Aku tidak ingat bagaimana aku bisa pulang malam itu.
Semuanya terasa seperti potongan-potongan adegan film yang rusak. Aku ingat aku berteriakβatau mungkin hanya terkesiap tertahan karena tenggorokanku terlalu kaku untuk mengeluarkan suara. Aku ingat membuka pintu kemudi, melompat keluar, dan berlari menuju warung kopi Bang Kumis di sudut terminal dengan napas memburu seolah sedang dikejar anjing gila.
Saat Bang Kumis dan dua supir lain menemaniku mengecek kembali ke dalam angkot, mobil itu benar-benar kosong. Tidak ada siapa-siapa. Kaca spion tengah itu hanya memantulkan deretan bangku kosong dan cahaya remang lampu jalan yang berkedip di luar.
"Masuk angin lu, Dan," kata Bang Kumis saat itu, menyodorkan segelas kopi hitam kental yang masih mengepul. "Makanya jangan dipaksain narik terus kalau badan udah nggak enak. Suka halu."
Aku hanya bisa mengangguk pelan, menggenggam gelas kaca yang panas itu erat-erat demi menghentikan tremor di tanganku. Ya, halusinasi. Kurang tidur. Masuk angin. Aku terus mengulang-ulang kata-kata itu di kepalaku sepanjang hari berikutnya, mencoba membangun tembok rasionalitas untuk menutupi rasa takut yang bersarang di ulu hati.
Tapi ketika matahari kembali tenggelam pada keesokan harinya, tembok rasionalitas itu mulai retak.
Kebutuhan akan uang setoran memaksaku untuk kembali duduk di balik kemudi. Istriku butuh uang belanja, dan bos angkot tidak peduli apakah supirnya baru saja melihat hantu atau tidak. Maka di sinilah aku sekarang. Mengendarai rute yang sama. Menyusuri jalanan aspal yang sama, di bawah deretan lampu jalan kekuningan yang sama.
Malam ini udara tidak terlalu dingin, tapi aku tetap mengenakan jaket parasitku yang paling tebal. Tangan kiriku mencengkeram setir dengan kaku, sementara mataku terus awas menatap ke depan. Jam di dashboard menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit. Waktu yang sama persis.
Jantungku mulai memompa darah lebih cepat saat dari kejauhan, aku melihat pertigaan jalan lama itu. Aku menelan ludah dengan susah payah. Keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahiku. Tancap gas, otakku berteriak. Jangan lihat ke halte. Tancap gas aja, Dani.
Aku menginjak pedal gas lebih dalam. Mesin diesel tuaku menggeram, mencoba menambah kecepatan. Aku memalingkan wajahku ke arah kanan, menolak keras untuk menatap halte berkarat di sebelah kiri. Mobil melaju mendekat. Lima puluh meter. Tiga puluh meter. Sepuluh meter.
Tiba-tiba, mesin mobil berbatuk kasar. Brebet. Laju mobil melambat drastis seolah ada sesuatu yang menariknya dari belakang. Aku menginjak pedal gas berkali-kali, memompa kopling dalam kepanikan, namun mesin justru semakin tersendat sebelum akhirnya benar-benar mati tepat ketika bumper depan mobilku sejajar dengan ujung halte.
Mobil berhenti perlahan. Senyap kembali menguasai malam, hanya menyisakan suara deru napasku sendiri yang memburu.
Tanganku gemetar hebat saat aku mencoba memutar kunci kontak. Ctek. Ctek. Hanya suara dinamo starter yang enggan menyala. "Ayo dong, nyala, anjing," bisikku panik, air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk mata.
Lalu, suara itu datang.
Srek. Suara pintu geser di belakang terbuka. Hawa dingin yang familierβdingin lembap yang bau apakβseketika menyerbu masuk, merayap dari lantai mobil naik ke betisku. Suspensi kiri belakang turun perlahan, berderit pelan menerima beban yang berat. Langkah kaki, berat dan basah, melangkah masuk ke dalam kabin.
Aku membeku. Aku bahkan tidak berani bernapas. Aku menutup mataku rapat-rapat, menggigit bibir bawahku keras-keras sampai aku bisa merasakan rasa amis darah di lidahku. Ini cuma mimpi. Ini cuma halusinasi, rapalku dalam hati seperti orang gila.
Blam. Pintu geser kembali tertutup.
Keheningan yang membekukan kembali terjadi. Aku tidak menoleh. Aku juga tidak melirik kaca spion tengah yang sejak sore tadi sengaja kuarahkan ke atas agar tidak memantulkan apa pun dari kursi belakang. Dengan tangan yang masih bergetar, aku kembali memutar kunci kontak.
Brum. Mesin menyala dengan sangat mulus pada percobaan kali ini. Seolah-olah tadi ia sama sekali tidak bermasalah.
Aku langsung memasukkan gigi dan menginjak gas dalam-dalam, melesat menjauhi halte terkutuk itu. Sepanjang sisa perjalanan, aku mengemudi seperti kesetanan. Aku mengabaikan beberapa penumpang potensial yang melambai di pinggir jalan. Fokusku hanya satu: sampai ke terminal, biarkan dia turun, dan aku akan pulang, tidak peduli apa kata bos besok.
Ketegangan di dalam mobil begitu padat hingga rasanya bisa diiris dengan pisau. Sesekali, di tengah deru mesin, telingaku menangkap suara samar dari belakang. Suara air yang menetes. Tik... tik... tik... Seperti suara rembesan air hujan dari payung yang basah kuyup. Tapi malam ini tidak turun hujan, dan jalanan kering kerontang.
Gapura terminal akhirnya terlihat. Aku membelokkan setir dengan kasar, nyaris menabrak trotoar pembatas jalan. Mobil berhenti dengan sentakan keras di bawah lampu temaram pangkalan biasa. Aku tidak mematikan mesin. Aku bahkan tidak menarik rem tangan sepenuhnya.
"Terminal," ucapku cepat, suaraku serak dan parau. "Udah sampai."
Aku menundukkan pandanganku dalam-dalam, menatap kemudi di depanku. Tolong turun. Siapa pun kamu, apa pun kamu, tolong turun.
Aku mendengar suara gesekan kain pelan. Lalu suara langkah kaki basah beringsut maju. Ia tidak turun lewat pintu belakang. Langkah itu menuju ke arah ruang kemudi, berhenti tepat di celah antara kursi sopir dan kursi penumpang depan. Hawa dingin yang menusuk tulang kini berada tepat di samping bahu kiriku. Bau apaknya bercampur dengan aroma anyir yang samar-samar membuat perutku bergejolak.
Dari sudut mataku, aku melihat sebuah tangan terjulur dari arah belakang menuju ke dashboard di sebelah kiriku. Tangan itu pucat pasi, kotor oleh lumpur hitam, dengan kuku-kuku yang menghitam dan retak.
Tangan itu meletakkan sesuatu di atas boks mesin di sebelah kiriku. Sesuatu yang dilipat rapi.
Lalu, hawa dingin itu perlahan mundur. Suara langkah basah itu bergerak menjauh, diikuti suara pintu geser yang dibuka dan ditutup kembali. Angin malam biasa masuk, menggantikan hawa lemari es tadi. Beban di belakang mobil menghilang.
Lututku lemas. Aku menyandarkan punggungku ke kursi, mengembuskan napas yang sedari tadi menumpuk di paru-paru. Ya Tuhan. Aku selamat. Dia sudah pergi.
Dengan tangan yang masih gemetar, aku menyalakan lampu kabin kecil di atap mobil. Cahaya kuning redup menyinari bagian dalam. Aku menoleh perlahan ke arah boks mesin di sebelah kiri, tempat tangan pucat itu meletakkan bayarannya.
Sebuah lipatan lusuh tergeletak di sana.
Awalnya, di bawah cahaya remang itu, lipatan itu tampak seperti uang kertas sepuluh ribuan yang sangat usang dan kumal. Warnanya kecokelatan kotor. Aku ragu-ragu mengulurkan tanganku, menjepit benda itu dengan ujung dua jariku seolah benda itu beracun.
Teksturnya aneh. Kering. Rapuh. Saat aku menggosoknya dengan ibu jariku, itu sama sekali bukan tekstur uang kertas. Itu kasar, seperti kertas koran yang sudah pernah kehujanan lalu mengering berkali-kali.
Jantungku berdegup makin kencang. Perlahan, di bawah cahaya lampu kabin yang temaram, kubuka lipatan itu. Satu lipatan. Dua lipatan.
Benda itu memang bukan uang. Itu adalah selembar potongan berita dari koran lama. Kertasnya menguning, pinggirannya sobek dengan tidak rapi. Terdapat sebuah foto hitam putih yang agak buram di bagian tengah potongan berita itu, dengan judul yang dicetak tebal dengan tinta yang mulai memudar.
Bau anyir darah kering seketika menusuk hidungku, berasal dari kertas lusuh yang kini berada di genggamanku.
Mataku terpaku pada judul berita tersebut. Huruf-huruf itu seolah melompat dan mencekik tenggorokanku.
TRAGEDI TENGAH MALAM: TABRAK LARI DI JALUR LAMA, KORBAN TEWAS DI TEMPAT.
Aku menelan ludah yang terasa seperti menelan serpihan kaca. Keringat dingin mengalir deras membasahi kerah jaketku. Tanganku gemetar hebat saat mataku turun ke foto hitam putih di bawah judul itu.
Foto itu memperlihatkan sebuah mobil angkot yang menabrak tiang pembatas jalan. Kaca depannya pecah berantakan. Namun yang membuat napasku terhenti sepenuhnya adalah bagian bemper depannya.
Bemper itu penyok parah di sebelah kiri. Tepat di bawah lampu utama yang pecah.
Penyok dengan pola yang sangat, sangat spesifik. Lekukan tajam menyerupai huruf 'V' yang diakibatkan oleh benturan keras dengan benda padat.
Aku tahu pola penyok itu. Aku melihatnya setiap hari saat mencuci mobil sebelum berangkat narik. Penyok yang sama persis... dengan penyok di bemper angkot yang sedang kududuki malam ini.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar