Jalanan aspal yang basah oleh sisa hujan memantulkan cahaya kuning pudar dari lampu jalan yang berkedip di atas kepalaku. Udara malam ini lebih dingin dari biasanya, menusuk menembus rajutan kardigan tipis yang kukenakan. Aku merapatkan pakaianku, mempercepat langkah. Jarum jam di pergelangan tanganku sudah menunjuk angka sebelas malam. Sif kerjaku di kafe kebetulan berakhir lebih lambat karena harus menggantikan salah satu rekan yang sakit.

Seharusnya aku menunggu ojek daring saja di depan kafe, pikirku dengan sedikit penyesalan. Namun, jarak kosku yang hanya terpaut beberapa blok membuatku merasa berjalan kaki adalah pilihan logis. Setidaknya, sampai aku menyadari ada suara langkah kaki lain yang menggema di belakangku.

Tap. Tap. Tap.

Langkah itu berat. Dan konsisten.

Aku menelan ludah, mencoba menenangkan debaran di dadaku yang mendadak berpacu. Mungkin cuma orang lewat, batinku, mencoba merasionalisasi ketakutan yang mulai merayap naik ke tengkuk. Aku sengaja memelankan langkahku, memberi kesempatan bagi orang di belakangku untuk mendahului.

Namun, langkah di belakangku ikut melambat.

Ketakutan kini bukan lagi sekadar firasat, melainkan alarm nyata yang melengking di kepalaku. Udara dingin tiba-tiba terasa mencekik. Aku mencengkeram tali tas selempangku erat-erat hingga buku-buku jariku memutih. Mataku melirik ke sekeliling, mencari toko yang masih buka atau sekadar rumah dengan lampu teras yang menyala terang. Nihil. Blok ini selalu mati setiap lewat jam sepuluh malam.

Aku menarik napas panjang dan setengah berlari. Sepatuku bergesekan dengan genangan air, memercikkan rintik kotor ke ujung celana jeansku, tapi aku tidak peduli. Jantungku memompa darah dengan brutal saat suara langkah di belakangku kini terdengar ikut mempercepat temponya.

Dia mengejarku.

Tanganku gemetar mencari ponsel di dalam saku kardigan, berniat menekan nomor darurat atau setidaknya menelepon siapa pun yang bisa mengangkatnya. Tapi tanganku terlalu kaku. Dalam kepanikan itu, kakiku tersandung permukaan trotoar yang tidak rata.

Ponselku terlepas dari genggaman, terlempar beberapa meter ke depan. Aku mengumpat tertahan.

Saat aku membungkuk untuk mengambilnya, sebuah tangan besar dan kasar tiba-tiba mencengkeram lengan atasku dengan kuat. Bau alkohol dan asap rokok murahan langsung menyengat indra penciumanku.

"Buru-buru amat, Neng. Sendirian aja?" Suara serak itu terdengar tepat di telingaku.

Napas orang itu terasa hangat dan menjijikkan di tengkukku. Aku mencoba meronta, menarik lenganku sekuat tenaga, tetapi cengkeramannya terlalu kuat, seperti besi panas yang mengunci kulitku. Mataku mulai memanas, rasa panik meledak di dadaku, memblokir pita suaraku untuk sekadar berteriak minta tolong. Dunia di sekitarku terasa berputar, menyusut, menyisakan aku dan bayangan mengerikan dari laki-laki tak dikenal ini.

Namun, sebelum aku sempat mengeluarkan suara sekecil apa pun, sebuah tangan lain tiba-tiba muncul dari arah kegelapan di depan kami.

Tangan itu terulur panjang, jari-jarinya yang jenjang namun kokoh langsung mencengkeram pergelangan tangan laki-laki mabuk yang menahanku. Cengkeraman itu begitu cepat, begitu presisi, dan entah seberapa kuat, karena detik berikutnya, laki-laki mabuk itu mengaduh kesakitan dan melepaskan lenganku seketika.

Aku terhuyung mundur, napasku tersengal hebat.

Di hadapanku, berdiri seorang pria berpostur tinggi. Ia mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang digulung rapi hingga siku. Cahaya lampu jalan yang remang menerpa sebagian wajahnya, menampakkan rahang yang tegas dan tatapan mata yang... sangat dingin. Pria itu tidak berteriak, tidak membentak, ia bahkan tidak terlihat marah. Ia hanya menatap laki-laki mabuk itu seolah sedang menatap serangga yang mengganggu.

"Lepaskan dia," ucap pria itu. Suaranya tidak tinggi, tapi baritonnya memiliki ketegasan mutlak yang membuat udara di sekitar kami terasa membeku. Ada intimidasi yang sangat tenang dalam nada bicaranya.

Laki-laki mabuk itu mengusap pergelangan tangannya, menatap pria di hadapanku dengan sisa-sisa keberanian palsu. "Lu siapa, anjing? Pacarnya?!"

Pria berbaju hitam itu tidak menjawab. Ia hanya mengambil satu langkah maju. Langkah yang begitu sunyi, ringan, namun memancarkan aura ancaman yang sangat pekat. Ia menatap tepat ke mata laki-laki itu, tidak berkedip, tidak berekspresi. Hanya keheningan absolut yang mematikan.

Entah apa yang dilihat oleh laki-laki mabuk itu di dalam mata sang penolongku, tapi nyalinya langsung ciut. Ia mundur beberapa langkah, meracaukan kutukan tak jelas, lalu berbalik dan berlari gontai menjauh ke arah jalan utama yang lebih terang.

Aku masih berdiri mematung, merangkul diriku sendiri. Seluruh tubuhku bergetar hebat. Lututku terasa seperti jeli, menahan sisa-sisa adrenalin yang belum surut. Pria itu menoleh perlahan ke arahku.

Perubahan pada dirinya terjadi dalam sekejap mata.

Mata yang tadinya sedingin es kini melembut. Ketegangan pada bahunya menghilang. Ia menatapku dengan sorot yang menenangkan, seolah badai baru saja berlalu dan ia adalah pelabuhan yang aman.

Ia membungkuk, memungut ponselku yang tergeletak di atas aspal basah, mengusap layarnya yang sedikit kotor dengan ujung kemejanya, lalu mengulurkannya kepadaku.

"Kamu terluka?" tanyanya. Suaranya terdengar sangat berbeda dari yang ia gunakan pada laki-laki tadi. Kini suaranya rendah, mengayomi, dan terasa sangat... familiar, meski aku yakin seratus persen aku belum pernah melihat wajahnya seumur hidupku.

Aku menggeleng pelan, tanganku yang masih sedikit gemetar menerima ponsel itu. "Ng—nggak. Terima kasih. Makasih banyak. Kalau tadi nggak ada Mas..." Suaraku parau, terputus oleh tarikan napas yang memburu.

Pria itu tersenyum tipis. Senyum yang sangat kecil, tapi entah kenapa membuat detak jantungku yang berantakan perlahan kembali pada ritme normalnya. Ia tidak mengomentari betapa berantakannya penampilanku, tidak menyalahkan keputusanku berjalan sendirian di malam hari seperti kebanyakan orang. Ia hanya mengamatiku sejenak, memastikan aku benar-benar utuh.

"Jalanan ini sering sepi kalau di atas jam sepuluh," ujarnya lembut, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya. "Lain kali, jangan ambil rute ini kalau kamu pulang malam dari kafe."

Aku mengangguk refleks, lalu dahiku berkerut tipis. Aku belum memberitahunya dari mana aku berasal. Mungkin bau biji kopi masih menempel di pakaianku? Ya, pasti karena itu.

"Sekali lagi, makasih banyak," ucapku, berusaha terdengar lebih stabil. Aku menelan ludah, bersiap untuk pamit dan berlari sisa jalan menuju kos. "Saya permisi dulu."

Aku melangkah melewatinya. Namun, saat bahu kami hampir bersisian, suaranya kembali menahan langkahku. Suara yang sangat tenang, menembus dinginnya malam, langsung mengunci saraf-saraf di otakku.

"Malam ini tidurlah yang nyenyak. Kamu aman sekarang, Regita."

Langkahku terhenti seketika. Tubuhku menegang.

Angin malam kembali bertiup, membawa hawa dingin yang jauh lebih menusuk dari sebelumnya. Aku menoleh ke belakang dengan perlahan, merasakan jantungku kembali berdetak dengan irama yang janggal. Pria itu sudah membalikkan badan, berjalan menjauh dengan langkah yang tenang dan teratur, menyatu dengan kegelapan malam.

Mulutku sedikit terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Mataku terpaku pada siluet punggungnya yang perlahan menghilang.

Pikiranku berputar keras. Otakku membongkar paksa seluruh memori, mencari-cari apakah aku pernah memakai tanda pengenal malam ini. Tidak ada. Kafe tempatku bekerja bahkan tidak menggunakan nametag. Aku juga tidak membawa barang apa pun yang mencantumkan namaku dengan jelas di bagian luar.

Kami belum berkenalan. Aku belum mengucapkan sepatah kata pun yang menyebutkan identitas diriku.

Lalu, dari mana... dari mana pria itu tahu namaku?