Sisa malam setelah kejadian di dalam mobil itu adalah siksaan psikologis yang tak berujung.

Aku tidak ingat bagaimana caraku bernapas saat Irfan memarkirkan mobilnya di depan gerbang kosku. Aku hanya ingat bergumam terima kasih dengan suara yang terdengar seperti cicitan tikus terjepit, lalu berlari keluar dari jangkauannya secepat yang kakiku mampu. Aku tidak menoleh ke belakang. Aku mendengar suara mesin mobilnya yang menderu halus, berdiam diri di depan gerbang selama hampir sepuluh menit, sebelum akhirnya perlahan menjauh dan menghilang ditelan kegelapan jalanan.

Malam itu, aku duduk meringkuk di atas kasur dengan lutut terlipat rapat di depan dada. Kamarku yang biasanya menjadi satu-satunya tempat persembunyian paling aman di dunia, mendadak terasa seperti kotak jebakan yang sewaktu-waktu bisa mengurungku.

Lampu kamar kubiarkan menyala terang benderang, menyorot setiap sudut ruangan yang sepi. Mataku terkunci pada benda pipih persegi panjang yang tergeletak tak berdaya di atas bantal: ponselku.

Dua. Tujuh. Nol. Sembilan.

Angka itu terus berputar-putar di kepalaku, berdengung seperti kawanan lebah yang marah, menyengat setiap sisa-sisa rasionalitas yang kumiliki. Bagaimana dia bisa tahu? Logikaku mencoba mencari celah. Apakah aku pernah mengetiknya saat dia berdiri di dekatku? Tidak. Aku selalu sangat protektif dengan layarku. Apakah aku menggunakan angka yang sama untuk hal lain yang mungkin dia ketahui? Tidak. PIN ATM-ku berbeda. Kata sandi laptopku berbeda. Angka itu eksklusif hanya untuk ponselku, sebuah pengingat bisu tentang hari di mana duniaku runtuh ke dasar bumi.

Tanggal kematian ayahku. Sebuah memori yang berdebu dan penuh darah, yang bahkan tidak pernah kubagikan kepada teman-teman terdekatku di kampus.

Tanganku gemetar saat meraih ponsel itu kembali. Dengan napas tertahan, aku membuka menu pengaturan dan mengganti kata sandinya menjadi kombinasi acak yang bahkan tidak memiliki arti apa pun. Sebuah deretan angka yang baru saja terlintas di kepalaku. Setelah selesai, aku menatap layar yang kini menggelap, melihat pantulan wajahku sendiri yang pucat pasi dan dipenuhi kantung mata yang menghitam.

Dia cuma menebak, Regita. Dia bilang itu kebetulan. Probabilitasnya memang kecil, tapi bukan berarti nol, kan?

Sisi lain dari otakku, sisi yang begitu mendambakan perhatian dan kehangatan yang Irfan berikan selama beberapa minggu terakhir, mati-matian mencoba membelanya. Sisi yang rapuh itu berteriak bahwa aku sedang mensabotase diriku sendiri. Bahwa aku terlalu terbiasa ditinggalkan dan disakiti, sehingga ketika ada hal baik yang datang—seorang pria yang sempurna, yang menyelamatkanku, yang merawatku saat aku sakit—aku justru mencari-cari alasan konyol untuk menendangnya pergi.

Pertarungan batin itu membuatku terjaga hingga matahari pagi menyelinap malu-malu dari celah ventilasi kamarku. Kepalaku berdenyut hebat. Mataku perih. Dan hatiku dipenuhi oleh kebingungan yang menyesakkan.

Selama empat hari berikutnya, aku memutuskan untuk menghindar.

Aku mengubah rutinitasku secara ekstrem. Aku tidak lagi pergi ke perpustakaan kampus di jam-jam biasa. Aku meminta pertukaran sif secara mendadak kepada manajer kafe agar aku bekerja di pagi hari alih-alih malam. Aku bahkan berhenti memesan matcha espresso di kedai kopi tempat kami pertama kali mengobrol panjang lebar. Aku berjalan menunduk, memakai masker medis, dan menutupi kepalaku dengan tudung jaket besar setiap kali melintasi area kampus.

Aku berlari, bersembunyi dari bayangan Irfan yang seolah selalu membayangiku.

Dan yang paling aneh adalah... Irfan membiarkanku melakukannya.

Ia tidak mencariku. Ia tidak muncul secara tiba-tiba di depan kelasku. Ia tidak mengirimiku ratusan pesan teks yang menuntut penjelasan mengapa aku menghilang. Ia hanya mengirimkan satu pesan singkat di hari kedua pelarianku:

“Fokus saja pada revisi bab empatmu. Jangan lupa makan yang teratur. Aku ada di sini kalau kamu sudah siap.”

Hanya itu. Tidak ada tekanan. Tidak ada nada posesif yang menyuruhku menemuinya. Kalimat itu begitu tenang, begitu memberikan ruang, seolah ia sedang menghadapi seekor kucing liar yang sedang ketakutan dan tahu bahwa memaksanya mendekat hanya akan membuatnya semakin mencakar.

Sikapnya yang begitu terkendali dan rasional justru membuat paranoiaku perlahan-lahan memudar, berganti menjadi rasa bersalah yang menggerogoti ulu hati.

Apakah aku sudah gila? Apakah aku benar-benar melebih-lebihkan insiden kata sandi itu? Bagaimana jika dia memang hanya menebak secara acak, dan aku—dengan segala trauma masa laluku—telah mengubah pria sebaik Irfan menjadi monster di dalam kepalaku sendiri? Rasa kesepian yang selama beberapa minggu ini berhasil diusir oleh kehadiran Irfan, kini datang kembali menyerangku dengan kekuatan dua kali lipat. Kekosongan itu terasa jauh lebih menyakitkan setelah aku sempat mencicipi rasanya diperhatikan.

Dunia di luar Irfan terasa kembali dingin, acuh tak acuh, dan berantakan. Tidak ada lagi paket makan malam yang datang saat aku kelaparan di tengah sif. Tidak ada lagi pesan pengingat untuk tidak memakai earphone di tikungan buta. Tidak ada lagi tatapan mata yang membuatku merasa bahwa aku adalah pusat rotasi bumi.

Pada hari kelima, pertahananku akhirnya runtuh.

Sore itu, hujan turun sangat lebat, membasahi jalanan kota dengan amarah. Aku baru saja keluar dari gedung fakultas, berdiri kedinginan di teras lobi, memeluk ranselku erat-erat karena payungku tertinggal di kamar kos. Mahasiswa lain berlarian menembus hujan atau dijemput oleh teman dan kekasih mereka. Tawa dan obrolan mereka menggema, menggarisbawahi betapa sendiriannya aku di tengah keramaian ini.

Aku merogoh saku jaketku, mengambil ponsel. Jariku melayang di atas layar, menatap nama kontak yang kusimpan sederhana dengan huruf 'I'.

Jantungku berdebar kencang. Setengah dari diriku berteriak untuk memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku dan berlari menembus hujan. Namun separuh yang lain—separuh yang kelelahan, yang haus akan rasa aman—menekan tombol panggil.

Nada sambung hanya terdengar dua kali sebelum suara baritonnya yang tenang mengisi telingaku, menembus riuhnya suara hujan.

"Halo, Regita."

Suaranya tidak terdengar terkejut. Tidak ada nada sarkasme atau kemarahan karena aku mengabaikannya berhari-hari. Ia menyapaku seolah kami baru saja berbicara lima menit yang lalu.

Aku menelan ludah, suaraku sedikit bergetar. "Irfan... kamu lagi sibuk?"

"Nggak. Aku sedang di jalan. Kamu masih di kampus? Hujannya deras sekali, kamu bawa payung?" tanyanya, langsung ke inti permasalahan, seolah bisa membaca situasi yang sedang kuhadapi hanya dari getaran suaraku.

"Nggak," cicitku pelan. "Payungku ketinggalan. Aku... aku nggak tahu mau minta tolong siapa lagi."

Hening sejenak di ujung sana. Hanya terdengar suara ketukan ritmis dari wiper mobilnya. Lalu, suaranya kembali mengalun, kali ini lebih rendah dan penuh otoritas yang menenangkan.

"Tetap berdiri di lobi utama. Jangan menembus hujan, nanti kamu sakit lagi. Aku sampai dalam waktu lima menit."

Ia mematikan panggilan sebelum aku sempat menjawab. Dan benar saja, kurang dari lima menit, SUV hitam yang sangat kukenali itu membelah tirai hujan, menepi tepat di depan undakan lobi fakultasku. Pintu kemudi terbuka. Irfan keluar membawa payung hitam besar, berlari kecil menghampiriku. Cipratan air membasahi ujung celana bahan dan sepatu kulitnya, tapi ia sama sekali tidak peduli. Matanya hanya tertuju padaku.

"Ayo," ucapnya lembut, memayungiku dengan hati-hati agar tidak ada setetes pun air hujan yang mengenai tubuhku, meski itu berarti bahu kanannya sendiri basah kuyup.

Aku masuk ke dalam mobilnya yang hangat. Aroma kayu cedar dan musk itu langsung menyergap penciumanku, membawa kembali ingatan akan malam-malam di mana aku merasa sangat aman. Irfan masuk menyusul, menutup payungnya, lalu menyalakan penghangat kabin.

"Maaf," gumamku sambil menundukkan kepala, meremas tali ranselku. "Maaf aku menghindar berhari-hari. Aku cuma... aku agak kewalahan."

Irfan menoleh. Ia tidak segera menjalankan mobilnya. Tangan kanannya terulur, ibu jarinya dengan sangat lembut mengusap pipiku yang dingin terkena udara hujan. Sentuhannya membakar kulitku.

"Kamu nggak perlu minta maaf karena merasa takut, Regita," ujarnya dengan nada yang begitu tulus, nyaris seperti bisikan doa. "Aku tahu aku mungkin terlalu masuk ke dalam ranah pribadimu. Aku tahu aku kadang-kadang bisa terasa terlalu intens. Tapi semua itu... semua itu hanya karena aku peduli. Terlalu peduli."

Aku mendongak, menatap matanya. Tidak ada kebohongan di sana. Hanya ada sorot mata yang begitu dalam, gelap, dan memuja. Sorot mata seorang pria yang rela melakukan apa saja untuk wanita di hadapannya.

Malam itu, bukannya mengantarku pulang ke kos, Irfan membawaku ke sebuah restoran yang terletak di lantai atas sebuah hotel bintang lima. Tempat itu sangat eksklusif, sepi, dengan pencahayaan temaram dan pemandangan kerlap-kerlip lampu kota yang diguyur hujan dari balik dinding kaca besar. Ia sudah mereservasi tempat ini sebelumnya—fakta yang membuat pikiranku sedikit tersentak karena ia seolah sudah tahu aku akan menghubunginya hari ini. Tapi alih-alih merasa terintimidasi, malam itu, aku membiarkan diriku hanyut dalam perlakuan istimewanya.

Kami makan malam dengan tenang. Percakapan mengalir lancar, membahas buku, film, dan mimpi-mimpi kecilku yang selama ini kukubur rapat-rapat. Irfan mendengarkan setiap patah kataku seperti sedang menyimak sebuah simfoni yang indah. Ia tertawa pada leluconku yang garing, dan memberikan pandangan simpatik saat aku menceritakan kesulitan-kesulitan sepele di kampus.

Di tempat ini, bersamanya, aku merasa bukan lagi Regita si mahasiswi miskin yang harus berjuang mati-matian untuk hidup. Aku merasa seperti ratu yang sedang bertahta.

Setelah makanan penutup dihidangkan—sepotong dark chocolate lava cake yang lagi-lagi sangat sesuai dengan seleraku—Irfan meletakkan sendoknya. Ia menatapku lurus-lurus, senyum manis di wajahnya perlahan berubah menjadi ekspresi yang sangat serius dan intens.

"Regita," panggilnya. Suaranya mengisi keheningan di antara kami.

Aku menelan sisa kue di mulutku, jantungku tiba-tiba berpacu lebih cepat. "Ya?"

Irfan mencondongkan tubuhnya melintasi meja. Ia meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat-erat dengan jemarinya yang panjang dan hangat. Ibu jarinya membelai punggung tanganku perlahan, mengirimkan aliran listrik kecil ke seluruh sarafku.

"Aku bukan tipe pria yang suka membuang waktu dengan permainan tarik-ulur," ia memulai, matanya mengunci pandanganku, tidak membiarkanku mengalihkan fokus sedetik pun. "Sejak awal aku melihatmu, aku tahu ada sesuatu di dalam dirimu yang menarikku dengan paksa. Kamu kuat, tapi kamu juga sangat rapuh. Kamu selalu berusaha terlihat tangguh, padahal yang kamu inginkan hanyalah seseorang yang bisa memelukmu dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja."

Napas terhenti di tenggorokanku. Kata-katanya menelanjangi jiwaku. Ia mengartikulasikan rasa sakit dan kesepian yang selama ini tak bisa kubahasakan.

"Aku melihat bagaimana kamu membangun tembok tinggi untuk menjauhkan orang-orang," lanjutnya, suaranya kini sedikit serak, bergetar oleh emosi yang tertahan. "Tapi bersamaku, kamu nggak perlu melakukan itu, Regita. Kamu nggak perlu menjadi kuat setiap saat. Kamu nggak perlu menanggung semuanya sendirian."

Mataku mulai memanas. Ada dorongan kuat di dadaku untuk menarik tanganku dan lari, karena keterbukaan ini terasa terlalu menakutkan. Tapi genggaman Irfan terlalu nyaman, terlalu kokoh untuk kulepaskan.

"Aku ingin menjadi tempatmu pulang," Irfan mengucapkan kalimat itu dengan penekanan di setiap suku katanya. "Aku ingin memastikan nggak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa menyakitimu. Aku ingin menjadi alasan kamu tersenyum saat bangun tidur, dan alasan kamu merasa aman saat menutup mata." Ia memberi jeda sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam otakku. "Jadilah pacarku, Regita. Izinkan aku merawatmu. Izinkan aku melindungimu."

Waktu terasa berhenti berputar.

Suara hujan yang memukul kaca jendela meredam menjadi dengungan halus. Di dalam kepalaku, rasionalitas dan kebutuhan emosionalku bertarung dengan hebat. Semua tanda tanya tentang bagaimana dia mengetahui kata sandiku, tentang pita rambut biru, tentang kemunculannya yang selalu tepat waktu—semua itu berteriak menuntut kejelasan.

Namun di sisi lain, menatap mata cokelat gelapnya yang memancarkan janji perlindungan absolut, aku merasa... lelah.

Aku lelah berjuang sendirian. Aku lelah menjadi paranoid. Aku hanya ingin dicintai. Dan pria ini, dengan segala kemisteriusan dan dedikasinya, menawarkan cinta yang terlihat begitu sempurna. Cinta yang tidak pernah kuminta, tapi teramat sangat kubutuhkan.

Perlahan, tanpa sadar, aku membalas genggaman tangannya. Air mata kecil lolos dari sudut mataku, mengalir hangat melintasi pipiku.

"Kamu janji... nggak akan ninggalin aku kayak orang-orang lain?" suaraku pecah, terdengar begitu menyedihkan dan bergantung.

Senyum lega yang luar biasa merekah di wajah Irfan. Ia mengangkat tanganku, mengecup punggung tanganku dengan bibirnya yang hangat. Kecupan itu berlangsung lama, seolah ia sedang menyegel sebuah sumpah yang tak terpisahkan.

"Aku janji," bisiknya tepat di depan tanganku. "Aku nggak akan pernah membiarkanmu pergi. Nggak akan pernah."

Malam itu, di bawah temaram lampu restoran dan rintik hujan, aku resmi menjadi kekasih Irfan. Semua ketakutan dan paranoiaku seolah tersapu bersih, digantikan oleh euforia kebahagiaan yang membutakan. Aku memiliki seseorang. Akhirnya, aku memiliki seseorang yang memprioritaskanku di atas segalanya.

Kami berjalan bergandengan tangan menuju tempat parkir. Rasa dingin udara malam tak lagi mampu menembus kulitku. Saat ia membukakan pintu mobil untukku, aku menatap wajahnya dari samping. Garis wajahnya terlihat begitu damai, begitu sempurna.

"Irfan," panggilku pelan, saat ia baru saja memasangkan sabuk pengamanku. Wajahnya berada sangat dekat dengan wajahku, napasnya yang beraroma mint menyapu hidungku.

"Hmm?" gumamnya, matanya menatap bibirku sekilas sebelum naik ke mataku.

Aku tersenyum kecil, sebuah senyum kelegaan yang sudah lama tidak kurasakan. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku, diucapkan tanpa tendensi apa pun, murni karena perasaan nyaman yang membuncah di dada.

"Aneh ya," ucapku pelan, mengusap rahangnya yang tegas dengan ujung jariku. "Kita baru kenal beberapa minggu. Tapi rasanya... kamu kayak udah kenal aku lama banget. Kamu ngerti semua tentang aku."

Tangan Irfan yang sedang menahan sabuk pengamanku berhenti bergerak. Gerakannya membeku selama sepersekian detik.

Perlahan, ia menarik tubuhnya kembali ke kursi kemudi. Ia menoleh ke arahku. Cahaya lampu jalanan yang kuning menyorot wajahnya, menyembunyikan separuh matanya dalam bayangan yang gelap.

Bibirnya melengkung perlahan, membentuk sebuah senyuman.

Bukan senyum hangat dan mengayomi yang tadi ia tunjukkan di restoran. Ini adalah senyuman yang berbeda. Senyuman yang sangat lambat, tipis, dan tidak mencapai matanya. Senyuman rahasia dari seseorang yang baru saja berhasil memenangkan sebuah permainan panjang yang melelahkan.

Ia tidak menjawab pertanyaanku. Ia tidak mengiyakan ataupun menyangkal.

Irfan hanya terus tersenyum menatapku dalam keheningan kabin mobil yang mendadak terasa mencekam, membiarkan kalimatku menggantung di udara malam yang dingin.