Senin pagi di Menara Wijaya selalu terasa seperti melangkah masuk ke dalam perut monster berlapis baja dan kaca antipeluru. Bangunan setinggi enam puluh lantai yang membelah langit Jakarta itu dirancang bukan sekadar untuk efisiensi, melainkan untuk mengintimidasi siapa pun yang menginjakkan kaki di lobi utamanya. Arsitekturnya yang dingin dan geometris adalah cerminan langsung dari pria yang duduk di singgasana lantai puncaknya.
Di lantai 15, divisi Hubungan Masyarakat sedang berada dalam kondisi siaga satu. Udara dipenuhi oleh dengung kecemasan korporat, dering telepon interkom yang bersahutan, dan aroma tajam kopi hitam yang diseduh terburu-buru. Sisa-sisa euforia perayaan ulang tahun emas Wijaya Group semalam telah menguap, digantikan oleh tumpukan draf siaran pers, analisis sentimen media, dan kliping berita yang harus diserahkan sebelum pukul sepuluh pagi.
Di sudut ruangan, tersembunyi di balik kubikel abu-abu yang membosankan, Alena Pradipta duduk menatap layar monitor.
Jari-jarinya menari di atas keyboard dengan ritme yang teratur. Hari ini, ia kembali mengenakan 'zirah' penyamarannya: kemeja katun biru pucat bersahaja yang dikancingkan hingga menutupi tulang selangkanya, rok pensil hitam polos, dan kacamata berbingkai tipis yang sengaja ia pakai untuk melembutkan sorot matanya yang terlalu tajam. Ia mengikat rambut hitam legamnya menjadi kuncir kuda yang kaku.
Tidak ada jejak kemewahan, tidak ada sisa-sisa keanggunan old money yang ia pancarkan dalam diam semalam. Di sini, di bawah pendar lampu neon lantai 15, Alena adalah pion. Staf analis media level bawah yang hidup dari gaji bulanan dan takut pada tenggat waktu.
Namun, di balik layar komputernya yang menampilkan deretan angka interaksi media sosial, pikiran Alena sedang menyusun papan catur. Ia tahu, setelah insiden kecil di ballroom semalam, Arkan Wijaya tidak akan tinggal diam. Pria itu adalah pemangsa yang digerakkan oleh ego dan kontrol absolut. Fakta bahwa Arkan telah memilihnya sebagai subjek taruhan berarti hari ini, atau paling lambat besok, pria itu akan mulai menjatuhkan dadunya.
Tiba-tiba, dengung percakapan di lantai 15 mati seketika.
Suara ketikan keyboard dari empat puluh staf berhenti serempak, digantikan oleh keheningan yang mencekam. Udara di dalam ruangan seolah tersedot keluar, menyisakan ruang hampa yang membuat bulu kuduk berdiri.
Alena tidak perlu menoleh untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Perubahan tekanan udara ini, aura dominasi yang begitu pekat hingga terasa mencekik leher, hanya bisa dihasilkan oleh satu orang.
Langkah sepatu pantofel kulit buatan Italia beradu dengan lantai marmer. Pelan, berirama, dan penuh otoritas.
Arkan Wijaya melangkah masuk ke wilayah divisi humas. Pria itu mengenakan setelan jas navy gelap berlapis tiga yang memeluk bahu lebarnya dengan sempurna, memancarkan kuasa dan kekayaan yang tak tersentuh. Wajah tampannya sedingin ukiran es, rahangnya mengeras, dan mata obsidiannya menyapu seluruh ruangan bagai radar yang mencari anomali.
Dimas, manajer divisi humas yang tengah berada di depan mesin fotokopi, memucat pasi. Kertas-kertas di tangannya nyaris berjatuhan. Dalam sejarah tujuh tahun kepemimpinan Arkan, tidak pernah satu kali pun sang CEO turun langsung ke lantai operasional bawah tanpa alasan yang melibatkan pemecatan massal atau krisis fatal.
"Se... Selamat pagi, Pak Arkan," sapa Dimas dengan suara yang bergetar hebat. Ia tergopoh-gopoh menghampiri, menunduk nyaris sembilan puluh derajat. "Sebuah kehormatan Bapak turun ke lantai ini. Apakah ada yang salah dengan rilis pers ulang tahun perusahaan? Saya sedang memfinalisasinya dan—"
Arkan mengangkat satu tangannya. Hanya beberapa sentimeter. Namun gestur kecil itu memiliki kekuatan setara dengan todongan pistol di dahi Dimas. Pria paruh baya itu bungkam seketika, menelan ludahnya dengan susah payah.
"Saya tidak datang ke sini untuk mendengarkan alasan keterlambatan Anda, Dimas," suara Arkan membelah keheningan. Nadanya tidak tinggi, bahkan cenderung rendah dan halus, namun mengiris udara dengan ketajaman silet. "Saya menginginkan draf fisik dari siaran pers analisis saham pagi ini. Sekarang."
"Ba... baik, Pak. Tentu. Saya akan segera mencetaknya di ruangan saya—"
"Bukan dari Anda."
Arkan memotong kalimat itu tanpa belas kasihan. Pandangannya yang gelap melewati bahu Dimas yang gemetar, mengunci satu titik di deretan kubikel paling belakang. Matanya menembus sekat abu-abu, langsung menemukan mangsanya.
"Staf yang duduk di sudut sana," perintah Arkan, telunjuknya mengarah lurus ke kubikel Alena. "Bawa drafnya ke hadapan saya. Sekarang."
Seluruh kepala di ruangan itu berputar serempak ke arah meja Alena. Empat puluh pasang mata menatapnya dengan campuran antara rasa kasihan dan kengerian. Diusir dari surga tidak ada apa-apanya dibandingkan dipanggil langsung oleh Arkan Wijaya di tengah ruangan yang sunyi.
Di kursinya, Alena menghentikan napasnya selama satu setengah detik. Ia sedang mengatur ulang sistem saraf pusatnya. Ia membiarkan bahunya sedikit menurun, mengendurkan rahangnya agar terlihat sedikit terkejut dan gugup. Ini adalah pertunjukan pertamanya, dan panggung telah disiapkan oleh sang tuan rumah sendiri.
Alena berdiri dengan gerakan yang sengaja dibuat sedikit kaku. Ia meraih map biru dari atas mejanya, menunduk kecil ke arah manajernya yang masih mematung, lalu melangkah perlahan menghampiri pria yang telah meruntuhkan pilar-pilar keluarganya itu.
Jarak lima belas langkah itu terasa seperti berjalan di atas tali tipis yang direntangkan di atas kawah gunung berapi.
Alena berhenti tepat satu setengah meter di depan Arkan—jarak aman profesional yang diatur dalam buku panduan etiket perusahaan. Ia menundukkan pandangannya, menatap ujung sepatu Arkan yang mengkilap, memainkan peran sebagai staf level bawah yang terintimidasi oleh kehadiran dewa Olympus-nya.
"Ini draf siaran persnya, Pak Arkan," ucap Alena. Ia mengatur pita suaranya agar terdengar sopan dan sedikit serak, seolah tenggorokannya mengering karena gugup. Ia menyodorkan map tersebut dengan kedua tangannya yang terjaga lurus.
Arkan tidak langsung mengambil map itu.
Ia membiarkan Alena berdiri dengan tangan terulur selama detik-detik yang terasa menyiksa bagi seluruh staf yang menahan napas di sekeliling mereka. Arkan sedang menggunakan keheningan sebagai senjata psikologis. Ia ingin melihat tangan wanita ini gemetar menahan pegal. Ia ingin melihat keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia ingin mendengar napas yang memburu karena panik.
Arkan menatap puncak kepala Alena, menganalisis penampilannya hari ini. Kemeja murah. Kacamata kuno. Sikap menunduk yang terlihat patuh. Sangat berbeda dengan wanita bermata dingin di ballroom semalam.
Apakah ini wanita yang sama? pikir Arkan. Atau keberaniannya semalam hanyalah kebetulan karena ia berada di zona anonim?
Namun, matanya yang sangat terlatih menangkap sebuah kejanggalan kecil. Tangan Alena yang menyodorkan map itu diam. Sepenuhnya diam. Tidak ada getaran mikroskopis di ujung jari-jarinya. Dan meski dada wanita itu naik-turun seolah bernapas berat, Arkan menyadari bahwa ritmenya terlalu konstan. Terlalu teratur untuk seseorang yang sedang dilanda kepanikan fight-or-flight.
Wanita ini sedang berakting.
"Siapa namamu?" tanya Arkan pelan. Suaranya diatur pada frekuensi rendah yang hanya bisa ditangkap dengan jelas oleh telinga Alena, memblokir puluhan pasang telinga lain yang sedang menguping.
"Alena, Pak. Staf analis media."
Arkan melangkah maju. Satu langkah penuh yang menghancurkan batas privasi profesional. Ia memangkas jarak di antara mereka hingga hanya tersisa setengah meter. Bau maskulin dari parfum Arkan—campuran pekat antara cedarwood, vetiver, dan sesuatu yang mendominasi—menyerbu indra penciuman Alena secara agresif. Pria itu menggunakan ukuran tubuhnya yang menjulang untuk mengerdilkan eksistensi Alena.
"Kau tahu, Alena," Arkan berbisik tajam, mencondongkan tubuhnya sedikit. "Rilis media ini adalah wajah perusahaan di mata para investor. Setiap koma yang salah tempat bernilai miliaran rupiah."
Arkan menatap leher Alena, mencari denyut nadi yang berdebar kencang.
"Jika aku menemukan satu saja kesalahan struktur kalimat di dalam kertas ini..." ancam Arkan, suaranya selembut beludru namun setajam belati, "aku tidak akan memanggil manajermu ke ruanganku. Aku akan mencarimu. Dan aku akan memastikan kariermu di industri ini berakhir sebelum hari berganti malam."
Itu adalah taktik teror klasik. Ancaman pemusnahan karier. Bagi staf biasa yang bergantung pada asuransi kesehatan perusahaan dan cicilan apartemen, kalimat itu akan membuat mereka menangis dan memohon maaf sebelum kesalahan itu bahkan ditemukan.
Perlahan, sangat perlahan, Alena mengangkat wajahnya.
Ia menaikkan dagunya, melawan gravitasi intimidasi yang dipancarkan tubuh besar di hadapannya. Di balik lensa kacamatanya, mata hitam pekat Alena akhirnya bertubrukan langsung dengan mata obsidian Arkan.
Arkan bersiap melihat kilatan ketakutan. Ia bersiap menikmati air mata pertama dari permainannya.
Namun, yang ia temukan di dalam mata wanita itu adalah kekosongan yang membekukan. Tidak ada riak kepanikan. Tidak ada permohonan. Mata itu menatapnya dengan ketenangan yang nyaris tidak manusiawi. Canggung di tubuhnya hanyalah sebuah ilusi murahan.
"Draf tersebut sudah melalui tiga lapis penyuntingan silang antara data finansial dan narasi korporat, Pak Arkan," jawab Alena. Nadanya tetap datar, sopan, namun memiliki ketegasan yang tidak bisa dibantah. Suaranya tidak bergetar seujung kuku pun. "Namun, manusia tidak luput dari kesalahan."
Alena menjeda kalimatnya selama satu detik yang mematikan. Ia menahan tatapan Arkan tanpa berkedip.
"Jika Bapak menemukan kesalahan titik koma di dalam draf tersebut, Bapak tidak perlu menghancurkan karier saya secara manual. Saya akan meletakkan surat pengunduran diri saya di atas meja Bapak dalam waktu kurang dari satu jam."
Waktu terasa berhenti berdetak di sekitar mereka.
Mata Arkan melebar sepersekian milimeter. Reaksi mikro itu adalah sebuah pengakuan kekalahan kecil. Ia sama sekali tidak memprediksi jawaban itu. Wanita ini tidak memelas, ia tidak mencari pembenaran, ia bahkan tidak berusaha menyelamatkan posisinya. Alena memberikan lehernya sendiri di atas talenan eksekusi tanpa sedikit pun rasa gentar. Keberanian yang kelewat batas. Kurang ajar yang dibungkus dalam profesionalitas absolut.
Di dalam pikiran Arkan, rasa frustrasi bercampur dengan gairah intelektual yang meledak-ledak. Bidak catur yang ia pikir bisa ditendangnya keluar dari papan, ternyata bergerak ke arah rajanya dan menawarkan matinya sendiri.
Sebuah senyum miring—sangat tipis, berbahaya, dan dipenuhi oleh ketertarikan yang gelap—perlahan terbentuk di sudut bibir Arkan. Ia mengambil map biru itu dari tangan Alena dengan gerakan lambat, sengaja membiarkan ujung jarinya menggesek punggung tangan Alena selama satu detik ekstra. Sentuhan yang terlalu disengaja.
"Kita lihat seberapa mahal harga dari kepercayaan dirimu yang konyol itu, Alena," bisik Arkan tepat di depan wajah wanita itu.
Arkan menegakkan tubuhnya kembali, mengembalikan jarak yang mencekik di antara mereka. Ia berbalik dengan gerakan elegan, tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Dimas atau staf lain yang masih mematung. Dengan langkah berirama yang sama, ia berjalan keluar dari ruangan divisi humas, membawa serta aura gelapnya dan meninggalkan ketegangan yang membuat kepala pusing.
Begitu pintu kaca tertutup rapat di belakang punggung Arkan, suara hembusan napas lega terdengar serempak dari empat puluh tenggorokan.
"Astaga, Alena!" Dua rekan kerja dari meja sebelah langsung berlari menghampirinya, wajah mereka pucat. "Kau masih hidup?! Ya Tuhan, aku pikir kau akan dipecat di tempat!"
"Kau berani sekali menjawabnya seperti itu. Lututku sudah gemetar hanya dengan melihat matanya," timpal yang lain sambil memegangi dadanya.
Alena menunduk seketika. Ia membiarkan napasnya keluar dengan kasar, bahunya merosot turun. Tangannya memegang pinggiran kubikel seolah ia baru saja kehilangan keseimbangan. Ia memainkan perannya sebagai korban yang lolos dari lubang jarum dengan sempurna.
"A-aku tidak tahu dari mana aku mendapat keberanian itu," gumam Alena dengan suara yang sengaja dibuat sedikit bergetar, memalsukan tawa yang rapuh. "Kurasa aku hanya terlalu panik sampai tidak bisa berpikir jernih. Tolong, aku butuh air putih."
Rekan-rekannya dengan cepat mengambilkan segelas air dari pantri, menepuk-nepuk punggungnya, dan membiarkan Alena duduk kembali di kursinya dengan tatapan simpati yang mendalam. Mereka mengira ia adalah gadis malang yang baru saja dihancurkan secara mental oleh sang tiran perusahaan.
Setelah memastikan tidak ada lagi yang memperhatikannya secara langsung, Alena menggeser kursinya sedikit ke dalam bayangan pembatas kubikel. Ia berpura-pura menunduk untuk memijat pelipisnya yang pusing.
Di balik tangan yang menutupi separuh wajahnya, kepanikan palsu itu lenyap tanpa sisa, menguap bagai kabut di bawah terik matahari.
Otot-otot wajahnya kembali rileks. Napasnya stabil. Mata legamnya yang tadi berpura-pura sayu kini menyipit tajam, menatap lurus ke arah pintu kaca di mana Arkan Wijaya baru saja menghilang.
Secara perlahan, dari sudut kegelapan kubikelnya, sebuah senyum terbit di bibir Alena. Bukan senyum lega, bukan senyum canggung. Melainkan seringai mematikan yang dipenuhi oleh antisipasi sedingin es.
Arkan mengira pria itu sedang melempar umpan ke dalam kolamnya. Arkan tidak sadar, bahwa pria itu sendirilah yang baru saja memakan kail yang telah Alena siapkan selama dua tahun lamanya.
Pendekatan yang sangat kasar dan terburu-buru, Arkan, batin Alena, mengusap punggung tangannya yang tadi disentuh sekilas oleh CEO arogan tersebut.
Permainan baru saja memasuki babak yang sesungguhnya, dan Alena sama sekali tidak berniat untuk panik.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar