Malam beringsut menuju dini hari, tetapi mataku menolak terpejam. Suara detak jarum jam dinding di kamar ini terasa seperti palu yang dipukulkan perlahan ke pelipisku. Tik. Tok. Tik. Tok. Setiap ketukannya seolah menghitung mundur sisa-sisa kewarasanku.

Aku berbaring miring, menatap ruang kosong di sebelahku. Selimut Mas Aryo masih terlipat rapi, memancarkan sisa aroma parfum sandalwood yang perlahan mulai memudar, tergantikan oleh bau dingin udara malam. Kututup mataku rapat-rapat. Ora usah mikir macem-macem, Sarah, bisikku pada diri sendiri dalam kegelapan. Bapak anak-anak itu orang terhormat. Dosen. Panutan. Tidak mungkin. Tidak mungkin.

Namun, rapal penenang itu tidak lagi manjur. Bayangan foto dari layar laptop Ardhi—tangan suamiku yang menggenggam jari mungil seorang bayi berusia dua bulan—terus berputar di kepalaku bagai kaset rusak. Garis waktu itu menelanjangi semua logikaku. Agustus. Masa-masa di mana Mas Aryo sering beralasan sibuk dengan akreditasi kampus dan bimbingan di luar kota. Masa-masa di mana aku, dengan segala kepatuhan dan kepercayaanku sebagai istri, menyiapkan kemejanya, menyetrika kerahnya hingga kaku, dan mengantarnya ke depan pagar dengan senyuman.

Dadaku sesak oleh rasa mual yang melilit. Apakah saat aku merapikan dasinya, ia sedang memikirkan perempuan itu? Apakah saat ia mengecup dahiku sebelum pergi, bibirnya sudah bersiap mengucapkan kata-kata manis untuk orang lain? Aku memeluk lututku sendiri, menahan rintihan agar tidak terdengar ke luar kamar. Aku masih berusaha, dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, untuk melindungi citra suamiku di dalam kepalaku sendiri. Aku ingin percaya bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk, bahwa esok pagi aku akan bangun dan menemukan Mas Aryo duduk di meja makan, membaca koran sambil menyesap kopi hitamnya.

Tetapi, matahari pagi yang akhirnya terbit tidak membawa kelegaan, melainkan realitas yang makin menekan.

Saat aku turun ke ruang makan, ketegangan sudah menggantung tebal di udara. Ardhi duduk di kursi dengan piring nasi goreng yang tak tersentuh. Kantung matanya hitam, rahangnya terkatup rapat. Di seberangnya, Asya mengoleskan selai ke atas roti tawar dengan gerakan mekanis yang terlalu kaku.

"Ibu hari ini di rumah saja, kan?" Asya membuka suara tanpa menatapku. "Nanti siang ada perwakilan dari fakultas mau datang bawa berkas pensiun Ayah."

Belum sempat aku menjawab, Ardhi meletakkan sendoknya dengan kasar hingga berdentang membentur piring keramik. "Pensiun? Sya, lo masih peduli sama urusan kampus sementara di luar sana ada perempuan yang—"

"Ardhi!" potong Asya tajam, menatap adiknya dengan peringatan keras. "Jaga mulutmu. Tanah makam Bapak belum kering."

"Justru karena belum kering!" Ardhi berdiri, urat di lehernya menonjol. Ia menoleh ke arahku, matanya memancarkan keputusasaan yang liar. "Bu, kita harus cari perempuan itu. Ardhi mau datang ke alamatnya. Ardhi mau pastikan sendiri apa yang sebenarnya disembunyikan Bapak dari kita!"

"Duduk, Nang," kataku, suaraku terdengar lebih tenang dari badai yang berkecamuk di dalam dadaku.

"Tapi, Bu—"

"Ibu bilang duduk!" Kali ini aku menaikkan nada suaraku, sebuah ketegasan yang jarang kugunakan. Ardhi tertegun. Ia perlahan kembali duduk, meski napasnya masih memburu. Aku menatap kedua anakku bergantian. "Asya benar. Kita punya nama baik yang harus dijaga. Ibu tidak mau kamu bertindak gegabah, Dhi. Jangan mencari perempuan itu. Jangan menghubungi siapa pun. Biar ini jadi urusan Ibu."

"Ibu mau memendam ini sendirian? Sampai kapan?" tuntut Ardhi, suaranya kini bergetar menahan tangis.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap secangkir teh di depanku yang uapnya perlahan menghilang. Asya menunduk, menggosok pelipisnya, berusaha keras mempertahankan dinding rasionalitasnya yang mulai retak. Pagi itu kami sarapan dalam keheningan yang terasa lebih menyakitkan daripada makian.

Setelah anak-anak berangkat—Asya ke kantor dan Ardhi ke kampus dengan wajah enggan—aku kembali ke ruang kerja Mas Aryo.

Langkahku terasa berat, seperti menyeret bola besi di pergelangan kaki. Aku duduk di kursi kerjanya, membuka kembali laci bawah, dan mengambil secarik kertas kecil yang kutemukan kemarin. Kertas nota toko emas itu. Tanganku gemetar saat membaliknya. Tulisan tangan suamiku masih ada di sana, tintanya seolah mengejek kebutaanku selama ini.

Klinik Permata, untuk Puji Hastuti. Dan di bawahnya, sebuah alamat di daerah pinggiran Bantul.

Aku menatap deretan huruf dan angka itu lama sekali. Ini bukan lagi sekadar dugaan yang mengambang. Ini adalah titik koordinat yang nyata. Sebuah petunjuk arah menuju kehidupan lain suamiku. Otakku menyuruhku untuk merobek kertas itu, membuangnya ke tempat sampah, dan melupakan semuanya demi menjaga harmoni. Demi menjaga apa yang selalu diagungkan mertuaku: wirang, rasa malu.

Namun, hatiku memberontak. Aku tidak bisa hidup berdampingan dengan hantu. Aku tidak bisa menghabiskan sisa usiaku menerka-nerka kapan Mas Aryo tersenyum tulus padaku, dan kapan ia hanya bersandiwara.

Aku membuat keputusan.

Kumasukkan kertas itu ke dalam tas tanganku. Aku mengganti dasterku dengan blus lengan panjang berwarna netral dan celana bahan yang longgar. Kutata rambutku, menyanggulnya dengan sederhana namun tetap rapi. Aku memoleskan sedikit lipstik bernuansa nude agar wajahku tidak terlihat sepucat mayat. Aku harus terlihat seperti Nyonya Aryo. Aku harus menghadapinya bukan sebagai korban yang hancur, melainkan sebagai istri sah yang memegang kendali.

Aku mengeluarkan mobil dari garasi, mengabaikan tatapan heran Pak RT yang kebetulan lewat bersepeda. Aku tidak peduli. Tujuanku hari ini hanya satu.

Perjalanan dari utara Jogja menuju pinggiran Bantul memakan waktu hampir satu jam. Udara di luar perlahan memanas. Semakin jauh mobilku meninggalkan area perumahan elit kami yang tenang, rindang, dan tertata asri, pemandangan mulai berubah. Jalan aspal yang mulus berganti menjadi jalan beton yang retak di beberapa bagian. Deretan kafe estetis dan butik berganti menjadi bengkel motor, warung kelontong, dan rumah-rumah padat yang halamannya langsung berbatasan dengan selokan.

Tanganku mencengkeram setir mobil hingga kebas. Kontras ini membuatku mual. Di sinikah suamiku menghabiskan waktunya? Lelaki yang selalu memprotes jika kemejanya tidak disetrika dengan pelicin pakaian wangi mawar itu, rela menembus debu dan jalanan sempit ini demi seorang perempuan bernama Puji?

Mobilku akhirnya memasuki sebuah gang yang terlalu sempit untuk dilewati dua kendaraan. Aku harus memarkirnya di dekat sebuah gardu ronda, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki. Matahari menyengat kulitku. Beberapa ibu-ibu yang sedang duduk mencari kutu di lincak bambu menghentikan obrolan mereka saat aku lewat. Tatapan mereka menyapu penampilanku—sepatu pantofelku, tasku, blusku yang terlalu rapi untuk ukuran gang ini. Aku menunduk sedikit, bergumam, "Nuwun sewu," dengan sisa-sisa tata krama yang kumiliki.

Sesuai alamat di kertas, aku berhenti di depan sebuah rumah bercat hijau kusam. Rumah itu tidak besar. Pagarnya hanya terbuat dari bambu yang diikat kawat, setengahnya sudah miring. Halamannya berupa tanah padat tanpa rumput, dengan satu pohon mangga yang daunnya berdebu.

Jantungku berpacu seperti kuda liar. Aku mencengkeram tali tasku erat-erat. Di teras samping rumah itu, terbentang seutas tali jemuran dari plastik biru. Di sana, berkibar-kibar tertiup angin panas siang itu, deretan popok kain putih, baju bayi berukuran sangat kecil, dan gurita bayi. Pakaian-pakaian kecil yang menjadi bukti telanjang dari sebuah pengkhianatan.

Dari dalam rumah, terdengar suara sayup-sayup. Bukan suara tangisan, melainkan suara gumaman kecil seorang perempuan yang sedang bersenandung. Tembang Jawa Lir-Ilir, dinyanyikan dengan nada rendah dan menenangkan. Suara yang seharusnya damai, namun bagiku terdengar seperti nyanyian kematian untuk pernikahanku.

Kakiku terpaku di tanah berbatu di luar pagar bambu itu. Aku bernapas melalui mulut, mencoba memasukkan oksigen ke paru-paruku yang tiba-tiba terasa menyempit.

Aku bisa saja berbalik sekarang. Pulang, mandi air hangat, menyambut utusan kampus sore nanti, dan terus menjadi Nyonya Aryo yang tak bercela. Tidak ada yang perlu tahu. Rahasia ini bisa kubawa mati.

Tapi mataku terpaku pada popok putih kecil yang melambai ditiup angin itu. Bukti itu bernapas. Bukti itu hidup.

Aku mengangkat tanganku, menyentuh tiang bambu pagar yang kasar. Aku berdiri cukup lama di depan pintu itu… sampai akhirnya aku sadar, sekali aku mengetuk, hidupku tidak akan pernah kembali seperti semula.