Rasa sakit yang melilit perut bawahku pagi ini benar-benar membuatku ingin menelan duniaku sendiri.
Aku berbaring melingkar di atas kasur kos yang tipis, memeluk bantal guling erat-erat dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis. Hari pertama menstruasi selalu menjadi neraka bulananku. Biasanya, aku sudah menyiapkan pereda nyeri dan koyo hangat sejak jauh-hari, tapi rentetan tugas akhir dan sif tambahan di kafe membuatku kelelahan hingga lupa mengecek kotak obat.
Jam di layar ponselku menunjukkan pukul 07.15 pagi. Aku ada kelas bimbingan jam sembilan nanti. Mengirim pesan izin kepada Dosen Pembimbingku yang terkenal kejam itu sama saja dengan menggali kuburan akademisku sendiri.
Dengan sisa tenaga, aku memaksakan diri bangkit. Kepalaku berdenyut saat aku melangkah tertatih menuju pintu kamar kos, berniat mencari udara segar sejenak sebelum bersiap-siap, atau mungkin mengetuk kamar sebelah untuk meminjam obat.
Namun, saat aku membuka pintu kayuku yang berderit pelan, langkahku terhenti.
Ada sebuah kantong plastik putih kecil tergantung di gagang pintuku.
Dahiku berkerut. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Lorong kosku sepi. Sebagian besar penghuni lain pasti sudah berangkat kuliah atau masih terlelap. Aku meraih kantong itu dengan tangan sedikit gemetar. Tidak ada nama pengirim di luarnya.
Aku kembali ke dalam kamar, duduk di tepi kasur, dan membuka isinya. Napasku tertahan sejenak.
Di dalam kantong itu terdapat satu strip obat pereda nyeri ibuprofen—bukan merek generik, melainkan merek spesifik berdosis khusus yang selalu kupakai karena perutku sensitif terhadap obat lain. Di bawahnya, ada dua lembar koyo perut hangat, sebotol minuman jahe merah instan yang masih mengepulkan suhu panas, dan sebatang cokelat hitam dengan kadar kokoa 70%.
Bukan cokelat susu. Bukan cokelat kacang. Cokelat hitam. Persis seperti preferensiku yang tidak terlalu suka makanan manis.
Tanganku meraba dasar kantong dan menemukan selembar sticky note berwarna kuning. Tulisan tangannya sangat rapi, tegak bersambung dengan tinta hitam yang tegas.
Istirahat sebentar sebelum bimbingan. Minum jahenya selagi hangat. — Irfan.
Jantungku seketika berdebar dengan ritme yang tidak nyaman.
Irfan. Pria yang baru kukenal secara formal beberapa hari lalu di kedai kopi. Pria yang menyelamatkanku dari laki-laki mabuk di jalanan gelap. Pria yang tahu kebiasaanku memakai earphone hanya di sebelah kiri.
Bagaimana dia tahu alamat kosku?
Aku tidak pernah memberitahunya. Teman-teman terdekatku pun jarang main ke sini karena aku tipe orang yang sangat menjaga ruang privasi. Terlebih lagi, bagaimana dia tahu... aku sedang sakit hari ini? Aku belum memperbarui status media sosial apa pun, belum mengirim pesan kepada siapa pun.
Rentetan pertanyaan itu berputar di kepalaku, menciptakan pening baru yang bertabrakan dengan nyeri di perutku. Seharusnya, aku merasa marah atau setidaknya mengunci pintuku rapat-rapat. Seseorang menginvasi wilayah privasiku. Ini adalah sinyal bahaya yang nyata.
Tapi... saat aku menatap kepulan asap tipis dari botol jahe merah itu, dan sentuhan hangat dari koyo perut yang sangat kubutuhkan saat ini, sebuah perasaan asing menyelinap masuk ke rongga dadaku. Perasaan diperhatikan. Perasaan bahwa di tengah kota yang dingin dan tak acuh ini, ada seseorang yang memastikan aku baik-baik saja.
Aku menghela napas panjang, merobek kemasan obat dan menelannya bersama air jahe yang perlahan menghangatkan kerongkonganku.
Hanya kebetulan, bisikku pada diri sendiri, mencoba menenangkan logika yang mulai memberontak. Mungkin dia melihatku berjalan pulang waktu itu. Mungkin wajahku memang kelihatan pucat sejak kemarin.
Dua jam kemudian, dengan perut yang jauh lebih nyaman, aku berjalan menyusuri koridor fakultas. Bimbingan berjalan lancar, meski aku harus menahan senyum kaku selama empat puluh menit. Saat aku melangkah keluar dari gedung utama, berniat menuju kantin, langkahku perlahan melambat.
Irfan berdiri di bawah bayangan pohon angsana besar di dekat taman fakultasku.
Ia mengenakan kemeja navy polos yang dimasukkan rapi ke dalam celana bahan abu-abunya. Posturnya tegap, auranya tenang, sangat kontras dengan mahasiswa lain yang berlarian terburu-buru di sekitarnya. Seolah waktu berjalan lebih lambat di sekelilingnya. Dan saat aku keluar dari pintu kaca, tatapannya langsung mengunci posisiku. Begitu akurat, seolah ia sudah menghitung detik kepulanganku.
Ia berjalan menghampiriku. Senyum tipisnya mengembang, menyapu sisa-sisa kewaspadaanku seperti embun yang terkena sinar matahari pagi.
"Gimana bimbingannya? Pak Hermawan nggak ngamuk hari ini?" tanyanya saat jarak kami tinggal beberapa langkah.
Aku mematung sejenak. Aku belum menyebutkan nama dosen pembimbingku padanya. Tapi lagi-lagi, informasi itu sebenarnya bisa diakses siapa saja di papan pengumuman fakultas, kan? Aku memaksa bahuku untuk rileks.
"Berjalan lancar, untungnya," jawabku pelan. Mataku menatap lurus ke matanya yang cokelat pekat. "Dan... terima kasih buat yang tadi pagi. Obatnya. Semuanya."
Irfan memasukkan satu tangannya ke saku celana, terlihat sangat santai. "Syukurlah kalau berguna. Wajahmu pucat sekali kemarin sore saat kita berpapasan di gerbang kampus. Aku tebak kamu kurang sehat, dan hari ini pasti butuh booster."
Penjelasannya selalu masuk akal. Begitu rapi dan tak bercela.
"Tapi dari mana kamu tahu alamat kosku, Irfan? Dan kamar nomer berapa?" tanyaku. Kali ini aku tidak bisa menyembunyikan nada curiga di suaraku. Aku menatapnya lekat-lekat, menunggu ia sedikit saja menunjukkan kepanikan atau gelagat berbohong.
Namun Irfan hanya tersenyum semakin lembut. Ia tidak memalingkan wajahnya, tidak mengalihkan pandangannya. Ia justru menatapku dengan sorot mata yang penuh kehangatan, membuatku merasa seperti anak kecil yang sedang diberi penjelasan yang sangat sederhana.
"Waktu malam aku menolongmu dari laki-laki mabuk itu," suaranya mengayun tenang, "aku memastikan kamu pulang dengan aman. Aku berjalan jauh di belakangmu sampai kamu masuk ke gerbang kos bernomor 42 itu. Aku harus memastikan dia nggak kembali dan mengikutimu lagi, Regita. Dan soal kamar... Ibu kosmu yang sedang menyapu halaman pagi tadi yang memberitahuku."
Logis. Terdengar sangat melindungi, sangat bertanggung jawab. Alih-alih merasa diuntit, dadaku justru disergap rasa bersalah karena sudah menuduhnya yang tidak-tidak. Pria ini memastikan keselamatanku diam-diam.
"Maaf," gumamku sambil menundukkan kepala, memainkan ujung lengan kardiganku. "Aku cuma... nggak terbiasa diperhatikan seperti itu. Nggak ada yang pernah repot-repot repot mencarikan obat spesifik untukku."
Tiba-tiba, aku merasakan sentuhan ringan di puncak kepalaku. Tangannya mengusap rambutku dengan gerakan yang sangat pelan, nyaris seperti embusan angin, tapi efeknya mengirimkan sengatan kecil ke sepanjang tulang belakangku.
"Mulai sekarang, biasakanlah," ucapnya rendah.
Kami memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman yang sepi. Angin siang itu cukup sejuk, tapi terik matahari mulai terasa menyengat di kulit. Aku mengikat rambut panjangku asal-asalan ke belakang, membentuk cepol berantakan karena leherku mulai berkeringat.
"Gerah, ya?" tanya Irfan, matanya memperhatikan gerakanku menata rambut.
"Banget," keluhku sambil mengipasi wajah dengan buku catatanku. "Aku benci banget cuaca panas yang lengket begini. Bikin mood berantakan seharian."
Irfan terkekeh pelan. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku, matanya menatap lurus ke depan, ke arah lapangan rumput yang kosong.
"Ya. Kamu memang selalu benci gerah. Dari zaman pita rambut birumu selalu sering putus ditarik karena kamu terlalu kuat ngikatnya kalau lagi kepanasan..."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, ringan, seolah ia sedang menceritakan cuaca hari ini.
Gerakan tanganku yang sedang mengipasi wajah terhenti di udara. Darah di tubuhku terasa surut seketika.
Pita rambut biru.
Saat SMA, aku memiliki satu pita rambut biru tua yang selalu kugunakan setiap kali cuaca sedang panas terik, saat pelajaran olahraga, atau saat kipas angin di kelasku rusak. Aku sering menariknya terlalu kencang karena frustrasi, hingga pita itu beberapa kali putus dan harus kujahit ulang. Itu adalah kebiasaan konyol bertahun-tahun lalu di kota asalku—ratusan kilometer dari kota tempatku berkuliah sekarang.
Aku menoleh menatap Irfan dengan gerakan patah-patah. Napasku tertahan di tenggorokan. "Apa... apa katamu barusan?"
Irfan menoleh padaku. Untuk sepersekian detik—hanya sekejap mata—aku melihat kilat keterkejutan di balik ketenangan matanya. Rahangnya sedikit mengeras. Namun sebelum aku bisa memastikannya, ekspresi itu lenyap tak berbekas, digantikan oleh senyum santai yang sempurna.
"Maksudku," ia mengoreksi ucapannya dengan nada yang begitu tenang, tanpa jeda yang mencurigakan, "dari dulu tipe perempuan sepertimu pasti sering merusak ikatan rambut kalau lagi gerah. Teman-teman kelasku dulu sering begitu." Ia menunjuk ke arah cepolan rambutku yang berantakan. "Lihat, karetmu hampir putus itu."
Aku refleks menyentuh karet rambut hitamku yang memang sudah longgar dan seratnya hampir putus. Aku menelan ludah. Rasa dingin menjalari tengkukku, bertentangan dengan cuaca terik di sekitar kami.
Apakah aku salah dengar? Aku yakin sekali tadi dia menyebut 'pita rambut biru'. Kata itu sangat spesifik. Terlalu akurat untuk sebuah tebakan asal. Tapi ekspresi Irfan saat ini terlihat begitu jujur dan biasa saja, seolah ia memang tidak mengatakan hal yang aneh.
"Ya... mungkin," balasku pelan, suaraku terdengar serak di telingaku sendiri. Aku menurunkan tanganku dari rambut, memeluk buku catatanku erat-erat sebagai tameng tak kasatmata.
Irfan menatapku sejenak. Sorot matanya kini berubah, seolah sedang meneliti wajahku inci demi inci, mencari tahu seberapa dalam kata-katanya tadi meresap ke dalam pikiranku. Ia lalu bangkit berdiri, merapikan letak kemejanya.
"Aku ada kelas jam satu. Kamu mau kuantar pulang? Mataharinya makin terik." Suaranya kembali mengayomi, mengalihkan fokusku sepenuhnya dari percakapan aneh barusan.
Aku menggeleng pelan. "Nggak usah. Aku masih mau ke perpustakaan sebentar."
"Baiklah. Jangan terlalu memaksakan diri." Irfan menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam mataku. "Kalau butuh apa-apa, kamu tahu harus menghubungiku, kan?"
Aku mengangguk kaku. Irfan tersenyum, lalu berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah yang teratur, presisi, tak terburu-buru.
Aku duduk diam di bangku taman itu, menatap punggungnya yang semakin mengecil. Angin panas meniup helaian rambut yang terlepas dari ikatanku, menampar pipiku pelan. Logikaku berusaha menyatukan kepingan-kepingan rasional untuk membenarkan penjelasannya tadi.
Dia bilang teman kelasnya. Dia nggak bilang pita rambutku.
Tapi malam itu, saat aku berbaring di atas kasur dengan mata menatap langit-langit kamar yang gelap, kalimat itu kembali berdengung di kepalaku berulang kali. Menggema dalam keheningan kamarku yang sunyi.
Dari zaman pita rambut birumu selalu sering putus...
Napas kecilku bergetar. Tanganku meremas ujung selimut. Aku tahu pasti apa yang kudengar. Irfan tidak sedang menebak. Ia membicarakan sebuah memori. Sebuah kenangan yang spesifik.
Masalahnya adalah... kenangan itu hanya milikku.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar