Lampu gantung kristal Bohemian raksasa yang menggantung di langit-langit ballroom Hotel Dharmawangsa malam itu membiaskan ribuan pendar keemasan, seolah berusaha menutupi sisi gelap dari wajah-wajah yang berdansa di bawahnya. Asap tipis dari cerutu Kuba kelas satu bercampur dengan aroma parfum Baccarat Rouge dan sampanye Dom Pérignon, menciptakan atmosfer dekadensi yang memabukkan. Malam ini adalah perayaan ulang tahun ke-50 Wijaya Group, sebuah monumen kekuasaan yang dibangun di atas kebangkrutan banyak perusahaan lain.
Di balkon VIP lantai dua, jauh dari lautan manusia yang berlomba-lomba memamerkan digit rekening mereka lewat setelan jas bespoke dan gaun sutra rancangan desainer Eropa, Arkan Wijaya berdiri dalam diam.
Ia memegang gelas kristal berisi single malt whisky berumur tiga puluh tahun, memutar cairan ambar itu perlahan tanpa minat untuk menyesapnya. Dari ketinggian ini, kerumunan elite Jakarta di bawah sana tampak seperti koloni semut pekerja. Pion-pion rapuh yang digerakkan oleh dua motivasi paling purba: ketamakan yang tak berujung, dan ketakutan akan kehilangan segalanya.
"Kau terlihat seperti dewa yang bosan melihat umatnya saling menikam, Arkan."
Sebuah suara memecah keheningan di sisi kanan balkon. Arkan tidak menoleh. Ia sudah hafal intonasi arogan dan langkah kaki yang sedikit diseret itu. Bastian, pewaris tunggal kerajaan properti raksasa yang menganggap dunia hanyalah taman bermain pribadi yang difasilitasi oleh kartu kredit hitam ayahnya.
Bastian melangkah maju, meletakkan lengannya di atas pagar pualam dingin, lalu ikut menatap ke bawah.
"Aku hanya sedang menghitung," suara Arkan akhirnya terdengar. Berat, dalam, dan tanpa riak emosi sekecil apa pun. "Berapa banyak dari mereka yang malam ini tersenyum padaku, namun akan dengan senang hati menikam punggungku jika disodorkan cek kosong dengan nominal yang tepat."
Bastian mendengus, tawa kecilnya sarat akan hiburan. "Pandanganmu tentang manusia selalu menyedihkan, Kawan. Sangat sempit. Tidakkah kau berpikir ada satu atau dua hal yang murni di ruangan ini? Kesetiaan, mungkin? Atau loyalitas yang tidak bisa dibeli?"
"Bukan bisa dibeli, Bastian. Tapi setiap manusia memiliki label harga," potong Arkan dingin. Mata obsidiannya menajam, menyapu lantai dansa seolah sedang menguliti rahasia setiap orang. "Beberapa orang menjual diri mereka secara terang-terangan untuk uang. Beberapa untuk validasi status sosial. Sisanya, menyerahkan kebebasan mereka untuk ilusi murahan bernama cinta atau kesetiaan. Pada akhirnya, semuanya hanyalah transaksi."
Memori kelam berkelebat tipis di benak Arkan, diredam dengan cepat oleh dinding rasionalitasnya. Ia mengingat seorang wanita dengan senyum keibuan yang sempurna—ibunya sendiri—yang tanpa ragu menukar keutuhan keluarganya demi persentase saham mayoritas di perusahaan kompetitor. Arkan telah belajar sejak usia sepuluh tahun, bahwa air mata bisa dipalsukan dengan sangat mudah, dan pelukan hangat tak lebih dari sekadar negosiasi bisnis yang belum menemui titik temu.
Bastian menyeringai lebar. Ia selalu menyukai sisi sinis Arkan. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Arkan, matanya berkilat penuh ambisi kekanak-kanakan yang berbahaya.
"Kalau kau sangat yakin dengan teori transaksionalmu itu, mari kita uji malam ini. Sebuah permainan kecil untuk membunuh kebosananmu," tawar Bastian, mengangkat gelasnya sedikit.
Baru kali ini Arkan memutar kepalanya. Sudut bibirnya nyaris, hanya nyaris, terangkat. "Permainan?"
"Ya. Taruhan." Bastian menunjuk menggunakan dagunya ke arah lautan manusia di lantai bawah. "Pilih satu wanita di ruangan ini. Siapa saja. Bebas. Buktikan padaku bahwa kau bisa menundukkannya, menghancurkan harga dirinya, dan membuatnya memohon di bawah kakimu."
Arkan membuang napas pendek melalui hidung, sebuah gestur meremehkan. "Itu bukan taruhan. Itu penghinaan untuk waktuku. Wanita-wanita di bawah sana sudah setengah berlutut hanya dengan melihat nama belakangku di undangan ini."
"Ah, itu aturan pertamanya," Bastian mengangkat telunjuknya, memotong jalan keluar Arkan. "Kau tidak boleh menggunakan kekuasaan struktural Wijaya Group. Kau tidak boleh membelinya dengan uang, tas Hermes, atau janji promosi jabatan. Kau tidak boleh melibatkan HRD jika dia karyawanmu. Murni permainan pikiran. Perang psikologis. Dominasi."
Mata Arkan sedikit menyipit. Ketertarikan mulai merayap di balik dada bidangnya yang terbalut jas hitam legam.
"Dan taruhannya?" tanya Arkan pelan. Suaranya kini merendah, menandakan predator di dalam dirinya mulai terbangun.
"Aston Martin Valkyrie edisi terbaruku yang baru turun dari kapal minggu lalu, melawan... katakanlah, sepuluh persen saham minoritas di proyek reklamasi pesisirmu." Bastian menaikkan sebelah alisnya. "Kau takut kalah dari sekadar permainan emosi, Tuan CEO?"
Kata kalah tidak pernah terdaftar dalam kamus hidup Arkan Wijaya.
Ia meletakkan gelas minumannya di atas meja pualam di sebelahnya. Bunyi klik kristal yang beradu dengan batu terdengar sangat tajam. Arkan kembali menatap ke bawah. Matanya kini tidak lagi memindai tanpa arah; ia sedang berburu.
Ia melewati kerumunan sosialita bergaun punggung terbuka yang diam-diam mencuri pandang ke arah balkonnya. Ia mengabaikan deretan aktris pendatang baru yang tertawa terlalu keras untuk menarik perhatian. Ia tidak mencari kecantikan, ia mencari mangsa yang pantas untuk dihancurkan.
Hingga pandangannya berhenti dan terkunci pada satu titik.
Di sudut ruangan yang agak temaram, jauh dari hingar-bingar lantai dansa, tepat di dekat pilar raksasa yang menopang balkon, terjadi sebuah keributan kecil. Seorang tamu pria yang tampak memerah karena terlalu banyak menenggak alkohol sedang menghardik seorang wanita.
Wanita itu bukan tamu. Ia adalah bagian dari staf acara malam itu.
Arkan bisa melihat name tag kecil yang tersemat di dada kirinya. Ia tidak mengenakan gaun gemerlap atau perhiasan mencolok. Tubuhnya dibalut setelan blazer hitam yang dipotong rapi, kemeja sutra putih yang kancingnya ditutup rapat hingga ke pangkal leher, dan rambut hitam legam yang digulung ke belakang dengan jepit sederhana, memperlihatkan jenjang lehernya yang putih.
"Kau tuli?! Aku minta wine merah dari Prancis, bukan sampanye murahan ini!" bentak pria mabuk itu. Suaranya cukup keras hingga membuat beberapa tamu di dekatnya mundur, enggan terlibat dalam drama orang mabuk. Pria itu mengayunkan tangannya, nyaris menumpahkan isi gelas ke karpet.
Arkan mengamati adegan itu dengan mata elangnya. Ia menunggu wanita itu menunduk, menangis, atau memasang senyum memelas—reaksi standar dari pekerja perhotelan atau staf event yang dihadapkan pada tamu VIP.
Namun, wanita itu tidak melakukan satu pun dari hal tersebut.
Wanita itu berdiri dengan postur setenang permukaan danau yang membeku. Ia tidak memundurkan langkahnya satu milimeter pun saat pria mabuk itu memajukan wajahnya. Ekspresi di wajah wanita itu benar-benar kosong, sedingin pualam.
Lalu, di tengah kebisingan musik jazz yang mengalun dari panggung utama, wanita itu menatap mata pria mabuk tersebut dalam diam selama tiga detik penuh. Sebuah tatapan yang begitu menekan, hingga pria itu tanpa sadar berhenti mengoceh.
Wanita itu mencondongkan kepalanya sedikit, lalu mengucapkan sesuatu yang tidak bisa didengar Arkan dari lantai dua. Nada bicaranya tidak membentak, ia hanya menggerakkan bibirnya dengan tenang dan datar. Namun efeknya instan. Pria mabuk itu seketika memucat, matanya membelalak kaget, dan ia memutar kepalanya dengan panik ke arah kerumunan sebelum akhirnya melangkah pergi terburu-buru seperti anjing yang ketakutan.
Begitu pria itu pergi, wanita tersebut kembali menegakkan tubuhnya, merapikan kerah kemejanya, dan wajahnya kembali menjadi topeng tanpa ekspresi. Seolah konfrontasi barusan hanyalah debu yang singgah di lengannya.
Arkan merasakan sesuatu berdesir di dadanya. Sebuah ketertarikan yang gelap, asing, dan menantang.
"Dia," ucap Arkan, telunjuknya mengarah lurus, membelah udara, tepat pada sosok staf wanita tersebut.
Bastian mengerutkan kening, mencondongkan tubuhnya melampaui pagar balkon untuk mengikuti arah telunjuk Arkan. "Dia? Yang mana? Sosialita bergaun merah darah itu?"
"Bukan. Staf yang berdiri di dekat pilar bayangan. Yang baru saja membungkam salah satu direktur bank tanpa meninggikan suaranya satu oktaf pun."
Bastian terbelalak tak percaya. "Seorang staf? Kau bercanda, Arkan. Di mana letak serunya? Kau adalah pemilik gedung ini. Kau bisa memecatnya besok pagi dan dia akan langsung berlutut menangis di depan mejamu demi membayar tagihan apartemennya."
"Kau tidak memperhatikan matanya, Bastian," gumam Arkan. Suaranya kini merendah, dipenuhi antisipasi dan dominasi absolut. "Wanita itu tidak akan menangis hanya karena kehilangan pekerjaan. Kau lihat cara dia berdiri? Ada tembok beton di balik matanya. Ada arogansi yang dijaga sangat ketat di sana. Dia terlalu tenang, terlalu sadar akan posisinya untuk seseorang yang berada di kasta terendah dalam ruangan ini."
Bastian mendengus. "Jadi, kau memilihnya? Si pemegang nampan?"
"Siapa namanya?" tanya Arkan, matanya tak lepas sedetik pun dari sosok wanita di bawah sana yang kini sedang menyeka tumpahan air di meja terdekat.
"Tunggu, aku panggil manajer acara untuk—"
"Tidak perlu." Arkan mengangkat tangannya, menghentikan Bastian. "Jangan buat keributan yang menarik perhatian. Aku akan mencaritahunya sendiri melalui daftar absensi."
Bastian menyeringai lebar, menyadari bahwa temannya ini akhirnya masuk ke dalam permainannya. Ia mengulurkan tangan kanannya.
"Tiga bulan, Arkan. Ingat aturannya. Dalam sembilan puluh hari, dia harus hancur secara psikologis dan memohon padamu. Tanpa uang, tanpa ancaman karier."
Arkan menatap uluran tangan itu. Perlahan, senyum miring yang sangat tipis dan sangat kejam terukir di wajah tampannya. Ia menyambut tangan Bastian dengan cengkeraman yang kuat dan mengintimidasi, seolah ia sedang mencekik leher seseorang.
"Aku bahkan tidak butuh tiga bulan untuk membuat ego kecilnya hancur berserakan," desis Arkan.
Sementara itu, di lantai bawah, udara terasa semakin pengap bagi Alena Pradipta.
Dentuman musik jazz perlahan digantikan oleh instrumen klasik yang lebih lambat. Alena berdiri di dekat pilar, merapikan kerah kemejanya yang sedikit miring akibat pergerakan pria mabuk tadi, lalu menghapus debu imajiner dari lengan blazernya. Berada di dalam ballroom ini, menghirup udara yang sama dengan orang-orang ini, selalu membuatnya ingin muntah.
Bau uang lama, cerutu, dan kebusukan moral yang ditutupi oleh tata krama elit meresap ke dalam pori-porinya.
Tujuh tahun yang lalu, keluarganya pernah berada di tengah-tengah lantai dansa ini. Ayahnya, seorang pria dengan integritas yang terlalu bersih untuk bertahan di Jakarta, pernah bersulang dengan para pria berjas itu. Sebelum akhirnya Wijaya Group, di bawah kepemimpinan dingin Arkan Wijaya yang baru saja naik takhta, melakukan merger agresif yang tidak lebih dari sekadar perampokan legal. Mereka mencekik rantai pasokan perusahaan ayahnya, memanipulasi opini publik, dan menghancurkan keluarganya hingga tak bersisa.
Kini, ia kembali ke sini. Bukan sebagai Alena sang pewaris tunggal Pradipta yang dulu selalu dikelilingi pengawal. Melainkan sebagai bayangan. Sebuah anomali kecil, sebuah trojan horse yang menyusup ke dalam jantung Wijaya Group, menyamar sebagai staf analis media yang tidak terlihat.
"Alena!"
Suara panik dan melengking dari manajer divisi humas, Pak Dimas, memecah lamunannya. Pria paruh baya itu setengah berlari menghampirinya dengan napas tersengal.
"Ya, Pak," jawab Alena, langsung mengatur wajahnya menjadi staf yang patuh dan sedikit kaku.
"Tolong, tolong bawakan nampan sampanye ini ke area VIP di balkon lantai dua, sayap kanan," perintah Dimas sambil menyerahkan nampan perak yang terasa berat. Wajah pria itu mengucurkan keringat dingin. "Mereka menolak dilayani oleh staf dari vendor perhotelan luar. Harus staf internal. Pastikan kau tidak menumpahkan satu tetes pun, atau kita semua akan kehilangan pekerjaan besok pagi. Mengerti?"
Alena hanya mengangguk tipis. "Baik, Pak."
Wajah Alena adalah topeng pualam yang sempurna. Tanpa ekspresi, tanpa keluhan, tanpa rasa gentar. Ia mengambil nampan perak berisi dua gelas kristal yang terisi cairan keemasan.
Dengan langkah terukur, Alena berjalan menuju tangga melengkung raksasa yang dilapisi karpet merah tebal. Hak sepatu pantofelnya tidak menghasilkan suara sedikit pun. Ia bergerak seperti bayangan yang meluncur dalam diam. Tujuannya adalah balkon privat di sayap kanan. Teritori musuh utamanya.
Saat ia semakin dekat dengan anak tangga teratas, dan lengkungan pintu masuk balkon yang ditutupi oleh tirai beludru raksasa mulai terlihat, suara percakapan dua orang pria tertangkap oleh pendengarannya.
Alena menghentikan langkahnya secara refleks. Tubuhnya menempel pada dinding marmer di balik bayangan tirai tebal tersebut. Instingnya, yang telah ditempa oleh kejatuhan keluarganya dan tahun-tahun yang dihabiskan untuk bertahan hidup, selalu menyala dengan tajam.
Di dunia ini, informasi adalah senjata yang lebih mematikan dari peluru tajam.
"Jadi, kau yakin dengan pilihanmu, Arkan? Ini terdengar terlalu merendahkan untuk standar seorang Wijaya."
Suara itu milik Bastian. Alena langsung mengenalinya. Selama dua tahun terakhir, ia telah menghafal setiap suara, wajah, jadwal, dan titik lemah dari lingkaran dalam Arkan Wijaya.
Darah di nadi Alena mendadak berhenti mengalir. Jari-jarinya yang menopang pinggiran nampan perak menegang. Namun napasnya tetap teratur, panjang dan tanpa suara.
Lalu, sebuah suara lain membalas. Suara yang jauh lebih berat, lebih dingin, dan membawa otoritas absolut yang bisa membuat tulang punggung siapa pun meremang. Suara pria yang telah menghancurkan hidupnya. Arkan Wijaya.
"Standarku tidak ditentukan oleh apa yang mereka kenakan, Bastian," suara Arkan mengalun lambat, bagai pisau bedah yang sedang mengiris kulit dengan presisi mematikan di ruang operasi. "Standarku ditentukan oleh seberapa sulit ego mereka dipatahkan."
Alena berdiri sangat kaku. Otaknya berputar mengkalkulasi arah pembicaraan ini. Apa yang sedang mereka bicarakan?
Terdengar denting gelas yang diletakkan.
"Aku baru saja mendapat pesan dari kepala staf keamanan. Mereka mengecek data wajah wanita itu dari daftar karyawan," ucap Bastian dengan nada geli. "Namanya Alena. Dia analis media di divisi humas. Data latar belakangnya sangat membosankan. Kau yakin wanita bernama Alena ini punya sesuatu yang pantas untuk dihancurkan?"
Jantung Alena seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh. Paru-parunya menolak menarik udara.
Namanya. Mereka sedang membicarakan dirinya.
"Alena..."
Arkan menyebut namanya. Pria itu mengucapkan tiga suku kata itu dengan sangat lambat, mengecap setiap silabelnya seolah sedang menilai tekstur sebuah racun mahal sebelum menelannya.
Di balik tirai beludru yang gelap pekat, cengkeraman Alena pada nampan perak semakin menguat hingga buku-buku jarinya memutih pucat. Ia tidak gemetar. Ia tidak memancarkan ketakutan seperti mangsa yang tersudut. Matanya, yang sekelam langit malam tanpa bintang, perlahan memancarkan kilat tajam yang mengerikan.
Lalu, suara Arkan kembali membelah keheningan malam, memberikan vonis eksekusi verbal yang absolut.
"Ya. Alena," ucap Arkan dingin. "Wanita itu akan memohon di bawah kakiku dalam tiga bulan."
Di dalam persembunyiannya yang sunyi, kepanikan tidak pernah datang menghampiri Alena. Sebaliknya, sudut bibir merah mudanya perlahan terangkat ke atas, membentuk seulas senyum tipis—sangat tipis, sangat dingin, dan dipenuhi oleh perhitungan matematis yang mematikan.
Ia memejamkan mata sejenak, meresapi setiap detik dari tantangan ini.
Permainan dimulai, Tuan Arkan. Mari kita lihat... siapa yang akan memohon pada akhirnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar