Hujan yang mengguyur ibu kota sejak sore belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di lantai lima puluh tujuh sebuah gedung pencakar langit di kawasan SCBD, rintik air menghantam dinding kaca tebal La Plume, salah satu restoran paling eksklusif dan tertutup di Jakarta. Tempat ini tidak memiliki papan nama di lobi bawah. Tidak ada akun media sosial yang mempromosikan menu truffle musiman mereka. La Plume hanya menerima tamu undangan dan anggota dengan biaya keanggotaan tahunan bernilai miliaran rupiah—sebuah filter absolut yang memisahkan mereka yang hanya sekadar kaya, dengan mereka yang benar-benar memegang kendali atas urat nadi ekonomi negara.
Di sudut ruangan VIP yang dilindungi oleh partisi kayu mahoni berukir dan tirai sutra tebal bernuansa burgundy, Arkan Wijaya duduk bersandar di kursi beludrunya.
Lampu gantung kristal yang temaram membiaskan cahaya keemasan ke atas meja marmer hitam di hadapannya. Jari-jari panjang Arkan mengetuk pelan tepi gelas yang berisi air putih es. Ia tiba dua puluh menit lebih awal. Bukan karena ia menghargai waktu pertemuan ini, melainkan karena ia ingin menguasai medan pertempuran sebelum musuhnya tiba.
Pikirannya masih terpaku pada kejadian di dalam lift tadi malam. Kalimat perpisahan Alena terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. "...sama persis seperti strategi efisien yang Bapak gunakan saat mengakuisisi perusahaan-perusahaan skala menengah tujuh tahun yang lalu."
Kalimat itu adalah sebuah tamparan di wajah arogansinya. Seorang staf divisi humas tidak seharusnya memiliki kapasitas memori—apalagi keberanian—untuk menyinggung masa lalu berdarah Wijaya Group. Arkan telah menghabiskan malamnya dengan membaca ulang berkas latar belakang Alena. Data itu terlalu bersih. Lahir di keluarga kelas menengah, lulusan universitas negeri dengan nilai memuaskan, rekam jejak pekerjaan yang tidak menonjol. Tidak ada anomali.
Namun insting predator Arkan mengatakan sebaliknya. Ada jurang yang sangat dalam antara profil di atas kertas dengan wanita bermata es yang menatapnya di lift kemarin.
Malam ini, ia akan membedah wanita itu. Ia akan menggunakan La Plume—dengan segala kemewahan dan etiket Eropa klasiknya yang mengintimidasi—sebagai pisau bedahnya. Arkan ingin melihat Alena terkesiap melihat dekorasi ruangan. Ia ingin melihat wanita itu salah tingkah di hadapan deretan garpu dan pisau perak. Ia ingin melihat retakan dari arogansi dingin tersebut.
Tepat pukul tujuh malam, pintu ganda berukir di area VIP itu terbuka perlahan oleh seorang maître d'.
Mata obsidian Arkan menyipit, menembus cahaya temaram, merekam setiap detail dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan presisi seorang penilai seni yang sinis.
Alena melangkah masuk.
Wanita itu tidak mengenakan gaun malam berpayet yang berlebihan, tidak juga memakai pakaian kantornya yang membosankan. Alena mengenakan gaun midi berbahan sutra berwarna midnight blue yang jatuh sempurna memeluk lekuk tubuhnya tanpa terlihat berusaha menarik perhatian. Potongannya sangat elegan, menutupi kerah lehernya namun membiarkan garis bahunya terekspos dengan anggun. Rambut hitam legamnya yang biasa diikat kaku kini dibiarkan tergerai dengan gelombang alami, membingkai wajah pualamnya yang nyaris tanpa riasan mencolok, kecuali pulasan lipstik berwarna nude gelap dan tatapan mata yang sekelam dasar samudra.
Tidak ada perhiasan berlian atau emas yang mencolok. Hanya sebuah jam tangan kulit tipis bergaya vintage di pergelangan tangan kirinya. Sangat sederhana. Namun, material gaun itu tidak bisa berbohong di mata Arkan yang terlatih. Itu bukan sutra yang bisa dibeli di butik mal biasa dengan gaji seorang analis media level bawah. Itu adalah sutra murbei kualitas tertinggi yang dijahit secara custom.
Namun, bukan pakaian itu yang membuat rahang Arkan menegang tanpa sadar. Melainkan cara wanita itu membawa dirinya.
Alena melangkah mengikuti maître d' melintasi karpet tebal La Plume tanpa sedikit pun menoleh ke sekeliling. Ia tidak mengagumi lukisan asli Renoir di dinding. Ia tidak terlihat terintimidasi oleh pendaran lampu Baccarat. Posturnya tegak lurus, bahunya rileks, dagunya sejajar dengan lantai, dan langkahnya meluncur tanpa suara seolah ia sedang berjalan di ruang tamu rumahnya sendiri.
Ia tidak terlihat seperti seseorang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di restoran seharga dua puluh juta per kepala. Ia terlihat seperti seseorang yang menguasai tempat ini.
"Selamat malam, Pak Arkan." Alena berhenti tepat di seberang meja. Suaranya datar, tenang, dan profesional, sangat kontras dengan gaun malam yang membalut tubuhnya bagai kulit kedua.
Arkan tidak langsung menjawab. Ia membiarkan keheningan menggantung di udara selama beberapa detik yang sengaja ia ciptakan untuk menekan saraf Alena. Matanya menelusuri wajah wanita itu, mencari kilatan gugup, kecemasan, atau rasa tidak aman karena ditatap sedemikian rupa.
Nihil. Dinding pertahanan wanita itu tidak memiliki celah.
"Duduk, Alena," perintah Arkan akhirnya, suaranya mengalun rendah dan berat.
Seorang pelayan berpakaian jas putih dengan sigap menarik kursi berlapis beludru untuk Alena. Wanita itu duduk dengan anggun, melipat kakinya ke satu sisi dengan kebiasaan yang terlalu luwes untuk ukuran seorang pekerja kantoran biasa. Ia meletakkan clutch kecilnya di pangkuan, lalu menatap Arkan tanpa berkedip.
"Tepat pukul tujuh," Arkan membuka percakapan, melipat kedua tangannya di atas meja marmer. "Sebagian besar orang sengaja datang terlambat lima menit untuk memberi kesan bahwa waktu mereka berharga. Atau datang lebih awal karena terlalu cemas dan ingin merapikan riasan. Kau tiba tepat pada detiknya."
"Bapak mengundang saya untuk makan malam terkait evaluasi task force," jawab Alena tanpa nada menuduh, namun kalimatnya mengiris udara dengan tajam. "Dalam bisnis, ketepatan waktu adalah indikator efisiensi. Kecuali, tentu saja, bagi mereka yang memegang kendali. Mereka berhak datang lebih awal hanya untuk mengobservasi... seperti yang Bapak lakukan."
Sudut bibir Arkan berkedut tipis. Senyum asimetris yang berbahaya. Wanita ini membaca strateginya dengan sangat transparan.
"Kau sangat berani untuk ukuran seseorang yang posisinya di perusahaan bisa kuhapus hanya dengan satu panggilan telepon ke departemen SDM," Arkan membalas, menyandarkan punggungnya perlahan.
"Jika Bapak ingin memecat saya, Bapak tidak akan repot-repot menyewa ruang VIP di La Plume," Alena membalas tatapan Arkan dengan ketenangan yang menyebalkan. "Fakta bahwa kita berada di sini malam ini membuktikan bahwa Bapak menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar kepatuhan hierarki."
Udara di antara mereka seketika terasa padat. Arkan merasakan aliran adrenalin dingin memompa di pembuluh darahnya. Bastian benar-benar bodoh jika mengira ini hanyalah taruhan biasa. Alena bukan bidak catur yang bisa dijatuhkan dengan gertakan murah. Alena adalah sesama pemain.
Sebelum Arkan sempat membalas kelancangan elegan tersebut, seorang sommelier asal Prancis mendekati meja mereka, membawa buku menu anggur yang tebal berlapis kulit buaya.
"Selamat malam, Monsieur Wijaya," sommelier itu menyapa dengan logat Prancis yang kental dan gestur hormat yang berlebihan. "Apakah Anda ingin memulai dengan Château Margaux yang biasa, atau Anda ingin melihat koleksi Bordeaux kami yang baru tiba dari cellar hari ini?"
Arkan tidak melepaskan tatapannya dari mata Alena. Ini adalah jebakan kedua. "Bagaimana menurutmu, Alena? Malam ini adalah evaluasimu. Kau yang memilihkan anggurnya."
Arkan tahu persis bahwa orang dari kelas menengah akan panik dihadapkan pada buku menu yang sepenuhnya berbahasa Prancis tanpa mencantumkan harga satu digit pun. Mereka akan memilih secara acak untuk menutupi ketidaktahuan mereka, atau dengan canggung menyerahkan kembali keputusan pada sang tuan rumah. Ia menunggu Alena menelan ludah dan menunduk.
Alena memutar kepalanya ke arah sommelier tersebut. Wajahnya tidak menunjukkan riak kepanikan sedikit pun. Ia bahkan tidak menyentuh buku menu kulit itu.
"Mengingat hujan di luar cukup lebat, udara malam ini jauh lebih dingin dan lembap. Bordeaux mungkin terlalu berat dan tannin-nya akan mematikan palet sebelum hidangan utama disajikan," ucap Alena dengan intonasi kasual yang mematikan. Matanya menatap sang sommelier dengan otoritas yang tak tertandingi. "Pinot Noir dari wilayah Burgundy. Domaine de la Romanée-Conti, jika Anda masih memiliki vintage tahun 2014. Itu akan menjadi pembuka yang jauh lebih elegan dan seimbang."
Sommelier itu terbelalak sejenak, nyaris kehilangan ketenangan profesionalnya karena terkejut mendengar pesanan dengan spesifikasi tingkat tinggi itu dari seorang tamu muda, sebelum akhirnya ia menunduk dalam-dalam. "Pilihan yang sangat luar biasa brilian, Mademoiselle. Saya akan segera menyiapkannya untuk Anda berdua."
Begitu sommelier itu pergi, Arkan memajukan tubuhnya. Matanya menggelap, menajam seolah ingin menembus tengkorak Alena. Dominasi maskulinnya menguar, mengisi setiap inci ruang di antara mereka melintasi meja marmer.
"Gaji kotor seorang analis divisi humas di Wijaya Group adalah dua belas setengah juta rupiah per bulan," suara Arkan mendesis, sedingin es yang retak di tengah malam. "Satu botol anggur yang baru saja kau pesan seharga gajimu selama dua tahun. Kau tidak mempelajari pelafalan dan pengetahuan itu dari sekadar membaca artikel di internet, Alena. Kau terbiasa meminumnya."
Alena tidak mundur, meskipun aura intimidasi Arkan cukup untuk membuat direktur perusahaannya sendiri berkeringat dingin. Ia meraih serbet kain linen putih dari atas meja, membukanya dengan gerakan yang begitu halus dan terlatih, lalu meletakkannya di atas pangkuannya.
"Saya memiliki hobi membaca literatur kuliner, Pak Arkan. Pengetahuan tidak eksklusif hanya untuk mereka yang lahir dengan sendok perak di mulutnya," jawab Alena tenang.
"Pengetahuan bisa dibaca, ya. Tapi seleramu, gestur tubuhmu, caramu melangkah masuk ke ruangan ini tanpa sedikit pun rasa gentar..." Arkan memiringkan kepalanya. "Itu adalah hasil didikan seumur hidup. Old money. Kau bukan sekadar staf biasa yang kebetulan memiliki otak cerdas dan lidah yang tajam. Siapa kau sebenarnya?"
"Saya adalah karyawan Bapak yang sedang dievaluasi untuk posisi task force," Alena mengalihkan pembicaraan dengan manuver yang sangat mulus, menolak masuk ke dalam interogasi latar belakangnya. "Atau Bapak mengundang saya ke sini hanya untuk membedah masa lalu saya?"
"Di duniaku, masa lalu menentukan kelemahan seseorang. Dan aku tidak menempatkan orang di posisi strategis jika aku tidak mengetahui titik lemahnya," Arkan bersandar kembali ke kursinya, masih menatap lekat bibir Alena. "Dan kau, Alena... kau adalah anomali yang berbahaya. Kau sengaja memancing emosiku di dalam lift tadi malam. Kenapa?"
Pelayan datang membawakan hidangan pembuka—scallop panggang dengan puree truffle hitam dan kaviar Beluga. Mereka bekerja dalam diam yang terlatih, menuangkan Pinot Noir berwarna delima ke dalam gelas kristal sebelum menghilang kembali ke balik bayangan pintu.
Alena mengambil garpu peraknya. Ia memotong scallop itu dengan gerakan yang begitu halus hingga pisaunya sama sekali tidak berdenting menyentuh dasar piring. Ia mencicipinya perlahan, lalu menyesap anggurnya dengan cara memegang tangkai gelas yang sempurna, menolak memberikan Arkan kepuasan melihatnya gugup.
"Saya tidak memancing emosi Bapak," ucap Alena setelah meletakkan gelasnya kembali. "Saya hanya menyatakan fakta yang tertulis dalam sejarah perusahaan yang saya banggakan. Tujuh tahun lalu, saat Bapak mengambil alih kursi CEO, Wijaya Group melahap delapan belas perusahaan dalam waktu kurang dari enam bulan melalui manuver pasar yang luar biasa agresif. Dan... efisien."
"Dan kau mengagumi itu?" Arkan memutar gelas anggurnya di atas meja. Matanya terus mengamati reaksi mikro di wajah Alena.
"Saya mengagumi hasil akhirnya. Meskipun, beberapa analis ekonomi pada masa itu menyebutnya sebagai pembantaian berdarah dingin." Alena menatap lurus ke dalam iris obsidian Arkan. "Bapak menghancurkan rantai pasokan mereka, memblokir akses kredit perbankan mereka, memaksa direksi mereka berlutut hingga mereka tidak punya pilihan selain menjual saham mereka dengan harga sampah. Itu bukan sekadar strategi bisnis, Pak Arkan. Itu operasi pembunuhan karakter."
Rahang Arkan mengeras. Ruangan itu tiba-tiba terasa beberapa derajat lebih dingin. Otot-otot di balik kemeja putihnya menegang siap menerkam. Tidak pernah ada seorang pun di perusahaannya—bahkan di jajaran dewan komisaris—yang berani membedah metode akuisisinya di depan wajahnya secara langsung.
"Mereka lemah," desis Arkan, suaranya kini dipenuhi oleh arogansi absolut dan ancaman laten. "Seleksi alam, Alena. Yang lemah dimakan oleh yang kuat. Jika mereka tidak ingin dihancurkan hingga rata dengan tanah, mereka seharusnya membangun fondasi yang tidak bisa kuruntuhkan. Bisnis tidak mengenal belas kasihan."
"Sebuah filosofi yang sangat kuat," Alena merespons dengan senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya. Senyum yang menyembunyikan kebencian berusia tujuh tahun. Ia meletakkan peralatan makannya. "Tetapi fondasi terkuat sekalipun bisa runtuh jika diserang tepat di titik butanya, bukan?"
"Aku tidak memiliki titik buta."
"Semua orang memilikinya," bantah Alena dengan suara yang nyaris berbisik namun menggema keras di telinga Arkan.
Makan malam berlanjut dalam ketegangan yang menyesakkan dada. Alih-alih menyantap hidangan mewah itu, keduanya terlibat dalam perang psikologis yang intens. Arkan berusaha mendominasi percakapan dengan melempar studi kasus krisis PR yang rumit dan menuntut keputusan brutal. Ia ingin melihat Alena goyah atau berbelas kasihan.
Namun, dalam setiap skenario yang dilemparkan, Alena menjawab dengan presisi logis yang sedingin mesin pemotong baja. Wanita itu membedah masalah tanpa memihak pada moralitas yang naif, mencari jalan keluar yang memanipulasi situasi agar lawan merasa menang padahal sedang digiring pelan-pelan ke tiang gantungan.
Arkan semakin terpukau. Sekaligus semakin curiga. Gairah intelektual di dalam dadanya bergolak. Pikiran untuk memenangkan taruhan mobil mewah dengan Bastian sudah menguap sejak menit pertama wanita ini membuka mulutnya. Ini bukan lagi soal membuat seorang staf memohon di bawah kakinya. Ini adalah soal menaklukkan sebuah pikiran yang sama gelap, sama rumit, dan sama bahayanya dengan pikirannya sendiri.
Pelayan membersihkan piring utama dan menyajikan hidangan penutup dalam keheningan yang mencekam.
Arkan tidak tahan lagi dengan jarak meja di antara mereka. Ia bersandar ke depan, menyilangkan lengannya di atas meja marmer, memangkas jarak secara agresif. Ia menatap wajah Alena yang kini disinari pendaran lilin keemasan.
"Kau luar biasa cerdas, Alena. Terlalu cerdas untuk sekadar menyeduh kopi di lantai lima belas," ucap Arkan, suaranya kini berubah menjadi bisikan serak yang mengintimidasi batas personal. Ia menanggalkan nada formalnya. "Tapi kau memiliki satu kelemahan fatal yang sangat mencolok malam ini."
Alena tidak memundurkan punggungnya. Ia membalas tatapan itu tanpa berkedip. "Dan apa itu, Pak Arkan?"
"Kau membangun dinding pertahananmu terlalu tinggi. Kau terlalu waspada. Kau tidak pernah lengah sedetik pun. Kau selalu memastikan kau memegang kendali atas setiap hela napas dan intonasimu," Arkan tersenyum, sebuah senyuman pemangsa yang merasa telah mengunci targetnya di sudut ruangan. "Seseorang yang menjaga dirinya seketat itu... biasanya menyembunyikan trauma masa lalu yang sangat, sangat parah. Kau sedang melindungi dirimu dari sesuatu, Alena. Atau... kau sedang merencanakan sesuatu di belakangku."
Jantung Alena berdetak satu ketukan lebih lambat, namun wajah pualamnya tetap tak bergeming. Pemain catur yang baik tidak akan menunjukkan kepanikan saat rajanya diancam. Pemain catur yang baik akan mengorbankan pion untuk melakukan skakmat.
Alena memajukan sedikit tubuhnya, menyamai jarak yang diciptakan Arkan. Kini, wajah mereka hanya terpaut jarak yang sangat dekat melintasi meja. Arkan bisa melihat pantulan nyala lilin di dalam sepasang mata legam wanita itu.
"Saya tidak memiliki masa lalu yang traumatis, Pak," bisik Alena, suaranya mendengung merdu di keheningan ruangan VIP itu. "Tapi karena Bapak sangat menyukai topik tentang masa lalu..."
Alena memberikan jeda. Ia membiarkan matanya mengunci iris hitam Arkan, mengikat perhatian pria itu sepenuhnya pada bibirnya.
"...ada satu hal yang selalu mengganggu pikiran saya dari arsip lama perusahaan yang saya baca," lanjut Alena. Nadanya sangat tenang, namun kata-kata itu perlahan ditarik keluar bagai belati yang siap menghunus.
Mata Arkan seketika menajam. Firasat gelap merayapi tengkuknya. "Hal apa?"
Alena tersenyum. Sebuah senyuman sempurna yang dingin, elegan, dan mendominasi. Senyum pertama yang terlihat sangat nyata di wajah wanita itu sejak mereka bertemu.
"Dari delapan belas perusahaan yang Bapak hancurkan dan akuisisi tujuh tahun lalu..." Alena merendahkan suaranya menjadi bisikan mematikan. "...mengapa detail merger dari perusahaan manufaktur baja milik Keluarga Pradipta dihilangkan sepenuhnya dari semua catatan publik dan internal kita? Apa yang sebenarnya terjadi di balik ruang rapat malam itu, Pak Arkan? Apakah mereka menyerah... atau mereka dipaksa diam?"
Darah di pembuluh nadi Arkan seolah membeku seketika menjadi bongkahan es.
Napas sang penguasa Wijaya Group itu tertahan di pangkal tenggorokan. Matanya membelalak mikroskopis. Jari-jarinya yang bersilang di atas meja menegang kaku.
Keluarga Pradipta.
Sebuah nama yang tidak pernah diucapkan di dalam gedung Wijaya Group selama dua ribu lima ratus hari terakhir. Sebuah operasi akuisisi paling kotor dan paling dirahasiakan yang melibatkan manipulasi tingkat tinggi dan kejatuhan yang tidak pernah tercatat di media mana pun.
Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin staf ini mengetahui nama itu?
Di saat Arkan masih membeku dalam kejutannya yang mematikan, Alena perlahan memundurkan tubuhnya, kembali bersandar di kursi beludrunya dengan gestur kemenangan yang begitu elegan, meninggalkan Arkan Wijaya menatapnya dengan rahang mengeras dan napas yang memburu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar