Kain jarik wiron ini membebat kakiku terlalu rapat, menahan setiap langkahku agar tetap pendek, pelan, dan terukur. Di bawah terik matahari Jogja yang memanggang ubun-ubun, aku berdiri menatap gundukan tanah merah yang masih basah. Harum bunga mawar, kenanga, dan melati yang ditaburkan bertumpuk-tumpuk menguar ke udara, bercampur dengan bau tanah yang baru saja digali. Bau kematian yang berusaha disamarkan oleh wanginya tradisi.

Sanggul di kepalaku terasa berat, ditarik ketat oleh puluhan jepit hitam yang menusuk kulit kepala. Namun, aku tahu aku tidak boleh mengeluh, bahkan tidak boleh menyentuhnya untuk sekadar melonggarkan tarikan itu. Daguku harus tetap tegak. Punggungku harus lurus. Air mata boleh mengalir, tetapi tidak boleh disertai isakan yang merusak riasan. Di kota ini, duka adalah urusan pribadi yang disembunyikan di balik pintu kamar, sementara martabat dan kepantasan adalah tontonan publik yang harus dijaga mati-matian.

Aku harus menjadi janda yang terhormat. Istri yang sempurna bagi seorang lelaki yang kini telah menyatu dengan bumi.

Suara lantunan doa dari kaum bapak mengalun bagai dengungan lebah, berpadu dengan isak tangis tertahan dari beberapa kerabat. Di sekelilingku, ratusan pelayat berdiri berdesakan hingga ke luar pagar makam keluarga. Suamiku, Mas Aryo, adalah pria yang dihormati. Seorang tokoh masyarakat, dosen yang disegani, panutan keluarga besar, danβ€”setidaknya menurut semua orangβ€”suami serta ayah yang tidak bercela.

"Sing sabar nggih, Mbak Sarah. Mas Aryo meniko tiyang sae, insyaallah husnul khatimah," bisik seorang perempuan tua dari barisan belakang, menyentuh lenganku pelan.

Aku hanya mengangguk tipis, menarik lengkung senyum yang sudah kulatih selama dua puluh enam tahun pernikahan kami. "Nggih, Bu. Matur nuwun."

Tiba-tiba, kurasakan cengkeraman yang agak terlalu keras di lengan kiriku. Ibu mertuaku berdiri di sana. Wajah sepuhnya pias, matanya sembab, tetapi punggungnya sama tegaknya denganku. Jemarinya yang keriput mencengkeram kain kebayaku seolah ia sedang menyalurkan seluruh kekuatannya, atau mungkin, sedang memaksaku untuk tetap berdiri sesuai dengan standar yang ia tetapkan.

"Sing ikhlas yo, nduk," bisik Ibu mertuaku di telingaku. Suaranya serak, tetapi nada perintah di dalamnya tidak bisa disembunyikan. "Anak lanangku wis tenang. Kowe saiki sing dadi tiang. Jangan kelihatan rapuh di depan orang banyak. Ingat nama baik suamimu."

"Nggih, Bu," jawabku nyaris tanpa suara.

Aku menoleh sedikit ke sisi kananku. Asya, putri sulungku yang baru berusia dua puluh lima tahun, berdiri tegak dengan setelan hitam lengan panjang. Wajahnya adalah cermin dari wajahku: rasional, terkendali, dan dingin. Ia merangkul pinggangku, sebuah sentuhan protektif dari seorang anak yang merasa harus mengambil alih peran pelindung. Sesekali ia membenarkan letak kacamata hitamnya, menyembunyikan matanya yang mungkin merah, menolak membiarkan siapa pun melihat kehancurannya.

Di sebelah Asya, Ardhi berdiri kaku. Anak laki-lakiku yang baru menginjak usia dua puluh tahun itu menatap nisan kayu ayahnya dengan rahang yang mengeras. Tidak ada air mata di wajah Ardhi, tetapi ada badai di matanya. Emosinya selalu tertahan, bergolak di bawah permukaan seperti magma. Ia sangat memuja ayahnya. Kehilangan ini pastilah menghancurkan fondasi dunianya, tetapi ia memilih untuk diam, mengunci rapat mulutnya seolah satu kata saja terucap, ia akan hancur berkeping-keping.

Doa penutup selesai dilantunkan. Orang-orang mulai mendekat secara bergantian, menyalami tanganku, mengucapkan belasungkawa, dan mengulang-ulang narasi yang sama.

"Mas Aryo orang baik, Mbak."

"Kami semua sangat kehilangan."

"Beliau panutan kami semua."

Aku menerima setiap jabat tangan dan pelukan dengan presisi mesin. Tubuhku di sini, tetapi pikiranku melayang jauh ke rumah kami yang besar dan asri di kawasan utara Jogja. Rumah yang selalu rapi, dengan perabotan kayu jati yang mengkilap, dan foto-foto keluarga besar yang terpajang sempurna di ruang tamu. Kehidupan kami selama ini terasa terlalu teratur. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada piring yang beterbangan, tidak ada suara yang meninggi. Suamiku selalu bertutur kata lembut, selalu memenuhi kewajibannya.

Namun, entah mengapa, saat menatap pusaranya, ada kekosongan yang tidak bisa kujelaskan. Sebuah ruang hampa di dadaku yang bukan sepenuhnya berisi duka. Terkadang, kesempurnaan itu sendiri terasa seperti sebuah dinding kaca yang tebal; kau bisa melihat semuanya dengan jelas, tetapi kau tidak benar-benar bisa menyentuhnya.

Matahari semakin terik. Keringat mulai menetes di leherku, membuat kebaya beludru hitam ini terasa semakin mencekik. Orang-orang mulai beringsut meninggalkan area pemakaman, memberikan ruang bagi keluarga inti untuk berdoa sejenak sebelum pulang.

Saat itulah, intuisi halusku menangkap sesuatu yang ganjil. Rasa dingin tiba-tiba merayap di tengkukku, menembus panasnya udara siang itu.

Di antara kerumunan pelayat yang mulai mencair ke arah jalan setapak, mataku tertuju pada sebuah sosok yang berdiri tidak jauh dari pohon kamboja besar di sudut makam.

Seorang perempuan. Usianya mungkin pertengahan tiga puluhan. Ia tidak mengenakan pakaian hitam seperti pelayat lainnya; hanya blus sederhana berwarna tanah dan kerudung instan yang melilit kepalanya dengan asal. Ia berdiri sendirian, tidak bergabung dengan rombongan ibu-ibu pengajian, tidak juga berbicara dengan siapa pun.

Yang membuat napasku tertahan bukanlah pakaiannya, melainkan postur dan tatapannya. Sedari tadi, ternyata ia tidak menunduk. Ia tidak ikut menadahkan tangan saat doa dilantunkan.

Ia hanya berdiri tegak, membiarkan angin mempermainkan ujung kerudungnya, dan menatap lurus ke arahku.

Matanya tajam, gelap, dan menyimpan sesuatu yang tidak bisa kubaca. Tidak ada duka di sana. Tidak ada rasa kehilangan, simpati, atau rasa hormat yang biasa ditunjukkan oleh para pelayat suamiku. Ekspresinya datar, tetapi memiliki intensitas yang membuat jantungku berdetak satu ketukan lebih cepat.

Asya menyentuh lenganku pelan. "Ibu butuh minum? Atau mau langsung ke mobil? Udara sudah terlalu panas."

Aku mengerjap, memalingkan pandangan sejenak ke arah Asya. "Ora usah, Nduk. Ibu masih kuat."

Ketika aku menoleh kembali ke arah pohon kamboja, perempuan itu masih di sana. Tubuhku terasa kaku. Ada ribuan orang di Jogja, puluhan kolega suamiku yang tidak kukenal secara pribadi, tetapi perempuan ini… ia terasa berbeda. Ada sebuah klaim dalam cara berdirinya. Ada sebuah tantangan dalam keheningannya.

Angin berembus membawa guguran bunga kamboja putih yang jatuh ke atas pusara suamiku. Perempuan itu perlahan melangkah mundur, menembus kerumunan, tetapi matanya tidak lepas dariku sampai detik terakhir.

Ia tidak menangis… dan ia menatapku seolah-olah aku adalah orang yang seharusnya tahu siapa dia.