Sudah dua minggu sejak percakapan di bangku taman itu, dan perlahan, tanpa aku sadari, kehadiran Irfan mulai berubah dari sebuah 'kebetulan' menjadi 'rutinitas'.
Logikaku yang selalu siaga perlahan mulai tumpul, dikikis oleh perhatiannya yang begitu konsisten. Irfan tidak pernah memaksa. Ia tidak pernah memberondongku dengan pesan teks berlebihan atau menelepon di jam-jam yang tidak pantas. Sebaliknya, ia muncul tepat di saat aku membutuhkannya. Saat hujan turun deras dan aku tidak membawa payung di halte kampus, mobilnya kebetulan lewat untuk menawarkan tumpangan. Saat jadwalku di kafe sangat padat dan aku melewatkan jam makan malam, sebuah paket makanan kesukaanku selalu tiba di meja kasir dengan namanya sebagai pengirim.
Aku, yang selama ini terbiasa menelan kesepian sendirian, pelan-pelan mulai menikmati rasa aman ini. Rasa aman yang anehnya membuatku ketergantungan.
Malam ini, kami duduk berhadapan di sebuah restoran kecil yang sunyi di pinggiran kota. Cahaya lampu gantung yang temaram berwarna kuning keemasan menerangi separuh wajah Irfan, mempertegas garis rahangnya yang keras. Di luar, gerimis kecil mulai turun, menampar kaca jendela di samping meja kami dengan ritme konstan yang menenangkan.
"Kamu kelihatan jauh lebih baik hari ini," ujar Irfan, suaranya yang dalam memecah keheningan di antara kami. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan, matanya tak pernah lepas dari wajahku.
Aku tersenyum tipis, mengaduk teh chamomile-ku yang masih mengepul. "Kerjaan di kafe lagi lumayan sepi, dan draf bab empatku udah di-acc sama dosen. Akhirnya aku bisa napas dikit."
"Baguslah." Irfan menyandarkan punggungnya, menautkan jemari panjangnya di atas pangkuan. "Kamu terlalu sering memforsir diri. Seolah kamu harus membuktikan sesuatu kepada seseorang. Atau mungkin... membuktikan sesuatu kepada keluargamu?"
Gerakan tanganku yang sedang mengaduk teh terhenti seketika. Sendok kecil beradu dengan pinggiran cangkir porselen, menciptakan bunyi denting yang nyaring.
Keluarga. Kata itu selalu berhasil meninggalkan rasa pahit di pangkal lidahku.
Aku menunduk, memperhatikan pusaran air teh di dalam cangkir. Biasanya, aku akan langsung membangun tembok tebal dan mengalihkan pembicaraan jika ada orang yang menyinggung soal keluargaku. Tapi di bawah tatapan Irfan yang tenang dan tanpa penghakiman ini, tembok itu entah kenapa runtuh dengan sendirinya.
"Keluargaku..." suaraku nyaris seperti bisikan, tersendat oleh rasa sesak yang bertahun-tahun kupendam. "Mereka nggak peduli aku mau buktiin apa pun, Irfan. Sejak ayahku meninggal waktu aku SMP, dan ibuku menikah lagi... aku udah nggak punya tempat di rumah itu. Makanya aku pergi sejauh mungkin. Cari beasiswa, kerja part-time. Aku cuma mau hidup tanpa merasa diriku jadi beban buat orang lain."
Aku menarik napas panjang yang terdengar gemetar. Mata rasanya panas. "Kadang... capek juga harus selalu kuat sendirian. Nggak ada yang nanyain hari ini aku makan apa, atau hari ini aku nangis karena apa."
Aku memejamkan mata, merutuki diriku sendiri. Bodoh. Kenapa aku semudah ini memuntahkan rahasia terbesarku padanya? Aku jarang sekali membicarakan soal ibu tiri atau mendiang ayahku pada teman-temanku. Menunjukkan kerentanan berarti memberikan senjata pada orang lain untuk menyakitimu. Itu prinsipku sejak dulu.
Namun, bukannya mencibir atau memberikan kalimat penyemangat klise murahan, Irfan memajukan tubuhnya.
Ia mengulurkan tangannya melintasi meja, menyentuh punggung tanganku yang dingin. Kulitnya terasa hangat dan kasar, memberikan kontras yang membuatku merinding. Jari besarnya mengusap buku-buku jariku dengan gerakan ritmis yang pelan, seperti sedang menenangkan hewan yang ketakutan.
"Mereka yang rugi, Regita," suaranya turun satu oktaf, menjadi sangat rendah dan serak, menyusup langsung ke dalam relung kesadaranku. "Kamu berharga. Sangat berharga. Mereka hanya terlalu buta untuk melihat apa yang sebenarnya ada di depan mereka. Tapi aku melihatnya. Aku selalu melihatmu."
Kalimat itu terdengar begitu intens. Tatapan matanya seperti mengurungku dalam sebuah ruangan kedap suara, di mana hanya ada aku dan dia. Tidak ada orang tua yang mengabaikan. Tidak ada teman yang pura-pura peduli. Hanya ada Irfan, yang menawarkan satu-satunya tempat bersandar yang aku dambakan.
Sensasi nyaman menyelimuti sekujur tubuhku, membius kewaspadaanku hingga nyaris tak bersisa.
Aku menarik tanganku pelan, tersipu kaku. "Makasih, Irfan. Maaf... aku jadi curhat terlalu banyak. Omong-omong..." Aku berdeham, mencoba mengembalikan keseimbangan percakapan. "Gimana dengan keluargamu? Sejak kita kenal, kamu hampir nggak pernah cerita apa-apa soal dirimu sendiri. Kamu tinggal sama siapa di sini?"
Pertanyaan itu wajar, bukan? Mengingat betapa telanjangnya aku menceritakan kisah hidupku padanya.
Namun, sesuatu dalam gestur Irfan berubah. Sangat halus, hampir tak kentara jika aku tidak terus menatapnya. Senyum tipis masih terpasang di wajahnya, tetapi mata cokelatnya mendadak membeku, kehilangan kehangatan yang baru saja ia tunjukkan padaku beberapa detik lalu.
"Keluargaku? Bukan sesuatu yang menarik untuk dibahas," jawabnya dengan nada ringan yang terasa terlalu dibuat-buat. Ia menarik tangannya kembali ke sisinya, memutus kontak fisik di antara kami. "Hanya orang-orang biasa yang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Aku tinggal sendiri di rumah yang agak jauh dari pusat kota. Suasananya tenang, cocok untuk orang yang tidak terlalu suka keramaian sepertiku."
"Rumah? Kamu nggak ngekos?" pancingku lagi, mencoba menggali.
Irfan menatapku, senyumnya kini menajam di sudut-sudutnya. "Aku suka punya ruanganku sendiri, Regita. Sama sepertimu. Makanya kita sangat cocok, kan?"
Ia memutar arah percakapan dengan kepiawaian seorang ilusionis. Fokus pembicaraan kembali bergeser padaku, dan anehnya, otakkuku membiarkan hal itu terjadi. Ia membuatku terus berbicara, terus bercerita tentang dosenku, tentang kucing jalanan di depan kosku, tentang segala hal remeh di duniaku. Ia mendengarkan segalanya. Menyerap setiap kata-kataku seperti spons yang kehausan.
Dua jam kemudian, piring-piring kami sudah bersih. Hujan di luar sudah reda.
"Biar kuantar kamu pulang hari ini," kata Irfan sambil meletakkan beberapa lembar uang di atas meja makan, menolak tegas saat aku mencoba mengeluarkan dompetku. "Udara malam ini terlalu dingin buatmu jalan kaki dari halte."
Aku tidak menolak. Rasa hangat dari perhatiannya masih membungkus hatiku, membuatku merasa spesial.
Kami berjalan berdampingan menuju tempat parkir. Mobil SUV hitamnya terparkir di sudut yang agak gelap. Aku masuk ke kursi penumpang, merasakan aroma maskulinβcampuran kayu cedar dan muskβyang menjadi ciri khas Irfan memenuhi ruang kabin mobil. Aroma ini perlahan mulai terekam di otakku sebagai definisi dari 'rasa aman'.
Aku mengeluarkan ponselku dari dalam tas, berniat mengecek pesan dari grup kerja kafe. Layar ponselku kotor oleh sedikit noda saus dari restoran tadi. Aku mendecak sebal, merogoh tas mencari tisu.
"Biar aku saja," potong Irfan tiba-tiba.
Sebelum aku sempat menjawab, sebelah tangannya dengan luwes mengambil ponsel dari genggamanku, sementara tangan kirinya mengambil tisu bersih dari dashboard mobil. Ia mengusap layar ponselku dengan hati-hati.
"Layar pelindungnya sudah retak sedikit di ujung, nanti kuganti yang baru," gumamnya santai.
Aku baru saja akan mengucapkan terima kasih, saat mataku menangkap gerakan tangannya selanjutnya.
Layar ponselku menyala, menampilkan layar terkunci yang meminta passcode empat digit. Tanpa menoleh ke arahku, tanpa berhenti bernapas atau terlihat ragu sedikit pun, ibu jari Irfan menekan angka-angka di layar itu dengan kecepatan yang sangat natural.
Dua. Tujuh. Nol. Sembilan.
Layar kunci terbuka. Bunyi klik halus terdengar di dalam kabin mobil yang sunyi.
Irfan menyerahkan ponsel itu kembali kepadaku dengan senyum tipis. "Sudah bersih."
Tanganku melayang di udara, membeku sebelum sempat menyentuh benda pipih itu. Mataku melebar, menatap ponselku yang kini sudah masuk ke home screen, lalu perlahan naik menatap wajah Irfan yang disinari cahaya lampu jalan dari luar kaca mobil.
Jantungku terasa berhenti berdetak sesaat. Udara di sekitarku seolah disedot habis, membuat dadaku sesak seketika. Bulu kuduk di tengkukku meremang hebat, mengirimkan sinyal bahaya paling primitif ke seluruh tubuhku.
"Kok... kamu tahu password-ku?" bisikku. Suaraku parau, gemetar di ujungnya.
Irfan menoleh padaku. Matanya masih tenang. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Ia bahkan sedikit memiringkan kepalanya, menatapku dengan kelembutan yang kini terasa mengerikan.
"Kebetulan," jawabnya ringan, tanpa beban. Ia mengulurkan tangannya menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga. Jari dinginnya menyentuh kulitku. "Hanya tebakan acak yang kebetulan benar, Regita. Kenapa kamu terlihat setakut itu?"
Kebetulan.
Kata itu bergema di telingaku, diiringi deru mesin mobil yang baru saja dinyalakan. Logikaku lumpuh. Napasku tersengal pendek.
Kombinasi passcode itu bukan tanggal lahirku. Bukan tanggal jadian mantanku. Bukan kombinasi mudah seperti angka nol empat kali.
2709.
Itu adalah tanggal kematian ayahku, hari terburuk dalam hidupku. Sebuah rahasia gelap yang bahkan ibuku sendiri mungkin sudah lupa. Angka yang tidak pernah kusebutkan secara verbal, tidak pernah kutulis di mana pun, dan hanya terpendam di bagian terdalam ingatanku sejak aku duduk di bangku SMP.
Tidak ada tebakan acak yang bisa menebak angka itu secara kebetulan. Tidak akan pernah ada.
Aku memalingkan wajah menatap jalanan gelap di luar jendela, mencengkeram ponselku erat-erat dengan kedua tangan yang mulai berkeringat dingin. Rasa aman yang sejak tadi membungkusku kini lenyap tanpa sisa, digantikan oleh jaring ketakutan yang menjerat leherku perlahan-lahan.
Pria yang duduk di sebelahku saat ini sedang mengemudikan mobilnya dengan tenang.
Tapi aku mulai sadar... aku sama sekali tidak tahu siapa dia.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar