Bunyi klik dari tuas pengunci pintu di sebelah kiriku terdengar lebih keras dari ledakan meriam. Suara itu menggema di dalam batok kepalaku, menghentikan seluruh fungsi rasional otakku dalam sepersekian detik. Waktu seolah membeku. Debu-debu yang beterbangan di dalam kabin di bawah sorot lampu remang tampak berhenti melayang di udara.

Aku tidak menoleh. Aku menolak untuk menoleh.

Tapi indraku yang lain menangkap semuanya dengan kejelasan yang brutal dan menyiksa. Udara di dalam angkot, yang tadinya hanya sekadar dingin dan lembap, kini anjlok hingga ke titik beku. Hembusan napasku keluar dalam bentuk uap putih tebal, menabrak kaca depan yang perlahan mulai berembun dari dalam.

Lalu, ada baunya. Ya Tuhan, baunya.

Aroma itu menyerang rongga hidungku tanpa ampun. Bukan sekadar bau tanah basah seperti sebelumnya. Ini adalah bau rawa yang menggenang berbulan-bulan, dicampur dengan aroma tembaga berkarat, dan... bau daging yang sudah terlalu lama dibiarkan di udara terbuka. Bau kematian yang manis dan membuat isi perutku bergejolak hebat. Aku menelan ludah berkali-kali, berusaha menekan empedu yang sudah naik ke pangkal tenggorokan.

Dari sudut mata kirikuβ€”sudut pandang periferal yang paling ujungβ€”aku bisa melihat gundukan gelap itu. Seseorang, atau sesuatu, sedang duduk di kursi penumpang tepat di sebelahku. Jarak kami tidak lebih dari setengah meter. Tuas persneling menjadi satu-satunya pembatas antara duniaku yang masih hidup dan entitas yang membawa hawa kuburan ini.

Aku bisa mendengar suara material jas hujannya yang basah dan kaku bergesekan dengan jok kulit sintetis. Kres... kres... Lalu, suara tetesan air. Tik... tik... tik... Air kotor, bercampur lumpur pekat dan sesuatu yang berwarna lebih gelap dari sekadar air hujan, menetes lambat dari ujung kain yang menutupi lengannya, jatuh menghantam karpet karet di bawah dashboard.

Sesuatu itu bernapas.

Suaranya tidak seperti tarikan napas manusia normal. Itu adalah suara parau, basah, dan bergemuruh di dasar dada. Seperti suara seseorang yang paru-parunya penuh dengan cairan, mencoba menghirup udara namun hanya menghasilkan gelembung-gelembung lendir yang pecah di tenggorokan. Kroook... rrrkkkh...

"Pergi..." bisikku, nyaris tanpa suara. Bibirku bergetar begitu hebat hingga gigi seri dan bawahku beradu menghasilkan bunyi gemeretak. "Tolong... pergi..."

Sosok itu tidak bergerak. Kepalanya yang tertutup tudung gelap tetap menunduk, menghadap ke arah laci dashboard. Dua tangannya yang pucat pasi, bengkak, dengan pembuluh darah yang menghitam dan tampak jelas di balik kulit transparan, terlipat kaku di atas paha. Kuku-kukunya pecah dan dipenuhi tanah hitam.

Keputusasaan mengubah ketakutanku menjadi energi murni. Aku menggeram, menginjak pedal kopling dengan kasar, memasukkan gigi satu hingga tuasnya berbunyi krak yang menyakitkan, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam.

Ban belakang angkotku berdecit keras, kehilangan traksi sejenak di atas aspal sebelum akhirnya mencengkeram dan melontarkan mobil ini ke depan. Aku mengemudi layaknya orang gila yang sedang dikejar malaikat maut. Mataku melotot lebar, menatap lurus ke depan, menembus kabut tipis yang masih menggantung di jalan raya bypass yang kosong ini.

"Gue nggak lihat lo. Lo nggak ada. Lo nggak nyata!" teriakku histeris di dalam kabin yang bising oleh deru mesin diesel tua. Aku mencengkeram setir hingga buku-buku jariku memutih dan kram. "Ini semua cuma halusinasi! Besok gue periksa ke puskesmas! Gue cuma kurang tidur, bangsat!"

Jarum spidometer melompat ke angka delapan puluh, lalu sembilan puluh. Bodi mobil bergetar hebat seakan mau rontok. Suara angin yang menabrak kaca depan menderu kencang. Tapi di dalam sini, suara napas basah ituβ€”kroook... rrrkkkh...β€”tidak bisa diredam sama sekali. Suara itu menempel di telingaku bak parasit.

Aku terus memacu kendaraan, membelah malam. Aku tidak peduli ke mana jalan ini membawaku, asalkan roda ini terus berputar. Setiap kali aku melewati deretan pohon mahoni atau lampu jalan yang berkedip, aku meyakinkan diriku bahwa aku sedang bergerak maju. Aku sedang menjauh dari halte terkutuk itu. Aku pasti akan segera sampai di ujung jalan tol atau perbatasan kota.

Aku menyetir dengan kondisi otot tegang dan napas memburu selama berpuluh-puluh menit. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh tubuhku. Punggungku basah oleh keringat dingin, kakiku pegal menahan tekanan pedal.

Di tengah kepanikan itu, mataku secara refleks melirik ke panel instrumen di balik kemudi. Tepat di sebelah indikator bensin, ada sebuah jam digital kecil berbentuk persegi panjang dengan cahaya backlight hijau pudar yang sudah bertahun-tahun menemaniku.

Mataku menyipit.

Angka di layar itu menunjukkan 23:47.

Aku mengerutkan kening. Sedikit rasa bingung menyelinap di antara teror yang menguasai otakku. Tadi, sebelum aku panik dan berteriak di halte, jam itu menunjukkan pukul 23:47. Aku ingat betul. Aku ingat memelototi angka itu sebelum kabut menelan jalanku.

"Mungkin... mungkin baru beberapa detik yang lalu," gumamku mencoba rasional. Otak manusia sering kali mengacaukan persepsi waktu saat sedang dalam kondisi panik luar biasa. Apa yang terasa seperti setengah jam mungkin nyatanya hanya berlangsung satu menit.

Aku kembali fokus ke jalan, menghitung dalam hati. Satu... dua... tiga... Aku menghitung detik, mendengarkan detak jantungku sendiri yang memompa secepat laju mobil. Aku menghitung sampai enam puluh. Satu menit berlalu. Aku menghitung lagi sampai seratus dua puluh. Dua menit berlalu.

Jalanan di depanku tidak berubah. Aspal hitam berlubang, pohon mahoni dengan dahan melengkung seperti cakar, dan lampu jalan yang jaraknya berjauhan. Persis sama dengan pemandangan setengah jam yang lalu.

Aku menundukkan pandanganku kembali ke jam dashboard.

23:47.

Darahku terasa berhenti mengalir. Angka itu tidak berkedip. Titik dua di tengah angka itu diam mematung, layaknya pahatan di atas nisan.

"Nggak, nggak mungkin. Jamnya rusak. Cuma konslet kabelnya," racauku dengan napas yang semakin pendek. Aku melepaskan tangan kiriku dari kemudi, meraih ponsel yang tergeletak di jok sebelahku, dan menekan tombol power.

Layar ponsel menyala redup. Wallpaper foto Bima, anakku, sedang tersenyum memegang piala lomba mewarnai. Tepat di atas senyum polos Bima, angka digital putih berukuran besar menampilkan waktu.

23:47.

Aku menjatuhkan ponsel itu ke lantai seolah benda itu baru saja menyengat tanganku.

Aku melirik jam tangan analog di pergelangan kiriku. Jarum detik yang merah dan tipis itu berhenti tepat di angka sembilan. Tidak bergerak sedikit pun. Bisu. Mati.

Segalanya mati.

Aku mengangkat wajah, menatap jalanan di depanku dengan mata nanar. Bayangan pohon-pohon yang kulewati mulai terlihat aneh. Lekukan dahannya... aku pernah melihat dahan bengkok yang persis seperti itu. Lubang aspal di sebelah kiri itu... roda angkotku baru saja menghantam lubang yang sama persis polanya beberapa menit yang lalu.

Aku tidak bergerak maju. Aku tidak pernah meninggalkan tempat itu. Meskipun jarum spidometer menunjukkan sembilan puluh kilometer per jam, meskipun mesin berteriak membakar solar, aku terjebak. Waktu dan ruang melipat dirinya sendiri, menahanku dalam satu putaran detik yang tidak ada habisnya. Terkurung dalam menit ke 23:47 untuk selamanya.

Jeritan frustrasi yang panjang dan menyayat hati robek dari tenggorokanku. Aku memukul setir berulang kali dengan kedua tangan, membunyikan klakson panjang yang menggema sedih di tengah rawa kosong.

"APA MAU LO, BANGSAT?! APA MAU LO?!" Aku menjerit pada sosok di sebelahku, pertahananku hancur lebur berkeping-keping. Air mata ketakutan dan keputusasaan mengalir deras, membasahi pipiku yang kotor oleh debu dan keringat. "Gue salah apa sama lo?! Ambil angkotnya! Ambil setoran gue! Tapi biarin gue pulang... gue mohon... istri gue nunggu di rumah..."

Suaraku pecah di akhir kalimat, berubah menjadi isak tangis yang menyedihkan. Aku, seorang supir angkot yang sudah menghadapi preman terminal hingga begal jalanan, kini meringkuk seperti anak kecil di balik kemudinya sendiri.

Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya duduk diam, memancarkan hawa dingin yang perlahan mulai membuat ujung-ujung jariku mati rasa. Namun, perlahan... sangat lambat hingga gerakannya nyaris tak terlihat... kepalanya yang tertutup tudung mulai miring. Ia memutar lehernya, sedikit demi sedikit, menghadap ke arahku.

Kreek... kreek... Terdengar suara tulang rawan yang bergesekan secara tidak wajar dari lehernya, seolah tulang-tulang itu sudah lama patah dan dipaksa bergerak kembali.

Aku menempelkan tubuhku ke pintu kanan mobil, menekan punggungku sekuat tenaga mencoba menjauh darinya. Mataku melotot lebar, menatap bayangan hitam di balik tudung itu. Tidak ada wajah yang terlihat. Hanya jurang kegelapan yang dalam, dan bau anyir darah yang menguar semakin kuat menyapu wajahku.

Ia tidak menyerangku. Tangannya yang pucat dan bengkak perlahan terangkat dari pangkuannya. Jari-jarinya yang kaku dan kotor terulur lambat... melewati tuas persneling... mendekati tanganku yang masih mencengkeram bagian bawah setir.

Aku menahan napas, tidak berani berkedip. Jari telunjuknya yang patah menunjuk ke arah kaca depan, ke kegelapan di luar sana.

Dari balik tudungnya, suara parau dan berlendir itu kembali merayap ke dalam telingaku, menggetarkan gendang telingaku seperti garpu tala neraka.

"Berhenti..."

Bersamaan dengan desisan itu, kabut tebal di depan mobilku tiba-tiba terbelah. Seperti tirai panggung yang ditarik secara paksa, pemandangan rawa-rawa liar dan jalan yang rusak itu menguap begitu saja.

Dalam sekejap mata, aspal di bawahku berubah mulus. Cahaya terang benderang menusuk mataku yang sudah terbiasa dengan kegelapan. Aku refleks memicingkan mata, silau oleh jejeran lampu neon putih dari sebuah minimarket 24 jam yang tiba-tiba muncul di pinggir jalan raya yang ramai.

Aku berada di perempatan besar kota. Suara klakson truk, deru motor matic, dan hiruk-pikuk kehidupan kota kembali menghantam telingaku. Kehidupan nyata. Realitas.

Tepat di bawah plang minimarket itu, seorang pria muda berseragam karyawan minimarket merah-biru berdiri di pinggir jalan. Ia menggendong tas ransel hitam yang terlihat berat, melambaikan tangan ke arah angkotku dengan wajah lelah namun penuh harap.

Jantungku melonjak di dalam dada. Harapan meledak seperti kembang api. Manusia! Itu manusia hidup!

Aku menginjak pedal rem dengan kasar. Angkotku berdecit berhenti tepat di depan pria itu. Pintu geser di belakang masih tertutup rapat, tapi aku tidak peduli. Aku butuh orang itu masuk. Aku butuh kehadiran manusia lain untuk mengusir mimpi buruk ini.

Aku menoleh cepat ke arah kursi penumpang di sebelahku, bersiap untuk mengusir entitas itu, atau setidaknya memohon agar ia menghilang sejenak.

Tapi kata-kata yang sudah berada di ujung lidahku tertelan kembali.

Sosok itu masih ada di sana. Duduk tegak. Tangannya masih terlipat di pangkuan. Ia tidak menghilang. Ia menolak pergi dari kursi depan. Dan di luar sana, pria minimarket itu melangkah mendekati kaca jendela pintu kiri, membungkuk untuk melihat ke dalam kabin tepat di tempat makhluk itu duduk, sementara tangannya bersiap mengetuk kaca.