Inventaris situasi, yang Dara susun di kepala dengan cara seorang ilmuwan yang sangat tidak mau mengakui bahwa dirinya sedang panik:
**Yang ada:** satu jas laboratorium (sudah kotor), satu kacamata AR (tidak berfungsi tanpa sinyal), satu gelang dengan SINTA di dalamnya (daya 1%, hampir tidak berguna), dua kaki, dua tangan, satu otak yang untungnya masih bekerja normal, dan hutan jati yang sangat besar.
**Yang tidak ada:** telepon (chip komunikasi tertanam di dinding lab, bukan di tubuh), makanan, air minum, peta, dan satu pun manusia yang bisa dimintai tolong.
**Yang diketahui:** koordinat file yang digunakan sebagai input adalah HCK-1677-MatW-Grid.arc. Huruf dan angka itu, kalau ia baca secara benar, kemungkinan besar berarti: *Heritage Coordinate Key, tahun 1677, Mataram, Western Grid.*
Mataram.
1677.
Dara berdiri di tengah hutan jati dan memikirkan angka itu.
*Satu enam tujuh tujuh.*
*Empat ratus tujuh puluh tahun yang lalu.*
EmoSync memotong respons emosionalnya sebelum sempurna terbentuk, tapi tidak cukup cepat untuk mencegah Dara merasakan sesuatu yang sangat dingin merayap naik dari perutnya ke dadanya.
"Baik," ucapnya keras-keras, kepada tidak siapapun, "ini bisa diatasi."
Ia mulai berjalan ke arah suara gamelan tadi — karena suara gamelan berarti ada manusia, dan manusia berarti ada informasi, dan informasi adalah hal paling berharga yang ia butuhkan saat ini.
Langkah pertama: orientasi.
Ia mengamati sudut matahari — sudah agak tinggi, artinya ini sudah pagi menuju siang. Matahari ada di timur-tenggara. Angin datang dari selatan, membawa bau tanah basah. Pohon-pohon jati di sekitarnya muda-muda — diameter batangnya tidak terlalu besar, artinya hutan ini bukan hutan tua, dan mungkin ada aktivitas manusia di dekatnya.
*Analisis kompas alami: berhasil. Nilai: B+.*
Ia berjalan selama kira-kira dua puluh menit, menghindari akar dan batu, mencatat setiap detail yang bisa berguna — jenis tanah, vegetasi yang tumbuh di pinggir hutan, arah aliran sungai kecil yang ia temukan dan langsung diingat sebagai sumber air potensial untuk nanti.
Di sebuah hamparan lebih terbuka, di antara jati dan semak perdu, ia menemukan sesuatu yang membuat langkahnya berhenti.
Bekas api unggun yang masih hangat. Jejak kaki kuda. Dan di atas sebatang kayu tumbang, sepasang sandal jepit dari kulit.
Sandal. Kulit. Dijahit tangan. Tidak ada sol karet. Tidak ada logo merek.
*Autentik,* pikirnya. *Sangat autentik.*
Ia berjongkok memeriksa bekas api unggun. Masih ada bara di bawah abunya. Artinya tidak lama tadi masih ada orang di sini.
"Hei."
Dara melompat berdiri dan berbalik.
Di antara pohon, sekitar sepuluh meter darinya, berdiri seorang laki-laki muda. Mungkin sebaya Dara, mungkin sedikit lebih muda. Berpostur sedang, memakai baju lusuh dari kain berwarna cokelat tua dengan celana sebatas lutut dan sandal kulit yang mirip dengan yang ada di kayu tadi. Rambutnya hitam diikat di belakang kepala. Mukanya bulat dengan pipi yang sedikit tembem, dan ekspresinya saat ini adalah perpaduan antara terkejut dan curiga dan takut dalam proporsi yang hampir sama besar.
Di tangannya ada tali — tali yang rupanya tadi dipakai untuk menambatkan sesuatu, dan sesuatu itu tidak ada lagi. Kuda yang hilang, mungkin.
Mereka saling menatap.
"Kamu siapa?" tanya Dara, dalam bahasa Indonesia standar yang langsung ia sesali karena ia sadar bahwa di tahun 1677, di Jawa, bahasa itu belum ada.
Laki-laki itu menelannya dengan ekspresi yang semakin aneh.
Dara mencoba lagi, kali ini menggunakan bahasa Jawa yang fragmentaris yang ada di memori SINTA — atau lebih tepatnya, di memori Dara yang pernah membaca file itu sekali sambil lalu. "Eh... sira sinten?"
Itu pertanyaan yang benar. *Kamu siapa.* Bahasa Jawa krama. Ia cukup yakin itu benar.
Laki-laki itu menoleh ke kiri, ke kanan, seolah memeriksa apakah ada orang lain di sekitar yang mungkin juga mendengar ini. Kemudian matanya kembali ke Dara — menyapu dari ujung sepatu laboratorium hitam Dara (desain futuristik yang pasti tidak pernah ia lihat sebelumnya), naik ke jas putih, naik ke rambut Dara yang pendek sebahu dan tidak diikat, naik ke kacamata AR yang aneh di hidung Dara, dan naik lagi ke gelang berpendar tipis di pergelangan tangan Dara.
Matanya melebar.
"Sssil—" Suaranya tercekat. Ia menelan ludah. Mencoba lagi. "Siluman!"
Dan laki-laki itu berlari.
"Eh—tunggu!" Dara langsung mengejarnya. "Tunggu! Aku bukan siluman! Aku hanya butuh bantuan! Aku tersesat!"
"SILUMAN BETINA!" teriak laki-laki itu sambil berlari dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran kakinya yang tidak terlalu panjang. "ADA SILUMAN BETINA DI HUTAN JATI!"
"Kamu yang lari, aku yang mengejar — siapa yang harusnya takut?!" Dara berlari lebih cepat. Ia tidak olahraga secara teratur (EmoSync mengelola hormon stres sehingga ia tidak pernah butuh pelampiasan fisik), tapi untungnya lorong-lorong laboratorium yang panjang memberikannya cukup latihan berjalan.
Sayangnya laki-laki itu berlari seperti orang yang hidupnya bergantung padanya — karena dalam pikirannya, mungkin memang begitu.
Mereka berlari keluar dari pepohonan, masuk ke area yang lebih terbuka dengan tanah merah berumput, dan laki-laki itu tersandung akar yang menyembul dari tanah, terjatuh dengan suara gedebuk yang dramatis, dan berguling satu setengah kali sebelum berhenti telungkup.
Dara hampir menabraknya dan berhasil berhenti tepat waktu, sedikit ngos-ngosan.
"Aku bukan—"
Ia berhenti.
Karena laki-laki yang terjatuh itu sekarang membalikkan badannya dengan cepat, dan tepat di belakangnya — berdiri tenang seperti ia sudah ada di sana sejak tadi — ada seseorang yang lain.
Laki-laki lain. Yang ini lebih tinggi, lebih tegap, bahu lebih lebar. Mengenakan pakaian yang lebih rapi dari yang pertama — kain hitam dengan motif garis tipis, ikat kepala, dan sebilah keris di pinggang yang tangkainya terlihat dari balik lipatan kain. Rambutnya hitam legam, potongan yang sama dengan yang pertama tapi lebih rapi. Kulitnya sawo matang dengan sudut-sudut wajah yang seperti dipahat dari kayu — tinggi hidung, rahang tegas, alis lurus, dan mata hitam pekat yang saat ini sedang menatap Dara dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.
Ekspresi itu tidak menampilkan ketakutan. Tidak menampilkan keheranan yang berlebihan. Tidak menampilkan hal apapun kecuali kewaspadaan yang sangat terkalibrasi.
Tangannya bergerak pelan ke pegangan kerisnya.
Dara berdiri diam.
Di dalam kepalanya, tanpa ia minta, semacam proses kalkulasi berlangsung cepat: tinggi badan (jauh di atas rata-rata untuk era ini), postur (terlatih, bukan petani atau pedagang), keris di pinggang (bukan untuk dekorasi), dan tatapan itu — tatapan yang terasa seperti sebuah penilaian yang sedang berjalan.
*Probabilitas bahwa orang ini akan menyakitiku,* simpul Dara dengan sangat tenang, *sekitar enam puluh tujuh persen.*
Hening yang berlangsung mungkin hanya lima detik terasa seperti sebuah sidang lengkap.
Kemudian laki-laki itu berbicara. Suaranya berat dan teratur, dengan nada Jawa yang dalam dan pelan.
"Sira sinten, lan saking pundi?"
*Kamu siapa, dan dari mana?*
Di lantai antara mereka, laki-laki yang terjatuh tadi — yang ternyata adalah bawahan laki-laki ini — mengangkat kepalanya dan berbisik keras: "Den Arya, itu siluman yang saya lihat tadi. Bisa berbicara. Pakaiannya aneh. Dan gelangnya menyala."
Den Arya menatap gelang Dara sebentar. Kemudian kembali menatap wajahnya.
Dara menelan ludah dan memutuskan untuk menjawab sejujurnya — karena dalam situasi seperti ini, kebohongan yang baik membutuhkan konteks budaya yang belum ia punya, dan konteks budaya membutuhkan data yang belum cukup.
"Nama saya Dara," katanya, dalam bahasa Jawa yang ia harap cukup benar. "Saya... dari tempat yang jauh. Sangat jauh. Saya tersesat. Saya tidak berbahaya."
Den Arya tidak menjawab. Hanya menatap.
*Enam puluh tujuh persen,* ulang Dara di dalam kepala. *Semoga tiga puluh tiga persen sisanya yang menang.*
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar