya."

 

"Saya bantu."

 

Gisel menyerahkan HP-nya ke Hansol. Dia menatap Hansol yang serius mengetuk-ngetuk pengaturan HP. Cara Hansol memegang HP — hati-hati, seolah ini benda berharga. Cara matanya fokus. Cara jari-jarinya panjang dan rapi.

 

Gisel memalingkan pandangannya cepat-cepat. Karena dia menyadari dia mulai menatap terlalu lama.

 

Astaga, gumamnya dalam hati. Sel, tahan diri. Baru sepuluh menit.

 

"Sudah," kata Hansol, mengembalikan HP itu. "Sekarang ada internet. Saya buat hotspot dari HP saya untuk sekarang. Nanti Anda beli SIM card Korea sendiri."

 

"Oh, terima kasih banyak."

 

"Saya juga sudah menambahkan kontak saya di HP Anda. Untuk keadaan darurat. Nomor Korea saya. Bisa WhatsApp atau KakaoTalk."

 

"...Anda menambahkan kontak Anda di HP saya?"

 

"Iya."

 

"Tanpa minta izin?"

 

Hansol berhenti sejenak. Lalu dia menatap Gisel dengan ekspresi yang sebenarnya seperti baru sadar sesuatu.

 

"Maaf." Dia memberikan HP itu kembali. "Saya... biasanya mahasiswa pertukaran lain langsung minta nomor mentor. Jadi saya sudah kebiasaan. Anda mau saya hapus?"

 

Gisel menatap nama yang muncul di kontak HP-nya:

 

"Hansol Jeong (Mentor)"

 

Dia tersenyum kecil. "Tidak usah dihapus. Tapi besok lain kali, izin dulu, ya."

 

"Iya. Maaf."

 

"Lho, kenapa minta maaf? Saya cuma bilang besok lain kali izin."

 

"Iya, saya minta maaf."

 

"Ya udah. Tidak usah."

 

Mereka diam lagi. Gisel menyimpan HP-nya. Lalu dia teringat sesuatu.

 

"Hansol-ssi—"

 

"Hansol saja. Atau Hansol-ssi kalau mau formal. Tapi mahasiswa pertukaran biasanya memanggil saya 'Hansol' saja."

 

"Oh." Gisel mengangguk. "Hansol. Aku tadi sambil di mobil udah mikir — tadi kamu telat karena macet, kan?"

 

"Iya."

 

"Kalau gitu... seharusnya saya yang minta maaf karena udah nunggu lama dengan kebingungan di Arrival Hall."

 

"Anda tidak salah."

 

"Tapi kalau saya datang lebih siap, saya tidak akan terlihat seperti turis tersesat. Maaf."

 

"Gisel-ssi—"

 

"Gisel saja."

 

Hansol berhenti. Lalu mengulang. "Gisel."

 

Cara dia mengucapkan nama itu — sederhana. Tapi entah kenapa membuat Gisel langsung memalingkan pandangan ke menu lagi, pura-pura membaca, padahal tulisan menunya semua dalam bahasa Korea yang dia tidak mengerti.

 

"Gisel," ulang Hansol. "Kamu tidak harus minta maaf. Saya yang telat."

 

"Tidak apa-apa."

 

"Lain kali, saya tidak akan telat."

 

"Lain kali?"

 

"Saya akan jadi mentor Anda selama enam bulan."

 

"Oh." Gisel tertawa kecil. "Kamsahamnida."

 

"Sama-sama."

 

"Itu saya mau cerita — tadi saya udah hapal lima puluh frasa bahasa Korea, ternyata kamu ngomong Indonesia. Capek hapalnya."

 

Hansol tersenyum. "Tetap dipakai. Banyak orang Korea yang tidak bisa Indonesia. Hapalan Anda tidak akan sia-sia."

 

"Tetapi tetap saja. Saya merasa saya sudah penjelasan diri yang lengkap untuk kamu, dan ternyata kamu paham bahasa saya."

 

"Saya bisa pura-pura tidak paham bahasa Indonesia dan Anda bisa tetap pakai bahasa Korea, kalau itu maksud Anda."

 

"Hansol—"

 

"Saya bercanda."

 

Pesanan datang. Gisel melihat semangkuk besar kimchi-jjigae dengan tahu, daging, dan beberapa potongan sayur yang dia tidak kenal. Kuahnya merah. Aromanya hangat dan sangat... asing. Tapi tidak buruk.

 

"Sudah pernah makan yang seperti ini?"

 

"Belum."

 

"Kalau terlalu pedas, tinggal tambah nasi atau telur dadar yang ada di sana. Itu yang biasanya orang Korea lakukan."

 

Gisel menyendok kuah pertama. Meniupnya. Memasukkan ke mulut.

 

Pedas. Tapi pedas yang berbeda dari pedas Indonesia. Pedas yang lebih tajam, lebih ke ujung lidah. Asin juga. Asam dari kimchi.

 

"Bagaimana?"

 

Gisel mengunyah. Mencerna. Lalu mengangguk. "Enak."

 

"Bener?"

 

"Sumpah."

 

"Saya kira Anda akan bilang 'kurang sambal'."

 

Gisel menatapnya. "Hansol—"

 

"Saya bercanda lagi."

 

"Kamu sering banget bercanda."

 

"Saya sedang melatih bahasa Indonesia saya. Maaf."

 

"Bukan minta maaf. Saya cuma — dari tadi kamu bercanda dengan ekspresi datar. Saya tidak yakin kamu bercanda atau serius."

 

Hansol menyendok kuahnya sendiri. Mengunyah perlahan. "Mungkin saya akan kasih signal sebelumnya. 'Saya akan bercanda sekarang, Gisel.' Begitu?"

 

"Itu... bisa."

 

"Oke."

 

Mereka makan dalam diam selama beberapa menit. Gisel — yang sudah lapar dari pesawat sampai tersesat di bandara — makan dengan lahap. Beberapa kali dia bersuara karena kepedasan ringan, tapi dia tetap menghabiskan. Hansol makan dengan tenang, sesekali menatap Gisel dengan tatapan yang bukan penilaian — hanya... pengamatan.

 

"Hansol—" Gisel akhirnya berhenti sebentar untuk minum air. "Boleh saya tanya satu hal lagi?"

 

"Boleh."

 

"Bagaimana kamu bisa bahasa Indonesia? Saya... benar-benar penasaran."

 

Hansol meletakkan sendoknya. Menatap mangkuknya.

 

Lama.

 

Begitu lama, Gisel mulai merasa dia sudah salah bertanya. Mungkin pertanyaan ini sensitif. Mungkin Hansol tidak suka ditanya. Mungkin—

 

"Saya pernah tinggal di Indonesia," kata Hansol akhirnya. Suaranya pelan tapi jelas. "Beberapa tahun. Waktu kecil."

 

"Oh." Gisel menatapnya. "Di mana?"

 

"Jakarta. Beberapa tahun di Jakarta."

 

"Karena pekerjaan orang tua?"

 

Hansol diam lagi. Dan kali ini diam yang berbeda. Diam yang membuat Gisel sadar dia sudah lebih dalam dari yang seharusnya di hari pertama.

 

"Sori," kata Gisel cepat. "Saya tidak harus tanya."

 

"Tidak apa-apa." Hansol mengambil kembali sendoknya. "Mungkin nanti saya cerita lebih lengkap. Sekarang mungkin... lain kali."

 

"Iya. Maaf."

 

"Tidak usah minta maaf. Anda penasaran. Wajar."

 

Gisel mengangguk. Mengambil sesendok kimchi-jjigae lagi. Mengunyah. Lebih lambat dari sebelumnya.

 

Dia memutuskan tidak akan tanya lebih jauh. Setidaknya tidak hari ini. Karena Hansol — meski tampaknya tenang dan ramah — ada bagian dari dirinya yang tertutup. Dan Gisel tidak ingin membuka pintu yang belum dia diizinkan masuki.

 

Setelah makan, Hansol mengantar Gisel ke asrama Yonsei.

 

Asrama itu adalah gedung modern di tepi kampus, dengan kamar- kamar yang lebih kecil dari kos Gisel di Indonesia tapi lebih bersih dan lebih rapi. Hansol membantu membawa koper- koper Gisel ke lift, lalu ke lantai empat, lalu ke kamarnya — nomor 412.

 

"Kunci sudah ada di sini," kata Hansol, menyerahkan kartu elektronik ke Gisel. "Tinggal tap di pintu."

 

"Oke."

 

Gisel mengetap kartu itu. Pintu terbuka. Kamar — bersih, kecil, dengan kasur single, meja belajar, lemari, dan jendela yang menghadap ke taman kampus.

 

"Bagaimana?"

 

"Bagus." Gisel menatap sekeliling. "Lebih kecil daripada yang saya bayangkan. Tapi bagus."

 

"Iya, asrama mahasiswa pertukaran memang ukurannya seperti ini. Tapi nyaman."

 

"Iya, saya yakin nyaman."

 

Hansol meletakkan koper Gisel di tengah kamar. Lalu dia berdiri di ambang pintu — tidak masuk lebih dalam, seolah dia mengerti bahwa kamar ini sekarang adalah ruang Gisel.

 

"Saya pamit dulu, Gisel."

 

"Iya. Terima kasih banyak hari ini."

 

"Sama-sama."

 

Hansol mau berbalik. Lalu dia ingat sesuatu.

 

"Besok jangan lupa sarapan."

 

Gisel menatapnya. "Eh?"

 

"Sarapan. Penting. Saya tunggu di lobi asrama jam delapan. Kita ke kampus untuk orientasi."

 

"Kamu... menjemput saya?"

 

"Ya."

 

"Kamu nggak... harus kuliah sendiri?"

 

"Saya punya jadwal yang fleksibel. Saya asisten dosen di sini, bukan mahasiswa S1 lagi. Saya punya waktu untuk orientasi mahasiswa pertukaran."

 

"Oh."

 

Gisel ingin bilang sesuatu. Sesuatu yang lebih dari "oh". Tapi dia tidak tahu apa.

 

Hansol mengangguk pelan. Memberi senyum kecil. "Selamat beristirahat, Gisel-ssi—" Dia berhenti. "Maksud saya, Gisel."

 

"Selamat malam, Hansol."

 

Pintu tertutup.

 

Gisel berdiri di tengah kamarnya. Sendirian. Untuk pertama kali sejak naik pesawat dari Jakarta dua belas jam yang lalu.

 

Dia menatap koper-kopernya. Lalu dia melemparkan dirinya ke kasur. Dingin. Bantalnya keras. Kasurnya tipis. Tapi dia tetap berbaring di sana.

 

Dia mengeluarkan HP-nya. Membuka WhatsApp. Mengecek chat grup Tiga Sekawan.

 

"GUYS," tulisnya. "AKU UDAH SAMPE."

 

Dua detik. Lina membalas: "DEMI APA. CERITAIN."

 

Tiga detik. Ratna: "FOTO. SEKARANG."

 

Gisel tertawa pelan. Mengetik: "Akan diceritain besok. Sekarang aku capek banget. Tapi guys... aku sudah ketemu mentor saya."

 

Lina: "GANTENG NGGAK?"

 

Gisel berhenti mengetik. Melihat plafon kamarnya. Memikirkan tatapan Hansol yang ramah-ramah-tapi-tertutup. Cara dia mengangkat koper berat dengan satu tangan. Cara dia bilang "astaga, ya ampun" seperti tetangga sebelah di Indonesia.

 

Cara dia mengucapkan nama "Gisel".

 

Dia mengetik: "Ganteng. Tapi dia ngomong bahasa Indonesia. Aku... aku bingung sendiri."

 

Ratna langsung membalas: "BAHASA INDONESIA?? OPPA YANG BISA INDONESIA? SEL ITU JACKPOT!"

 

Gisel: "Bukan jackpot. Aku tadi udah hapal 50 frasa Korea. Sia-sia. Dia ngomong Indonesia kayak orang lokal."

 

Lina: "Sel kamu udah tidur sana, kamu lagi capek aku tahu. Besok cerita lengkap. Tapi aku doain mentor kamu beneran oppa yang baik."

 

Gisel: "Iya. Tidur dulu. I love you guys."

 

Ratna: "Love u to the moon, Sel."

 

Lina: "Sweet dreams, idol-stan."

 

Gisel meletakkan HP-nya. Memejamkan mata.

 

Hari yang panjang. Sangat panjang. Dia bermimpi tentang oppa-nya selama bertahun-tahun, dan hari pertama di Korea, dia ketemu seorang laki-laki yang tidak masuk ke definisi oppa yang dia bayangkan sama sekali — tapi entah kenapa sangat... menarik.

 

Dia menarik selimut tipis ke tubuhnya. Menggumam pelan ke dirinya sendiri:

 

"Hansol... hari pertama yang aneh."

 

Dan dengan kalimat itu, dia tertidur.

 

Dia tidak tahu, di seberang lain Seoul, di apartemennya sendiri, Hansol Jeong sedang duduk di kursi, menatap layar HP-nya yang menampilkan kontak baru: "Gisel Aulia (Mahasiswa Pertukaran 2025)". Dan Hansol menggumamkan kalimat yang juga aneh, dalam bahasa Indonesia yang sudah lama dia simpan:

 

"Astaga. Anak ini lucu juga."