Tiga hari berlalu sejak Arkan Wijaya menginjakkan kakinya di lantai 15 dan nyaris membuat seluruh staf divisi Hubungan Masyarakat berhenti bernapas. Selama tujuh puluh dua jam terakhir, ketegangan tak kasat mata menggantung pekat di udara. Setiap kali telepon interkom berdering, bahu rekan-rekan kerja Alena menegang. Setiap kali pintu kaca terbuka, mata mereka melebar waspada.
Namun, tidak ada pemecatan. Tidak ada surat peringatan yang turun dari lantai direksi. Keheningan ini justru terasa jauh lebih menyiksa bagi mereka yang tidak mengerti cara kerja pikiran seorang predator.
Bagi Alena, keheningan ini adalah hitung mundur. Ia tahu Arkan tidak melupakan kejadian tempo hari. Pria itu bukan tipe jenderal yang membiarkan seorang prajurit berpangkat rendah menantang otoritasnya di depan umum tanpa konsekuensi. Arkan sedang mengamati, mengumpulkan data, dan merancang skenario yang tepat untuk memojokkannya ke dalam sudut tanpa jalan keluar.
Dan skenario itu akhirnya tiba pada Jumat sore.
Pukul lima lewat lima belas menit. Langit Jakarta mulai meredup, tertutup awan kelabu tebal yang membawa aroma hujan. Sebagian besar karyawan telah mematikan monitor mereka, bergegas melarikan diri dari kubikel menuju akhir pekan.
Telepon di meja Alena berdering. Bukan interkom internal divisi, melainkan jalur khusus yang langsung terhubung ke meja manajer.
"Alena," suara Pak Dimas terdengar parau dan terburu-buru di seberang sana. "Draf analisis sentimen kompetitor yang kau kerjakan tadi pagi. Bawa dokumen aslinya ke lantai empat puluh. Langsung ke ruangan CEO. Bu Sarah, sekretaris eksekutifnya, sudah pulang lima menit yang lalu. Pak Arkan menunggumu di dalam."
Lantai empat puluh. Puncak Olympus dari kerajaan Wijaya Group.
"Baik, Pak. Akan saya antarkan sekarang," jawab Alena dengan nada patuh yang sudah ia latih ribuan kali.
Ia meletakkan gagang telepon. Berbeda dengan rekan-rekannya yang mungkin akan mengalami serangan panik jika mendapat perintah tersebut, detak jantung Alena tetap berada pada ritme istirahatnya: enam puluh detak per menit. Tidak ada rasa gentar. Yang mengalir di nadinya saat ini murni adrenalin yang dingin—reaksi kimia dari seorang prajurit yang akhirnya dipanggil ke medan pertempuran utama.
Alena mengambil map kulit berwarna hitam dari laci bawah mejanya. Ia merapikan ujung kemeja katunnya yang terselip di dalam rok pensil, memastikan penampilannya setajam dan sekaku mungkin. Hari ini ia tidak memakai kacamata, menyisakan wajah pualamnya yang polos tanpa riasan berlebih. Ia melangkah menuju deretan lift eksekutif yang hanya bisa diakses dengan kartu identitas khusus.
Perjalanan naik ke lantai empat puluh terasa seperti simulasi isolasi sensorik. Lift baja berdinding cermin itu bergerak nyaris tanpa suara dan tanpa guncangan. Angka digital di atas pintu terus bertambah. Telinga Alena sedikit berdengung karena perubahan tekanan udara.
Ia memejamkan mata sejenak, mengatur mindset-nya.
Di lantai ini, ia bukan lagi Alena Pradipta sang pewaris yang menyimpan dendam membara. Ia adalah Alena sang analis. Mangsa. Ia harus masuk ke ruangan itu dengan membawa sedikit keraguan, sedikit kecanggungan, dan ketundukan yang terukur. Arkan memiliki ego yang sangat masif; pria itu menuntut untuk dipertontonkan ketakutan. Dan Alena akan memberikannya—dalam dosis yang telah ia takar dengan sangat presisi.
Pintu lift berdenting lembut dan terbuka lebar.
Lorong lantai empat puluh tidak memiliki kubikel. Tidak ada suara ketikan, tidak ada dering telepon. Ruang tunggu itu dilapisi karpet tebal dari wol murni yang meredam setiap langkah kaki. Dindingnya berlapis panel kayu kenari yang dipelitur gelap, memantulkan cahaya temaram dari lampu-lampu kristal di dinding. Atmosfernya pekat oleh kekuasaan yang sunyi. Sangat mengintimidasi.
Alena melangkah maju, melewati meja sekretaris eksekutif yang kosong. Di ujung lorong, menjulang sepasang pintu ganda dari kayu mahoni berukir. Pintu menuju ruang kendali Arkan Wijaya.
Ia berhenti tepat di depan pintu raksasa itu. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan udara di paru-parunya selama dua detik, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengubah postur bahunya menjadi sedikit lebih melengkung ke dalam, mengurangi aura percaya dirinya sekitar tiga puluh persen. Setelah memastikan topengnya terpasang sempurna, ia mengetuk pintu tiga kali.
"Masuk."
Suara bariton itu menembus kayu mahoni setebal sepuluh sentimeter. Berat, dalam, dan absolut.
Alena menekan gagang pintu logam yang dingin dan mendorongnya terbuka.
Ruang kerja sang CEO membentang luas layaknya lapangan tenis indoor, didominasi oleh palet warna abu-abu arang, hitam, dan kayu gelap. Dinding di seberang pintu sepenuhnya terbuat dari kaca, menampilkan panorama lanskap kota Jakarta yang mulai ditelan senja dan diguyur hujan.
Arkan tidak sedang duduk di balik meja kerja marmer hitamnya yang masif. Pria itu berdiri membelakangi pintu, menghadap ke arah dinding kaca. Jas navy-nya telah dilepas dan disampirkan di sandaran kursi. Ia hanya mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang lengannya digulung asal hingga ke bawah siku, memperlihatkan otot lengan bawahnya yang kokoh dan jam tangan Patek Philippe yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana kainnya yang dijahit sempurna. Siluet tubuhnya yang menjulang memotong cahaya keabu-abuan dari luar jendela, membuatnya tampak seperti siluet iblis yang sedang mengawasi neraka ciptaannya.
"Laporan analisis sentimen kompetitor yang Bapak minta," ucap Alena, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar cukup jernih, namun tidak terlalu lantang di ruangan yang bergaung itu.
Arkan tidak langsung berbalik. Ia membiarkan keheningan menguasai ruangan selama lima detik penuh. Ini adalah trik kekuasaan murahan yang sering digunakan pria alfa untuk membuat lawan bicaranya merasa tidak signifikan. Namun, bagi Arkan, ini bukan sekadar pamer kekuatan. Ia sedang mendengarkan pola napas Alena dari kejauhan. Ia sedang mencari celah dari wanita bermata dingin yang berani menantangnya tempo hari.
Perlahan, Arkan memutar tubuhnya.
Mata obsidian pria itu langsung mengunci sosok Alena yang berdiri di tengah ruangan. Rambut legam yang tergerai diikat setengah, kemeja yang tertutup rapat. Begitu kaku. Begitu biasa. Namun Arkan tidak bisa melupakan tatapan wanita itu tiga hari yang lalu. Tatapan yang sama sekali tidak menunduk pada kekuasaannya.
"Bawa ke meja," perintah Arkan pelan. Nada suaranya tidak tinggi, namun bergema di setiap sudut ruangan, menuntut kepatuhan tanpa syarat.
Alena mengangguk kecil. Ia melangkah maju mendekati meja marmer hitam yang membentang di antara mereka. Arkan ikut melangkah dari pinggir jendela, bergerak dengan keanggunan seorang predator mematikan yang tidak terburu-buru mengejar mangsanya.
Mereka bertemu di sudut meja. Jarak di antara mereka hanya tersisa kurang dari satu meter.
Alena tidak berani menatap langsung ke dalam mata Arkan. Ia menundukkan pandangannya, memfokuskan matanya pada tumpukan dokumen kosong di atas meja. Ia menyodorkan map kulit hitam itu ke arah Arkan menggunakan kedua tangannya, persis seperti yang ia lakukan tiga hari lalu.
Namun kali ini, Arkan memiliki rencana yang berbeda. Permainan verbal tidak cukup untuk meruntuhkan dinding pualam wanita ini. Arkan membutuhkan invasi fisik. Ia harus merusak ruang personal Alena untuk melihat reaksi paling jujurnya.
Arkan mengulurkan tangan kanannya untuk menerima dokumen tersebut. Namun, alih-alih meraih ujung map kulit yang kosong, jemari panjang Arkan dengan sengaja bergerak melewatinya.
Kulit tangan Arkan menyentuh punggung tangan Alena.
Dunia seakan berhenti berputar selama satu detik. Waktu melambat hingga terasa menyakitkan.
Itu bukan sentuhan sekilas atau ketidaksengajaan yang canggung. Itu adalah sentuhan yang penuh kesadaran dan sarat akan niat. Ibu jari Arkan menekan punggung tangan Alena, sementara jari telunjuk dan tengahnya menggesek lembut bagian bawah telapak tangan wanita itu. Kulit Arkan terasa hangat, nyaris panas, dengan tekstur kapalan tipis di ruas jari telunjuknya—bukti bahwa pria ini menghabiskan waktu di sasana tinju atau lapangan golf, bukan sekadar duduk di balik meja.
Sentuhan itu adalah sebuah pernyataan. Arkan sedang berkata tanpa suara: Kau berada di wilayahku. Aku bisa menyentuhmu, dan kau tidak bisa melakukan apa-apa.
Tubuh Alena merespons seketika. Sesuai dengan skrip yang telah ia tulis di kepalanya, ia membiarkan tubuhnya menegang kaku. Otot bahunya tersentak naik dalam gerakan mikro. Ia menghentikan napasnya secara tiba-tiba, menciptakan ilusi kepanikan fisik yang sempurna.
Di dalam kepalanya, rasa jijik merayap naik seperti racun yang menyengat sarafnya. Disentuh oleh pria yang menjadi alasan ibunya menangis setiap malam tujuh tahun lalu membuat perutnya bergejolak. Namun, wajah pualamnya hanya menampilkan keterkejutan yang tertahan. Ia harus terlihat seperti rusa yang baru saja menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam radius lompatan seekor singa.
"Tanganmu dingin, Alena," suara Arkan mengalun sangat rendah. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak udara di antara mereka hingga Alena bisa mencium pekatnya aroma vetiver dan musk dari tubuh Arkan.
Arkan tidak segera melepaskan tangannya. Cengkeramannya pada map—dan pada tangan Alena—justru semakin erat. Ia memaku posisi wanita itu. Matanya yang segelap malam menatap lurus, menguliti lapisan demi lapisan pertahanan Alena, mencari retakan terkecil.
"Apakah AC di luar terlalu dingin?" bisik Arkan lagi, nada suaranya berubah menjadi lebih serak, menggoda batas antara profesionalisme dan pelecehan psikologis. "Atau... kau gemetar karena kau akhirnya menyadari betapa sepinya lantai ini, dan kita hanya berdua di sini?"
Itu adalah ancaman yang dibungkus dalam selimut sutra. Arkan sengaja menggunakan kata-kata ambigu untuk memancing reaksi fight-or-flight dari Alena. Ia ingin melihat wanita ini marah, atau menangis, atau memohon agar dilepaskan. Ia ingin membuktikan bahwa ketenangan tempo hari hanyalah kebetulan semata.
Alena memberikan reaksi yang diinginkan pria itu.
Ia langsung menundukkan wajahnya lebih dalam. Ia menarik napas dengan sedikit gemetar, lalu menarik tangannya dari bawah cengkeraman Arkan dengan gerakan setengah tersentak. Sebuah tarikan yang terlihat seperti kepanikan, membiarkan Arkan mengambil alih map kulit tersebut sepenuhnya.
Alena mundur satu langkah ke belakang, membentur kursi tamu di belakangnya dengan canggung. Gestur itu sukses besar.
"Maaf, Pak Arkan. AC di departemen kami siang ini memang sedang bermasalah dan suhunya terlalu rendah," jawab Alena. Ia sengaja membuat suaranya sedikit bergetar, memecah ketenangan datarnya menjadi sesuatu yang lebih rapuh. Ia menghindari kontak mata, menatap kerah kemeja putih Arkan dengan gelisah. "Apakah... apakah ada hal lain yang Bapak perlukan dari draf tersebut? Jika tidak, saya harus segera mengemasi barang saya untuk pulang."
Arkan berdiri tegak. Sebuah senyum asimetris perlahan merekah di bibir tampannya.
Ada kepuasan gelap yang mengaliri dadanya. Arkan merasa ia baru saja menemukan tombol kendali wanita ini. Invasi fisik dan isolasi spasial. Saat dihadapkan pada kekuasaan absolut dan ancaman tanpa saksi, tembok beton di mata Alena akhirnya menunjukkan retakan. Wanita ini merespons dominasinya dengan ketakutan yang berusaha disembunyikan.
Bastian benar-benar idiot jika berpikir taruhan ini akan memakan waktu tiga bulan. Arkan merasa ia bisa menghancurkan sisa-sisa arogansi wanita ini dalam dua minggu ke depan.
"Tidak ada, Alena. Kau boleh pergi," titah Arkan, nadanya kembali menjadi dingin dan berkuasa, seolah interaksi intens barusan tidak pernah terjadi. Ia melemparkan map kulit itu ke atas mejanya tanpa membukanya sama sekali. "Nikmati akhir pekanmu. Bersiaplah untuk hari Senin."
Kalimat terakhir itu bukanlah ucapan selamat perpisahan. Itu adalah janji bahwa mimpi buruknya baru saja dimulai.
"Terima kasih, Pak Arkan. Selamat sore."
Alena menunduk cepat, memutar tubuhnya dengan gerakan yang agak kaku, seolah ia ingin segera melarikan diri dari medan gravitasi yang mencekiknya. Ia berjalan keluar dari ruangan raksasa itu dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menoleh ke belakang, membiarkan Arkan menikmati ilusi bahwa sang CEO telah menang telak dalam babak ini.
Begitu ia melangkah keluar, pintu mahoni ganda itu menutup otomatis di belakang punggungnya dengan bunyi klik yang berat dan solid. Mengunci Arkan di dalam, dan melepaskan Alena di luar.
Lorong lantai empat puluh sepi total. Tidak ada siapa-siapa. Cahaya lampu temaram menyorot karpet tebal di bawah sepatunya.
Seketika itu juga, langkah kaki Alena yang terburu-buru berhenti.
Tubuhnya yang tadi melengkung ketakutan kembali tegak sempurna, lurus seperti baja yang baru saja ditempa. Nafasnya yang tadi pendek dan bergetar, kini ditarik dalam satu tarikan panjang dan dihembuskan dengan ritme yang mematikan. Detak jantungnya kembali normal.
Kepanikan, kecanggungan, dan rasa takut di wajahnya lenyap, menguap ke udara dingin lorong seperti asap rokok. Sebagai gantinya, mata legamnya yang tadi berpura-pura sayu, kini menyipit dengan ketajaman pisau bedah. Sorot matanya sangat dingin, memancarkan rasa jijik yang luar biasa mendalam.
Alena mengangkat tangan kanannya perlahan. Ia menatap titik di punggung tangannya yang baru saja disentuh dan ditekan oleh Arkan. Titik di mana kulit pria itu bersentuhan dengan kulitnya.
Bibirnya terkatup rapat, rahangnya mengeras. Ia merogoh saku rok pensilnya, mengeluarkan selembar tisu basah antibakteri yang sengaja ia siapkan. Tanpa ampun, ia mengusap punggung tangannya dengan kasar, berulang-ulang, seolah ia baru saja disentuh oleh sesuatu yang sangat berbisa dan kotor. Ia menggosoknya hingga kulitnya sedikit memerah.
Setelah merasa cukup, ia meremas tisu basah itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah kecil di dekat meja sekretaris.
Alena berdiri di depan cermin besar yang terpasang di dinding lorong. Ia menatap refleksinya sendiri. Memastikan tidak ada lagi sisa-sisa staf yang ketakutan di sana. Ia telah memberikan apa yang Arkan inginkan: sebuah ilusi kelemahan. Arkan mengira pria itu sedang membaca bukunya dari halaman pertama, tanpa menyadari bahwa Alena-lah yang menulis buku tersebut.
Sebuah senyum miring yang nyaris serupa dengan milik Arkan, namun seratus kali lebih dingin, terbit di bibir merah mudanya.
"Kau terlalu mudah ditebak, Tuan Arkan," bisik Alena pada keheningan lorong, suaranya sedingin es. "Satu sentuhan murahan, dan kau pikir kau baru saja menundukkan ku? Teruslah bermain dengan arogan. Karena saat kau sadar lantai tempatmu berpijak sudah hancur, kau bahkan tidak akan punya waktu untuk berteriak."
Alena memutar tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam lift, membiarkan kegelapan malam Jakarta menyembunyikan langkah bidaknya yang sempurna.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar