Matahari bersinar terik siang itu, memanggang atap seng rumah kontrakanku yang sempit di kawasan padat penduduk, tapi aku masih menggigil di sudut ruang tamu. Secangkir kopi hitam buatan Lastri, istriku, sudah dingin tak tersentuh di atas meja kayu yang baret-baret. Kepalaku pening, terasa seperti ada ribuan semut yang merayap di bawah tengkorakku. Semalaman aku tidak bisa tidur. Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan potongan koran lusuh itu—dengan foto bemper angkotku yang penyok membentuk huruf ‘V’—langsung menyergap kesadaranku, memaksaku kembali membuka mata lebar-lebar menatap langit-langit kamar yang berjamur.

"Mas? Kamu ini kenapa sih dari semalam? Sakit?" Suara Lastri membuyarkan lamunanku. Ia berdiri di ambang pintu dapur, mengusap tangannya yang basah ke celemek bermotif bunga yang warnanya sudah pudar. Wajahnya gurat-gurat kelelahan, kantung matanya menghitam, ciri khas perempuan yang terlalu banyak menanggung beban hidup.

Aku buru-buru menegakkan posisi duduk, mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan kasar. "Nggak apa-apa, Las. Masuk angin doang kayaknya. Semalam gerimisnya awet banget."

"Ya kalau sakit istirahat dulu, Mas. Nggak usah narik. Nanti malah ambruk di jalan," omelnya pelan, mendekat lalu meletakkan punggung tangannya ke dahiku. "Nggak panas padahal. Tapi muka kamu pucat banget loh, Mas. Kayak orang habis lihat setan."

Kalimat terakhir Lastri menohok ulu hatiku. Aku menelan ludah paksa, merasakan tenggorokanku yang kering kerontang. Setan. Kata itu bergema di kepalaku. Aku ingin menceritakan semuanya pada Lastri. Tentang halte kosong itu. Tentang udara dingin yang berbau tanah kuburan. Tentang penumpang tanpa wajah. Dan tentang kertas koran bergambar angkotku. Kertas itu sekarang kusimpan di dasar laci lemari baju, terlipat rapat-rapat, tak berani kusentuh lagi seolah benda itu menularkan wabah mematikan.

Tapi aku tahu, menceritakan hal itu hanya akan menambah beban pikirannya. Beras di dapur tinggal setengah liter. SPP Bima, anak semata wayang kami, sudah nunggak dua bulan. Dan tagihan setoran angkot ke Bang Togar tidak bisa ditunda dengan alasan ‘diteror hantu’. Realitas kemiskinan jauh lebih menakutkan daripada bayangan apa pun di malam hari.

"Aku berangkat, Las. Nggak apa-apa. Nanti malam gampang cari tolak angin di warung Bang Kumis," ucapku akhirnya, memaksakan sebuah senyum tipis yang entah terlihat seperti apa di matanya. Aku berdiri, meraih jaket parasitku yang tergantung di balik pintu, jaket yang sama yang masih menyimpan sisa-sisa aroma anyir dari malam sebelumnya.

Sore menjelang malam, aku sudah kembali duduk di balik kemudi. Angkot tuaku menderu pelan menembus kemacetan jam pulang kerja. Di tengah hiruk-pikuk klakson, debu knalpot, dan makian sesama pengguna jalan, ketakutanku perlahan menyusut. Logikaku kembali bekerja, membangun benteng pertahanan yang kuat. Itu cuma orang iseng, batinku meyakinkan diri sendiri berulang-ulang. Iya, pasti anak-anak punk atau pengamen jalanan yang kurang ajar. Kertas koran itu kebetulan aja. Bemper penyok mah biasa, angkot mana sih yang bempernya mulus? Itu pikiran gue aja yang terlalu nyambung-nyambungin.

Aku menghabiskan paruh pertama malam itu dengan narik seperti biasa. Penumpang lumayan ramai. Anak sekolah yang pulang telat, ibu-ibu dari pasar malam, kuli bangunan, semuanya silih berganti mengisi bangku belakang. Derai tawa mereka, obrolan tentang harga sembako yang naik, dan suara uang koin yang berjatuhan ke dalam kaleng plastik di sebelah kiriku membuatku merasa hidup. Ini duniaku. Dunia nyata yang bising, kotor, tapi masuk akal.

Namun, waktu tidak pernah berpihak pada mereka yang ketakutan. Perlahan tapi pasti, keramaian mulai menyusut. Jarum jam di pergelangan tanganku terus merangkak naik, melewati angka sepuluh, lalu setengah sebelas. Jalanan mulai lengang. Toko-toko di pinggir jalan satu per satu menurunkan rolling door mereka dengan suara berderak yang memecah keheningan. Lampu-lampu jalan yang berwarna kuning muram mulai mengambil alih tugas matahari, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di atas aspal.

Pukul sebelas lewat lima belas menit.

Hanya tinggal aku sendiri di jalan raya bypass menuju terminal. Jantungku kembali memukul tulang rusuk dengan ritme yang menyakitkan. Telapak tanganku berkeringat dingin, licin di atas roda kemudi yang terbungkus kulit sintetis murahan. Aku benci diriku sendiri karena ketakutan ini, tapi insting purbaku tidak bisa dibohongi. Udara di dalam kabin perlahan berubah. Sisa hawa panas dari tubuh penumpang-penumpang sebelumnya menguap, digantikan oleh hawa sejuk yang aneh.

Dari kejauhan, di ujung jalan yang lurus dan diapit oleh pepohonan rimbun yang gelap gulita, siluet halte berkarat itu mulai terlihat. Lampu jalan di atasnya masih mati. Tempat itu seperti sebuah lubang hitam yang menyedot semua cahaya di sekitarnya.

Lewati saja. Lewati saja. Nggak usah berhenti, mantra itu terus kurapalkan dalam hati. Aku menekan pedal gas lebih dalam. Mesin diesel menggeram memprotes. Kecepatan naik perlahan. Enam puluh. Tujuh puluh kilometer per jam. Terlalu cepat untuk ukuran angkot reyot di jalan pinggiran kota.

Aku menatap lurus ke depan, mataku terpaku pada aspal yang disorot lampu mobil. Aku tidak akan menoleh. Aku tidak akan melihat ke halte itu.

Namun, tepat ketika mobilku melesat melewati halte tersebut, mataku tak sengaja menangkap sesuatu dari sudut pandang periferal. Tidak ada orang yang berdiri di sana. Halte itu benar-benar kosong melompong. Tidak ada siluet, tidak ada jas hujan pudar, tidak ada siapa-siapa.

Napas lega meledak dari paru-paruku. "Hah! Tuh kan! Nggak ada apa-apa, anjing! Emang gue doang yang parno!" tawaku pecah, tawa histeris yang bercampur dengan rasa syukur yang luar biasa. Aku memukul setir beberapa kali dengan telapak tangan, merayakan kemenanganku atas rasa takut. Beban seberat beton yang sejak kemarin menekan pundakku rasanya terangkat seketika.

Aku sedikit mengurangi kecepatan, membiarkan mobil melaju dengan santai di angka empat puluh. Sambil bersenandung pelan sebuah lagu dangdut lawas untuk menenangkan diri, aku meraih botol air mineral botol di samping tuas persneling. Aku membukanya dengan satu tangan, lalu menenggak airnya rakus. Air dingin mengalir melewati tenggorokanku, menyejukkan dada yang tadinya terasa terbakar.

Lalu, sebuah suara menembus gendang telingaku.

Suara gesekan. Srek... srek...

Suara itu pelan, nyaris tenggelam oleh deru mesin, tapi sangat jelas terdengar di dalam ruang kabin yang tertutup. Itu bukan suara dari luar. Itu bukan suara gesekan ban. Itu suara sol sepatu yang basah bergesekan dengan lantai bordes aluminium di bagian belakang angkot.

Botol air mineral terlepas dari peganganku, jatuh terguling ke lantai di bawah pedal. Airnya tumpah, membasahi sepatuku, tapi aku sama sekali tidak peduli. Seluruh saraf di tubuhku membeku. Darahku berhenti mengalir.

Udara di sekitarku anjlok secara drastis. Hawa dingin yang familier itu—dingin yang membawa bau tanah kuburan basah, lumut, dan logam berkarat—seketika memenuhi paru-paruku, membuatku tersedak.

Dengan leher yang kaku seperti terbuat dari besi tua, mataku bergerak perlahan, sangat perlahan, menuju ke kaca spion tengah.

Sosok itu ada di sana.

Ia duduk di sudut paling belakang, di bangku memanjang sebelah kiri. Pakaiannya persis sama. Jaket tebal atau jas hujan kusam yang menyerap semua cahaya. Kepalanya menunduk dalam-dalam.

Bagaimana mungkin? Aku tidak berhenti di halte tadi. Pintu geser tidak terbuka. Aku melaju dengan kecepatan tujuh puluh kilometer per jam. Tidak mungkin ada orang yang bisa naik tanpa aku sadari. Tapi dia ada di sana. Nyata. Duduk dengan keheningan yang mematikan.

Napas memburu, tanganku gemetar hebat mencengkeram setir. Jalanan di depanku mulai terlihat berbayang karena air mata kepanikan yang menumpuk di pelupuk. "Siapa... siapa lo sebenarnya?" suaraku keluar bergetar, nyaris hanya berupa cicitan tikus yang tercekik.

Tidak ada jawaban. Sosok itu tetap diam mematung.

Ketakutan yang luar biasa tiba-tiba berubah menjadi kepanikan yang meledak-ledak. Aku tidak peduli lagi. Persetan dengan setoran. Persetan dengan halusinasi. Aku harus mengeluarkan benda—atau siapa pun—itu dari mobilku.

Aku menginjak pedal rem dalam-dalam. Ban memekik keras bergesekan dengan aspal, meninggalkan jejak hitam dan bau karet terbakar. Angkot berhenti mendadak di bahu jalan, terpelanting ke kiri hingga nyaris masuk ke selokan. Mesin mati seketika dengan bunyi jegrek yang kasar.

Tanpa membuang waktu satu detik pun sedetik pun, aku membuka pintu kemudi, melompat keluar, dan berlari ke sisi kiri mobil. Dengan napas terengah-engah dan mata melotot liar, aku mencengkeram pegangan pintu geser penumpang dan menariknya dengan sekuat tenaga.

SRAK!

Pintu terbuka lebar. Angin malam langsung menerobos masuk.

"TURUN LO BANGSAT! TURUN! KELUAR DARI MOBIL GUE!" teriakku sejadi-jadinya, urat leherku menonjol, suaraku pecah membelah kesunyian malam. Aku menunjuk ke arah ruang gelap di dalam kabin belakang.

Tapi... tidak ada siapa-siapa di sana.

Kosong. Bangku-bangku itu kosong melompong. Debu menari-nari ditiup angin di bawah pendaran lampu jalan yang masuk ke dalam.

Aku terpaku. Tanganku masih menggantung di udara. Dadaku naik turun dengan cepat, memompa oksigen yang terasa tidak cukup. "Nggak mungkin..." gumamku lirih, melangkah maju, memasukkan kepalaku ke dalam pintu geser untuk melihat ke sela-sela bangku, ke kolong kursi. Tidak ada apa-apa. Hanya ada lap kotor dan botol oli bekas.

Aku melangkah mundur, kakiku lemas seperti jelly. Aku meremas rambutku dengan kedua tangan, menariknya kuat-kuat mencoba menyadarkan diriku sendiri. "Gue gila. Gue beneran udah gila."

Aku menoleh ke sekeliling. Jalanan itu sepi. Benar-benar mati. Tidak ada satu pun kendaraan yang melintas. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada lolongan anjing dari kejauhan. Keheningan yang tidak wajar menyelimuti tempat itu, seolah dunia di luar angkotku telah dihapus dari eksistensi.

Tiba-tiba, rasa dingin menjalar di tengkukku. Bukan dari udara malam, melainkan dari sebuah firasat buruk yang sangat kuat. Perasaan bahwa aku sedang diawasi dari jarak yang sangat dekat.

Aku menoleh perlahan ke arah kursi kemudi yang pintunya masih terbuka lebar. Di sana, di balik kaca samping yang agak kotor, aku melihat pantulan kaca spion tengah. Dan di pantulan itu, siluet berjas hujan itu masih duduk dengan tenang di bangku belakang.

Ia ada di dalam cermin, tapi tidak ada di dunia nyata.

Udara seolah ditarik paksa dari paru-paruku. Aku terhuyung mundur hingga punggungku menabrak tiang listrik berkarat di pinggir jalan. Aku ingin lari. Kakiku meronta ingin berlari sejauh mungkin meninggalkan mobil itu, tapi aku tidak bisa menggerakkan otot-ototku. Aku lumpuh oleh teror murni.

Lalu, dari dalam mobil yang kosong itu, terdengar sebuah suara.

Suara itu pelan, parau, berlendir, dan berat. Terdengar seperti keluar dari tenggorokan yang dipenuhi air kotor. Suara itu tidak menggema di udara, melainkan langsung menyusup masuk ke dalam gendang telingaku, merayap hingga ke otakku.

"Masih... inget gue?"

Aku menutup telingaku dengan kedua tangan, menjerit ngeri. "Gak! Gue gak kenal lo! Pergi! PERGI!"

Tapi suara itu mengabaikanku. Udara di sekitarku tiba-tiba berbau sangat amis. Bau darah segar yang tumpah ke aspal panas.

Dan dalam sekejap, pandanganku di depan angkot menggelap. Realitas di sekitarku koyak. Jalanan sepi itu menghilang. Kegelapan digantikan oleh kilatan cahaya lampu depan yang menyilaukan mata, menembus tirai hujan yang sangat deras. Suara rintik hujan yang menghantam atap seng tiba-tiba memekakkan telinga. Tak-tak-tak-tak! Wiper bergerak panik menyapu kaca depan, tapi jarak pandang nyaris nol.

Aku bukan berdiri di pinggir jalan. Aku tiba-tiba merasa sedang duduk di balik kemudi. Tanganku mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jariku memutih. Bau alkohol murahan menguar dari mulutku sendiri. Di depanku, jalanan aspal basah memantulkan cahaya lampu yang berkelip liar.

Lalu, dari balik kegelapan hujan di sebelah kiri... sebuah bayangan melangkah maju ke tengah jalan. Seseorang menyeberang. Tiba-tiba. Tanpa melihat. Terlalu dekat. Terlalu cepat.

CKIIIIITTTTT!

Suara jeritan ban beradu dengan aspal basah merobek telingaku.

BRAKKK!!!!

Suara benturan keras. Sesuatu yang padat dan hidup menghantam kap depan mobil, menghancurkan kaca depan dengan suara pecahan kaca yang meledak seperti bom di depan wajahku.

Aku terkesiap, menarik napas panjang, dan seketika kilasan itu menghilang.

Aku kembali berdiri bersandar pada tiang listrik di pinggir jalan raya yang kering dan sepi. Tidak ada hujan. Tidak ada pecahan kaca. Angkotku terparkir diam dengan pintu terbuka. Tapi bau darah itu... bau amis itu masih tertinggal kuat di udara, mengendap di kerongkonganku, membuatku memuntahkan cairan lambungku ke selokan yang gelap.