Kesunyian ini menulikan.
Tiga jam setelah prosesi pemakaman selesai, tamu terakhir akhirnya berpamitan. Karpet-karpet hijau yang disewa dari masjid perlahan digulung. Kursi-kursi lipat berdecit saat ditumpuk dan dimasukkan ke dalam bak mobil pikap. Bau dupa, kapur barus, dan keringat ratusan orang perlahan memudar, digantikan oleh keheningan sore hari yang merayap masuk ke setiap sudut rumah.
Ini adalah pertama kalinya aku benar-benar sendirian dalam artian yang paling mutlak. Tidak ada lagi pelayat. Tidak ada lagi Mas Aryo.
Aku duduk di ujung tempat tidur di kamar utama kami. Dengan tangan yang agak gemetar, kucabut satu per satu jepit rambut hitam yang sejak pagi menyiksa kulit kepalaku. Sanggul itu akhirnya terurai, menjatuhkan rambutku yang mulai diselingi uban ke atas bahu. Rasa sakit di kepalaku sedikit mereda, tetapi beban di dadaku justru semakin berat. Kubuka kaitan kebaya beludruku, membiarkannya jatuh ke lantai, dan menggantinya dengan daster katun sederhana yang longgar.
Rumah ini terasa terlalu rapi. Terlalu besar. Terlalu diam.
Suara ketukan halus di pintu membuatku menoleh. Asya berdiri di ambang pintu, kemeja hitamnya sedikit kusut, tetapi wajahnya tetap rasional seperti biasa. Ia membawa segelas teh hangat yang asapnya masih mengepul.
"Ibu harus minum," kata Asya, berjalan masuk dan meletakkan gelas itu di atas nakas. "Asya sudah suruh orang katering buat membereskan sisa makanan di garasi. Untuk tahlilan nanti malam, panitia masjid sudah standby. Ibu istirahat saja dulu."
Aku mengusap lengan putriku. "Kamu sendiri sudah makan, Nduk?"
"Sudah," jawabnya cepat, terlalu cepat. "Asya kuat, Bu. Ibu nggak perlu khawatir. Sekarang yang penting Ibu jaga kesehatan. Asya akan handle semuanya."
Asya tidak pernah membiarkan dirinya terlihat lemah. Ia adalah cerminan didikan keras suamiku: logis, efisien, dan tidak mudah terbawa perasaan. "Adikmu di mana?" tanyaku pelan.
Mata Asya sedikit menggelap. "Ardhi di teras belakang. Dari tadi diam saja. Tadi ditawari makan malah menyingkir. Biarkan saja dulu, Bu. Ardhi butuh waktu. Dia⦠dia terlalu dekat dengan Ayah."
Aku mengangguk mafhum. Ardhi memang selalu menjadi bayang-bayang ayahnya. Ketika Asya lebih banyak menghabiskan waktu dengan buku, Ardhi selalu menemani ayahnya mencuci mobil, mengobrol di beranda, atau sekadar menemaninya membaca koran. Kehilangan sosok ayah bagi Ardhi adalah runtuhnya atap tempat ia berteduh.
Layar ponsel di atas kasurku tiba-tiba menyala, diiringi getaran panjang. Nama "Ibu Mertua" berkedip di layar. Aku menarik napas panjang sebelum menggeser ikon hijau.
"Halo, nggih, Bu?" sapaku dengan suara yang kuusahakan sehalus mungkin.
"Sarah, kamu sedang apa? Sudah istirahat?" Suara Ibu terdengar dari seberang, nadanya penuh perhatian tetapi selalu ada instruksi tersembunyi di baliknya.
"Nggih, Bu. Ini baru mau merebahkan badan."
"Rumah jangan ditinggal kosong yo, Nduk. Tahlilan tujuh hari ke depan harus pantas. Aryo itu orang besar, banyak yang menghormati. Kalau ada tamu dari kampus atau dari dinas, harus disambut sendiri. Jangan cuma Asya yang maju. Kowe sing dadi nyonya rumah, harus tetap tegar. Jangan sampai orang lihat kamu ngenes."
"Nggih, Bu. Pangestunipun."
"Ya sudah. Sing kuat. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kutaruh kembali ponsel itu. Permintaan Ibu mertuaku bukanlah saran, melainkan titah. Rutinitas harus dijaga. Fasad harus dipertahankan. Aku kembali memandang sekeliling kamar ini. Semuanya masih pada tempatnya. Jam tangan Mas Aryo tergeletak di atas nakas. Buku bacaan terakhirnya tertutup rapi dengan pembatas buku di halaman 112. Kacamata bacanya terlipat di samping lampu tidur.
Memoriku memutar kembali malam-malam yang kami lalui di ruangan ini. Semuanya begitu damai. Suamiku tidak pernah menuntut macam-macam. Ia pria yang sabar, yang akan mengusap rambutku sebelum tidur, dan pamit bekerja setiap pagi dengan ciuman singkat di dahi. Kesempurnaan yang membuatku merasa sangat beruntung, hingga tanpa sadar, aku lupa menanyakan apakah ia benar-benar merasa hidup di dalam kesempurnaan ini, atau hanya sekadar menjalaninya.
Rasa kosong itu tiba-tiba berubah menjadi kegelisahan. Aku tidak bisa diam. Jika aku merebahkan diri sekarang, pikiran-pikiranku akan mulai menari-nari mencari celah.
Aku memutuskan bangkit dan berjalan keluar kamar, menuju ruang kerja Mas Aryo di ujung lorong lantai dua.
Ruangan itu pengap karena jendelanya belum dibuka sejak ia masuk rumah sakit seminggu yang lalu. Aroma khas Mas Aryo menguar kuat di siniβcampuran bau kertas tua, kopi robusta, dan parfum sandalwood yang selalu dipakainya. Aku menghirup aroma itu dalam-dalam, merasakan sensasi perih di ujung mataku.
Meja kerja kayu jati itu tampak sangat rapi. Hanya ada laptop yang tertutup, tempat alat tulis, dan sebuah tumpukan map plastik di sudut meja. Aku menarik kursi kerjanya dan duduk. Tanganku bergerak secara natural, tidak terburu-buru, menyentuh tepian mejanya. Aku harus mulai mencari dokumen pentingβpolis asuransi, surat keterangan dari instansi, rekening bank, hal-hal administratif yang harus segera kuurus sebagai ahli waris.
Kubuka laci pertama. Isinya hanya stempel, bantalan tinta, dan beberapa klip kertas.
Laci kedua berisi buku-buku catatan kecil yang biasa ia bawa rapat.
Aku membuka laci ketiga, laci paling bawah yang agak berat ketika ditarik. Di dalamnya ada beberapa map tebal berwarna cokelat. Aku mengangkat salah satu map yang tampak paling usang. Di bagian depannya tidak ada label. Kubuka talinya perlahan.
Lembaran pertama adalah kuitansi pembelian material bangunan dari lima tahun yang lalu. Lembaran kedua adalah salinan BPKB mobil. Aku terus membalik kertas-kertas itu. Biasa saja. Hanya arsip rumah tangga.
Namun, di bagian paling bawah map tersebut, terselip sebuah amplop putih panjang yang sudah menguning di bagian ujungnya. Amplop itu tidak dilem. Aku menarik isinya.
Ada beberapa lembar tanda terima transfer bank dari sebuah bank swasta yang tidak pernah kubaca sebelumnya. Mas Aryo selalu menggunakan bank pemerintah untuk gaji dan urusan rumah tangga kami.
Aku menyipitkan mata, membaca detail di lembaran setruk kecil yang mulai memudar tintanya itu. Tanggal transfernya bervariasi, dimulai sejak tiga tahun yang lalu, dilakukan secara rutin setiap bulan. Nominalnya lumayan besar.
Lalu, mataku tertuju pada kolom nama penerima.
Puji.
Puji? Siapa Puji? Pikiranku mencoba mencari-cari referensi. Apakah ini nama salah satu saudara jauh dari pihak Ibu mertua? Ataukah nama staf di kampus tempat Mas Aryo mengajar? Atau mungkin nama pemborong langganannya? Tetapi mengapa ditransfer secara rutin selama tiga tahun ke bank yang berbeda?
Nama itu terasa sangat asing di lidahku. Aku terus menggali ingatanku, menyisir setiap cerita yang pernah dibawa suamiku pulang ke rumah, tetapi nama Puji tidak pernah ada dalam narasi hidup kami.
Jantungku mulai berdegup lebih kencang, sebuah ritme tidak nyaman yang merambat hingga ke ujung jari. Tanganku merogoh kembali ke dalam amplop putih itu, mencari tahu apakah ada dokumen lain yang bisa menjelaskan setruk-setruk ini.
Jemariku menyentuh secarik kertas yang dilipat kecil seukuran prangko. Kertas itu terasa berbeda, bukan kertas struk ATM, melainkan kertas buku tulis biasa.
Dengan tangan sedikit gemetar, kubuka lipatan kertas itu. Ada tulisan tangan Mas Aryo di sana. Tinta hitam, rapi, tegak bersambung, gaya tulisan yang sangat kukenal.
Tulisan itu berbunyi:
Klinik Permata, untuk Puji Hastuti. Di bawahnya terdapat sederet angka yang terlihat seperti nomor rekam medis, dan sebuah alamat di daerah pinggiran Bantul, jauh dari wilayah tempat kami tinggal.
Aku terdiam. Suara detak jam dinding di ruang kerja ini tiba-tiba terasa sangat keras, seperti palu yang menghantam gendang telingaku berulang-ulang. Udara di ruangan ini mendadak terasa tipis.
Aku menatap kembali setruk-setruk transfer itu, lalu ke secarik kertas di tanganku. Puji. Puji Hastuti. Klinik.
Wajah perempuan asing di pemakaman tadi siang mendadak melintas di benakku dengan sangat jelas. Perempuan bersahaja yang berdiri di dekat pohon kamboja, menatapku tanpa air mata, menatapku dengan tatapan seolah-olah akulah yang seharusnya mengenalnya.
Tanganku meremas tepi meja kayu jati itu hingga buku-buku jariku memutih.
Nama itu muncul lagi, tersembunyi di sudut paling rahasia dari kehidupan suamiku, diukir dengan tulisan tangannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak suamiku meninggal di ranjang rumah sakit dengan wajah damai yang dipuji semua orang, aku merasa⦠mungkin aku tidak pernah benar-benar mengenalnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar