Aku memuntahkan sisa-sisa air mineral yang tadi kutenggak, bercampur dengan asam lambung yang pahit, mengotori aspal basah di dekat selokan. Dadaku berkedut, paru-paruku meronta meminta oksigen yang terasa sangat tipis di udara malam ini. Bau amis darah yang entah dari mana datangnya perlahan memudar, menyisakan bau pesing got dan aroma debu kering.

Dengan tangan gemetar yang masih memegangi perut, aku menyeret kakiku kembali ke arah mobil. Instingku menyuruhku lari meninggalkan rongsokan besi ini dan berlari mencari rumah penduduk terdekat, tapi logikaku yang tersisaβ€”meski sudah babak belur oleh ketakutanβ€”mengingatkan bahwa aku berada di jalan raya bypass yang kiri-kanannya hanya ada lahan kosong dan rawa-rawa sejauh bermil-mil. Berjalan kaki di tempat gelap seperti ini sama saja dengan bunuh diri.

Aku memaksa diriku masuk kembali ke kursi kemudi, membanting pintu hingga tertutup rapat. Aku langsung menekan tombol kunci pintu. Tanganku bergerak liar mengunci semua jendela. Aku mengurung diriku sendiri, mencari rasa aman ilusionis di dalam sangkar baja tua ini.

Aku menolak melirik kaca spion. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam, pandanganku terpaku pada pedal di bawah kakiku. Jangan lihat belakang. Jangan lihat cermin. Nyalakan mesin. Jalan. Cari keramaian.

Dengan sisa tenaga yang ada, aku memutar kunci kontak. Dinamo menderik kasar sebelum mesin diesel kembali menderu memecah keheningan. Aku memasukkan gigi satu dan menginjak gas. Angkotku meloncat maju, meninggalkan bahu jalan berbatu, kembali ke atas aspal mulus.

Aku mengemudi seperti orang kesetanan. Mataku melotot menatap lurus ke depan, menembus sorot lampu kuning mobilku yang membelah kegelapan. Aku harus mencapai simpang empat terminal. Di sana ada lampu merah. Di sana ada Pos Polisi. Di sana ada mini market yang buka 24 jam dengan lampu neon neon terang benderang yang menyilaukan. Tempat terang, itu yang aku butuhkan. Cahaya akan mengusir apa pun yang sedang mengikutiku.

Kecepatan jarum spidometer merangkak perlahan. Enam puluh. Tujuh puluh. Delapan puluh. Mobil berguncang hebat. Bodi mobil yang tipis berderit protes menahan hambatan angin, tapi aku tidak mengurangi injakan di pedal gas.

Aku tahu rute ini seperti aku tahu garis-garis di telapak tanganku. Sudah delapan tahun aku menyusuri jalan raya bypass ini setiap malam. Aku hafal di mana letak lubang jalan, di mana pohon tumbang yang belum dipotong, dan di tikungan mana aku harus mengerem sedikit. Dari titik aku berhenti tadi, biasanya hanya butuh waktu sepuluh menit melaju kencang untuk melihat pendar cahaya dari kawasan terminal.

Satu kilometer terlewati. Dua kilometer. Pohon-pohon mahoni di kiri kanan jalan berkelebat menjadi bayangan-bayangan hitam yang panjang.

Lima menit. Sepuluh menit berlalu.

Keningku mulai berkerut. Aku mencondongkan tubuh ke depan, menyipitkan mata menembus kaca depan yang sedikit berdebu. Seharusnya, setelah tikungan tajam berbentuk huruf S di depan sana, aku sudah bisa melihat papan reklame rokok raksasa yang menandakan pintu masuk wilayah kota.

Aku memutar setir, melewati tikungan pertama dengan mulus, lalu membalasnya untuk tikungan kedua. Tapi ketika jalanan kembali lurus... yang kulihat hanyalah rentangan aspal hitam yang tak berujung, ditelan oleh kegelapan malam. Tidak ada papan reklame. Tidak ada kerlip lampu kota di kejauhan. Hanya jalan lurus yang diapit oleh rawa-rawa liar dan ilalang tinggi setinggi atap mobilku.

"Ke mana jalan tolnya?" gumamku pelan, kebingungan mulai bercampur dengan kepanikan yang baru. "Seharusnya ada tiang jembatan tol layang di sini..."

Jalanan di depanku terasa asing. Lebar aspalnya seolah menyusut, membuat mobilku terasa kebesaran. Lampu penerangan jalan umum yang biasanya berjejer rapi kini jaraknya berjauhan, beberapa di antaranya mati total, menciptakan zona-zona gelap yang panjang dan menakutkan sebelum mobilku disorot oleh cahaya muram berikutnya.

Aku merogoh kantong celana jeansku dengan tangan kiri yang gemetar, menarik keluar ponsel pintarku yang layarnya retak. Aku membuka aplikasi peta. Loading. Ikon lingkaran kecil terus berputar di tengah layar. Sinyal bar di pojok atas menunjukkan tanda silang merah. Tidak ada layanan.

"Bangsat, masa di sini nggak ada sinyal," rutukku, melempar ponsel itu ke kursi penumpang di sebelah kiriku.

Kabut tipis mulai turun. Awalnya hanya berupa sapuan putih yang merayap di atas aspal seperti asap es kering, namun perlahan-lahan mulai menebal, mengurangi jarak pandangku menjadi hanya belasan meter ke depan. Sorot lampu mobilku memantul dari partikel air di udara, menciptakan dinding cahaya putih yang menyilaukan.

Suasana di dalam kabin kembali berubah. Hawa dingin dari bangku belakang yang sempat terlupakan oleh kepanikanku tadi kini merayap maju dengan pasti. Udara membeku di sekitarku, membuat napasku mengepul membentuk uap putih setiap kali aku membuang napas. Bau karat dan tanah basah kembali menyengat hidung.

Dia masih ada di sana. Duduk tenang di dalam kegelapan di belakangku. Menikmati terorku.

"Oke, tenang, Dani. Lo cuma nyasar. Mungkin tadi lo salah ambil belokan pas lagi panik," aku berbicara pada diriku sendiri dengan suara gemetar, berusaha menekan histeria yang meronta-ronta ingin keluar dari tenggorokanku. "Gue tinggal lurus aja. Pasti nembus ke jalan raya besar."

Tapi jalan ini tidak pernah kutemui seumur hidupku. Di depanku, jalan aspal tiba-tiba bercabang dua. Sebuah pertigaan tak beraturan yang membelah ke kiri dan ke kanan, ditutupi kabut tebal. Tidak ada plang penunjuk arah. Tidak ada rumah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Aku menginjak rem, menghentikan mobil tepat di tengah pertigaan itu. Mesin diesel menderu halus, menjadi satu-satunya sumber suara di dunia yang sunyi senyap ini. Keheningan di luar sana terasa menekan, seolah udara itu sendiri memiliki berat yang menghimpit mobilku dari segala arah.

Ke kanan, atau ke kiri?

Keringat dingin membasahi punggungku. Ingatanku tentang peta kota seolah dihapus bersih. Instingku tumpul. Jika aku salah pilih, aku bisa semakin masuk ke dalam kawasan rawa yang tidak berpenghuni ini.

Tiba-tiba, dari arah belakang kepalaku, aku merasakan embusan angin dingin yang sangat pelan. Seperti seseorang yang mendekatkan wajahnya ke tengkukku dan membuang napas perlahan. Bulu romaku meremang hingga ke kulit kepala.

Sebuah bisikan pelan, sangat pelan hingga hampir menyerupai desisan ular, menyapu telinga kiriku.

"Kiri..."

Jantungku serasa copot. Refleks, tanganku memutar setir tajam ke arah kiri dan menginjak gas dalam-dalam. Aku tidak peduli apakah arah itu benar atau salah. Aku hanya ingin menjauh dari sumber suara itu secepat mungkin. Mobil melesat masuk ke cabang jalan sebelah kiri, membelah kabut tebal yang menyelimuti.

Jalanan ini terasa jauh lebih buruk. Aspalnya berlubang-lubang besar, memaksa suspensi tuaku berderit keras setiap kali roda menghantam cekungan. Pohon-pohon di sisi jalan kini tidak lagi tegak lurus, batangnya bengkok dan menjorok ke arah jalan, cabang-cabangnya yang tak berdaun tampak seperti cakar-cakar raksasa yang berusaha meraih atap mobilku.

Aku menatap jam di dashboard. Pukul 23:47.

Angka itu bercahaya hijau redup. Aku memelototinya selama beberapa detik. Rasanya aku sudah menyetir lebih dari setengah jam sejak aku berlari ketakutan meninggalkan halte tadi. Kenapa baru jam segini?

Aku melirik jam tangan murahan di pergelangan tangan kiriku. Jarum detik... berhenti bergerak. Sama sekali tidak berdetik. Baterainya habis? Tidak mungkin, aku baru menggantinya minggu lalu.

Napas tercekik di kerongkonganku. Realitas ini tidak masuk akal. Semua hukum alam, waktu, dan ruang di sekitarku mulai melengkung dan patah. Jalanan yang asing, waktu yang membeku, sosok misterius yang tak bisa kulihat langsung tapi mengisi cerminku, dan ingatan mengerikan tentang kecelakaan hujan deras itu. Apakah aku sudah mati? Apakah ini neraka?

"Tuhan, tolong gue... ampuni dosa gue..." tangisku akhirnya pecah. Air mata membanjiri wajahku, mengaburkan pandanganku. Aku menangis terisak seperti anak kecil sambil terus memegangi kemudi. "Gue mau pulang... Las, gue mau pulang..."

Di tengah keputusasaan yang menghancurkan jiwaku, kabut di depanku perlahan menipis. Secercah cahaya kuning pucat menembus dari kegelapan di ujung jalan. Harapan kecil mekar di dadaku. Itu lampu jalan! Itu artinya aku sudah mendekati peradaban.

Aku mengusap air mata dengan kasar menggunakan lengan jaket, memfokuskan pandanganku ke depan. Benar saja, sebuah struktur mulai terlihat samar di balik sisa kabut. Sebuah tiang lampu jalan, dengan lampu neon murahan yang berkedip-kedip seakan nyawanya sudah di ujung tanduk. Dan di bawahnya... ada sebuah bangunan kecil dengan atap seng berkarat.

Aku tertawa lega. Tawaku terdengar sumbang dan serak. "Alhamdulillah... ada halte... pasti habis ini jalan raya utama."

Aku mempercepat laju kendaraanku, nyaris melompat kegirangan di atas kursi kemudi. Jarakku dengan halte itu semakin dekat. Dua puluh meter. Sepuluh meter.

Namun, tawa legaku tersangkut di tenggorokan, berubah menjadi jeritan tertahan yang tidak bisa keluar.

Lampu sorot mobilku menyapu struktur halte tersebut. Atap seng yang penyok di bagian kirinya. Tiang penyangga berkarat dengan cat biru yang mengelupas. Coretan grafiti bertuliskan 'X-TRM' di tembok belakangnya yang kusam.

Mataku melebar hingga rasanya mau robek. Dadaku berhenti bergerak.

Itu adalah halte yang sama. Halte tua tempat pertama kali "dia" naik.

Aku sudah menyetir seperti orang gila selama puluhan menit, menembus kabut, memilih jalan yang belum pernah kulewati, namun jalan aspal tak berujung itu membawaku berputar dan memuntahkanku kembali ke titik awal mula semua mimpi buruk ini terjadi.

Mobilku meluncur pelan, melewati batas halte. Aku tidak menginjak rem, kedua kakiku kaku membeku. Dan tepat ketika kaca sampingku sejajar dengan bayangan di bawah atap halte, aku melihatnya.

Di tempat yang sama persis. Berdiri mematung di bawah cahaya remang. Sosok berjubah kusam itu.

Mataku tanpa sadar melirik kaca spion tengah. Kosong. Bangku belakang angkotku tiba-tiba kosong melompong. Hawa dingin meresap hilang.

Dan kemudian, dari arah sebelah kiriku, di dalam kabin mobil... terdengar bunyi klik yang memekakkan telinga. Suara pengunci pintu penumpang depan yang terbuka dengan sendirinya.

Tanpa aku sadari kapan ia bergerak, tanpa ada suara langkah kaki sedikit pun...

Seseorang duduk dengan tenang di kursi penumpang, tepat di sebelah kiriku. Menoleh ke arahku dalam diam.