Arya membawa Dara ke ujung desa, ke arah yang berbeda dari arah kepala desa, dan Dara cukup memperhatikan perbedaan itu.
Jika seorang prajurit membawa orang asing ke desanya, logika yang paling langsung adalah membawa orang itu ke pemimpin tertinggi desa untuk diinterogasi secara resmi. Tapi Arya justru memilih jalan yang melingkar, melewati ladang di selatan, menghindari jalur utama desa, ke arah sebuah rumah yang berdiri agak terpisah dari kumpulan rumah lainnya.
Rumah itu kecil tapi berdiri kokoh, dengan dinding kayu jati gelap yang sudah tua dan berkilap seperti mengandung sesuatu. Di depannya ada taman sempit dengan tanaman-tanaman yang Dara tidak kenal namanya — campuran antara yang berdaun lebar dan yang berbunga kecil, semuanya tumbuh rapi meski tidak pernah seperti ditata, lebih seperti tumbuh karena memang begitu adanya.
Di ambang pintu yang terbuka, ada seorang perempuan tua.
Sangat tua. Rambut putih disanggul sederhana, tubuh kecil membungkuk sedikit, wajah penuh kerutan yang membentuk peta dari semua ekspresi yang pernah ia buat selama hidupnya. Memakai kain batik cokelat dengan kebaya putih yang sudah dicuci ratusan kali sampai warnanya menjadi lebih jujur dari putih biasa.
Perempuan tua itu menatap mereka.
Arya berhenti. Membungkuk sedikit. "Nyai."
Perempuan tua itu tidak merespons Arya. Pandangannya bergerak langsung kepada Dara — dari ujung sepatu laboratorium yang berdebu, naik ke jas putih yang sudah ada noda tanah merahnya, naik ke muka Dara — dan berhenti di sana.
Matanya tidak menampilkan keheranan. Tidak menampilkan ketakutan. Tidak menampilkan hal apapun kecuali sesuatu yang — kalau Dara harus memberinya nama — paling tepat disebut *pengakuan.*
Seperti melihat seseorang yang sudah ia kenal tapi belum pernah ia temui.
"Lama sekali," kata perempuan tua itu. Suaranya rendah dan tenang seperti bunyi gamelan yang jauh. "Sudah saya tunggu sejak sebelum matahari naik."
Hening selama dua detik.
"Kamu... menunggu saya?" tanya Dara.
"Siapa lagi yang perlu ditunggu?" Perempuan tua itu berpaling kepada Arya. "Raden, sudah saya bilang minggu lalu bahwa akan ada tamu. Kamu tidak percaya."
"Saya tidak percaya Nyai Sekar bercerita tentang tamu yang datang dari kilat di hutan jati," kata Arya dengan nada yang sangat datar.
"Saya tidak bilang dari kilat. Saya bilang dari arah yang tidak biasa." Nyai Sekar kembali menatap Dara. "Masuk."
---
Di dalam rumah Nyai Sekar, Dara duduk di atas tikar anyaman dan mencoba memproses semua yang sudah terjadi dalam waktu kurang dari tiga jam.
Ruangan itu sederhana — lantai tanah yang diperkeras, dinding kayu, jendela kecil yang membiarkan cahaya masuk dalam potongan-potongan tipis. Di salah satu sudut ada rak kayu dengan toples-toples tanah liat berisi sesuatu yang berbau rempah. Di sudut lain ada dipan kayu dengan alas tipis.
Nyai Sekar membuat minuman sesuatu yang berbau seperti jahe dan kayu manis. Paijo sudah menghilang — disuruh Arya untuk "mengurus kuda yang hilang," yang lebih terdengar seperti alasan untuk menyingkirkannya.
Arya sendiri berdiri di dekat pintu dengan posisi yang membuat jelas bahwa ia belum memutuskan apakah pergi atau tetap.
"Nama saya Dara," kata Dara kepada Nyai Sekar, karena harus dimulai dari suatu tempat.
"Saya tahu."
"Kamu tahu nama saya?"
"Saya tahu banyak hal yang saya tidak akan jelaskan caranya karena itu akan membuang waktu kita yang terbatas." Nyai Sekar menyerahkan cangkir tanah liat berisi minuman panas. "Minum ini. Tubuhmu perlu dihangatkan setelah perjalanan yang sangat jauh."
Dara menerima cangkir itu. Mengamatinya sebentar dengan cara yang profesional — warna, aroma, kemungkinan komposisi. Tidak ada indikasi berbahaya. Atau setidaknya tidak ada yang bisa ia deteksi dengan keterbatasan sensoris di era tanpa alat analisis.
Ia minum.
Panas dan manis dan ada sesuatu yang tertinggal di tenggorokan seperti rasa daun pandan yang sudah ia lupakan perasaannya seperti apa.
"Untuk sementara, kamu tinggal di sini," kata Nyai Sekar. "Ada kamar kecil di belakang. Saya akan berikan pakaian yang lebih sesuai." Ia menoleh ke arah Arya. "Raden."
"Nyai."
"Dia tamu saya. Jangan diganggu."
Arya membuka mulut sebentar — seperti mau protes bahwa ia perlu menginterogasi orang asing ini secara formal — lalu menutupnya. Ia membungkuk sedikit. "Baik, Nyai."
Dan ia pergi.
Dara menatap ke arah pintu yang ditinggalkan Arya, kemudian kembali ke Nyai Sekar. "Dia selalu seperti itu?"
"Arya lebih baik dari yang terlihat. Dia hanya butuh waktu untuk percaya pada hal-hal yang tidak ada di dalam protokolnya." Nyai Sekar duduk di hadapan Dara dengan cara yang lambat dan hati-hati seperti orang yang tahu betul cara menghargai setiap gerakan. "Sekarang. Cerita."
"Tentang apa?"
"Tentang dari mana kamu datang. Bukan cerita yang akan kamu ceritakan kepada orang-orang di desa ini. Cerita yang sebenarnya."
Dara diam sejenak.
Kemudian — karena sesuatu dalam diri perempuan tua ini membuatnya merasa bahwa berbohong di sini akan sangat tidak efisien — ia mulai bercerita.
---
Malam itu, sendirian di kamar kecil di belakang rumah Nyai Sekar, Dara mengetuk gelangnya untuk yang kesekian kalinya.
Kamar itu mungkin tiga kali tiga meter, dengan dipan kayu kecil dan satu jendela sebesar buku. Di atas dipan ada tumpukan kain batik yang Nyai Sekar taruh dengan penjelasan singkat: "Ini jarik dan kemben untuk sementara."
Dara menatap kain-kain itu.
Ia mengerti apa itu jarik dan kemben — secara teori, dari file arsip budaya yang pernah lewat di layarnya. Kain batik panjang yang dililitkan sebagai bawahan, dan kain penutup atas untuk perempuan.
Secara teori.
"Sinta," bisiknya lagi, dengan harapan tipis. "Tolong aktif. Aku butuh panduan cara memakai jarik."
Gelang itu berpendar sangat redup. Layar muncul dalam ukuran setengah dari normal.
*"Mode darurat. Tingkat daya: 1,2%. Fungsi analisis tidak tersedia. Pertanyaan sederhana dapat dijawab jika memungkinkan."*
"Cara memakai jarik."
*"Mencari... tidak ada data yang cukup terperinci. File warisan budaya yang tersedia hanya memuat deskripsi tekstual, bukan panduan visual. Maaf."*
"Tidak ada video tutorial? Tidak ada skema?"
*"Tidak."* Hening sebentar. *"Tingkat daya: 1,1%. Mode tidur dalam tiga puluh detik."*
"Tunggu — sebelum kamu mati lagi, bisakah kamu memberikan estimasi kasar berapa lama kita terjebak di sini?"
*"Berdasarkan data yang sangat terbatas: mesin melepaskan energi temporal yang tersimpan sepenuhnya saat lompatan. Untuk kembali, dibutuhkan pengisian ulang dari sumber energi yang setara. Energi tersisa di gelangmu: 12% dari kapasitas. Ini tidak cukup. Waktu pengisian dari sumber alternatif: tidak dapat diestimasi tanpa data bahan yang tersedia di era ini. Kemungkinan: berminggu-minggu hingga berbulan-bulan."*
Berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
*"Maaf, Dara. Tingkat daya kritis. Sampai jumpa."*
Dan SINTA mati lagi.
Dara duduk di atas dipan kayu dengan tumpukan jarik di pangkuan dan cahaya lampu minyak yang bergoyang di sudut ruangan.
Berminggu-minggu.
EmoSync memotong respons yang mau naik. Tapi kali ini Dara tidak tahu apakah itu membantu atau malah membuat semuanya terasa lebih ganjil — karena di balik ketenangan buatan itu, ada kesadaran penuh yang sangat jelas: ia terjebak empat ratus tujuh puluh tahun di masa lalu, sendirian, dengan asisten AI yang kehabisan baterai, di kamar sempit milik perempuan tua yang mengaku sudah menunggunya.
Ia menghela napas.
Mengambil jarik.
Dan selama empat puluh lima menit berikutnya, di balik pintu kamar yang tertutup, terdengar suara benda jatuh berulang kali — kain yang terlepas, entakan kaki kecil saat kain melilit ke tempat yang salah, dan sesekali bisikan frustrasi yang tidak bisa dipahami konteksnya.
Di luar pintu, Paijo — yang ternyata sudah kembali dan ditugaskan tidur di ruang depan sebagai penjaga — duduk bersandar dinding dengan ekspresi sangat ingin mengetuk tapi takut konsekuensinya.
Ia memilih untuk tidak mengetuk.
Pilihan yang tepat.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar