Jam empat kurang seperempat, alarm di HP Rara berbunyi dengan nada yang sudah dikondisikan untuk tidak terlalu keras — agar tidak membangunkan Dimas.
Ini sudah menjadi ritme yang tidak pernah didiskusikan, tidak pernah diminta secara eksplisit, tapi entah bagaimana sudah menjadi hukum tidak tertulis sejak mereka pindah ke rumah orang tua Dimas dua bulan lalu. Dimas bilang "lebih praktis untuk sementara" — cicilan rumah mereka masih berjalan, tapi kondisi Rara pasca keguguran pertama dianggap perlu pengawasan. Pengawasan siapa, tidak pernah benar-benar dijelaskan. Tapi kemudian keguguran kedua terjadi, dan "sementara" itu memanjang tanpa batas waktu yang jelas.
Rara bangun. Melipat selimut. Berjalan ke kamar mandi dengan hati-hati agar lantai tidak berderit.
Di cermin, dia melihat wajahnya sebentar — lebih lama dari yang dia inginkan. Lingkaran hitam di bawah matanya sudah tidak bisa disembunyikan dengan concealer biasa. Rambutnya yang dulu tebal sekarang selalu terasa lebih tipis ketika disisir. Dia memalingkan muka dari cermin dan mulai menyikat gigi.
Pukul empat tepat, Rara sudah di dapur.
* * *
Dapur rumah Ibu Sri adalah dapur yang dikuasai sepenuhnya oleh pemiliknya — bukan dengan cara menguncinya, tapi dengan cara yang lebih halus dan lebih efektif: dengan hadir di sana setiap kali Rara memasak, duduk di kursi pendek dekat kompor, dan memberikan komentar yang tidak pernah berhenti.
Pagi ini Rara memasak nasi goreng dan telur dadar — sarapan yang paling cepat dan paling jarang salah.
"Api-nya terlalu besar, nanti gosong." Ibu Sri datang pukul setengah enam, sesuai jadwal, dengan daster batik dan rambut yang sudah rapi disisir ke belakang. Dia duduk di kursinya, menuang teh dari termos, mengawasi.
Rara mengecilkan api.
"Bawangnya kurang. Makanan tidak sedap kalau bawangnya pelit."
Rara menambahkan bawang.
"Kamu makan apa tadi malam? Wajah kamu pucat." Ini bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban — Ibu Sri sudah mengalihkan pandangannya ke luar jendela, ke arah pohon mangga di halaman. "Kalau kurang makan, tubuh kamu tidak kuat. Pantas saja kandungan kamu susah kuat, badan kamu saja kurus begini."
Diucapkan dengan nada yang sama seperti orang mengamati cuaca. Tidak ada nada jahat. Tidak ada maksud menyakiti yang terlihat. Hanya observasi — seperti dokter yang membaca hasil lab dan menyebutkan temuannya kepada pasien.
Rara mengaduk nasi goreng. "Sudah makan, Bu."
"Makan apa?"
"Roti."
Ibu Sri mendengus pelan — bukan dengus kesal, hanya dengus yang menyatakan bahwa roti tidak masuk dalam kategori makan yang sesungguhnya. "Besok masak yang benar. Badan kamu perlu nasi, bukan udara."
Rara meletakkan nasi goreng di piring. Mengoreng telur dadar. Menata meja makan. Semua dalam diam yang sudah menjadi bahasa keduanya — bahasa yang tidak perlu dipelajari karena sudah datang sendiri, pelan-pelan, seperti air yang meresap ke lantai retak.
* * *
Dimas sarapan sambil membaca berita di HP. Dia mengucapkan "enak" sekali — satu kata, tanpa menengok dari layarnya — lalu pergi pukul tujuh kurang dengan tas kerja di bahu dan parfum yang sudah terlalu Rara kenal.
"Pulang jam berapa?" tanya Rara dari depan pintu.
"Nggak tau. Ada rapat sore. Mungkin malam."
Mungkin malam. Sudah dua minggu terakhir jawabannya selalu "mungkin malam." Kadang menjadi tengah malam. Kadang tidak pulang sama sekali dengan alasan menginap di kantor karena deadline. Rara tidak pernah mempertanyakannya. Mempertanyakan terasa seperti menuduh, dan menuduh terasa seperti menjadi istri yang tidak percaya, dan menjadi istri yang tidak percaya adalah satu lagi hal yang Rara tidak sanggup ditambahkan ke daftar kesalahan yang sudah dituduhkan kepadanya.
Dia mengirim pesan ke Dimas tiga jam kemudian — hanya menanyakan apakah perlu menyiapkan makan siang. Dimas membalas dua kata: "Udah makan."
HP itu. Rara menatapnya sebentar. HP lamanya — yang dia beli sendiri sebelum menikah, dengan uang gajinya sendiri — sekarang ada di laci meja Dimas. "Biar aku yang pegang dulu," kata Dimas tiga bulan lalu, setelah keguguran kedua. "Supaya kamu tidak tergoda buka sosmed, tidak bagus buat kondisi mental kamu." Kedengarannya masuk akal. Kedengarannya seperti kepedulian. Dan Rara yang waktu itu masih dalam haze pasca kehilangan mengangguk saja.
Sekarang dia pakai HP murah yang dibelikan Dimas — layarnya kecil, aplikasinya terbatas. Cukup untuk terima telepon dan kirim pesan. Cukup, kata Dimas.
* * *
Dita menelepon pukul dua belas siang.
"Ra, aku lagi di daerah kamu nih. Mau ketemu nggak? Makan siang bareng?"
Rara duduk di kursi kamarnya, menatap dinding. Di luar kamar, suara TV dari ruang tengah — Ibu Sri sedang nonton sinetron siang, rutinitas yang tidak pernah berubah.
"Nggak bisa, Dit. Ada keperluan keluarga."
Sepi sebentar di ujung telepon. "Keperluan apa?"
"Ada... Ibu mertua mau dianter ke dokter." Rara tidak tahu kenapa dia berbohong. Atau mungkin dia tahu — dia tidak ingin Dita melihat kamarnya yang berantakan, wajahnya yang pucat, rambutnya yang dia tidak sempat keramas dua hari. Tidak ingin Dita melihat dan mulai bertanya dengan mata dokternya itu.
"Oh." Dita tidak terdengar percaya, tapi juga tidak memaksakan. "Oke. Kapan-kapan ya. Kangen nih."
"Iya, aku juga."
Telepon ditutup. Rara duduk dengan HP di tangan, menatap nama Dita di layar yang sudah gelap kembali. Ada sesuatu yang ingin dia kirimkan — pesan panjang, mungkin, atau justru hanya tiga kata: tolong temui aku. Tapi jarinya tidak bergerak.
Di luar kamarnya, volume TV naik satu tingkat.
* * *
Dimas pulang pukul delapan malam dengan kotak pisang molen dari toko favorit Rara — toko di dekat kantor yang antreannya bisa sampai satu jam. Rara tahu itu karena dulu, di awal-awal mereka pacaran, Dimas pernah antre satu jam untuk membawakan pisang molen itu sebagai kejutan. Momen itu sudah Rara ceritakan ke Dita berkali-kali sebagai bukti bahwa Dimas, di dasarnya, adalah orang yang baik.
"Ini." Dimas menyerahkan kotak itu sambil melepas sepatunya. "Tahu kamu suka."
Rara menerima kotak itu. Masih hangat.
Ada sesuatu yang bergerak di dadanya — bukan kebahagiaan, atau belum tentu kebahagiaan, tapi sesuatu yang mirip dengannya. Harapan, mungkin. Atau keinginan untuk berharap.
"Makasih, Mas."
Dimas mengangguk. Berjalan ke kamar mandi. Keluar dua puluh menit kemudian dengan baju ganti, duduk di depan TV, menyalakan channel berita. Rara duduk di sebelahnya, membuka kotak pisang molen, menawarkan satu. Dimas mengambil tanpa menengok dari TV.
Mereka duduk berdampingan selama hampir satu jam. Tidak banyak bicara. Tapi untuk satu jam itu, dengan kehangatan pisang molen di tangan dan suara TV yang mengisi keheningan, Rara membiarkan dirinya percaya — ini masih bisa baik-baik saja. Ini hanya fase sulit. Semua pernikahan punya fase sulit.
Ibu Sri masuk dari kamarnya untuk mengambil air minum, melihat mereka berdua di sofa, dan berkata tanpa berhenti berjalan: "Jangan begadang, Rara. Badan kamu perlu istirahat." Lalu masuk kembali ke kamarnya.
Dimas tidak berkomentar. Rara juga tidak.
Pukul sepuluh malam, Dimas bilang mengantuk dan masuk ke kamar. Rara membereskan sisa pisang molen, mencuci gelas, mengunci pintu depan. Lalu ke kamar mandi, lalu ke ranjang.
Rumah sudah sunyi ketika Rara menyadari dia haus. Dia bangkit, berjalan ke dapur, mengambil air dari kulkas. Dan ketika berjalan kembali melewati pintu belakang dapur yang tembus ke teras, dia berhenti.
Dari luar teras, ada suara.
Dimas. Di luar. Menelepon.
Rara berdiri di celah pintu yang terbuka setengah, gelas air di tangannya, tidak bergerak.
"...iya... sabar ya... sebentar lagi..."
Suaranya rendah, tapi tidak berbisik. Rara belum pernah mendengar nada itu sebelumnya — bukan nada kantor, bukan nada bicara dengan teman, bukan nada yang pernah dia gunakan berbicara dengannya. Ada sesuatu yang lebih lembut di sana, dan kelembutannya adalah hal yang paling menyakitkan.
Rara berdiri di sana mungkin tiga puluh detik — atau mungkin lebih lama, tidak bisa dipastikan — sebelum melangkah mundur ke dapur, menuang air ke bak, dan kembali ke kamar dengan tangan kosong.
Dia berbaring. Menutup mata.
Mungkin cemburu biasa, katanya pada dirinya sendiri. Mungkin temannya. Mungkin saudara. Mungkin urusan kantor yang sensitif. Ada seribu kemungkinan yang lebih masuk akal dari yang satu itu.
Tapi malam itu, untuk pertama kali sejak keguguran ketiga tiga minggu lalu, Rara tidak bisa tidur — bukan karena sedih. Bukan karena sakit. Tapi karena satu pertanyaan yang terus berputar di balik matanya yang terpejam:
Kapan terakhir kali Dimas tertawa seperti itu bersamanya?
Dia mencoba mengingat. Mencari momen itu dalam tiga tahun pernikahan, dalam ratusan hari yang sudah berlalu.
Tidak ketemu.
Dia tidak bisa ingat.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar