Bau rumah sakit selalu sama di mana-mana. Antiseptik, dingin, dan sesuatu yang tidak pernah bisa diberi nama — semacam kesedihan yang sudah mengering di dinding. Rara berbaring menatap langit-langit kamar 214, menghitung retakan kecil di sudut plafon untuk kesekian kalinya. Tiga retakan. Dua pendek, satu panjang. Dia sudah hafal.

Keguguran ketiga.

Kata itu selalu terasa seperti sebuah vonis, bukan sebuah diagnosis. Dokter mengucapkannya dengan hati-hati, dengan wajah yang sudah terlatih untuk tidak memperlihatkan terlalu banyak, tapi Rara sudah bisa membacanya. Belas kasihan yang profesional. Simpati yang terukur. Dan kemudian kertas resep, saran istirahat, anjuran kontrol dua minggu lagi — seolah-olah kehilangan bisa dijadwal ulang.

Dia tidak menangis. Sudah tidak bisa, mungkin. Air matanya habis di kamar mandi tadi pagi, sebelum dokter masuk, sebelum semuanya resmi menjadi kenyataan. Sekarang yang tersisa hanya rasa berat di dada — seperti ada batu yang ditaruh di atas tulang rusuknya dan tidak ada yang mau mengangkatnya pergi.

Suster masuk sebentar, mengganti cairan infus, tersenyum tipis. "Ibu mau minta diambilkan apa-apa?" Rara menggeleng. Suster itu pergi. Sunyi lagi.

Dimas belum datang.

Dia bilang masih dalam perjalanan ketika Rara menelepon dari UGD tadi malam — suaranya tidak panik, hanya datar dengan sedikit tarikan napas yang terdengar seperti kelelahan. "Oke. Aku berangkat sekarang." Dan kemudian telepon ditutup. Rara tidak tahu kenapa dia berharap ada kata-kata lain. Kata-kata apa, dia juga tidak tahu.

Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit. Dimas datang jam setengah satu.

Dia masuk dengan rapi — kemeja tidak kusut, rambut tersisir, wangi sabun mandi yang sama yang selalu dia pakai. Wajahnya membawa ekspresi yang sudah Rara kenal: alis sedikit turun, sudut bibir tertarik ke bawah, mata yang menyiratkan kepedihan tanpa air mata. Ekspresi sempurna untuk situasi seperti ini. Terlalu sempurna, mungkin — tapi Rara tidak pernah bisa memastikan apakah itu pikirannya yang jahat atau instingnya yang benar.

"Yang sabar ya."

Tiga kata. Dimas memegang tangan Rara, menggenggamnya sebentar, lalu duduk di kursi sebelah ranjang. HP-nya bergetar. Dia melirik layarnya — hanya sekilas, tapi Rara melihat — kemudian memasukkannya ke saku celana.

"Kamu sudah makan?" tanya Dimas.

"Belum."

"Nanti aku suruh beliin bubur ya."

Rara mengangguk. Ada jeda yang terlalu panjang setelah itu — jeda yang dulu dulu pernah mereka isi dengan bicara, dengan tangan yang saling menggenggam lebih erat, dengan kalimat-kalimat yang tidak perlu tapi terasa penting. Sekarang jeda itu hanya jeda.

Dimas duduk selama kurang lebih dua puluh menit sebelum HPnya bergetar lagi. Kali ini dia bangkit. "Sebentar ya, ada yang perlu aku angkat." Keluar ruangan, menutup pintu dengan pelan.

Rara menatap pintu yang tertutup itu. Lalu kembali menatap langit-langit. Tiga retakan. Dua pendek, satu panjang.

* * *

Rombongan Ibu Sri tiba pukul dua siang.

Bukan hanya Ibu Sri — ada Tante Ratih, kakak ipar Ibu Sri yang selalu datang berpasangan dengan komentar; ada Mbak Weni, sepupu Dimas yang belum lama melahirkan anak keduanya dan karenanya merasa punya otoritas tentang segala hal yang berhubungan dengan kehamilan; ada dua tetangga yang namanya Rara tidak hafal tapi wajahnya sudah terlalu familiar. Mereka masuk seperti angin — ramai, membawa kantong buah, membawa aroma parfum yang bercampur jadi satu dan terlalu kuat untuk ruangan sekecil ini.

Ibu Sri duduk di sisi ranjang. Memegang tangan Rara dengan kedua tangannya — gestur yang dari luar terlihat penuh kasih sayang.

"Gimana rasanya?" tanya Ibu Sri. Suaranya pelan. Diperuntukkan Rara, tapi cukup keras untuk didengar semua orang di ruangan.

"Baik, Bu."

Ibu Sri mengangguk pelan, menghela napas — napas yang terdengar seperti kesabaran yang sangat besar sedang dipikul. "Ya mau gimana lagi." Dia melirik sekilas ke arah Tante Ratih, bukan ke arah Rara. "Rahimnya memang lemah dari dulu. Bukan salah siapa-siapa."

Suster yang sedang mencatat sesuatu di pojok ruangan tidak menengok. Tapi jari-jarinya berhenti sebentar di atas kertasnya.

Rara tidak berkata apa-apa. Tangannya menggenggam selimut rumah sakit — kain yang tipis, sedikit kasar, berbau deterjen murah — lebih erat dari yang perlu.

"Istirahat yang banyak ya, Nduk," sambung Ibu Sri, kali ini sambil menepuk punggung tangan Rara. "Jangan terlalu banyak pikiran. Pikiran negatif itu pengaruh ke kandungan."

Tante Ratih menimpali dari sudut ruangan. "Iya bener. Waktu itu tetanggaku juga begitu, keguguran terus. Ternyata dia terlalu stres kerja. Begitu berhenti kerja, langsung hamil normal." Dia tertawa kecil seolah ini cerita lucu. "Mungkin kamu juga terlalu banyak pikiran, Ra."

Mbak Weni mengangguk setuju dari balik kantong jeruk yang sedang diaturnya di meja. "Iya, relaks aja. Tubuh itu sensitif, kalau kita tegang dia juga ikut tegang."

Rara menatap titik di dinding, tepat di atas kepala Tante Ratih. Satu titik kecil, mungkin bekas lalat. Dia fokus pada titik itu.

Di pojok ruangan, Dimas berdiri dengan punggung bersandar di dinding, HP di tangan. Ibu jarinya bergerak di layar. Rara melihatnya sekilas. Kemudian dia tersenyum tipis — bukan ke arah siapapun, hanya ke layarnya — lalu memasukkan HP ke saku.

* * *

Dimas harus pergi sebelum Maghrib. Ada meeting pagi esok hari, katanya, perlu persiapan. Ibu Sri dan rombongan pergi setelahnya. Ruangan jadi sepi lagi — tapi sepi yang berbeda dari tadi pagi. Lebih berat. Lebih penuh, paradoksnya.

Rara berbaring miring, menatap jendela. Di luar, langit sudah gelap. Lampu-lampu kota mulai nyala satu per satu, seperti bintang yang terlalu rendah.

Pikirannya pergi ke tempat yang sudah berkali-kali didatanginya dalam tiga tahun terakhir — ke hari pernikahannya. Bukan momen romantisnya, bukan saat Dimas mengangkat cadarnya dan mereka saling menatap. Tapi ke sebuah momen kecil yang terjadi di sela-sela foto bersama: Rara berdiri di sudut tenda, sedang merapikan jilbabnya, ketika Dita muncul dari arah berlawanan.

Dita yang selalu jujur dengan cara yang kadang menyakitkan. Dita yang bahkan di hari pernikahan sahabatnya tidak bisa menyimpan kekhawatirannya sendirian.

"Kamu yakin, Ra?"

Waktu itu Rara tertawa. "Kenapa nanya gitu?"

"Nggak. Nggak ada apa-apa." Tapi mata Dita melirik sebentar ke arah meja keluarga Dimas — ke arah Ibu Sri yang sedang tertawa bersama tamu-tamu, senyum lebar, mata yang tidak ikut tersenyum. "Kamu yakin?"

"Dita."

"Oke, oke. Lupain. Selamat ya, Ra. Aku serius."

Rara tersenyum kenangan itu dan terasa seperti menggigit daging sendiri.

Dia seharusnya menjawab dengan jujur waktu itu. Seharusnya dia bilang: tidak tahu. Aku tidak tahu apakah aku yakin. Tapi aku sudah terlanjur di sini, sudah terlanjur mencintainya, dan bukankah pernikahan adalah tentang mencoba?

Tapi dia tidak bilang itu. Dia bilang, "Tentu saja yakin," dan melangkah kembali ke tengah tenda untuk sesi foto berikutnya.

* * *

Malam itu, ketika semua orang sudah pulang dan ruangan sudah diselimuti sunyi rumah sakit yang khas — suara monitor yang berirama, langkah suster di luar yang sesekali terdengar, getaran samar dari lorong jauh — Rara melihatnya.

Di meja nakas di sebelah ranjang, di antara jeruk kiriman Mbak Weni dan air mineral yang belum dibuka, ada sebuah botol plastik kecil. Bening. Berisi kapsul berwarna cokelat kehijauan. Di labelnya, tulisan tangan dengan pulpen biru — tulisan Ibu Sri yang selalu miring ke kanan:

Diminum 2x sehari ya, biar cepat kuat. — Ibu.

Rara mengambil botol itu. Membacanya sekali lagi.

Ibu Sri tidak pernah menulis pesan seperti ini untuknya sebelumnya. Tidak pernah. Dalam tiga tahun pernikahan, Ibu Sri menyampaikan segalanya secara langsung — perintah, kritik, nasihat, semua diucapkan. Tidak pernah dituliskan. Tidak pernah dengan kata "biar cepat kuat" yang terdengar seperti kepedulian.

Rara membalik botol itu. Tidak ada keterangan komposisi. Tidak ada nama produsen. Hanya tulisan tangan itu.

Dia memandangi botol itu cukup lama sampai matanya terasa lelah. Lalu dia meletakkannya kembali. Mengambil satu kapsul. Menelannya dengan air mineral yang sudah layu suhunya.

Terlalu lelah untuk berpikir lebih jauh. Terlalu lelah untuk apapun.

Dia mematikan lampu kamar. Di luar jendela, kota masih berdenyut dalam gelapnya. Di dalam, monitor infus masih berbunyi ritmis — tut, tut, tut — seperti jantung yang tidak tahu kapan harus berhenti.

Rara menutup mata.

Di dalam botol kecil itu, dua puluh sembilan kapsul tersisa — menunggu diminum esok pagi, esok malam, lusa, dan seterusnya. Sabar dan diam, seperti sesuatu yang sudah tahu apa yang akan terjadi, meski yang meminumnya tidak.