Sebelas Nama, Sebelas Pulang

Nara memulai pelacakannya dengan cara yang sudah ia kenal baik: dari yang paling mudah ke yang paling sulit.

Ini bukan metodologi yang ia pelajari dari buku atau dari pelatihan arsipis mana pun — ini adalah cara berpikir yang sudah berkembang sendiri selama empat tahun bekerja di perpustakaan, di antara dokumen-dokumen yang seringkali tidak lengkap dan koneksi yang tidak selalu terlihat dari permukaan. Mulai dari yang ada buktinya. Bangun pemahaman dari sana. Baru kemudian dekati yang gelap.

Sebelas nama dari dinding basement gedung Palimpsest — sebelas nama yang sudah dicoret, yang artinya prosesnya dinyatakan 'selesai' oleh sistem yang membuat daftar itu.

Nara menghabiskan satu minggu penuh untuk melacaknya.

Nama pertama: Wirya Kusuma. Laki-laki, sekitar lima puluh tahun waktu ia masuk ke dalam, berarti sekarang mungkin sudah enam puluh lebih. Nara menemukan jejak digitalnya di database catatan sipil — nama yang pernah ada di sana lalu tidak ada, lalu ada lagi dengan entri yang berbeda. Ia lacak ke alamat terakhir yang tercatat. Ia hubungi tetangganya lewat nomor telepon yang ada di catatan RT setempat. Tetangganya bilang: ada laki-laki tua yang tinggal di sana, sudah beberapa minggu, sebelumnya tidak ada siapapun di rumah itu selama bertahun-tahun. Nara meminta tetangga itu untuk meneruskan nomor kontaknya ke laki-laki itu. Tiga hari kemudian Wirya Kusuma menelepon balik. Suaranya pelan dan teraba hati-hati, seperti seseorang yang sudah lama tidak menggunakan telepon dan tidak yakin cara kerjanya masih sama. Ia ada. Ia kembali. Ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi padanya tapi ia ada.

Satu.

Nama kedua sampai ketujuh: variasi dari pola yang sama. Beberapa lebih mudah dilacak, beberapa butuh beberapa langkah tidak langsung melalui jaringan yang Nara bangun dari koneksi-koneksi kecil. Tapi semua terkonfirmasi: mereka ada. Beberapa sudah kembali ke kehidupan yang pernah mereka tinggalkan — pekerjaan, keluarga, rutinitas. Beberapa masih dalam proses menemukan di mana mereka harus kembali setelah lama tidak ada. Tapi mereka ada.

Nara mencatat semuanya di buku catatan kerjanya dengan cara yang sudah menjadi kebiasaannya: rapi, terperinci, dengan tanda-tanda yang hanya ia yang tahu artinya. Tanda bulat untuk yang terkonfirmasi. Tanda segitiga untuk yang masih dalam proses. Tanda silang untuk yang tidak bisa dihubungi.

Nama kedelapan: tidak bisa dihubungi.

Nama kesembilan: tidak bisa dihubungi — kakaknya ada di daftar Pak Wargo, adiknya sudah Nara temui di depan gedung Palimpsest tiga hari lalu. Seno. Nara mencatat ini dan menambahkan catatan: tindak lanjut diperlukan.

Nama kesepuluh: tidak bisa dihubungi dengan cara yang berbeda dari yang kedelapan dan kesembilan — bukan nomor tidak aktif atau alamat yang sudah berubah, tapi lebih seperti ada sesuatu yang aktif menghalangi. Setiap kali Nara mendekati informasinya, sesuatu bergeser. Nara mencatat ini juga, dengan tanda yang berbeda: lingkaran dengan titik di tengahnya. Tidak hilang. Tapi tidak bisa dijangkau.

Nama kesebelas: Laras.

Laras Santoso. Empat puluh tiga tahun. Masuk ke dalam — berdasarkan tanggal yang terukir di dinding — tujuh tahun lalu, pada siklus 2017. Seharusnya yang paling lama di antara sebelas nama itu, karena ketika dinding itu dibuat pada 28 Oktober, ia adalah yang paling awal masuk dan paling terakhir dicoret.

Nara mendapatkan nomor keluarganya dari database RT Bekasi. Suaminya mengangkat telepon.

Suaranya campuran antara lega dan sesuatu lain yang lebih kompleks dari lega — sesuatu yang Nara kenali sebagai perasaan orang yang mendapatkan apa yang mereka minta tapi dalam bentuk yang tidak persis sama dengan yang mereka bayangkan.

"Laras sudah di rumah. Sudah tiga minggu. Dokternya bilang kondisinya baik secara fisik."

"Secara fisik,"

ulang Nara.

Jedah.

"Dia... belum sepenuhnya seperti dulu. Dokter bilang mungkin butuh waktu. Penyesuaian. Tapi ada sesuatu yang—"

Suaminya berhenti.

"Boleh saya berkunjung?"

Ada keheningan yang cukup panjang di seberang telepon. Nara membiarkannya ada sampai selesai.

"Jumat. Kalau Laras setuju."

Laras setuju. Dengan cara yang membuat suaminya tidak sepenuhnya yakin apakah Laras memahami pertanyaannya, tapi tetap mengiyakan karena setidaknya tidak ada penolakan.

Nara menutup buku catatannya dan duduk di mejanya dengan hasil pelacakan satu minggu di depannya: tujuh terkonfirmasi kembali, tiga tidak bisa dihubungi, satu kembali tapi dengan sesuatu yang tidak bisa langsung diberi nama.

Ini bukan laporan yang bisa ia kirimkan ke mana pun. Ini bukan dokumen yang bisa ia arsip di sistem perpustakaan. Ini catatan tentang hal yang tidak punya kategori yang benar dalam sistem pengarsipan mana pun yang pernah ada.

Tapi itu tidak berarti tidak perlu dicatat.

Di kolom catatan tambahan di buku kerjanya, Nara menambahkan satu baris:

'Kembali' bukan satu kondisi. Ada gradasi. Perlu dipahami lebih jauh sebelum bisa disebut selesai.

Ia menutup buku. Menatap langit-langit ruang arsip yang remang.

Di suatu tempat di Jakarta, Dean sedang di Bogor membaca jurnalnya sendiri yang berusia tujuh belas tahun. Di suatu tempat di kota ini, ada orang-orang yang baru mulai mengingat bahwa seseorang yang pernah ada di hidup mereka ternyata memang ada. Dan di suatu tempat lain, ada orang yang tidak bisa lagi diingat meski belum ada yang memintanya.

Nara membuka buku catatannya lagi dan menambahkan satu baris lagi di bawah yang pertama:

'Kembali' juga bukan tujuan akhir. Ini awal dari sesuatu yang belum ada peta jalannya.