Kevin Pratama, dua puluh tahun, mahasiswa semester tiga yang lebih sering absen daripada hadir, pulang ke rumah pukul dua siang karena dosen mata kuliah terakhir tidak masuk.

Ini bukan hal luar biasa. Kevin sering pulang di luar jadwal — rumah terlalu besar untuk seseorang menjaganya, dan Ibu Sri biasanya ada atau tidak ada dengan pola yang tidak bisa diprediksi. Yang luar biasa adalah apa yang dia lihat ketika motornya masuk ke halaman.

Sebuah mobil di depan garasi. Bukan mobil Dimas — mobil Dimas Honda Civic hitam, sudah Kevin hafal. Ini Yaris silver yang tidak Kevin kenal. Platnya bukan plat kota ini.

Kevin mematikan mesin motornya. Mengerutkan dahi.

Lalu pintu samping rumah terbuka — pintu yang tembus ke teras belakang, yang biasanya tidak dipakai tamu karena tembus langsung ke area jemuran — dan seorang perempuan keluar. Usia dua puluhan akhir. Rambut dikuncir rendah, baju kasual, tas selempang hitam di bahu. Dia berjalan cepat ke arah Yaris silver tanpa menoleh.

Kevin berdiri di sebelah motornya, kunci masih di tangan.

Perempuan itu membuka pintu mobil, memasukkan tasnya, duduk. Mesin menyala. Mobil keluar dari halaman tanpa terburu-buru, belok kanan, menghilang di tikungan.

Kevin menatap tikungan itu sebentar. Lalu menatap pintu samping yang masih terbuka sedikit.

Rara sedang opname kontrol kehamilan sejak kemarin. Ibu Sri ikut menunggui di RS. Pak Hendra di kantor. Dimas — kata Ibu Sri tadi pagi sebelum berangkat — ada rapat luar kota sampai besok.

Kevin memasukkan kunci motornya ke saku. Masuk ke rumah lewat pintu depan. Tidak bersuara.

* * *

Malam itu, Rara pulang.

Dokter bilang kondisi kandungan stabil — detak jantung ada, posisi baik — dan Rara boleh pulang dengan syarat istirahat total dua hari dan tidak boleh angkat benda berat. Dimas tidak menjemput; dia kirim pesan bahwa masih di luar kota, Ibu Sri yang menemani pulang dengan taksi.

Rara duduk di sofa ruang tengah dengan selimut tipis di pangkuan, menonton TV yang menyala tapi tidak benar-benar menontonnya. Ibu Sri masuk ke dapur untuk membuat teh. Kevin ada di tangga — setengah naik, setengah berdiri, melihat Rara dari sana.

Rara mengambil suplemen malamnya dari meja — tiga jenis, sudah diatur rapi oleh Ibu Sri dalam mangkuk kecil. Vitamin, kapsul jamu, satu sachet herbal yang sudah diseduh. Dia meminumnya satu per satu dengan gerakan yang sudah sangat otomatis, seperti orang yang sudah melakukan sesuatu ribuan kali sehingga tidak perlu lagi berpikir.

Kevin melihat itu. Tangannya menggenggam railing tangga lebih erat.

Tapi dia tidak turun. Tidak berkata apa-apa.

Karena apa yang akan dia katakan? Aku melihat perempuan keluar dari rumah tadi siang? Aku tidak tahu siapa dia? Aku tidak tahu apa-apa, sebetulnya, dan mungkin ini semua tidak ada hubungannya dengan apapun?

Kevin naik ke kamarnya. Menutup pintu. Duduk di tepi ranjangnya dan menatap lantai selama beberapa menit sebelum mengambil HPnya dan membuka game yang sama yang sudah dia mainkan berhari-hari. Layarnya menyala. Jarinya bergerak. Tapi pikirannya ada di tempat lain.

* * *

Tiga hari kemudian, Dimas kembali.

Dia membawa buah-buahan dan senyum yang sudah diasah — senyum yang Rara tahu persis bentuknya sekarang, beda dengan senyum yang genuinely senang. Ini senyum kerja. Senyum yang dipasang karena dibutuhkan.

Ibu Sri bilang kepada semua orang bahwa Dimas "suami yang sangat perhatian" — dan semua orang percaya karena memang tidak ada bukti sebaliknya. Dimas tidak pernah meninggikan suara. Tidak pernah kasar secara fisik. Selalu hadir di momen-momen yang perlu dihadiri. Selalu punya jawaban yang masuk akal untuk pertanyaan yang tidak langsung ditanya.

Rara menerima buah-buahan itu. Bilang terima kasih. Tersenyum.

Malam itu di kamar, Dimas sudah tidur pukul sepuluh — dia bilang kelelahan setelah perjalanan. Rara berbaring di sebelahnya dalam gelap, mendengarkan napasnya yang teratur, dan mencoba mengingat kapan terakhir kali mereka berbicara sungguhan. Bukan soal kandungan. Bukan soal jadwal dokter. Bukan soal kebutuhan rumah tangga. Tapi sungguhan — tentang apapun yang tidak berhubungan dengan hal-hal yang perlu diurus.

Dia tidak bisa ingat.

Pukul sebelas malam, Rara bangkit pelan. Ke dapur. Minum air. Berdiri di depan kulkas yang dingin dengan pintu terbuka, membiarkan udara dingin itu menyentuh wajahnya.

HPnya bergetar di meja makan. Pesan dari kakaknya — kakak kandung satu-satunya, yang tinggal di luar kota. Rara membacanya:

Ra, aku tadi mau mampir minggu depan tapi Dimas bilang kamu perlu istirahat total, tidak boleh ada tamu dulu. Aku ngerti sih, tapi kamu baik-baik aja kan? Kalau butuh apa-apa bilang ya.

Rara membaca pesan itu dua kali. Tiga kali.

Dimas yang bilang tidak boleh ada tamu. Dimas yang membalas pesan kakaknya. Tanpa sepengetahuan Rara. Tanpa bertanya dulu.

Dia meletakkan HP di meja. Kembali ke kamar. Berbaring. Menutup mata.

Besok, katanya pada dirinya sendiri. Besok aku akan tanya.

Besok tidak datang — atau datang tapi selalu ada alasan untuk menunda, selalu ada hal lain yang lebih mendesak, selalu ada Ibu Sri di dekat atau Dimas yang terlihat capek sehingga ini bukan waktu yang tepat.

* * *

Seminggu kemudian, Ibu Sri bilang di meja makan bahwa kakak Rara "sudah dikasih tahu" untuk tidak datang dulu karena "kondisi Rara masih perlu ketenangan."

Diucapkan sambil menyendok sayur. Kepada Pak Hendra, bukan kepada Rara. Seolah Rara tidak ada di meja yang sama.

"Rara perlu istirahat dari segala gangguan," lanjut Ibu Sri. "Terlalu banyak tamu bikin pikiran tidak tenang. Kandungan sensitif sama energi."

Pak Hendra mengangguk. Mengunyah. Tidak berkomentar.

Rara memegang sendoknya di atas piring. Membuka mulut — sudah hampir bicara, sudah menarik napas, sudah menyusun kalimatnya:

Itu kakak saya, Bu. Dia berhak tahu keadaan saya langsung dari saya, bukan dari—

"Rara, tambah nasi?" Ibu Sri sudah berdiri dengan centong di tangan, melihat ke piring Rara.

Kalimat itu mati di tengah jalan.

"Nggak, Bu. Sudah cukup."

Ibu Sri duduk kembali. Makan malam berlanjut. Sendok beradu piring, TV di ruang tengah menyala dengan volume yang terdengar dari sini, dan Rara duduk dengan kalimat yang tidak jadi diucapkan itu terasa seperti tulang yang nyangkut di tenggorokan.

* * *

Malam itu Dimas tidak pulang. Pesan jam delapan: lembur, kemungkinan menginap di kantor. Ibu Sri bilang "kasihan Dimas, kerja keras" dan masuk ke kamarnya pukul sembilan.

Rara sendirian.

Dia duduk di kamarnya sampai pukul sepuluh. Membaca — atau mencoba membaca buku yang sudah terbuka di halaman yang sama selama empat hari. Pikirannya tidak mau diam. Berputar ke sana ke sini seperti air yang mencari celah: pesan kakaknya, HP yang dikontrol Dimas, mobil silver di halaman dua minggu lalu yang Kevin ceritakan sekilas tapi langsung mengalihkan pembicaraan ketika Rara bertanya lebih.

Kevin yang tiba-tiba susah diajak bicara.

Rara meletakkan buku. Berbaring. Langit-langit kamarnya redup — lampu kecil di sudut, sengaja dia kecilkan karena mata mudah lelah belakangan ini. Dari bawah pintu kamar Kevin, ada cahaya tipis. Masih terjaga.

Dia ingin mengetuk. Ingin bertanya langsung: Kev, perempuan itu siapa? Kamu tahu sesuatu yang aku tidak tahu?

Tapi bagian lain darinya — bagian yang sudah terlalu lama belajar untuk tidak membuat masalah, untuk tidak mendramatisasi, untuk tidak menjadi istri yang tidak percaya suami — bagian itu berkata: tunggu. Mungkin kamu salah. Mungkin ini tidak ada apa-apanya.

Rara memejamkan mata.

Dan kemudian — perlahan, seperti air yang meresap — tiga tahun itu datang semua sekaligus. Bukan dalam bentuk gambar atau kenangan spesifik, tapi dalam bentuk rasa. Rasa capek yang sudah menumpuk terlalu lama. Rasa sendirian di rumah yang penuh orang. Rasa kehilangan yang belum pernah betul-betul diberi ruang untuk dirasakan — dua kali kehilangan, dua kali bayi yang tidak sempat bernafas, dua kali Rara bangun di rumah sakit dan menemukan Ibu Sri bicara tentang rahimnya kepada perawat dengan nada yang sama seperti membicarakan mesin yang rusak.

Rara bangkit dari ranjang.

Ke kamar mandi. Menutup pintu. Mengunci.

Dia berdiri sebentar di depan cermin — wajahnya di bawah lampu kamar mandi yang putih terlihat lebih pucat dari yang dia kira. Lebih kurus. Lebih lelah. Seperti wajah orang yang sudah berlari sangat jauh dan baru menyadarinya sekarang karena baru berhenti.

Dan kemudian lututnya melipat sendiri.

Dia duduk di lantai kamar mandi — punggung bersandar di dinding di bawah wastafel, lutut ditarik ke dada, kepala sedikit tertunduk. Lantai keramiknya dingin, tapi Rara tidak berdiri lagi.

Suara yang keluar pertama bukan tangisan — lebih seperti sesuatu yang patah. Seperti kayu yang sudah lama menahan beban dan akhirnya retak dari dalam. Tidak keras. Justru terlalu pelan — ditahan di pangkal tenggorokan karena kamar Kevin ada di seberang tembok dan Ibu Sri tidur di ujung lorong dan Rara sudah terlalu terlatih untuk tidak bersuara bahkan ketika sedang hancur.

Tapi tubuhnya bergetar. Bahunya naik turun. Tangannya yang gemetar mencengkeram lutut sendiri karena tidak ada yang lain untuk dipegang.

Dia menangis untuk dua bayi yang tidak sempat dia gendong. Untuk nama-nama yang sudah dia pikirkan dalam diam dan tidak pernah diucapkan ke siapapun. Untuk setiap pagi dia bangun pukul empat dan memasak dan mencuci dan tersenyum dan mengangguk dan menelan semua kalimat yang ingin dia keluarkan. Untuk Dita yang tidak bisa dia temui. Untuk kakaknya yang tidak bisa datang. Untuk dirinya sendiri yang sudah tiga tahun ini perlahan-lahan menjadi lebih kecil — lebih diam, lebih menurut, lebih tidak ada — dan tidak tahu persis kapan prosesnya dimulai.

Di rak sabun di sudut kamar mandi — di antara sabun cair dan sampo — ada sebuah sikat gigi bayi. Kecil, berwarna kuning, masih dalam plastik bungkusnya. Rara membelinya dua tahun lalu, saat kehamilan pertama, di bulan ketiga ketika dia masih percaya bahwa ini akan baik-baik saja. Dia tidak pernah membuangnya. Tidak pernah bisa.

Rara menatap sikat gigi itu dari lantai. Matanya sudah bengkak. Napasnya tersengal-sengal dengan ritme yang tidak beraturan.

Dia duduk di sana mungkin setengah jam. Mungkin lebih. Sampai lantai terasa terlalu dingin dan punggungnya mulai pegal dan air matanya habis karena memang ada batasnya, ternyata, bahkan untuk kesedihan yang sudah ditumpuk terlalu lama.

Dia berdiri. Membasuh muka. Minum air langsung dari keran. Menatap wajahnya di cermin sekali lagi — sekarang matanya bengkak dan hidungnya merah, tapi ekspresinya sudah dia kembalikan ke netral.

Keluar dari kamar mandi. Kembali ke ranjang.

* * *

Pukul dua belas lewat lima belas, HPnya bergetar.

Pesan dari nomor yang tidak tersimpan — bukan nomor yang Rara kenal formatnya.

Dia membukanya setengah mengantuk. Foto.

Butuh beberapa detik untuk matanya menyesuaikan dengan cahaya layar di ruang gelap. Lalu gambarnya jelas.

Restoran. Meja di sudut, cahaya remang. Dimas — Rara mengenali kemeja yang dipakainya, kemeja biru garis-garis yang dia belikan setahun lalu — duduk berhadapan dengan seorang perempuan. Rambut dikuncir rendah. Mereka sedang tertawa. Tangan mereka di atas meja, berdekatan — tidak bersentuhan, tapi dengan jarak yang terlalu dekat untuk sekadar rekan kerja.

Foto itu dikirim tanpa kata-kata. Tanpa penjelasan. Tanpa konteks.

Rara memperbesar gambarnya. Melihat wajah perempuan itu lebih dekat.

Dia tidak mengenalnya. Tidak pernah melihatnya sebelumnya — atau pernah? Ada sesuatu yang familiar di garis rahangnya, di cara dia memiringkan kepala ketika tertawa, tapi Rara tidak bisa meletakkan dari mana.

Dia menatap foto itu sampai matanya terasa panas. Sampai gambarnya mulai terlihat bergerak karena terlalu lama difokuskan.

Lalu layar HPnya redup. Mati. Baterai habis.

Rara duduk dalam gelap total di atas ranjangnya, dengan HP yang tidak bisa dinyalakan, dengan foto yang tidak bisa lagi dia lihat tapi tidak bisa dia hapus dari pikirannya. Perempuan itu siapa. Kapan ini diambil. Siapa yang mengambilnya. Siapa yang mengirimkannya ke Rara dan mengapa.

Di luar kamarnya, rumah sunyi. Tidak ada suara selain kipas angin lorong dan sesekali suara jangkrik dari halaman.

Rara berbaring dengan HP mati di tangannya, menatap langit-langit yang tidak bisa dia lihat dalam gelap.

Di kepalanya, dua hal berputar bersamaan dan tidak mau berhenti: wajah perempuan dalam foto itu, dan sikat gigi bayi berwarna kuning yang masih tersimpan di rak sabun kamar mandi, masih dalam plastiknya, masih menunggu.