Tiga hari berlalu sejak malam itu, tapi rasanya setiap kali aku menutup mata, gema langkah sepatu pria asing itu masih terdengar di telingaku.
Kamu aman sekarang, Regita.
Aku menghela napas panjang, mengusap wajahku dengan kasar di atas meja perpustakaan kampus yang sejuk. Laptop di depanku menyala, menampilkan kursor yang berkedip mengejek di layar Microsoft Word yang kosong melompong. Skripsiku mandek. Pikiranku terlalu penuh, terpecah antara beban tugas akhir dan paranoia yang menyelinap tanpa permisi ke dalam keseharianku.
Setiap kali berjalan di kampus, aku merasa seolah ada sepasang mata yang mengamatiku dari kejauhan. Namun setiap kali aku menoleh secara tiba-tiba, tidak ada siapa-siapa. Hanya mahasiswa yang berlalu-lalang, sibuk dengan urusan mereka sendiri. Teman-temanku bilang aku hanya trauma ringan karena kejadian nyaris dirampok itu, dan menyuruhku untuk lebih banyak istirahat. Mungkin mereka benar. Mungkin otakkulah yang melebih-lebihkan keadaan. Pria itu pasti pernah datang ke kafe dan mendengar salah satu rekanku memanggil namaku. Ya. Pasti begitu.
Aku menutup laptop dengan frustrasi dan memasukkannya ke dalam ransel. Berada di perpustakaan yang terlalu hening malah membuatku semakin overthinking. Aku butuh suara. Aku butuh tempat yang bising tapi tidak menuntutku untuk berinteraksi.
Tiga puluh menit kemudian, aku sudah duduk di sudut favoritku di The Grind, sebuah kedai kopi mandiri di dekat area kampus. Kedai ini selalu memutar musik lo-fi, aromanya campur aduk antara roasted bean dan kayu manis. Aku mengeluarkan buku catatan dan pulpen, bersiap untuk melanjutkan revisi manual.
"Mbak, pesen seperti biasa, ya?" sapa Reno, barista yang sudah hafal dengan wajahku. Aku mengangguk dan memaksakan senyum tipis, lalu menunduk menatap buku catatanku.
Suasana kedai cukup ramai. Hujan di luar membuat banyak mahasiswa berteduh di sini. Udara terasa lembap, membuatku merapatkan kardigan rajut hijau lumut yang kukenakan. Aku memfokuskan pandangan pada deretan kalimat di jadwalku, mencoba mengabaikan rasa lelah yang menggerogoti tulang punggungku. Sejak kejadian malam itu, tidurku tidak pernah benar-benar lelap.
Tak lama, terdengar suara kursi kayu di seberang mejaku ditarik perlahan.
Aku tidak mendongak, berpikir itu mungkin pelanggan lain yang kehabisan meja dan ingin berbagi tempatβhal yang lumrah terjadi di kedai ini saat sedang hujan.
Lalu, sebuah gelas kaca tinggi diletakkan dengan pelan di atas mejaku, menyentuh tepian buku catatanku. Bunyi es batu yang bergemerincing halus membuatku mengangkat pandangan.
Sebuah gelas berisi iced matcha espresso, dengan tambahan susu gandum dan sedikit taburan bubuk kayu manis di atasnya. Persis seperti pesanan rahasiaku yang tidak ada di menu reguler.
Mataku perlahan naik, mengikuti lengan kemeja abu-abu yang tergulung rapi, melewati bahu tegap, hingga akhirnya terkunci pada wajah orang yang duduk di hadapanku.
Napas tertahan di tenggorokan. Jantungku melewatkan satu ketukan.
Pria itu. Pria dari malam itu.
Di bawah cahaya lampu kedai yang hangat, ia terlihat jauh lebih jelas. Kulitnya bersih, rahangnya tegas, dan sepasang mata cokelat gelapnya menatapku dengan ketenangan yang luar biasa. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai, menautkan jari-jarinya di atas meja. Bibirnya melengkung membentuk senyum simpul.
"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya. Suara baritonnya masih samaβdalam, lembut, dan anehnya, terasa begitu familiar di telingaku.
Aku masih terlalu terpaku untuk merespons dengan cepat. Mataku bergantian menatap wajahnya dan gelas matcha espresso di depanku. "Anda... yang waktu itu, kan?" suaraku akhirnya keluar, meski sedikit serak.
Senyumnya sedikit melebar. "Irfan," ucapnya, memperkenalkan diri tanpa repot-repot mengulurkan tangan. Ia hanya menatap mataku lekat-lekat, seolah sedang membaca sebuah buku yang sangat menarik. "Panggil saja Irfan."
"Regita," balasku pelan, meski dalam hati aku tahu dia sudah tahu namaku.
"Aku tahu," sahutnya ringan. Tangannya menunjuk ke arah gelas di mejaku. "Diminum. Matcha selalu bisa bantu meredakan stres, kan? Apalagi dicampur espresso. Kamu kelihatan... kurang tidur beberapa hari ini."
Aku membeku. Tanganku yang baru saja hendak menyentuh gelas itu terhenti di udara. Aku menatapnya dengan kening berkerut. "Maaf, Irfan. Tapi... apakah kita pernah kenal sebelumnya? Maksudku, sebelum malam itu?"
Irfan tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar jendela sejenak, memperhatikan rintik hujan yang menghantam kaca, sebelum kembali memusatkan seluruh perhatiannya padaku. Fokusnya begitu intens, seolah seluruh dunia di sekitarnya mengabur dan hanya ada aku di dalam radarnya.
"Kita satu kampus, Regita," jawabnya dengan nada yang begitu santai, mengalir tanpa beban. "Fakultas kita berseberangan. Aku sering lihat kamu di perpustakaan, di koridor, dan di kedai ini. Kamu selalu duduk di sudut ini menghadap jendela, memakai headphone, dan memesan matcha espresso dengan susu gandum dan kayu manis. Pesanan yang unik."
Penjelasannya terdengar logis. Sangat masuk akal. Kami berada di lingkungan yang sama. Bukan hal aneh jika seseorang menyadari eksistensi orang lain yang rutin berada di tempat yang sama. Namun, ada sesuatu dalam cara Irfan berbicaraβsesuatu yang terlalu rinci, terlalu jeli untuk ukuran seseorang yang sekadar 'sering melihat'.
"Jadi... malam itu, kamu cuma kebetulan lewat?" tanyaku lagi, mencoba menghilangkan sisa-sisa kewaspadaanku.
Irfan mencondongkan tubuhnya ke depan, jarak kami sedikit menipis. Aroma parfumnya yang maskulin dan woody bercampur dengan aroma kopi di udara, menciptakan wangi yang anehnya membuatku merasa... rileks.
"Aku sedang cari makan malam setelah dari kampus. Dan, kebetulan melihatmu diganggu," jawabnya. Sorot matanya melembut, memancarkan empati yang tulus. "Aku bersyukur aku ada di sana tepat waktu. Kalau tidak... aku nggak tahu apa yang akan terjadi padamu."
Nada suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir terdengar sedikit lebih rendah, seolah gagasan bahwa aku terluka adalah sesuatu yang sangat mengganggunya. Aku menggigit bibir bawahku, tiba-tiba merasa bersalah karena sudah mencurigainya yang macam-macam. Pria ini telah menolongku. Ia menyelamatkanku dari malam yang bisa saja berakhir tragis. Dan sekarang, dia di sini, bersikap sangat sopan dan menyenangkan.
Kenapa aku harus merasa takut?
"Terima kasih lagi, Irfan," ucapku lebih tulus kali ini. Aku menarik gelas minumanku dan menyesapnya. Suhu dingin dan perpaduan rasa pahit-manis itu langsung menenangkan tenggorokanku.
"Bagaimana progres bab tiga-mu?"
Aku nyaris tersedak. Aku menelan minuman itu dengan susah payah, mataku membulat menatapnya. "Hah? Bab tiga?"
Irfan terkekeh pelan. Tawanya terdengar empuk, menggetarkan udara di antara kami. "Buku catatanmu terbuka, Regita," ia menunjuk dengan dagunya ke arah buku catatanku yang dipenuhi coretan merah di halaman berjudul 'Analisis Bab III'. "Kelihatan jelas."
Wajahku merona panas. Bodohnya. Aku buru-buru menutup buku catatanku. "Oh, ini. Ya... lumayan mandek. Dosen pembimbingku agak perfeksionis."
"Kamu pasti bisa melewatinya. Kamu tipe orang yang selalu menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai, meski itu sulit."
Aku terdiam. Kalimat itu diucapkan dengan nada yang begitu penuh keyakinan. Bukan sekadar kalimat basa-basi untuk menyemangati, melainkan sebuah pernyataan fakta dari seseorang yang sudah sangat memahamiku.
Percakapan kami setelah itu mengalir dengan sendirinya. Ajaibnya, aku yang biasanya canggung dan sulit membuka diri pada orang baru, mendadak merasa sangat luwes saat berbicara dengan Irfan. Ia pendengar yang luar biasa. Ia tidak memotong pembicaraanku, tidak mendominasi, dan selalu memberikan tanggapan yang tepat sasaran. Ia bertanya tentang buku yang kubaca, tentang hal-hal kecil yang menyebalkan di kampus, tentang alasan kenapa aku memilih kerja paruh waktu padahal beasiswaku cukup untuk hidup.
Namun, saat aku memikirkan kembali obrolan kami dua jam kemudian, aku menyadari satu hal yang ganjil: selama berjam-jam kami berbicara, Irfan hampir tidak pernah menceritakan tentang dirinya sendiri.
Setiap kali aku melempar pertanyaan balik, ia menjawabnya dengan sangat singkat, sebelum dengan mahir membelokkan arah pembicaraan kembali padaku. Ia membuatku merasa menjadi satu-satunya orang di ruangan ini, membuai egoku, memberiku ruang aman yang sangat nyaman. Perhatian yang tidak pernah kudapatkan dari siapa pun selama bertahun-tahun hidup merantau sendirian.
Rasa nyaman ini... rasanya tidak wajar. Terlalu instan. Terlalu sempurna.
Hujan mulai reda saat aku memutuskan untuk pamit. Aku harus mengejar jadwal kerjaku di kafe. Irfan ikut berdiri, menawarkan diri untuk mengantarku dengan mobilnya, tapi aku menolak dengan halus. Aku belum siap berada di ruang sempit tertutup berdua saja dengannya.
"Nggak apa-apa, Irfan. Kafe-nya dekat dari sini, aku jalan kaki saja," tolakku seraya membetulkan tali ranselku.
Irfan tidak memaksa. Ia tersenyum memaklumi dan mengangguk pelan. "Hati-hati. Kalau ada apa-apa, kamu tahu di mana bisa menemuiku."
Aku tersenyum membalasnya, berbalik dan mulai melangkah menuju pintu keluar kedai. Namun, baru tiga langkah aku menjauh, suaranya kembali mengudara, santai namun sukses memakukan kakiku ke lantai.
"Oh ya, Regita..." panggilnya lembut.
Aku menoleh. Irfan masih berdiri di samping meja, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca.
"Kalau jalan ke kafe, usahakan jangan pakai earphone di telinga kiri," ucapnya pelan, senyum di bibirnya tidak pudar sedikit pun. "Kamu jadi nggak pernah sadar ada motor yang sering melaju kencang dari arah tikungan buta sebelah situ."
Aku menelan ludah. Udara di sekitarku mendadak kembali membeku.
Kebiasaan memakai earphone hanya di telinga kiri itu...
Aku baru melakukannya minggu lalu, karena earphone kananku rusak terinjak di kamar kos. Aku belum pernah menceritakannya pada siapa pun. Dan aku selalu menutupi telingaku dengan rambut yang tergerai panjang setiap kali berjalan di luar.
Bagaimana... bagaimana mungkin dia bisa tahu detail sekecil itu?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar