Dua strip. Dua garis merah tipis yang muncul sebelum tiga menit habis — bahkan sebelum Rara sempat meletakkan alat tes itu di tepi wastafel dan menarik napas satu kali.
Dia duduk di lantai kamar mandi untuk beberapa saat. Tidak karena lemas — kakinya masih kuat. Tapi karena tiba-tiba lantai keramik yang dingin itu terasa seperti satu-satunya hal yang cukup nyata untuk dipijak.
Hamil lagi. Kehamilan keempat.
Rara menatap dua garis itu sampai matanya sedikit berair — bukan karena menangis, tapi karena terlalu lama tidak berkedip. Lalu dia berkedip. Berdiri. Membuang alat tes ke tempat sampah di balik pintu. Dan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah dia atur kembali menjadi netral, seperti mengenakan topeng yang sudah terlalu sering dipakai sehingga sudah tahu persis kontur wajahnya.
Dia belum siap memberitahu siapapun. Belum.
Tapi rumah ini tidak memberi ruang untuk rahasia yang bertahan lebih dari dua hari.
* * *
Ibu Sri tahu pada hari ketiga — bukan karena Rara memberitahu, tapi karena Ibu Sri memperhatikan hal-hal yang tidak Rara sadari sedang diamati. Cara Rara makan lebih lambat. Cara dia menghindari bau tertentu dari dapur. Cara dia duduk dengan tangan sedikit melindungi perutnya sendiri, gerakan refleks yang tidak disengaja.
"Kamu hamil lagi." Bukan pertanyaan. Ibu Sri mengatakannya saat sarapan, sambil menuang kuah sayur ke piringnya sendiri, tanpa menoleh ke Rara.
Rara menggenggam sendok lebih erat. "Iya, Bu."
Ibu Sri mengangguk pelan. "Dimas sudah tahu?"
"Belum."
"Kasih tahu sekarang. Ini kabar baik." Ibu Sri akhirnya menoleh, dan di wajahnya ada sesuatu yang Rara sulit baca — campuran antara harapan dan kewaspadaan, seperti orang yang sudah terlalu sering berharap dan terlalu sering kecewa. "Kali ini harus dijaga betul. Tidak boleh asal-asalan."
Rara mengangguk.
Dimas diberitahu malam itu. Dia mencium kening Rara, bilang "alhamdulillah", dan mengirim pesan ke grup keluarga. Dalam satu malam, semua orang sudah tahu. Ucapan selamat mengalir — dari paman, tante, sepupu, tetangga. Semuanya gembira dengan cara yang terasa terlalu seragam, terlalu cepat, seperti naskah yang sudah disiapkan sebelumnya.
Rara membalas satu per satu dengan emoji senyum. Tangannya tidak gemetar. Wajahnya tidak memperlihatkan apa-apa.
Di dalam dadanya, ada sesuatu yang tidak bisa dia beri nama — bukan kebahagiaan, bukan ketakutan. Sesuatu di antaranya, mungkin. Semacam doa yang tidak berani diucapkan terlalu keras karena takut Tuhan mendengar dan mengira ini permintaan.
* * *
Minggu pertama, Ibu Sri mengambil alih segalanya.
Ini tidak diumumkan, tidak didiskusikan — terjadi begitu saja, seperti air yang mengalir ke tempat terendah. Tiba-tiba ada jadwal makan yang ditempel di kulkas — sarapan jam tujuh, makan siang jam dua belas tepat, makan malam jam enam. Tiba-tiba ada tiga jenis suplemen yang diletakkan di meja makan Rara setiap pagi: satu botol vitamin dari apotek yang nama merknya Rara kenal; satu bungkus kapsul jamu dalam plastik ziplock tanpa label yang kata Ibu Sri dari "orang pintar langganan keluarga, sudah terbukti turun-temurun"; dan satu kotak berisi sachet minuman herbal berwarna cokelat yang katanya dari teman arisan Ibu Sri di kampung.
"Ini semua bagus untuk kandungan," kata Ibu Sri sambil menunjuk satu per satu. "Vitamin buat daya tahan. Jamu buat kuatin rahim. Yang sachet buat sirkulasi darah, biar nutrisi ke bayi lancar."
Rara menatap ketiga benda itu. "Aman diminum bareng, Bu?"
"Sudah terbukti. Mbak-mbak arisan pada minum ini waktu hamil, semuanya selamat." Ibu Sri merapikan botol vitamin itu dengan gerakan yang sangat yakin. "Dokter-dokter itu maunya kasih obat kimia terus. Nenek moyang kita dulu tidak pakai kimia, tapi anaknya sehat-sehat."
Rara ingin bertanya lebih — ingin melihat komposisinya, ingin konsultasikan dulu ke dokter. Tapi kalimat itu sudah ada di ujung lidahnya ketika Ibu Sri menambahkan: "Kalau kamu tidak percaya, ya sudah. Tapi jangan salahkan Ibu kalau nanti hasilnya sama seperti sebelumnya."
Kalimat itu bukan ancaman. Diucapkan dengan nada yang sangat datar, sangat biasa, seperti pernyataan cuaca. Tapi efeknya tidak berbeda dari ancaman.
Rara mengambil satu kapsul jamu. Menelannya dengan air.
* * *
Kontrol pertama kehamilan ini dilakukan di minggu keenam. Dimas yang mengantarkan — selalu Dimas yang mengantarkan, karena Rara tidak lagi punya akses ke rekening bersama untuk ongkos taksi, dan Ibu Sri bilang lebih baik ada yang menemani daripada pergi sendiri "kalau ada apa-apa di jalan."
Di klinik, dokter kandungan — dr. Hendra, yang sudah merawat Rara sejak kehamilan pertama — melakukan USG dan tersenyum waktu melihat layarnya. "Bagus. Detak jantung ada, posisi baik." Dia mencetak foto USG dan menyerahkan ke Rara.
Rara menerima foto itu dengan kedua tangan.
Ini seharusnya momen yang membuat dia menangis lega. Dua kehamilan sebelumnya, dia selalu menangis saat melihat foto USG pertama — tangis yang bercampur antara syukur dan takut. Tapi kali ini matanya kering. Hanya ada denyut pelan di dadanya — bukan kegembiraan, tapi sesuatu yang lebih waspada dari itu.
Dr. Hendra mulai menjelaskan saran-saran perawatan. Rara mendengarkan — atau mencoba mendengarkan — ketika Dimas memotong: "Dok, soal suplemen herbal, aman ya kalau istri saya minum bersamaan dengan vitamin dari sini?"
Dr. Hendra mengerutkan dahi. "Suplemen herbal yang mana?"
"Jamu dari... keluarga. Sudah turun-temurun."
"Saya sarankan hati-hati dengan herbal yang komposisinya tidak jelas. Kalau bisa, tidak usah dulu selama trimester pertama—"
"Iya, iya, tentu." Dimas mengangguk, menyela dengan ramah tapi tegas. "Kami pasti hati-hati, Dok. Istri saya juga sudah tahu dosisnya." Dia menoleh ke Rara dengan senyum yang terlihat sangat wajar. "Kan, Ra?"
Rara membuka mulut.
"Iya." Kata itu keluar begitu saja, seperti refleks.
Dr. Hendra menatapnya sebentar — pandangan yang sedikit terlalu lama untuk sekadar konfirmasi biasa — tapi kemudian kembali ke catatan medisnya. "Baik. Kita pantau perkembangannya. Dua minggu lagi kontrol ya."
* * *
Kondangan sepupu Rara jatuh di minggu ketujuh kehamilan. Rara hampir tidak jadi pergi — badannya tidak enak sejak pagi, mual yang lebih berat dari biasanya, seperti sesuatu yang bergolak di bagian terdalam perutnya, berbeda dari mual kehamilan yang sudah dia kenal.
Tapi Dimas bilang pergi. "Keluargamu sendiri, tidak sopan kalau tidak hadir." Dan Ibu Sri menambahkan bahwa udara segar bagus untuk kehamilan.
Di kondangan itulah Rara bertemu Dita.
Mereka bertemu di dekat meja prasmanan — Dita dengan gaun hijau yang membuat wajahnya terlihat segar, Rara dengan kebaya biru yang sudah sedikit longgar di bagian pinggang.
"Ra." Dita memeluknya dulu sebelum bicara apapun. Pelukannya selalu seperti ini — penuh dan tidak buru-buru, seperti orang yang genuinely ingin seseorang merasa bahwa mereka dipeluk. "Kamu oke?"
"Oke." Rara tersenyum. "Kamu gimana?"
"Aku baik." Tapi mata Dita sudah bergerak — turun ke tangan Rara, sekilas, lalu naik lagi ke wajahnya. Rara melihat itu. Mau tidak mau dia melihatnya.
"Ada apa?" tanya Rara.
"Nggak ada." Dita mengambil satu piring kecil dari meja. "Kamu sudah makan? Nasi gorengnya enak kayaknya—"
"Dita."
Dita berhenti. Menoleh. Dan sebentar itu, di antara suara gamelan dan tamu-tamu yang lalu lalang, matanya bertemu mata Rara dengan cara yang tidak bisa pura-pura.
"Tangan kamu tremor, Ra."
"Aku capek aja."
"Ini bukan tremor capek." Dita berbicara pelan, hampir berbisik. "Ini berbeda. Sudah berapa lama?"
Rara mau menjawab — mau bilang bahwa dia sendiri tidak yakin, bahwa kadang tangannya memang tidak bisa diam, bahwa mungkin ini efek suplemen atau efek kurang tidur — ketika dari arah belakang terdengar suara Dimas.
"Rara, sini sebentar. Tante Yuni mau ketemu."
Dimas sudah di sebelah Rara, tangannya di pinggang Rara dengan sentuhan yang terlihat mesra dari luar. Dia menoleh ke Dita dengan senyum yang hangat. "Dita, apa kabar? Lama tidak ketemu."
"Baik, Mas." Dita tersenyum balik. Tapi matanya — Rara melihat ini — tidak ikut tersenyum.
"Kami permisi dulu ya." Dimas sudah membimbing Rara pergi sebelum Rara sempat bilang apapun. "Sebentar lagi ketemu lagi."
Rara melirik ke belakang satu kali. Dita masih berdiri di dekat meja prasmanan, menatap kepergian mereka. Di tangannya, piring kecil yang belum diisi apa-apa.
* * *
Malam setelah kondangan, Rara mual sampai dua kali muntah. Dimas sudah tidur. Rara ke kamar mandi sendiri, duduk di tepi bak mandi, menunggu perutnya tenang.
Mual ini berbeda. Itu yang terus terlintas di pikirannya — bukan karena dia seorang dokter atau ahli, tapi karena ini bukan kali pertama dia hamil. Dia kenal mual kehamilan. Kenal teksturnya, kenal ritmenya, kenal bagaimana rasanya di jam-jam tertentu. Dan ini bukan itu.
Ini lebih dalam. Seperti sesuatu yang naik bukan dari perut, tapi dari tempat yang lebih dalam — dari tulang, mungkin, atau dari sesuatu yang tidak punya nama anatomi.
Tapi dia tidak bilang ke siapapun. Tidak ke Dimas — yang akan mengalihkan ke Ibu Sri. Tidak ke Ibu Sri — yang akan bilang ini karena Rara kurang bersyukur atau kurang berdoa. Tidak ke dokter — karena jadwal kontrol masih seminggu lagi dan Dimas yang akan mengantarkan dan semua yang ingin Rara tanyakan akan disaring dulu.
Dia kembali ke kamar. Berbaring. Memejamkan mata.
Esok paginya, Rara menumpahkan sachet herbal di wastafel dapur saat hendak menyeduhnya. Tepung cokelat berhamburan di permukaan wastafel putih yang baru dibersihkan. Dia mengelusnya dengan sisi tangannya, mengumpulkan yang bisa dikumpulkan — dan berhenti.
Di bawah cahaya lampu dapur yang jatuh dari atas, serbuk yang terkumpul di telapak tangannya terlihat cokelat di bagian atas.
Tapi di bagian bawah — bagian yang menyentuh wastafel putih, yang belum tercampur dengan lapisan atasnya — warnanya kehijauan.
Rara mengerutkan dahi. Mengambil sachet baru dari kotak. Mengguncangnya. Membukanya sedikit, mencium baunya — jahe, seperti biasa. Tidak ada yang aneh.
Mungkin memang ada dua komponen yang terpisah, pikirnya. Jamu tradisional memang sering begitu — bahan-bahannya tidak selalu tercampur rata. Bukan hal yang aneh.
Dia membuang serbuk yang tumpah ke tempat sampah. Menyeduh sachet yang baru. Meminumnya berdiri di depan kompor, menatap halaman belakang melalui jendela kecil yang kacanya sudah sedikit buram.
Dari lantai dua, suara langkah Ibu Sri menuruni tangga — berat, teratur, seperti jam yang tidak pernah salah waktu.
Rara meletakkan gelas kosongnya di bak cuci piring.
Di tempat sampah, di bawah kulit bawang dan sisa teh semalam, serbuk kehijauan itu sudah bercampur dengan sampah lainnya. Tidak bisa dibedakan lagi. Tidak bisa dikembalikan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar