Pukul 05.00, alarm berbunyi.


Bukan alarm biasa — melainkan suara lembut seperti gamelan miniatur yang diprogram untuk membangunkan tanpa menyebabkan lonjakan kortisol. Dara Kinasih membuka matanya di detik pertama bunyi itu, langsung dan sepenuhnya terjaga, seperti seorang komputer yang baru dinyalakan.


Itu bukan kebetulan. Itu hasil kalibrasi.


Di pergelangan tangan kirinya, gelang tipis berbahan komposit titanium berpendar pelan — biru muda, seperti cahaya subuh yang dipadatkan. Sebuah ikon kecil berbentuk wayang kulit muncul di layar hologram setipis udara.


**SINTA** *(Sistem Intelegensi Nusantara untuk Teknisi dan Asisten)* versi 7.2.


*"Selamat pagi, Dara. Hari ini Rabu, 14 Maret 2147. Suhu Jakarta Raya Baru: 31 derajat Celsius. Kualitas udara: Bersih Level 4. EmoSync kamu sudah aktif otomatis sejak 04.58. Detak jantung: normal. Tekanan darah: normal. Kadar hormon stres: sangat rendah. Semua sistem berjalan optimal."*


"Terima kasih, Sinta," kata Dara, sambil duduk dari kasur dan meregangkan punggung.


*"Kamu belum makan malam kemarin. Dispenser kalori telah menyiapkan menu sarapan Nutriset-A dengan tambahan vitamin B12 dan magnesium untuk kompensasi."*


"Aku tahu."


*"Kamu juga tidur hanya empat jam dua puluh menit. Ini hari ketiga berturut-turut kamu melanggar protokol tidur minimum."*


"Aku tahu."


*"Apakah kamu ingin aku menjadwalkan konsultasi dengan dokter kesehatan kerja?"*


"Tidak."


*"Apakah kamu ingin aku berhenti mengingatkan tentang hal-hal yang kamu sudah tahu tapi tidak kamu pedulikan?"*


Dara berhenti sejenak. "...Mungkin."


SINTA diam sebentar dengan cara yang kalau dilakukan manusia akan terlihat seperti menghela napas. Kemudian: *"Baik. Saya akan catat itu sebagai preferensi baru."*


---


Begitulah pagi-pagi Dara Kinasih di Jakarta Raya Baru.


Ia tinggal di Menara Riset Selatan, lantai 47, unit 47-C — ruangan seluas 28 meter persegi yang bersih dengan presisi yang hampir menyakitkan. Tidak ada tanaman. Tidak ada foto. Tidak ada benda dekoratif kecuali satu lembar batik kecil dari pameran warisan budaya digital yang ia beli dua tahun lalu dan langsung disimpan di laci tanpa pernah dipasang di dinding.


Di kota ini, kebersihan dan keteraturan bukan pilihan gaya hidup — melainkan standar dasar. Jakarta Raya Baru adalah megacity yang lahir dari reruntuhan banjir besar tahun 2089, dibangun ulang dengan filosofi yang berbeda: efisiensi dulu, estetika menyusul, emosi dikelola.


EmoSync — teknologi implan nano yang menjadi wajib bagi semua warga Jakarta Raya Baru sejak 2120 — melakukan pekerjaan terakhir itu. Bukan dengan mematikan emosi. Bukan. Pemerintah sangat ketat soal narasi ini. EmoSync hanya "menstabilkan respons emosional agar tidak melebihi ambang batas yang kontraproduktif." Artinya: kamu tetap bisa bahagia, hanya tidak sampai euforia tidak terkendali. Kamu tetap bisa sedih, hanya tidak sampai krisis. Kamu tetap bisa jatuh cinta, hanya tidak sampai melakukan hal-hal bodoh karenanya.


Dara tidak pernah protes terhadap ini. Ia merasa EmoSync adalah salah satu teknologi paling masuk akal yang pernah ada.


Setelah sarapan dari dispenser — sebuah kotak persegi putih yang menyerahkan makanan dengan komposisi nutrisi tepat setiap pagi — Dara memakai jas laboratorium putihnya, memasang kacamata augmented reality tipis di jembatan hidungnya, dan menyambar tas kerjanya.


Pukul 06.12, ia sudah di dalam kereta hipersonik yang membawanya ke Kompleks Riset Nusantara di kawasan yang dulu disebut Kemayoran.


---


Laboratoriumnya adalah tempat terbaik di dunia.


Ini bukan sekadar perasaan subjektif — ini adalah kesimpulan yang Dara capai setelah mempertimbangkan semua variabel secara objektif. Laboratorium Waktu dan Ruang di KRN adalah satu dari tiga laboratorium di dunia yang memiliki lisensi untuk penelitian pelipatan ruang-waktu tingkat eksperimental. Dua yang lain ada di Beijing dan di fasilitas bawah tanah di Swiss. Yang di Swiss, menurut Dara, terlalu banyak meja kerja tanpa penanda nama dan terlalu sedikit jendela.


Di sinilah ia menghabiskan sebelas dari dua belas jam hariannya.


Di sinilah Mesin Pelipat Gamma-7 berada.


Mesin yang sudah tiga tahun ia kerjakan bersama tim — sebuah instalasi sebesar ruangan tamu yang penuh dengan kabel kuantum, tabung plasma bertekanan, dan panel kontrol yang tampilannya mirip konsol pesawat ulang-alik yang dirancang oleh seseorang yang suka teka-teki silang. Tujuannya: melipat koordinat ruang-waktu untuk memungkinkan perpindahan lintas dimensi temporal dalam jangka pendek dan terkendali.


Sampai malam itu.


---


Malam itu — Dara selalu akan menandai hari itu sebagai sebelum dan sesudah dalam hidupnya, meski pada saat itu ia belum mengetahui mengapa — ia tinggal sendirian di laboratorium sampai pukul 23.45.


Tim sudah pulang. Protokol keamanan gedung sudah aktif. Yang tersisa hanya Dara, SINTA, dan desis halus mesin-mesin yang sedang dalam mode standby.


Tes malam itu sederhana, seharusnya: uji coba kalkulasi koordinat tanpa mesin yang benar-benar dinyalakan. Simulasi penuh dengan input data nyata untuk memeriksa apakah algoritma baru yang Dara tulis selama seminggu terakhir dapat menghasilkan perhitungan yang akurat.


"Sinta, buka panel koordinat dimensi-tiga."


*"Sudah terbuka. Dara, ada catatan — kolom G-7 dalam formulir input koordinat masih kosong. Ini adalah kolom untuk data lokasi referensi temporal primer. Tanpa data ini, simulasi tidak dapat berjalan dengan akurat."*


"Aku tahu. Isi sementara dengan data dummy."


*"Data dummy apa yang ingin kamu gunakan? Aku bisa menggunakan koordinat laboratorium saat ini sebagai referensi default."*


"Tidak usah, pakai saja dari arsip yang ada." Dara sedang memeriksa algoritma di layar satunya. "Ada file aksara Jawa di folder Warisan Budaya Digital yang aku unduh minggu lalu untuk referensi. Pakai salah satu dari situ. Sistem koordinat kuno itu tidak akan cocok dengan format modern, jadi otomatis akan ditolak dan dianggap kosong."


*"Dipahami. Menggunakan file... HCK-1677-MatW-Grid.arc sebagai input sementara kolom G-7."*


"Bagus."


Dara kembali ke layar algoritmanya. Ia mengetik tiga baris kode yang sudah menggelitik pikirannya sejak sore — penyesuaian kecil pada fungsi delta-temporal yang menurutnya bisa meningkatkan presisi sebesar 0,003 persen. Kecil sekali. Tapi dalam skala penelitian seperti ini, 0,003 persen adalah perbedaan antara sampai di tempat yang dituju dan sampai di tempat yang berjarak empat kilometer dari tujuan.


"Sinta, mulai simulasi."


*"Dara, satu hal lagi — bateriku hampir habis. Tingkat daya saat ini—"*


"Iya, aku dengar. Mulai simulasi dulu."


Hening sejenak. Kemudian SINTA berkata dengan suara yang sedikit lebih pelan dari biasanya: *"Dimulai. Tapi, Dara, aku perlu memberitahu bahwa file HCK-1677-MatW-Grid.arc ternyata bukan file kosong. Ini adalah file koordinat aktif dari sistem—"*


"Sinta, simulasi."


*"Baik. Memulai. Oh — juga, Dara, tingkat daya saya—"*


"SINTA."


*"...memulai simulasi. Tingkat daya 3%. Mode hemat daya diakti—"*


Dan SINTA mati.


Pada saat yang sama, panel Gamma-7 yang seharusnya hanya menampilkan simulasi di layar justru menyala penuh. Semua indikator berwarna hijau, lalu kuning, lalu merah dalam urutan yang sangat cepat — jauh lebih cepat dari yang pernah Dara lihat dalam tiga tahun terakhir.


"Tunggu—" Dara berdiri dari kursinya. "Ini bukan simulasi."


Alarm berbunyi.


Mesin meraung.


Dan satu-satunya hal yang sempat Dara pikirkan sebelum cahaya putih menelan seluruh ruangan adalah: *aku harusnya makan malam tadi.*


---


Dara membuka matanya.


Langit terlalu biru.


Bukan biru layar — bukan biru hologram atau biru yang sudah melalui filter udara sintetis. Ini biru yang hampir menyakitkan, biru yang terasa seperti warna aslinya sebelum manusia belajar mereproduksinya, biru yang membuat mata Dara berkedip-kedip karena tidak terbiasa.


Ia berbaring di atas sesuatu yang lembab dan berbau tanah. Tubuhnya terasa seperti baru dijatuhkan dari lantai tiga — pegal di setiap sendi, ada daun kering di rambutnya, dan punggungnya basah karena embun pagi.


Embun pagi.


*Kapan terakhir kali aku bersentuhan dengan embun pagi?*


Dara duduk perlahan. Kepalanya berputar sebentar. Ia melihat ke sekeliling.


Pohon. Banyak sekali pohon. Pohon jati dengan batang tebal dan daun lebar yang bertebaran di tanah merah, sejauh mata memandang ke segala arah. Tidak ada gedung. Tidak ada jalan aspal. Tidak ada desis kereta hipersonik di kejauhan. Tidak ada papan reklame holografis.


Tidak ada apapun dari dunia yang ia kenal.


Kecuali satu hal.


Seekor kerbau besar berwarna abu-abu kecokelatan berdiri tepat di hadapannya, berjarak kurang dari satu meter, menatapnya dengan dua mata cokelat yang bundar dan kosong.


Kerbau itu tidak bergerak.


Dara juga tidak bergerak.


Selama sekitar sepuluh detik yang terasa seperti satu tahun, keduanya hanya saling menatap.


Kemudian Dara melakukan hal yang paling wajar yang bisa ia lakukan dalam situasi ini.


"Sinta," bisiknya, "tolong analisis situasi ini."


Gelangnya diam saja. Layar tidak muncul. Hologram wayang kecil tidak muncul.


Dara mengetuk gelangnya tiga kali. Tidak ada respons.


"Sinta. SINTA." Ia mengetuknya lebih keras. "Bangun. Ini darurat."


Kerbau itu mendengus. Satu kali. Seolah berkomentar.


"Bukan untuk kamu," kata Dara kepada kerbau itu, dan langsung merasa sedikit aneh sudah berbicara dengan ternak.


Ia mencoba mengaktifkan gelang secara manual — menekan tiga tombol tersembunyi di sisi gelang secara bersamaan. Layar berpendar sangat redup, menampilkan satu baris teks:


*SINTA v7.2 — Mode Darurat. Tingkat daya: 1%. Tidak dapat menjalankan fungsi analisis. Menghemat daya untuk fungsi vital.*


Satu persen.


Dara menghela napas sangat panjang.


Di kejauhan — jauh sekali, seperti dari balik bukit — ia mendengar sesuatu. Suara gamelan yang tipis, nyaris seperti mimpi. Dan di antara pohon-pohon jati yang diam itu, angin membawa bau kayu bakar dan sesuatu yang manis seperti gula aren.


Kerbau itu akhirnya berbalik dan berjalan pergi, rupanya sudah bosan.


Dara tetap duduk di tanah merah itu.


*Oke,* pikirnya, dengan cara yang sangat tenang karena EmoSync-nya masih aktif dan dengan sigap memotong respons panik yang mencoba naik ke permukaan. *Oke. Aku jelas tidak di laboratorium lagi. Aku jelas tidak di Jakarta. Aku jelas tidak di tahun 2147, karena di tahun 2147 tidak ada hutan jati tanpa sinyal satelit dalam radius dua ratus kilometer dari pusat kota manapun di Pulau Jawa.*


*Artinya: mesin itu tidak menjalankan simulasi.*


*Mesin itu benar-benar melipat ruang-waktu.*


*Dan file koordinat dari arsip Warisan Budaya Digital yang aku pikir adalah dummy...*


Dara menutup matanya. Membuka kembali.


*...ternyata bukan dummy.*


Jauh di sudut paling dalam pikirannya, di balik tembok EmoSync yang rapi, ada sesuatu yang sangat keras mau berteriak.


Dara menekannya turun.


*Baik. Langkah pertama: kumpulkan data.*


Ia berdiri, membersihkan tanah merah dari jas laboratoriumnya yang sudah tidak terlalu putih lagi, dan mulai mengamati lingkungan sekitar dengan cara yang paling sistematis yang bisa ia lakukan.