Rumah ini tidak lagi terasa seperti tempat berlindung. Sejak siang itu, setiap sudutnya terasa seperti panggung sandiwara tempat kami semua pernah menjadi aktor yang tak menyadari naskah aslinya. Aku menghindari ruang kerja itu seperti menghindari ruang berpenyakit, tapi nama Puji sudah terlanjur menjalar di dalam kepalaku, meracuni setiap kenangan indah yang kumiliki bersama Mas Aryo.
Malam itu, setelah pembacaan Yasin dan tahlil selesai, para tetangga telah pulang. Rumah kembali dikuasai keheningan yang menyesakkan. Aku berjalan menyusuri lorong menuju kamarku ketika kulihat seberkas cahaya kebiruan memancar dari celah bawah pintu kamar Ardhi.
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Dengan langkah pelan, nyaris tanpa suara, aku mendekati kamarnya. Pintunya tidak tertutup sempurna. Aku mengintip ke dalam. Ardhi duduk di lantai, bersandar di tepi tempat tidurnya, memangku laptop yang menyala terang. Wajahnya yang tegang disinari layar, jarinya bergerak cepat di atas touchpad, mengetik sesuatu, lalu scroll dengan kasar. Emosi memancar jelas dari rahangnya yang terkatup rapat.
Tanganku mendorong pintu itu perlahan hingga berderit pelan. "Lagi ngapain, Nang? Kok belum tidur?"
Ardhi tersentak kaget. Dengan refleks yang nyaris kasar, ia membanting layar laptopnya ke bawah hingga tertutup. Suara bantingan itu memecah kesunyian malam dengan keras. Napasnya memburu saat ia menoleh menatapku.
"Cuma… ngerjain tugas kampus, Bu," jawabnya cepat. Terlalu defensif.
Aku melangkah masuk. Instingku sebagai seorang ibu, dikombinasikan dengan kegelisahan yang menyiksaku seharian ini, membuatku menolak mundur. "Tugas kampus? Bapakmu baru dikubur kemarin, Dhi. Dosenmu pasti kasih kelonggaran."
Ardhi berdiri, mengusap wajahnya dengan kasar. "Ardhi nggak bisa tidur, Bu. Mending cari kesibukan."
Aku menatap matanya. Mata gelap yang sangat mirip dengan milik ayahnya itu kini memancarkan sesuatu yang lain. Kebingungan. Dan amarah yang tertahan. "Kamu mencari apa di laptop itu, Nang?" tanyaku, suaraku turun satu oktaf, mencoba menembus pertahanannya.
"Nggak cari apa-apa," sahutnya sambil membuang muka.
"Bohong." Aku melangkah lebih dekat. "Sejak kemarin di makam, kamu diam saja. Sejak Ibu membereskan ruang kerja Bapakmu, kamu terus mengawasi Ibu. Kamu… kamu tahu sesuatu, kan?"
Ardhi menatapku tajam. Pertahanan anak itu akhirnya retak. "Justru Ibu yang tahu sesuatu, kan?" balasnya, suaranya sedikit bergetar, memendam letupan emosi yang siap meledak. "Ibu nemu apa di ruang kerja Bapak? Kenapa Ibu kelihatan kayak orang ketakutan waktu Asya negur Ibu tadi siang?"
Dadaku berdesir hebat. Aku ingin menyangkal, ingin berlagak sebagai ibu yang tegar, memintanya kembali tidur dan tidak memikirkan yang aneh-aneh. Namun, kebohongan di rumah ini sudah terlalu tebal.
"Ibu cuma nemu catatan-catatan lama," jawabku hati-hati.
"Catatan apa? Soal perempuan itu?"
Duniaku serasa berhenti sesaat. "Perempuan siapa maksudmu, Dhi?" tanyaku, meski hatiku meneriakkan nama yang sama.
Ardhi tidak menjawab. Ia justru membungkuk, membuka kembali layar laptopnya. Terang dari layar itu menyambar wajahku. Ia memutar laptop itu agar menghadap ke arahku. Tangannya sedikit gemetar saat menunjuk ke layar.
"Ardhi penasaran sama orang-orang yang datang ke makam. Ardhi iseng nyari info. Awalnya Ardhi pikir dia cuma orang yang pernah dibantu Bapak," suara Ardhi terdengar putus asa. "Tapi Ardhi nemu akun Facebook lamanya, lalu nyambung ke Instagram-nya. Ibu lihat ini."
Kakiku terasa seperti jeli saat aku melangkah mendekati layar. Itu adalah sebuah akun Instagram dengan nama Puji_H. Profilnya tidak digembok. Terpampang wajah perempuan yang kulihat berdiri di bawah pohon kamboja. Wajah yang sama. Tatapan yang sama.
Namun, bukan wajah Puji yang membuat napasku terhenti. Itu adalah foto terakhir yang diunggahnya, tertanggal dua hari sebelum Mas Aryo masuk rumah sakit.
Sebuah foto yang menampilkan tangan mungil seorang bayi, menggenggam telunjuk seorang pria dewasa. Telunjuk pria itu… aku hafal betul bentuk kuku dan bekas luka kecil di buku jarinya. Itu tangan Mas Aryo.
Di bawah foto itu, tertera sebuah keterangan singkat:
Alhamdulillah, 2 bulan usiamu, Nak. Sehat terus, jadi kebanggaan Bapak & Ibu.
Darahku serasa surut dari kepalaku. Pandanganku berkunang-kunang. Dua bulan. "Ini pasti salah paham, Dhi," suaraku keluar berupa bisikan parau, nyaris tidak terdengar. Aku meraba tepi meja belajar Ardhi untuk mencari sandaran. "Banyak perempuan namanya Puji. Ini… ini mungkin keponakan Bapakmu yang jauh. Atau… atau anak staf yang Bapakmu jenguk." Aku mencoba menenun kebohongan logis, bukan untuk Ardhi, melainkan untuk diriku sendiri.
"Ibu sadar apa yang Ibu omongin?" Suara Ardhi mulai meninggi. Keputusasaannya meledak. "Lihat tangan di foto itu, Bu! Itu tangan Bapak! Ardhi hafal jam tangan itu. Jam kulit cokelat yang Ibu belikan tahun lalu!"
"Dhi, pelankan suaramu!" tegurku, menoleh panik ke arah pintu.
Namun terlambat. Suara langkah kaki bergegas terdengar dari lorong, dan detik berikutnya, Asya berdiri di ambang pintu. Kacamata minus bertengger di hidungnya, wajahnya memancarkan kebingungan bercampur jengkel.
"Ada apa ini malam-malam ribut begini?" tanya Asya, melangkah masuk ke dalam kamar. Matanya bergantian menatapku dan Ardhi.
"Tanya sama Ibu, Sya. Tanya apa yang disembunyikan Bapak dari kita semua!" balas Ardhi dengan nada menantang, matanya berkaca-kaca.
"Ardhi, jaga bicaramu!" Aku membentaknya pelan, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawaku.
Asya mengernyit. Ia menatap layar laptop Ardhi. Keheningan yang panjang dan mencekik memenuhi ruangan saat mata rasional putriku memindai foto dan keterangan di layar itu. Aku menahan napas, menunggu ledakan dari Asya.
Namun, Asya adalah Asya. Ia tidak meledak. Ia menegakkan punggungnya dan memalingkan wajah dari layar, menatap adiknya dengan tatapan dingin.
"Tutup laptopmu, Dhi," kata Asya datar.
"Sya, lo nggak lihat itu—"
"Aku bilang, TUTUP!" bentak Asya, suaranya tajam seperti silet.
Ardhi terdiam kaget. Ia menutup laptop itu dengan kasar.
"Dengar," kata Asya, menatap tajam pada Ardhi, lalu kepadaku. "Bapak baru dimakamkan kemarin. Tanah kuburannya masih merah. Kita ini keluarga terpandang di Jogja. Logis sedikit, Dhi. Jangan mencari penyakit. Apapun yang kamu lihat di internet itu, siapa pun perempuan kampung itu, dia bukan urusan kita. Itu bisa saja rekayasa, atau foto editan orang yang mau memeras keluarga kita."
Asya beralih menatapku. "Dan Ibu. Ibu nggak usah terpengaruh omongan Ardhi. Bapak itu dosen yang terhormat. Tidak mungkin dia melakukan hal serendah ini. Ini pasti ada penjelasan logisnya. Jangan merusak nama Bapak cuma karena foto buram di internet."
Asya berbalik dan keluar dari kamar, menutup pintu di belakangnya dengan bantingan yang cukup keras, meninggalkan aku dan Ardhi dalam kesunyian yang lebih menyesakkan dari sebelumnya.
Ardhi menatapku, matanya memancarkan kekecewaan yang dalam. Ia tidak lagi membantah Asya, tapi sorot matanya seolah berkata: Ibu mau membohongi diri sendiri sampai kapan?
Aku melangkah mundur keluar dari kamarnya tanpa sepatah kata pun.
Kembali ke kamarku sendiri, tubuhku menggigil. Udara malam Jogja tidak pernah terasa sedingin ini. Aku duduk di tepi ranjang, menarik kalender kecil dari atas nakas. Tanganku bergetar hebat saat aku membuka halaman bulan-bulan sebelumnya.
Aku harus mencari rasionalitas yang dibanggakan Asya. Aku harus membuktikan bahwa Ardhi salah, bahwa insting ketakutanku salah.
Aku melihat ke tanggal dua bulan yang lalu. Bulan Agustus.
Mas Aryo mulai sakit keras dan keluar masuk rumah sakit di awal Oktober. Jika bayi itu berusia dua bulan sekarang… berarti ia lahir sekitar awal Agustus.
Jari telunjukku menelusuri minggu pertama di bulan Agustus. Memoriku kembali dengan kejam. Saat itu, Mas Aryo pamit tidak pulang selama tiga hari penuh. Ia bilang ada pelatihan dosen sertifikasi ke luar kota, menginap di hotel yang sinyalnya sulit, memintaku untuk tidak menghubunginya kecuali darurat.
Itu bukan perjalanan dinas. Itu adalah hari-hari kelahiran anak itu.
Aku menarik napas dengan susah payah, mencengkeram tepi kasur hingga buku jariku memutih. Kepalaku terasa mau pecah. Aku mencoba mencari celah, mencari alasan lain, mencari alibi apa pun yang bisa membebaskan suamiku dari dosa yang mulai tergambar jelas di depan mataku.
Aku mencoba menghitung ulang… sekali lagi… berharap aku salah, mbok yo salah… tapi semakin kuhitung, semakin jelas satu hal yang tidak ingin kuakui.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar