Bau pengharum ruangan aroma jeruk murahan yang menggantung di kaca spion selalu membuatku mual jika dihirup terlalu lama, tapi malam ini baunya justru menguap, kalah oleh aroma aspal basah dan debu jalanan yang menyusup lewat celah jendela. Gerimis baru saja reda, meninggalkan genangan air yang memantulkan cahaya kuning pendar dari lampu jalan yang berjejer rapi namun terasa begitu sepi.

Hanya ada suara deru mesin mobilku yang kasar. Angkot tua bermesin diesel ini sudah bertahun-tahun menemaniku menyusuri rute pinggiran kota. Malam ini terasa lebih panjang dari biasanya. Jarum jam di dashboard menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit. Seharusnya, pada jam-jam begini, masih ada satu atau dua pekerja sif malam yang menumpang dari pabrik garmen di ujung jalan bypass sana. Tapi malam ini, aspal di depanku kosong melompong. Kosong yang membuat bulu kudukku meremang tanpa alasan yang jelas.

Aku menguap lebar, mengusap wajahku yang terasa lengket oleh keringat dingin. Matahari sudah lama tenggelam, tapi udara malam ini terasa gerah, seolah atmosfer sedang menekan ke bawah, menahan napasnya sendiri.

"Sepi amat yak," gumamku pada diri sendiri, sekadar memecah kesunyian yang mulai terasa menekan gendang telinga. Suaraku terdengar aneh di dalam kabin mobil yang remang-remang.

Kuperlambat laju kendaraan saat mendekati sebuah halte bus berkarat di dekat pertigaan jalan lama. Halte itu biasanya gelap, lampu neon di atapnya sudah mati sejak berbulan-bulan lalu. Namun, sorot lampu depanku yang kekuningan menyapu sesuatu di sana. Ada siluet seseorang yang berdiri diam di bawah bayang-bayang atap seng halte.

Aku menginjak pedal rem perlahan. Rem tromol yang mulai aus berdecit nyaring, memecah keheningan malam. Mobil berhenti tepat di depan halte.

Pintu geser di belakang terbuka dengan suara srek yang kasar. Suspensi mobil sedikit turun di bagian kiri belakang, menandakan beban yang baru saja masuk. Aku tidak menoleh. Sebagai sopir angkot malam, menoleh ke belakang untuk memperhatikan wajah penumpang adalah hal yang jarang kulakukan. Cukup dengar dari suara langkahnya, atau dari uang receh yang mereka siapkan.

Hawa dingin mendadak menyeruak masuk ke dalam kabin. Bukan sekadar dingin angin malam sehabis hujan, tapi dingin yang aneh. Dingin yang lembap. Seperti embusan napas dari dalam lemari es yang sudah lama tidak dibersihkan. Aku refleks menaikkan ritsleting jaket parasitku sampai ke leher.

"Ke terminal, Mas?" tanyaku santai, mataku tetap fokus ke depan, memasukkan gigi satu dan mulai melepas kopling.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara decit ban basah bergesekan dengan aspal saat mobil kembali melaju. Aku melirik sekilas ke kaca spion tengah. Di bawah cahaya remang-remang lampu jalan yang sesekali masuk lewat kaca samping, aku hanya bisa melihat siluet gelap yang duduk tegap di pojok paling belakang. Ia mengenakan semacam jaket tebal yang kebesaran, atau mungkin jas hujan yang warnanya sudah pudar. Kepalanya menunduk dalam, disembunyikan oleh tudung atau bayangan, aku tak bisa memastikannya.

"Mas? Terminal kan?" tanyaku lagi, kali ini suaraku sedikit lebih keras.

Tetap hening.

Aku mendengus pelan, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman yang mulai merayap naik dari perutku. Orang capek, pikirku. Mungkin habis lembur mati-matian, tidak punya tenaga lagi sekadar untuk menjawab. Aku sudah sering membawa penumpang seperti ini. Mereka yang jiwanya seolah sudah terkuras habis oleh kerasnya pabrik dan hanya ingin cepat sampai di kasur bambu mereka yang reyot.

Perjalanan berlanjut. Jalanan semakin menyempit saat aku memasuki area menuju terminal akhir. Pohon-pohon beringin besar di kiri-kanan jalan seolah menjorok ke tengah, membentuk terowongan gelap yang menelan cahaya lampu mobilku. Ranting-rantingnya bergesekan ditiup angin, mengeluarkan suara berdesir yang mirip seperti bisikan orang banyak.

Kesunyian di dalam mobil kini terasa sangat pekat. Terlalu pekat. Biasanya, sependiam apa pun penumpang, pasti ada suara sekecil apa pun yang terdengar. Suara napas, gesekan kain saat mereka mengubah posisi duduk, suara batuk pelan, atau ketukan jari. Tapi dari arah belakang... tidak ada apa-apa. Benar-benar hening, seolah aku sedang mengangkut sebuah manekin.

Bulu kudukku mulai berdiri. Keringat dingin merembes dari pelipis, menetes lambat ke pipiku. Mataku tanpa sadar terus menerus melirik ke kaca spion tengah. Sekilas. Kembali ke jalan. Sekilas lagi. Kembali ke jalan.

Setiap kali aku melirik, siluet itu tetap di sana. Tidak bergeser satu inci pun. Posisinya sama persis seperti saat ia pertama kali duduk. Menunduk. Diam.

"Ah, masa bodo," gumamku pelan, mencoba menenangkan diri sendiri. "Sebentar lagi sampai terminal."

Sepuluh menit berlalu yang terasa seperti berjam-jam. Cahaya neon dari gapura terminal kota akhirnya terlihat di ujung jalan. Terminal itu sepi, hanya ada satu atau dua angkot lain yang terparkir jauh di sudut, supirnya entah sedang tidur atau nongkrong di warung kopi terdekat. Aku mengarahkan mobilku ke tempat pemberhentian biasa, di bawah sebuah lampu jalan yang berkedip-kedip seakan nyawanya sudah mau habis.

Aku menarik tuas rem tangan. Krek. Mesin kubiarkan menyala dalam posisi idle. Getarannya menjalar dari pedal ke sol sepatuku.

"Terminal, Mas. Pangkalan terakhir," ucapku sambil meregangkan punggung yang kaku. Aku menunggu suara koin jatuh ke tanganku, atau setidaknya suara langkah kaki bergeser menuju pintu keluar.

Tidak ada.

Aku mengerutkan kening. Kekesalan mulai mengalahkan rasa takutku. "Mas? Udah sampai ini," kataku sedikit lebih keras, nadaku menuntut.

Hening.

Keheningan yang kini terasa tidak wajar. Jantungku mulai berdebar lebih cepat. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanianku yang rasanya sudah menguap entah ke mana. Dengan gerakan patah-patah, aku memutar tubuhku ke belakang, menoleh melewati sandaran kursi kemudi.

Mataku menyapu barisan kursi penumpang berlapis kulit sintetis yang sudah pecah-pecah itu. Kosong.

Tidak ada siapa-siapa di sana.

Napas yang sejak tadi kutahan meluncur keluar dari mulutku dalam satu embusan panjang. Jantungku masih berdegup kencang, tapi ada rasa lega yang aneh merayap di dadaku. Turun di lampu merah tadi kali ya? batinku mencoba rasional. Atau pas gue jalan pelan di tikungan pasar? Ah, kurang ajar emang, penumpang gelap nggak mau bayar.

Aku mengusap wajahku dengan kasar. "Bangsat, rugi bensin gue," rutukku sendirian, merasa bodoh karena sudah ketakutan setengah mati.

Aku memutar tubuhku kembali ke depan, menghadap kemudi. Tanganku terulur untuk mematikan mesin, bersiap untuk turun dan mencari kopi panas di warung langganan. Namun, sebelum jari-jariku menyentuh kunci kontak, pandanganku tanpa sengaja tertuju pada kaca spion tengah yang tergantung di atas dashboard.

Jantungku seperti berhenti berdetak saat itu juga. Darahku terasa membeku, mengalir turun dari kepala hingga ke ujung kaki dalam satu detik yang mematikan.

Di pantulan cermin persegi panjang yang sedikit kusam itu...

Di kursi paling belakang yang baru saja kupastikan kosong melompong...

Sosok gelap dengan tudung menunduk itu masih duduk di sana. Mematung. Tidak bergerak.