Hujan badai mengguyur ibu kota semenjak sore, mengubah Jakarta menjadi lautan aspal basah yang memantulkan cahaya merah dari kemacetan panjang. Di lantai 15 Menara Wijaya, jarum jam digital di dinding telah menunjukkan pukul delapan malam lewat tiga puluh menit. Ruangan divisi Hubungan Masyarakat yang biasanya bising kini senyap, tenggelam dalam pendaran lampu neon putih yang menyilaukan dan dengung rendah dari mesin pendingin udara.

Hanya tersisa satu monitor yang menyala di sudut ruangan.

Alena Pradipta duduk bersandar di kursinya, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Di layar komputernya, terpampang draf laporan sentimen media yang telah ia revisi untuk keempat kalinya dalam dua hari terakhir. Pihak manajemen atas—tanpa nama spesifik, namun Alena tahu persis siapa dalangnya—terus mengembalikan laporannya dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. 'Analisis kurang tajam', 'Gunakan diksi yang lebih agresif', 'Data komparasi tidak relevan'.

Itu adalah taktik sabotase klasik. Sebuah metode penyiksaan korporat yang dirancang untuk menguras fisik, meruntuhkan mental, dan memancing emosi seorang staf hingga ia melakukan kesalahan fatal atau menyerah dengan sendirinya.

Arkan Wijaya sedang mengujinya. Pria itu menyebarkan jaring laba-laba transparan di sekeliling kubikelnya, menunggu Alena meronta dan terjerat makin dalam.

Namun, Arkan tidak tahu satu hal krusial: Alena memiliki suplai kesabaran yang lahir dari kehancuran absolut. Kelelahan fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan malam-malam panjang tujuh tahun lalu, saat ia harus melihat ayahnya menatap kosong ke luar jendela rumah mereka yang disita bank.

Dengan ketenangan yang mematikan, Alena menyimpan dokumen tersebut, mematikan komputernya, dan merapikan mejanya hingga tidak ada satu pena pun yang melenceng dari tempatnya. Ia mengambil tas bahunya, mematikan lampu area divisinya, dan berjalan menyusuri lorong panjang menuju bank lift eksekutif.

Suasana lobi lantai 15 sangat sepi. Hanya ada suara hujan yang menghantam kaca tebal gedung. Alena menekan tombol ke bawah. Layar digital di atas pintu baja itu menunjukkan bahwa satu-satunya lift yang aktif sedang turun dari lantai 40.

Lantai 40. Alena menghela napas tipis, mempersiapkan sistem sarafnya. Ia sudah mengkalkulasi kemungkinan terburuk di setiap langkahnya di gedung ini. Jika lift itu turun dari lantai sang CEO pada jam segini, peluangnya untuk bertemu dengan si pemangsa sangat tinggi. Ia membetulkan posturnya, kembali memakai kacamata berbingkai tipisnya, dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi staf yang kelelahan dan ingin segera pulang.

Denting.

Pintu lift baja yang memantulkan bayangan buram itu terbuka perlahan dengan desisan halus.

Tebakan Alena tepat sasaran. Jantungnya berdetak satu ketukan lebih cepat, namun ia menahannya dengan kontrol pernapasan yang sempurna.

Di dalam kabin lift yang luas dan dilapisi panel kayu ek gelap itu, berdiri sosok Arkan Wijaya.

Pria itu tidak lagi mengenakan jas navy-nya. Ia hanya mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang lengannya digulung asal hingga siku, memperlihatkan urat-urat menonjol di lengan bawahnya. Tiga kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, menampilkan sedikit bidang dadanya, menghilangkan kesan CEO formal dan menggantikannya dengan aura maskulinitas mentah yang berbahaya. Ia bersandar dengan satu bahu pada dinding lift, kedua tangannya tenggelam di dalam saku celana kainnya.

Mata obsidian Arkan langsung mengunci sosok Alena di ambang pintu. Pria itu menatapnya seperti seekor macan kumbang yang melihat rusa berjalan tepat ke arah bayangannya.

"Masuk, Alena," suara bariton Arkan memecah keheningan. Nada suaranya rendah, nyaris seperti dengkuran pelan, namun mengandung perintah yang tidak bisa dibantah. "Pintu ini tidak akan menunggumu selamanya."

Alena menundukkan pandangannya. Ia melangkah masuk ke dalam kabin lift dengan gerakan sedikit kaku, mengambil posisi di sudut diagonal terjauh dari Arkan, tepat di dekat panel tombol. Ia menekan tombol 'L' untuk lobi utama, lalu menatap angka digital di atas pintu, menolak melakukan kontak mata.

"Selamat malam, Pak Arkan," sapa Alena dengan suara yang diatur agar terdengar sedikit serak karena lelah. "Saya tidak menyangka Bapak masih berada di kantor selarut ini."

Pintu lift tertutup rapat. Ruang baja berdinding cermin itu kini mengurung mereka berdua. Turun dari lantai 15 ke lobi membutuhkan waktu sekitar empat puluh detik. Empat puluh detik yang di dalam ruangan tertutup bersama Arkan Wijaya terasa setara dengan empat puluh jam interogasi.

"Ada beberapa... proyek baru yang membutuhkan perhatian penuhku," jawab Arkan perlahan.

Alih-alih tetap bersandar di tempatnya, Arkan menegakkan tubuhnya. Pria itu melangkah lambat melintasi kabin lift, menghapus jarak diagonal di antara mereka. Ia berhenti tepat di sebelah Alena, memblokir akses wanita itu ke pintu keluar secara halus namun intimidatif.

Bau maskulin dari parfum Arkan—campuran vetiver, black pepper, dan aroma hujan yang menempel di serat bajunya—seketika mengisi seluruh ruang napas Alena, menyingkirkan aroma antiseptik khas gedung perkantoran. Suhu di dalam lift seolah turun beberapa derajat.

"Dan kau," Arkan memiringkan kepalanya sedikit, menatap profil samping wajah Alena dari jarak yang sangat dekat. "Jam setengah sembilan malam. Apakah manajermu tidak memiliki rasa kemanusiaan, atau kau memang tipe pekerja yang tidak tahu kapan harus berhenti?"

Alena menelan ludah. Ia membiarkan sedikit kecemasan artifisial merayap ke dalam suaranya. "Saya sedang menyelesaikan revisi laporan sentimen media, Pak. Ada beberapa poin yang... dinilai kurang tajam oleh pihak manajemen atas, jadi saya harus merombaknya ulang."

Arkan tersenyum tipis. Sebuah senyuman asimetris yang penuh dengan rasa puas. Tentu saja ia tahu. Dialah pihak manajemen atas yang dengan sengaja memerintahkan laporan itu dikembalikan berkali-kali. Ia ingin melihat seberapa jauh wanita ini bisa ditekan sebelum akhirnya menangis frustrasi dan mengeluh.

"Aku membaca draf pertamamu yang kau bawa ke ruanganku Jumat lalu," Arkan menurunkan suaranya setengah oktaf, membiarkan suaranya menggema di ruang sempit itu. "Itu bukan laporan yang buruk. Faktanya, itu terlalu analitis untuk seukuran staf humas biasa. Kau membedah kelemahan kompetitor kita bukan dengan bahasa public relations, melainkan dengan bahasa seorang ahli strategi."

Alena akhirnya mendongak, menatap Arkan melalui lensa kacamatanya dengan ekspresi campuran antara bingung dan waspada. "Itu adalah tugas saya, Pak. Menyajikan data yang akurat."

"Akurat adalah satu hal. Insting membunuh adalah hal lain," Arkan memutar tubuhnya sedikit hingga ia sepenuhnya menghadap Alena. Ia menggunakan postur tubuh besarnya untuk mengurung wanita itu di sudut. "Kau tidak hanya menyajikan data, Alena. Di halaman keempat laporanmu, kau menyarankan kita untuk menyerang kompetitor tepat saat mereka merilis laporan kuartal yang buruk, memanfaatkan sentimen negatif publik untuk menjatuhkan saham mereka. Itu bukan saran dari seorang staf muda yang polos. Itu saran dari seseorang yang tahu bagaimana cara menghancurkan lawan."

Jantung Alena berdetak lebih keras. Arkan terlalu tajam. Pria ini tidak hanya bermain-main dengan kekuasaannya; ia membedah cara berpikir Alena.

"Saya hanya mengusulkan skenario terburuk yang bisa dimanfaatkan perusahaan, Pak. Jika bahasanya terlalu agresif, saya meminta maaf." Alena merundukkan bahunya, memainkan kartu sebagai staf yang takut melewati batas wewenangnya.

Namun Arkan tidak termakan oleh postur ketakutan itu kali ini. Ia ingat sensasi kulit dingin Alena di bawah jemarinya. Ia ingat mata kosong yang menantangnya.

"Jangan meminta maaf untuk sesuatu yang kau lakukan dengan brilian," potong Arkan dengan nada final. Ia mengangkat satu tangannya, menyandarkannya pada dinding panel kayu tepat di sebelah kepala Alena. Ia mengurung mangsanya dalam sangkar imajiner.

Arkan menatap mata di balik kacamata itu, mencari kebohongan. "Aku sedang merancang sebuah task force. Tim khusus beranggotakan lima orang yang akan melapor langsung kepadaku. Tim ini tidak akan mengurusi citra perusahaan yang konyol. Tim ini dibentuk untuk menetralisir krisis dan menghancurkan manuver kompetitor sebelum mereka berekspansi."

Alena menahan napasnya secara nyata kali ini. Task force khusus yang berada di bawah komando langsung Arkan Wijaya. Ini adalah akses tak terbatas menuju jantung informasi dan operasi rahasia perusahaan. Ini adalah tiket emas yang ia butuhkan untuk meruntuhkan kerajaan Arkan dari dalam.

"Apakah... apakah Bapak menawarkan posisi itu kepada saya?" tanya Alena pelan, memastikan nadanya terdengar seperti seseorang yang tidak percaya dengan keberuntungannya, setengah ragu dan setengah takjub.

"Aku sedang mempertimbangkannya," Arkan memberikan jeda dramatis. Ia membiarkan harap itu menggantung di udara, menguji ketahanan emosi Alena. "Tapi aku tidak mempekerjakan seseorang yang tidak bisa kubaca. Aku tidak bisa menilai kesetiaan dan kapasitas aslimu hanya dari balik kubikel lantai 15, atau dari kertas draf yang kau ketik."

Layar digital menunjukkan angka '5'. Lift terus meluncur turun. Waktu semakin sempit, dan Arkan mengencangkan jeratnya.

"Aku perlu tahu bagaimana kau berpikir saat kau tidak dibatasi oleh seragam karyawan dan ketakutan akan pemecatan," Arkan mencondongkan wajahnya lebih dekat, hingga hembusan napasnya menerpa pelipis Alena. Suaranya kini terdengar seperti bisikan iblis yang menawarkan apel beracun.

"Makan malam. Besok malam pukul tujuh. Di La Plume."

Alena mengerjap lambat di balik kacamatanya. La Plume. Restoran privat di SCBD yang tidak memiliki papan nama dan hanya menerima tamu undangan VVIP. Tempat di mana para politisi dan taipan bisnis bertransaksi tanpa jejak. Membawa seorang staf level bawah ke tempat seperti itu bukanlah sebuah jamuan profesional. Itu adalah sebuah isolasi psikologis. Arkan ingin memindahkannya dari zona nyaman kantor ke dalam wilayah kekuasaannya yang paling eksklusif, untuk menelanjanginya secara mental.

Arkan mengekspektasikan penolakan halus. Ia menunggu Alena tergagap, mencari alasan tentang aturan larangan fraternitas perusahaan, atau merasa terintimidasi oleh reputasi tempat tersebut. Arkan sudah menyiapkan serangkaian argumen balasan yang akan memojokkan wanita itu hingga ia tidak punya pilihan selain mengatakan 'ya' dengan air mata tertahan di pelupuk matanya.

Namun, di dalam kepala Alena, roda gigi telah berputar dengan kecepatan cahaya.

Jika ia menolak, ia akan kehilangan akses ke task force tersebut dan Arkan akan terus menerornya di kantor. Jika ia menerima dengan gugup dan memelas, Arkan akan merasa superior dan mendominasi permainan. Tidak. Ia harus merusak ritme pemangsa ini. Ia harus membuat Arkan merasa bahwa jaring yang dilemparkannya tidak menangkap seekor rusa, melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Alena mendongak. Ia tidak menghindari tatapan intens Arkan.

Semua jejak kecanggungan artifisial yang menempel di wajahnya menguap dalam hitungan detik. Bahunya yang tadi melengkung ke dalam, kembali tegak lurus menantang gravitasi. Di balik lensa kacamatanya, sepasang mata legam itu memancarkan ketenangan absolut, datar dan tak tertembus bak dinding brankas baja.

"Saya menerima undangan Bapak. Besok malam pukul tujuh di La Plume," jawab Alena dengan intonasi yang begitu lugas, begitu jernih, dan sama sekali tanpa keraguan.

Reaksi itu terlalu cepat. Terlalu mudah.

Alis kiri Arkan menukik tajam. Otot rahangnya menegang sekilas. Penerimaan instan tanpa perlawanan ini ibarat melangkah di atas anak tangga yang ternyata tidak ada. Arkan merasa kehilangan keseimbangan psikologisnya selama sepersekian detik. Tidak ada ketakutan, tidak ada kepatuhan buta di mata wanita itu. Hanya ada persetujuan yang terkesan... penuh kalkulasi.

"Bagus," jawab Arkan akhirnya, suaranya sedikit mendingin karena ia tidak mendapatkan reaksi yang ia inginkan. Ia menarik lengannya dari dinding lift, merebut kembali otoritasnya dengan berdiri tegak. "Pastikan kau tidak terlambat. Pakaian formal."

"Tentu, Pak." Alena mengangguk pelan, kembali mengubah wajahnya menjadi topeng pualam yang tenang.

Layar digital di atas pintu menyala merah, menunjukkan huruf 'L'. Lift sedikit berguncang saat mengerem, bersiap membuka pintunya di lobi utama yang sepi.

Tepat saat pintu baja itu mulai bergeser membelah ke kedua sisi, Alena merapikan tali tas di bahunya. Ia melangkah maju, memecah kurungan imajiner yang dibuat Arkan, lalu berhenti tepat di ambang pintu lift.

Ia memutar kepalanya ke samping, menatap Arkan melalui pantulan cermin lift dari sudut matanya.

"Saya merasa sangat terhormat Bapak mempertimbangkan saya untuk tim khusus tersebut," suara Alena terdengar ringan, seringan helaian bulu, namun kata-kata berikutnya mendarat seperti hantaman palu godam di tengah kesunyian malam. "Terutama karena saya selalu mengagumi cara Wijaya Group berekspansi secara agresif... sama persis seperti strategi efisien yang Bapak gunakan saat mengakuisisi perusahaan-perusahaan skala menengah tujuh tahun yang lalu."

Pintu lift terbuka lebar dengan bunyi denting yang nyaring.

Udara di dalam kabin lift seolah membeku. Darah Arkan berdesir dingin. Tubuhnya menegang kaku layaknya patung marmer. Napasnya tercekat di pangkal tenggorokan.

Tujuh tahun yang lalu adalah era paling berdarah dalam sejarah kepemimpinannya. Sebuah akuisisi massal yang kejam, penuh intrik manipulasi pasar yang abu-abu, dan menyebabkan banyak kehancuran keluarga. Itu adalah subjek tabu. Topik yang telah dihapus bersih dari semua arsip rilis media humas dan tidak ada satu pun staf level operasional yang berani, atau bahkan memiliki pengetahuan, untuk menyinggungnya secara langsung di depan wajahnya.

Bagaimana staf rendahan ini mengetahuinya? Dan bagaimana dia berani menggunakannya sebagai kalimat perpisahan?

Sebelum Arkan sempat membuka mulutnya untuk menuntut penjelasan dari kelancangan tersebut, Alena telah melangkah keluar dari lift. Wanita itu berjalan menyusuri lobi utama yang remang dengan langkah anggun dan terukur, tidak menoleh sedikit pun ke belakang.

"Selamat malam, Pak Arkan," ucap Alena dari kejauhan, suaranya bergema menembus bunyi hujan, meninggalkan sang Tuan Arkan Wijaya berdiri membeku sendirian di dalam kotak baja, dengan kesadaran gelap yang tiba-tiba merayapi tengkuknya:

Wanita ini baru saja menerima undangannya, tidak dengan kepatuhan, melainkan dengan tantangan terbuka.