Dara bangun sebelum matahari naik dan langsung membuat daftar.
Ini adalah mekanisme coping-nya sejak kecil — bukan sesuatu yang EmoSync ajarkan, melainkan sesuatu yang ada jauh sebelum EmoSync ada. Ketika dunia terasa tidak terkendali, buat daftar. Ketika terlalu banyak variabel yang tidak diketahui, identifikasi dulu yang diketahui. Satu hal pasti selalu mengikuti hal pasti lainnya, dan pada akhirnya ada pola, dan pola bisa dikelola.
Di dinding kamarnya, dengan ujung ranting kecil yang ia temukan di lantai dan tanah liat yang ia ambil sedikit dari pot di sudut (meminta izin terlebih dahulu dari Nyai Sekar yang sudah bangun dan sudah memasak sebelum Dara sadar), ia menulis daftar itu:
**HAL YANG TIDAK ADA:**
- Listrik
- Internet / sinyal
- GPS
- Air mengalir (ada sumur, tapi bukan air mengalir)
- Sanitasi modern (ada WC tapi... berbeda)
- Sendok logam (semua makan dengan tangan atau sendok kayu)
- Kasur (dipan kayu dengan tikar tipis)
- Pendingin ruangan (tidak perlu dikomentari)
**HAL YANG MEMBINGUNGKAN:**
- Kenapa semua orang duduk di lantai? (Rupanya kursi ada tapi jarang)
- Kenapa perempuan tidak boleh memotong pembicaraan pria di tempat umum?
- Kenapa makan dengan tangan kiri dianggap sangat tidak sopan?
- Kenapa ada hierarki dalam cara bicara yang sangat ketat dan sangat tidak efisien?
- Apa bedanya krama, ngoko, dan krama inggil? (SINTA tidak bisa menjelaskan. Perlu sumber lain.)
**PRIORITAS SEGERA:**
1. Kuasai bahasa Jawa yang benar — ini kritis
2. Cari bahan untuk mengisi daya gelang
3. Jangan membuat masalah yang mengancam keselamatan diri
4. Pahami struktur sosial cukup untuk tidak terus-menerus menyinggung orang tanpa sengaja
Dara menatap daftar itu. Kemudian menambahkan satu poin lagi:
**5. Cari cara untuk tidak gila selama proses.**
---
Pagi itu, Paijo datang mengetuk pintu dengan cara yang terlalu sopan untuk seseorang yang sudah menguping di balik pintu semalam.
"Pagi, Mbak Dara. Nyai Sekar minta saya menemani Mbak hari ini. Kalau mau belajar tentang desa dan cara-cara di sini, saya bisa bantu."
Dara menatap Paijo sebentar. Laki-laki muda ini — ia perkirakan berusia sekitar dua puluh tahun, satu atau dua tahun lebih muda darinya — punya muka yang tidak bisa menyembunyikan apa yang sedang ia pikirkan. Saat ini ekspresinya adalah campuran antara antusias, sedikit takut, dan sangat penasaran.
"Kamu kemarin yang berlari dari aku," kata Dara.
"Iya." Paijo tidak mencoba menyangkal. "Maaf. Saya kaget. Saya tidak pernah lihat orang pakaiannya seperti itu."
"Kamu pikir aku siluman."
"Sedikit." Ia memiringkan kepala. "Sekarang sudah tidak. Siluman tidak minta maaf sama Bu Warsini."
Dara mempertimbangkan ini. "Baik. Nama kamu siapa?"
"Paijo, Mbak. Abdi dalem Raden Arya."
"Artinya kamu bekerja untuk dia?"
"Sudah tiga tahun. Den Arya orangnya keras, tapi baik. Kalau mau tanya-tanya tentang tata cara di sini, atau tentang desa, atau tentang apapun, saya bisa bantu." Ia menyeringai. "Saya banyak tahu. Den Arya bilang saya terlalu banyak tahu hal yang tidak penting, tapi saya rasa itu tergantung sudut pandang."
Dara memutuskan bahwa Paijo adalah sumber informasi primer yang baik, setidaknya untuk data-data dasar.
"Oke," katanya. "Mulai dari awal. Ajarkan aku cara bicara Jawa yang benar. Tingkatannya."
---
Pelajaran berlangsung di beranda belakang rumah Nyai Sekar, di bawah pohon sawo yang memberikan naungan, dengan Paijo duduk bersila di hadapan Dara yang duduk dengan kaki bersilang — posisi yang ternyata juga sedikit salah untuk konteks ini, tapi Nyai Sekar yang lewat tidak berkomentar.
"Jadi ada tiga tingkatan utama," jelas Paijo dengan semangat seorang yang menikmati posisi sebagai ahli. "Ngoko, untuk bicara ke orang yang lebih muda atau akrab. Krama, untuk bicara ke orang yang levelnya sama atau tidak terlalu jauh. Krama inggil, untuk bicara ke orang yang derajatnya lebih tinggi, seperti bangsawan atau orang yang sangat dihormati."
"Dan kalau salah tingkatan?"
"Bisa dianggap tidak sopan. Atau mengejek. Tergantung arahnya." Paijo menggaruk kepalanya. "Kalau Mbak bicara ngoko ke orang yang lebih tua atau lebih tinggi, itu seperti... menganggap mereka tidak penting. Tapi kalau Mbak bicara krama inggil ke orang biasa, itu juga bisa dianggap aneh, seperti bercanda."
Dara mencatat ini di kepala dengan cermat. "Bagaimana aku tahu seseorang ada di level mana?"
"Dari pakaian. Dari cara mereka berjalan. Dari siapa yang membungkuk lebih dulu." Paijo berpikir sebentar. "Dan dari bagaimana orang lain memperlakukan mereka."
"Sistem hierarki berbasis penanda visual sosial." Dara mengangguk. "Bisa dipelajari."
Paijo menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa Dara klasifikasikan segera. "...Mbak sering bicara seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Seperti sedang menganalisis sesuatu."
"Selalu." Dara mengangkat bahu satu. "Itu cara otak saya bekerja."
"Oh." Paijo tampaknya memroses ini. "Itu pasti capek."
Dara diam sejenak. Tidak ada yang pernah mengatakan itu kepadanya sebelumnya. "Tidak, sebenarnya. Itu justru yang membuatku nyaman."
"Hmm." Paijo tampak tidak sepenuhnya yakin, tapi tidak protes. "Oke. Mau lanjut pelajaran?"
---
Sore hari, dari balik pintu rumah yang setengah terbuka, Arya melihat Paijo dan perempuan asing itu masih duduk di beranda belakang.
Paijo sedang mendemonstrasikan sesuatu dengan tangan — gerakan menggiling sesuatu, yang sepertinya sedang menjelaskan cara membuat sesuatu dengan cobek. Perempuan asing itu mendengarkan dengan konsentrasi penuh, sesekali mengajukan pertanyaan yang membuat Paijo berpikir terlalu keras.
Arya mengamati ini dari jaraknya.
Ada sesuatu yang aneh di caranya perempuan itu belajar — tidak seperti orang yang sedang berpura-pura belajar untuk tujuan tertentu, dan tidak seperti orang yang belajar karena dipaksa. Lebih seperti seseorang yang genuinely perlu mengisi kekosongan di sistemnya, dan setiap informasi baru masuk dan langsung ditempatkan di posisinya.
*Aneh.*
Arya hampir berbalik dan pergi ketika matanya menangkap sesuatu: perempuan itu berhenti sejenak dari percakapannya dengan Paijo, menatap ke arah halaman — ke arah di mana Arya biasanya berlatih pedang di pagi hari — dan ekspresinya berganti sebentar menjadi sesuatu yang tidak ia bisa baca.
Kemudian perempuan itu kembali ke percakapannya, dan Arya berbalik dan pergi.
Di sakunya, ada selembar kertas kecil yang sudah ia lipat rapi. Di atasnya, huruf-huruf kecil dalam aksara Jawa — tembang yang baru setengah selesai, dimulai kemarin saat ia tidak bisa tidur, tentang sesuatu yang seperti cahaya yang tidak tahu harus pergi ke mana.
Ia tidak melanjutkannya.
Belum.
---
Ketika Dara akhirnya kembali ke kamarnya malam itu, kepalanya penuh dengan informasi baru: cara memanggil orang dengan benar sesuai tingkatan, cara duduk yang sopan tergantung konteks, bahwa makanan tidak boleh disentuh dengan tangan kiri, bahwa bertanya langsung tentang umur seseorang tidak lazim, dan satu fakta yang Paijo sampaikan sambil tertawa kecil — bahwa yang terjadi dengan Bu Warsini tadi pagi sudah menjadi cerita yang beredar di seluruh desa.
*Mbak Dara manggil Bu Warsini 'mbah kakung.'*
Dara memutuskan untuk tidak meninggalkan rumah Nyai Sekar selama dua hari ke depan jika tidak sangat perlu.
Ia juga memutuskan satu hal lagi — sesuatu yang ia tidak masukkan ke dalam daftar tapi sudah mulai terbentuk di bagian belakang pikirannya: untuk bertahan di sini dengan baik selama berminggu-minggu yang akan datang, ia perlu lebih dari sekadar data. Ia perlu mulai benar-benar *ada* di sini.
Itu konsep yang asing.
Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Dara merasa ada sesuatu yang menarik dalam hal yang asing.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar