"Anyong-haseyo. Je ireumeun Gisel ibnida. Saya berasal dari Indonesia."
Gisel menatap layar HP-nya yang menampilkan aplikasi belajar bahasa Korea. Kemudian dia menatap pantulan dirinya di cermin kamar yang dia pasang dadakan menggunakan double tape — keputusan yang akan disesalinya nanti karena double tape itu nempel terlalu kuat dan ujung-ujungnya merusak catnya.
"Anyong-haseyo," ulangnya. "Je. Ireumeun. Gisel. Ibnida."
Dia mendengus. "Aku kayak robot yang baterainya hampir habis."
Dia coba lagi. Lebih natural. Lebih mengalir. Lebih... seperti anak Korea di drama yang kebetulan tinggal sebelahnya pindah ke kompleks dan jadi crush-nya dari pandangan pertama.
"Anyong-haseyo!" Gisel mencoba dengan senyum. "Je ireumeun Gisel ibnida. Saya seorang mahasiswi pertukaran dari... dari..."
Dia lupa kata "Indonesia" dalam bahasa Korea.
"Indonesia jeong... Indonesia... uh..."
Hp-nya berdering. Lina video call.
"Sel," kata Lina di seberang, sambil memegang sendok dan mangkuk berisi nasi goreng — tampaknya dia baru beli dari kantin di kantornya. "Aku denger kamu lagi monolog dari ujung gang. Kamu kenapa ngomong sendiri?"
"Aku belajar bahasa Korea."
"Iya, jelas. Aku denger. 'Anyong-haseyo' kamu udah cocok jadi dubber YouTuber yang baru mulai karir."
"Lina, tolong, aku serius."
"Aku juga serius." Lina menyendok nasi gorengnya. "Aku serius ketawa. Maaf ya, Sel. Tapi ngedenger kamu nyoba ngomong Korea itu kayak ngedenger ibu-ibu nyanyiin lagu BTS di acara dasawisma."
Gisel meraih bantal dan melemparnya ke layar HP, lupa kalau ini bukan pintu ke dunia Lina dan bantalnya hanya akan menabrak HP dan jatuh.
"Hei, aku belum selesai."
"Kalau kamu belum selesai, aku belum selesai juga ngetawainnya."
Mereka mengobrol selama setengah jam. Lebih banyak Lina yang ngakak ngedenger Gisel mempraktekkan bahasa Korea-nya, dan lebih banyak Gisel yang akhirnya ikut ngakak karena, oke, memang lucu juga.
"Sel," kata Lina akhirnya, suaranya mulai serius. "Kamu udah selesai persiapan-nya?"
"Kayaknya. Tapi entahlah, aku takut ada yang kelewatan."
"Buka checklist kamu yang katanya delapan poin itu."
Gisel mengeluarkan kertas yang sekarang sudah agak kusut karena sering dibuka-tutup. Dia bacakan.
"Belajar bahasa Korea — masih dalam proses, bisa dibilang 30%. Skincare — udah lengkap. Aku beli yang esensi, yang toner, yang serum, yang cream, yang—"
"Sel, aku nggak butuh penjelasannya. Lanjut."
"Playlist 'Music for Falling in Love in Seoul' — udah jadi, ada 87 lagu. Sambal pecel — udah aku titip ke Mama, dia kirim besok. Daftar kafe drama — udah, ada 23 lokasi. Daftar tempat member [redacted] — udah, ada 41 lokasi. Visa, paspor, asuransi, tiket — udah lengkap semua."
"Bagus. Yang nomor delapan?"
Gisel diam.
"Yang nomor delapan, Sel," ulang Lina dengan nada yang sudah mulai senyum-senyum.
"Yang nomor delapan masih in progress."
"Wakwau. 'Ketemu oppa asli'. Itu progress-nya gimana ngeceknya?"
"Lin, ya nggak bisa di-check dari Indonesia. Itu kan harus di sana. Live update."
"Oh, paham." Lina mengangguk-angguk. "Jadi nanti kalau kamu udah di Korea, kamu kasih kabar ke aku setiap kali kamu ketemu oppa, terus aku verifikasi apakah dia layak di-tick atau nggak?"
"Pas banget. Itu maksudnya."
"Sel, aku sayang sama kamu. Tapi kadang aku nggak ngerti gimana otak kamu jalan."
"Itu yang bikin aku unik."
"Itu yang bikin kamu... ya udah, lah. Sini, aku doain dulu."
Lina menutup matanya — Gisel bisa melihat dari layar HP — dan mulai bicara dengan nada serius yang sebenarnya setengah bercanda.
"Ya Tuhan, semoga sahabat saya yang satu ini menemukan oppa yang benar-benar oppa. Yang baik hati, yang ganteng, yang ngerti bahwa Gisel suka makan banyak tapi kadang gengsi mau bilang. Yang sabar dengan keribetan Gisel yang—"
"Lina, kamu doa apa nyumpah?"
"Doa, Sel. Doa lengkap dengan deskripsi spesifik. Biar Tuhan nggak salah kirim."
Gisel tertawa sampai air matanya keluar.
Hari berikutnya, sebuah paket besar tiba di kos Gisel.
Di luar ada tulisan tangan Mama, dengan huruf yang tidak rapi tapi penuh hati: "Buat anakku Gisel. Dipakai dengan hati-hati. Jangan boros, sayang."
Gisel membuka paket itu dengan tangan yang gemetar — bukan karena gugup, tapi karena dia tahu apa yang Mama suka kirim.
Sepuluh bungkus sambal pecel. Lima botol kecil bumbu rendang instan. Dua bungkus mie goreng instan kesukaannya. Sebungkus rempeyek kacang. Dan — di lapisan paling bawah — selembar foto.
Foto keluarga Gisel waktu dia masih kecil. Mama, Papa (yang sudah berpulang lima tahun lalu), dan Gisel kecil yang sedang memegang ice cream cone yang sudah meleleh ke tangannya. Mereka semua tertawa.
Di balik foto, tulisan Mama:
> "Kemana pun kamu pergi, kami selalu di rumah. Kami selalu > menunggu kamu pulang. Pelajari banyak hal di sana, sayang. > Tapi jangan lupa siapa kamu. — Mama."
Gisel duduk di lantai kosnya dengan paket itu di pangkuannya. Dan untuk kedua kalinya dalam tiga minggu terakhir, dia menangis.
Tapi kali ini bukan tangis kebahagiaan.
Ini tangis yang muncul dari kesadaran bahwa dia sebentar lagi benar-benar akan pergi. Bahwa enam bulan ke depan, dia tidak akan bisa pulang ke rumah Mama untuk minum teh hangat saat hujan. Tidak bisa minta dimasakin sayur asem saat lagi kangen. Tidak bisa ngomel-ngomel ke Mama tentang dosennya yang nyebelin.
Enam bulan tanpa Mama. Pertama kali seumur hidupnya.
Dia menelepon Mama. Mama mengangkat di dering pertama.
"Hai, sayang. Paket udah sampe?"
"Udah, Bu," suara Gisel tertahan. "Mama... aku mau pulang sebentar sebelum berangkat."
Akhir minggu itu, Gisel naik kereta empat jam ke kota kelahirannya. Mama menjemput di stasiun dengan motor bebek tua yang sudah menemani mereka sejak sebelum Papa meninggal.
Dua hari Gisel di rumah. Dia tidak banyak melakukan apa-apa. Hanya membantu Mama masak, ikut Mama ke pasar, makan bersama Mama di meja dapur kecil mereka yang catnya sudah agak terkelupas.
Pada malam terakhir, mereka duduk di teras. Mama menyeduh teh. Bintang-bintang di luar lebih terlihat di kota kecil seperti ini.
"Bu," kata Gisel pelan. "Aku takut nggak bisa apa-apa di sana."
Mama menatapnya. Lama. Lalu Mama tersenyum dengan senyum yang membuat hati Gisel hangat sekaligus sesak.
"Sel, Mama selalu yakin sama kamu. Dari kamu kecil, kamu udah punya keberanian yang nggak Mama punya."
"Tapi aku—"
"Mama tahu kamu sering ribet. Mama tahu kamu kadang ceroboh. Mama tahu kamu suka ngecekin oppa-oppa kamu lebih dari ngecekin nilai kuliah." Mama menyenggol bahu Gisel. "Tapi itu nggak bikin kamu nggak punya kemampuan. Kamu pinter, Sel. Kamu cuma sering lupa kalau kamu pinter."
Gisel menunduk. Matanya basah lagi.
"Pergi sana ke Korea. Cari oppa kamu kalau itu yang bikin kamu happy. Tapi pulanglah dengan bawa diri kamu yang lebih kuat dari yang berangkat."
"Iya, Bu."
"Dan satu lagi—" Mama meraih tangan Gisel. "Kalau ada hal yang kamu nggak bisa selesain sendiri, jangan gengsi telepon Mama. Mama kuat. Mama bisa bantu meskipun jauh."
Gisel mengangguk. Tidak bisa bicara.
Mama memeluknya. Lama sekali. Sampai teh di gelas mereka mulai dingin.
Hari keberangkatan akhirnya tiba.
Lina dan Ratna mengantar Gisel ke Bandara Soekarno-Hatta. Mereka datang berdua dengan motor — Ratna nyetir, Lina bonceng. Gisel naik Grab dari kos dengan dua koper besar dan satu ransel penuh. Mereka bertemu di area drop-off.
"Sel," kata Ratna sambil melompat dari motor. "Itu koper kamu yang gede atau lemari pakaian sekalian?"
"Ratna, please. Aku udah cukup stress."
"Aku cuma nanya. Soalnya kayaknya berat banget."
"Aku bawa skincare semua, tahu."
Lina merangkul Gisel dari samping. "Kamu yakin nggak ada yang ketinggalan?"
"Yakin. Tiga kali aku check. Empat kali Mama yang ngecheck."
Mereka bertiga jalan masuk ke terminal. Antri di check-in counter. Gisel meletakkan kedua kopernya di timbangan. Yang satu pas. Yang satu — kelebihan tiga kilo.
"Mbak," kata petugas check-in. "Koper Mbak lebih berat tiga kilogram dari batas. Mau ada yang dikeluarin atau bayar biaya tambahan?"
Gisel menatap kopernya dengan tatapan duka. "Tapi ini barang penting semua, Mbak."
"Mbak yakin nih semua penting?"
"Yakin."
"Termasuk yang lima belas paket sambel pecel?"
Gisel diam. Dia tidak sadar ada yang sebanyak itu. Mama ternyata diam-diam menambahkan lebih banyak lagi sebelum Gisel pergi tadi pagi.
Ratna ngakak. Lina menggeleng. "Sel, sambel pecel kamu kalau dikalikan tiga kilo itu artinya kelebihan koper kamu itu... cuma sambel pecel."
"Mama aku cinta banget sama aku, Lin. Aku nggak bisa kasih keluar."
Akhirnya Gisel bayar biaya tambahan. Tiga ratus ribu lebih. Dia merelakan, sambil mengetik di chat ke Mama: "Bu, sambel pecel mama bikin koper aku kelebihan beban. Tapi aku bayarin tetep. Buat mama."
Mama membalas: "Sayang, kamu nggak harus bayarin. Bilang aja sama petugasnya itu sambel terenak di Indonesia, dia pasti ngerti."
Gisel ngakak sampai diliatin sama orang sekitar.
Saat akan masuk ke pintu boarding, Lina dan Ratna memeluk Gisel bergantian.
"Sel," kata Lina. "Kalau kangen, telepon."
"Sel," kata Ratna. "Kalau ketemu oppa, juga telepon."
"Ratna, please, aku—"
"Iya iya, fokus kuliah dulu. Aku tahu. Itu cuma reminder."
Gisel tertawa. Dia mundur beberapa langkah. Melambaikan tangan. Lina dan Ratna melambaikan tangan balik.
Gisel masuk ke dalam ruang tunggu. Duduk. Mengeluarkan HP-nya. Membuka note di HP-nya yang berisi 50 frasa bahasa Korea yang sudah dia hapal.
"Anyong-haseyo," gumamnya pelan. "Je ireumeun Gisel ibnida."
Pengumuman terdengar: pesawat boarding.
Gisel berdiri. Menjepit ransel-nya di pundak. Berjalan ke pintu boarding.
Tiba-tiba dia sadar tangannya kosong.
Tiket. Dia lupa tiket.
Dia panik. Memeriksa ranselnya. Tas tangannya. Saku jaketnya. Saku celananya.
Tiket itu sudah di sakunya yang lain. Dia menemukan setelah hampir terkena serangan jantung kecil di tengah ruang tunggu.
"Oh ya Tuhan," katanya pada dirinya sendiri. "Belum sampai Korea aja udah kayak gini. Gimana nanti?"
Tapi dia tetap berjalan ke pintu boarding. Memberi tiketnya ke petugas. Senyum.
"Selamat jalan," kata petugas itu.
"Terima kasih," jawab Gisel.
Dan dia melangkah ke pesawat yang akan membawanya ke negara yang sudah dia mimpikan sejak SMP.
Dia tidak tahu — di pesawat yang sama, beberapa baris di depannya, ada laki-laki muda berjaket cokelat yang sedang membaca buku berbahasa Indonesia. Laki-laki yang akan jadi mentor pertukarannya. Laki-laki yang dalam tiga hari ke depan akan mengubah definisi "oppa" yang selama ini Gisel pegang erat-erat.
Tapi itu cerita untuk besok.
Untuk sekarang, Gisel hanya menatap jendela pesawat, dengan playlist "Music for Falling in Love in Seoul" mulai berputar di earphone-nya, dan lima belas paket sambel pecel di kopernya yang aman di bagasi.
Dan dia tersenyum.
Ke negeri oppa, akhirnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar