*POV: Arya*
Raden Arya Wicaksana tidak percaya klenik.
Ini adalah keyakinan yang ia pegang dengan konsisten sejak berumur dua belas tahun, ketika ia pertama kali melihat seorang dukun kampung "mengusir roh jahat" dengan cara yang — setelah Arya amati dengan seksama — tidak berbeda jauh dengan pertunjukan pasar. Ia bukan orang tanpa kepercayaan spiritual; ia percaya Tuhan, ia percaya takdir, ia percaya bahwa alam memiliki aturan yang lebih besar dari pemahaman manusia. Tapi ia tidak percaya bahwa siluman berbentuk perempuan berkain putih aneh dengan benda berpendar di pergelangan tangan akan tiba-tiba muncul di hutan jati di pagi hari.
Atau begitulah yang ia pikirkan, sebelum Paijo datang setengah berlari dengan muka seperti orang yang baru melihat ibunya berubah jadi kambing.
"Den Arya! Den Arya!" Paijo tiba di hadapannya sambil memegang lutut dan tersengal. "Ada... ada perempuan... di hutan. Pakaian aneh. Rambut lepas tidak diikat. Berbicara sendiri. Den, saya lihat sendiri. Saya tidak bohong."
"Kamu selalu bilang tidak bohong ketika kamu sedang berbohong," kata Arya.
"Kali ini sungguh, Den! Dia terbang dari langit! Saya melihat kilat, lalu dia ada di sana!"
"Paijo."
"Den?"
"Kudamu ke mana?"
Paijo menoleh. Kuda yang tadi ia tambatkan memang tidak ada. "Oh." Ia menelan ludah. "Mungkin kuda saya juga kabur karena takut siluman."
Arya menghela napas dengan sabar dan berjalan ke arah yang ditunjuk Paijo.
Yang ia temukan — setelah suara teriakan Paijo memandu ia ke lokasi yang tepat — adalah pemandangan yang, ia harus akui, cukup membuat ia berhenti sejenak.
Seorang perempuan muda. Tinggi, berkulit langsat, dengan rambut hitam sebahu yang tergerai bebas. Mengenakan pakaian yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: kain putih panjang seperti baju tapi potongannya asing, dengan lambang-lambang yang tidak ia kenali di bagian dada. Sepatu hitam yang menutup seluruh kaki sampai pergelangan, dengan sol tebal dan tali-tali kecil yang tidak masuk akal jumlahnya.
Dan di pergelangan tangan kirinya, ada benda tipis yang berpendar biru sangat lemah.
Yang lebih menarik perhatiannya: perempuan itu tidak terlihat takut. Ia berdiri setelah berlari cukup jauh dan tampak sedikit kehabisan napas, memang — tapi di matanya tidak ada ketakutan. Ada yang lain. Sesuatu yang lebih mirip proses berpikir.
Arya memperhatikan hal itu dalam hitungan detik pertama.
Ketika perempuan itu menjawab pertanyaannya — dalam bahasa Jawa yang kacau tapi setidaknya bisa dipahami — Arya mendengarkan dengan seksama. Aksen yang aneh. Pilihan kata yang kadang tepat, kadang tidak. Seperti orang yang belajar bahasa dari tulisan, bukan dari percakapan.
*Dari tempat yang sangat jauh.*
Arya memutuskan tiga hal secara berurutan:
Pertama, perempuan ini bukan siluman. Siluman tidak kehabisan napas setelah berlari.
Kedua, asal-usulnya tidak diketahui dan karenanya perlu diselidiki.
Ketiga, ia adalah tanggung jawab Arya sekarang, karena tidak ada orang lain di sini dan membiarkan perempuan asing sendirian di hutan perbatasan di masa ketika situasi politik sedang tidak stabil adalah pilihan yang buruk.
"Paijo," katanya tanpa mengalihkan pandangan dari perempuan itu.
"Den?"
"Berdiri, kumpulkan barang-barangmu."
"Iya, Den."
"Dan jangan cerita kepada siapapun tentang siluman."
"Tapi Den—"
"Paijo."
"...Iya, Den."
Arya menatap perempuan itu lagi. "Ikut kami."
---
Perjalanan dari hutan ke desa memakan waktu hampir satu jam jalan kaki.
Satu jam yang, menurut perhitungan Arya, cukup untuk memperoleh banyak informasi tentang perempuan asing ini — meskipun hampir semua informasi yang ia peroleh justru menghasilkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Pertama: perempuan itu tidak bisa berhenti berbicara.
Bukan berbicara kepada Arya atau kepada Paijo — tapi kepada dirinya sendiri, atau lebih tepatnya kepada gelang di pergelangan tangannya, yang rupanya tidak merespons. Ia mengetuk gelang itu berkali-kali sambil mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang sebagian Arya tidak mengerti. "Sinta" — nama yang ia sebut berulang-ulang dengan nada semakin frustrasi.
"Siapa Sinta?" tanya Paijo dengan polos.
"Asisten saya. Dia... sedang tidak bisa diakses saat ini," jawab perempuan itu.
"Asisten yang tinggal di gelang?"
"Sesuatu seperti itu."
Paijo menatap gelang itu dengan ekspresi yang Arya sangat hafal — ekspresi orang yang ingin bertanya lebih banyak tapi tidak tahu dari mana mulai.
Kedua: perempuan ini tidak memperhatikan jalan.
Ia berjalan sambil melihat ke mana-mana kecuali ke depan kakinya, mengamati pohon-pohon dengan cara seperti tidak pernah melihat pohon sebelumnya dalam hidupnya, sesekali berhenti untuk menyentuh kulit batang atau mengambil daun jatuh dan memeriksanya dengan teliti. Dua kali ia hampir tersandung akar yang menonjol, dan dua kali Arya — tanpa berpikir, karena refleks — mengulurkan tangan untuk menstabilkannya.
Dua kali pula perempuan itu menarik tangannya mundur dengan cepat dan berkata "terima kasih" dalam bahasa Indonesia yang langsung ia susul dengan "maksud saya, matur nuwun" — Jawa untuk terima kasih, diucapkan dengan aksen yang sangat tidak Jawa.
Ketiga — dan ini yang paling mengganggu Arya — ia menggerakkan jarinya di udara.
Bukan gelisah. Bukan iseng. Tapi seperti sedang menulis atau menggambar di permukaan yang tidak terlihat, dengan mata yang kadang sedikit tidak fokus seolah sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
Arya memperhatikan ini dalam diam.
*Orang gila?* pikirnya. *Tapi caranya berbicara terstruktur. Tidak acak.*
*Dukun?* Tidak mungkin. Dukun yang ia pernah lihat tidak terlihat bingung seperti ini.
*Utusan dari kerajaan lain?* Tapi kerajaan mana yang mengirim utusan tanpa busana resmi, tanpa pengawal, dan tanpa kemampuan bahasa lokal yang memadai?
Arya tidak menemukan kategori yang cocok.
Ini jarang terjadi.
---
Desa terlihat saat mereka muncul dari balik bukit kecil — sebuah kumpulan rumah berdinding bambu dan papan kayu dengan atap rumbia, dikelilingi pagar rendah dari bambu yang sama. Sawah membentang di sisi utara, berwarna hijau muda. Ada kolam ikan di dekat sungai. Asap tipis mengepul dari beberapa rumah — tanda masak pagi.
Beberapa warga yang kebetulan ada di dekat pagar desa melihat mereka datang.
Arya memperhatikan saat pandangan itu beralih dari dirinya ke Paijo ke — perempuan asing di belakang mereka.
Ekspresi warga bervariasi: heran, curiga, dan dalam kasus Bu Warsini yang berdiri di dekat sumur dengan ember, hampir menjatuhkan embernya.
Perempuan itu sendiri berhenti sebentar ketika melihat desa. Sesuatu berubah di ekspresinya — sedikit saja, seperti angin lewat di atas kolam tenang — dan ia menatap deretan rumah itu dengan cara yang tidak bisa Arya artikan.
Kemudian perempuan itu maju mendekati Bu Warsini yang masih terpaku di dekat sumur.
*Oh tidak,* pikir Arya.
"Sugeng siang," kata perempuan itu — *selamat siang*, bahasa Jawa yang tepat, dan Arya hampir merasa lega — "kula nuwun, mbah kakung."
Hening.
Bu Warsini menatap. Paijo mendekap mulutnya. Arya menutup mata sebentar.
*Mbah kakung.* Sapaan untuk kakek. Yang baru saja diucapkan kepada Bu Warsini yang adalah perempuan berusia sekitar empat puluh tahun.
"...Mbah kakung?" ulang Bu Warsini dengan suara yang sangat datar.
Perempuan asing itu tampak bingung sebentar, lalu matanya membesar sedikit. Arya bisa melihat saat ia menyadari kesalahannya. "Oh — eh — mbah putri! Maksud saya mbah putri! Maaf, saya—"
*Mbah putri.* Sapaan untuk nenek.
Bu Warsini berumur sekitar empat puluh tahun.
"Aku belum setua itu," kata Bu Warsini dengan nada yang sangat pelan dan sangat menyimpan sesuatu.
"Saya minta maaf," kata perempuan itu dengan cepat. Bahasa Indonesianya kembali muncul sebelum ia koreksi. "Maksud saya — *kula nyuwun pangapunten.*"
EmoSync tidak ada di sini. Dara tidak bisa mendeteksi itu. Tapi Arya bisa melihat dengan jelas: Bu Warsini sedang menimbang-nimbang antara tersinggung dan terlalu bingung untuk memilih.
Arya melangkah maju. "Bu Warsini. Ini tamu dari luar daerah. Mohon maaf, bahasanya belum lancar."
Bu Warsini menatap Arya, menatap perempuan itu sekali lagi, lalu mengambil embernya dan pergi dengan langkah yang berbicara banyak tanpa satu kata pun.
Arya berpaling kepada perempuan asing di sebelahnya.
Perempuan itu menatapnya dengan ekspresi yang campuran antara malu dan sedang-mencoba-tidak-kelihatan-malu.
"Maaf," katanya. Kali ini dalam bahasa Jawa yang benar. "Saya masih belajar tingkatan bahasa."
"Itu terlihat," kata Arya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar