Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamarku, jatuh tepat di sisi tempat tidur yang kosong. Seprai di sebelah kiriku tetap licin, dingin, tak tersentuh. Biasanya, pada jam seperti ini, aku sudah mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, disusul aroma sabun peppermint yang selalu dipakai Mas Aryo. Pagi ini, hanya ada keheningan yang menggaung hingga membuat telingaku berdenging.
Aku memejamkan mata, mencoba menata napas. Namun, alih-alih wajah suamiku yang tersenyum pamit untuk mengajar, sebuah kata dengan empat huruf terus-menerus berputar di kepalaku.
Puji.
Aku bangkit, merapikan seprai yang sebenarnya tidak berantakan, lalu mengikat rambutku dengan jepit seadanya. Ora usah mikir aneh-aneh, Sarah, batinku memperingatkan. Aku berbicara pada diriku sendiri di depan cermin meja rias, menatap kantung mataku yang menghitam. Mas Aryo baru saja dikebumikan. Mungkin itu nama orang yang berutang padanya. Mungkin itu nama staf administrasi di proyek kampusnya. Ora usah nggawe perkoro.
Aku memaksakan diri keluar dari kamar, mencoba merangkai kembali rutinitas yang selama ini menopang kewarasanku. Menuruni tangga kayu jati yang mengilap, aku menuju dapur. Aku menyeduh teh melati, kebiasaanku setiap pagi. Namun, saat tanganku nyaris meraih cangkir keramik milik suamiku untuk membuatkan kopi hitamnya, gerakanku terhenti di udara. Tanganku perlahan turun. Cangkir itu tidak akan pernah lagi terisi.
Aku duduk sendirian di meja makan panjang berlapis taplak renda putih. Kursi di ujung meja, singgasana tak kasatmata milik Mas Aryo, tampak begitu asing. Dulu, rumah ini terasa tertata rapi, seperti sebuah orkestra yang bermain dengan ketukan sempurna. Sekarang, aku merasa ada satu instrumen yang diam-diam memainkan nada sumbang di belakang punggungku. Apakah selama ini aku benar-benar tahu siapa lelaki yang duduk di kursi itu setiap pagi? Ataukah aku hanya tahu versi yang ia izinkan untuk kulihat?
Suara pagar besi yang dibuka mengalihkan lamunanku. Aku bergegas merapikan pakaianku, memasang kembali "wajah Nyonya Aryo" sebelum membuka pintu depan.
Bu Darmo, tetangga sebelah yang juga istri dari dekan di kampus suamiku, berdiri di teras membawa rantang susun berlapis enamel. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa untuk menampilkan simpati yang paling pekat.
"Mbak Sarah," sapanya dengan suara dilembutkan. "Ini saya bawakan brongkos kesukaannya almarhum, sama sedikit gudeg buat anak-anak. Pasti Mbak Sarah belum sempat masak."
Aku menerima rantang itu dengan senyum tipis yang sopan. "Ya Allah, Bu Darmo, repot-repot. Matur nuwun sanget, nggih."
Bu Darmo mengusap lenganku, tatapannya menyapu wajahku, menelisik seberapa besar kerusakan yang ditinggalkan duka ini padaku. "Sabar yo, Bu... Mas Aryo itu orang baik. Semua orang di kampus merasa kehilangan. Mbak Sarah yang tabah. Banyak mata yang melihat, Mbak. Keluarga ini kan panutan warga sini. Jangan sampai kelihatan ngenes terus."
Banyak mata yang melihat. Kalimat itu tidak diucapkan dengan niat buruk, namun terasa seperti peringatan halus. Tekanan yang tidak terlihat, tapi beratnya menyamai palu godam. Di lingkungan ini, aku tidak diizinkan hancur terlalu lama.
"Nggih, Bu Darmo. Insyaallah, saya kuat," balasku tenang, meski dadaku terasa sesak.
Setelah Bu Darmo pulang, alih-alih memakan brongkos itu, langkahku justru kembali terarah ke lantai dua. Ke ruang kerja suamiku. Rasa penasaran ini bukan lagi sekadar duri kecil, melainkan telah menjadi kail yang mengoyak ketenanganku.
Pintu ruang kerja kututup rapat. Aku duduk di kursi Mas Aryo, menarik napas panjang, lalu membuka laci-laci meja itu kembali. Kali ini, aku tidak mencari dokumen ahli waris. Aku mencari sisa-sisa jejak yang mungkin terlewat.
Aku menemukan setumpuk buku agenda tahunan milik Mas Aryo dari lima tahun terakhir. Kubuka perlahan dari tahun terlama. Halaman demi halaman dipenuhi tulisan tangannya yang rapi: jadwal rapat senat, bimbingan skripsi, janji temu dengan pemborong. Normal. Sangat normal.
Namun, saat aku masuk ke agenda tiga tahun lalu—tahun yang sama dengan dimulainya transfer bank rutin itu—polanya mulai berubah.
Di sela-sela jadwal padatnya, mulai muncul inisial "P".
Kamis, 14.00 - Rapat Fakultas. 16.30 - P.
Jumat, 10.00 - Bimbingan. 19.00 - P.
Aku membalik halaman dengan jari yang mulai dingin. Tulisan itu kadang hanya inisial "P", kadang berupa singkatan "Pj". Jadwal itu konsisten. Hampir setiap dua minggu sekali, seringkali di hari Kamis sore atau Jumat malam. Hari-hari di mana Mas Aryo sering meneleponku, mengatakan ia ada rapat mendadak di luar kota atau harus mengawasi proyek penelitian di Bantul.
"Ibu ngapain di sini terus?"
Aku terkesiap, nyaris menjatuhkan buku agenda di tanganku. Asya berdiri di ambang pintu, menyilangkan lengan di depan dada. Tatapannya tertuju pada tumpukan kertas di mejaku.
"Cuma… memilah dokumen, Nduk. Siapa tahu ada tagihan yang belum dibayar Bapakmu," jawabku, berusaha membuat suaraku senormal mungkin. Aku menutup buku agenda itu secara pelan.
Asya berjalan mendekat, menghela napas. "Bu, serahkan saja ke Om Danu. Dia kan pengacara keluarga kita. Dia yang akan urus semua hutang piutang atau asuransi Ayah. Ibu nggak perlu menguras emosi bongkar-bongkar barang Ayah sekarang. Ini baru hari kedua." Asya menatapku dengan sorot mata rasionalnya yang begitu mirip dengan Mas Aryo. Bagi Asya, semua hal punya kotak dan labelnya sendiri.
Di belakang Asya, sosok Ardhi muncul. Anak laki-lakiku itu tidak berkata apa-apa. Ia bersandar di kusen pintu, matanya yang gelap menatap lurus ke arah tumpukan map cokelat di depanku. Ia tidak menegurku seperti kakaknya. Ia justru mengamatiku. Seolah ia tahu, aku tidak sedang mencari tagihan listrik.
"Iya, Asya benar," kataku, memaksakan senyum. "Ibu cuma mau bersih-bersih sedikit."
Asya mengangguk puas, lalu berbalik keluar. Namun, Ardhi masih bergeming. Ia melangkah maju satu tindak, tatapannya beralih dari meja ke wajahku. "Ibu nemu sesuatu yang penting?" tanyanya pelan. Suaranya serak.
Jantungku melonjak. "Nggak ada, Nang. Cuma kertas-kertas tua."
Ardhi menatapku beberapa detik lebih lama, sebuah keheningan yang mengintimidasi, sebelum akhirnya ia berbalik menyusul kakaknya. Pintu tidak tertutup rapat, tapi aku tahu aku harus bergerak cepat sebelum salah satu dari mereka kembali.
Aku menarik laci terbawah sekali lagi, merogoh bagian paling belakang yang gelap dan berdebu. Ujung jariku menyentuh sebuah benda kecil berbahan kulit. Kuambil benda itu. Sebuah dompet kartu tua yang sudah usang, yang kukira sudah dibuang Mas Aryo bertahun-tahun lalu.
Kubuka lipatannya. Di dalamnya hanya ada kartu nama bengkel, kartu berobat dokter gigi yang sudah kedaluwarsa, dan… secarik kertas yang dilipat sangat rapi. Berbeda dengan catatan di buku agenda, kertas ini memiliki aroma samar minyak telon dan kapur barus.
Keringat dingin merembes di telapak tanganku saat aku membuka lipatan kertas itu.
Itu adalah selembar nota pembelian dari sebuah toko emas di kawasan Beringharjo. Tanggalnya tertera tujuh bulan yang lalu. Barang yang dibeli: Satu buah liontin emas anak, 3 gram. Namun, bukan barangnya yang membuat duniaku berhenti berputar. Di balik nota itu, terdapat tulisan tangan suamiku, ditulis dengan tinta biru, tidak terburu-buru, melainkan dengan kelembutan yang sangat kukenal.
Buat Puji. Jaga kesehatan, jangan lupa kontrol dokter bulan ini. Mas usahakan mampir hari Jumat.
Dadaku terasa seolah dihantam balok es. Aku tidak bisa bernapas. Ini bukan inisial urusan kerja. Ini bukan nama staf fakultas. Ini bukan relasi bisnis. Kalimat itu memancarkan keintiman. Mas usahakan mampir. Aku menatap huruf demi huruf yang ditulis oleh tangan pria yang selama ini memelukku setiap malam. Lelaki yang kupikir hidupnya layaknya buku terbuka yang setiap halamannya telah kuhafal di luar kepala. Nota itu terlepas dari tanganku, melayang jatuh ke lantai seperti daun kering.
Udara di ruang kerja ini tiba-tiba mencekik. Nama "Puji" bukan sekadar muncul secara acak. Nama itu adalah bagian yang berakar, hidup, dan bernapas di dalam rutinitas suamiku yang tersembunyi dengan sangat rapi.
Aku mencengkeram tepi meja, menundukkan kepala. Dan untuk pertama kalinya… aku mulai takut dengan kemungkinan bahwa ada bagian dari hidup suamiku yang tidak pernah kutahu, Nang.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar