Apartemen itu terletak di lantai tujuh gedung yang tidak punya nama mencolok — hanya nomor dan nama jalan. Bukan tempat mewah. Dindingnya bersih tapi catnya sudah mulai mengelupas di sudut-sudut. Furniturnya standar: sofa abu-abu, meja kopi, dapur kecil yang menghadap ruang tamu. Jendela menghadap ke barat, dan sore hari cahayanya masuk seperti irisan — panjang, kuning keemasan, menyapu lantai keramik yang belum dipel sejak kemarin.
Nadia Wirastuti tidak keberatan dengan apartemen ini. Dia yang memilihnya, dua tahun lalu, dengan pertimbangan yang lebih praktis dari estetis: tidak ada CCTV di lobi, tidak ada satpam yang terlalu cermat, jarak dari klinik tempat dia bekerja cukup jauh untuk menghindari teman kerja yang kebetulan lewat.
Dimas datang pukul empat lewat dua puluh. Nadia sudah di sofa dengan laptop terbuka di pahanya ketika pintu dibuka dengan kunci cadangan yang memang dia berikan.
"Macet," kata Dimas tanpa diminta, melempar kuncinya ke mangkuk kecil di meja dekat pintu.
"Tidak apa-apa." Nadia menutup laptop. Menatapnya.
Dimas duduk di sofa sebelahnya. Tidak langsung bicara — dia melepas sepatunya dulu, satu per satu, meletakkannya dengan rapi di sudut. Lalu bersandar ke belakang, menatap langit-langit, dan menghembuskan napas panjang seperti orang yang baru selesai lari jauh.
Nadia membiarkannya. Dia sudah kenal ritme ini.
"Kontrol pertama minggu depan," kata Dimas akhirnya.
"Aku tahu. Sudah aku hitung."
"Kamu sudah siap?"
Nadia bangkit, berjalan ke dapur, menuang dua gelas kopi dari termos. Dia tidak menjawab pertanyaan itu langsung — bukan karena ragu, tapi karena pertanyaan itu tidak memerlukan jawaban. Tentu saja dia sudah siap. Dia selalu siap. Itu bukan pertanyaan tentang kesiapan; itu pertanyaan tentang konfirmasi, dan konfirmasi bisa menunggu sampai kopi ada di tangan.
Dia meletakkan satu gelas di hadapan Dimas. Duduk di kursi seberang — bukan di sebelahnya. Jarak yang sudah menjadi kebiasaan mereka di sini: dekat untuk bicara, jauh untuk berpikir jernih.
"Stok sudah aku siapkan," kata Nadia. "Cukup untuk dua bulan. Setelah itu kita lihat lagi perkembangannya."
Dimas mengangguk. Mengangkat gelas kopinya.
* * *
Mereka bertemu pertama kali sebelas tahun lalu — SMA yang sama, kelas yang berbeda, tapi satu ekskul yang mempertemukan. Nadia ingat Dimas sebagai anak yang terlalu tenang untuk usianya: tidak ikut ribut ketika teman-temannya ribut, tidak panik ketika ujian mendekat, tidak pernah terlihat kehilangan kendali atas apapun. Kualitas yang waktu itu Nadia anggap sebagai kedewasaan. Sekarang dia tahu nama yang lebih tepat untuk itu.
Mereka putus kontak setelah lulus. Bertemu lagi lima tahun lalu di sebuah pernikahan teman yang sama — Dimas sudah dengan Rara waktu itu, sudah setengah jalan menuju pernikahan mereka sendiri. Nadia yang baru saja keluar dari hubungan yang buruk duduk di meja yang sama dengan Dimas dan mendengarkan dia bicara tentang masa depan dengan cara yang terdengar sangat meyakinkan.
Tiga bulan setelah pernikahan Dimas dan Rara, Nadia mengirim pesan singkat. Hanya menanyakan kabar. Dimas membalas dalam dua menit.
Dan kemudian semuanya berjalan dengan logika yang, kalau dilihat dari luar, mungkin terlihat tidak masuk akal. Tapi dari dalam, dari sudut pandang Nadia yang sudah memilih untuk tidak menggunakan kata-kata seperti "salah" atau "benar" sejak lama, semuanya terasa sangat masuk akal. Dimas tidak bahagia — dia katakan itu dari awal, tanpa basa-basi. Pernikahan itu bukan pilihan yang dia buat dengan sepenuh hati; ada tekanan keluarga, ada ekspektasi, ada momentum yang terlanjur berjalan. Dan Nadia yang mendengarkan ini di sebuah kafe di luar kota pada suatu Sabtu siang merasa bahwa dia, akhirnya, menemukan seseorang yang bicara dengan jujur.
Rencana itu muncul setahun kemudian — setelah keguguran pertama Rara, setelah klaim asuransi jiwa yang pertama gagal karena polisnya belum cukup lama. Dimas yang menyebutnya pertama kali, dengan suara yang sama tenangnya dengan ketika dia bicara soal apapun. "Ada celah di polis prenatal," katanya. "Kalau bayi meninggal sebelum lahir, ada klaim tersendiri. Dan aku yang mendaftarkannya."
Nadia diam sebentar. Lalu bertanya, "Berapa?"
Dan dari sana semuanya menjadi hitung-hitungan. Bukan keputusan besar yang diambil dalam satu malam dengan drama — tapi serangkaian keputusan kecil yang masing-masing terasa seperti satu langkah logis dari langkah sebelumnya. Nadia bekerja di klinik kandungan; dia punya akses. Senyawa yang diperlukan bisa didapatkan lewat jalur yang tidak meninggalkan jejak langsung. Ibu Sri yang tidak tahu apa-apa dengan senang hati menjadi perantara suplemen — semua orang tahu Ibu Sri percaya pada jamu dan herbal tradisional, tidak ada yang aneh dengan itu.
Rapi. Terencana. Dingin seperti spreadsheet.
* * *
"Berapa totalnya sekarang?" tanya Dimas.
Nadia membuka laptopnya kembali. Layarnya memuat sebuah file yang tidak punya nama yang mencolok — hanya angka dan tanggal, tampak seperti catatan keuangan biasa kalau ada yang mengintip. Dia menggeser layar sedikit agar Dimas bisa melihat.
"Dua klaim sudah cair. Satu masih proses administrasi — harusnya bulan depan." Jarinya menunjuk satu baris. "Total yang sudah masuk, delapan puluh tujuh juta. Yang masih proses, tiga puluh dua juta."
Dimas menyipitkan mata, menghitung. "Masih jauh dari target."
"Makanya kita perlu satu kali lagi." Nadia menutup laptop. "Setelah ini cukup. Angkanya sudah bisa untuk apa yang kita rencanakan."
Dimas tidak langsung menjawab. Dia memutar gelas kopinya di tangan — kebiasaan yang Nadia sudah hafal sebagai tanda dia sedang menimbang sesuatu. Bukan ragu. Hanya menghitung.
"Ibu Sri tidak curiga?"
"Tidak ada alasan untuk curiga. Dia percaya ini jamu keluarga. Dia yang membawanya ke Rara setiap hari dengan keyakinan penuh." Nadia bicara tanpa nada — bukan dingin, hanya efisien. "Justru itu yang membuat semuanya bersih. Tidak ada yang bisa ditelusuri ke kita."
Dimas mengangguk pelan.
Rara. Nama itu mengambang di antara mereka tapi tidak diucapkan — tidak perlu diucapkan. Mereka berdua tahu siapa yang dimaksud ketika berbicara soal "proses" dan "klaim" dan "satu kali lagi." Nama itu hanya akan membuat segalanya lebih berat dari yang diperlukan, dan baik Dimas maupun Nadia sudah lama memutuskan untuk tidak membawa beban yang tidak diperlukan.
Di kantong jaket Dimas, ada sesuatu yang terselip tanpa dia ingat — foto USG dari kontrol minggu lalu yang jatuh dari map Rara ke dalam mobilnya. Dia tidak sadar membawanya. Nadia melihatnya ketika jaket itu tergantung di balik pintu — sudut kertas putih yang terlihat dari kantong luar.
Dia mengambilnya. Melihatnya sebentar.
Foto USG itu kecil — ukuran kartu nama, hitam putih, dengan titik terang di tengahnya yang dilabeli dengan angka detak jantung. Nadia menatap titik itu selama empat detik.
Kemudian dia berjalan ke tempat sampah di sudut dapur dan menjatuhkan foto itu ke dalamnya.
"Ada apa?" tanya Dimas dari sofa.
"Nggak ada. Sampah." Nadia kembali ke kursinya. Membuka laptop lagi. "Kita perlu putuskan timing-nya sebelum minggu depan."
* * *
Mereka bicara selama hampir dua jam — bukan tentang perasaan, bukan tentang masa depan yang jauh, tapi tentang hal-hal yang konkret. Timing. Dosis. Jalur klaim. Siapa yang akan jadi kontak di perusahaan asuransi. Bagaimana mengatur agar kehamilan ini bertahan cukup lama untuk klaim yang lebih besar, tapi tidak terlalu lama hingga komplikasi menjadi terlalu mencolok.
Nadia mencatat beberapa hal di sebuah buku kecil bersampul hitam — bukan di laptop, bukan di HP. Kertas yang bisa dibakar. Kebiasaan yang dia pelihara sejak awal.
Dimas menyalakan rokok di dekat jendela — satu-satunya kebiasaan yang Nadia tidak suka tapi tidak pernah protes. Asapnya keluar lewat celah jendela yang dibuka sedikit, tipis, hilang ke udara sore yang mulai kemerahan.
Di luar jendela, hujan mulai turun — rintik-rintik dulu, kemudian semakin deras. Suaranya mengetuk kaca dengan ritme yang tidak beraturan.
"Satu kali lagi," kata Dimas akhirnya, mematikan rokoknya di asbak. "Habis ini kita tidak perlu pura-pura lagi."
Nadia mengangguk. Menuang kopi yang sudah dingin ke bak cuci. Duduk kembali. Membuka laptopnya.
Di layar: spreadsheet yang sama. Kolom tanggal, kolom nominal, kolom status. Tiga baris sudah terisi dengan warna hijau di kolom status — selesai, selesai, proses. Baris keempat masih kosong, putih, menunggu.
Tapi di kolom tanggal baris keempat itu, Nadia sudah mengetik sesuatu tadi sore, sebelum Dimas datang. Bulan dan tahun. Perkiraan.
Hujan di luar semakin keras. Di dalam apartemen lantai tujuh itu, dua orang duduk dengan laptop dan kopi dingin dan rencana yang sudah matang, dan tidak satu pun dari mereka merasa ada yang perlu dibicarakan lagi malam itu.
Semuanya sudah jelas. Semuanya sudah terencana.
Di tempat sampah dapur, di bawah ampas kopi dan bungkus makanan, foto USG itu tergeletak menghadap ke bawah — titik terang kecil yang tidak bisa dilihat oleh siapapun dari luar.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar