Rumah yang Tidak Ingat

Bogor di pagi hari berbeda dari Jakarta meski jaraknya hanya satu jam.

Dean tidak tahu mengapa ia selalu memperhatikan perbedaan ini setiap kali ia ke kota ini — atau lebih tepatnya, ia baru menyadari bahwa ia memperhatikan perbedaan ini, karena sebelumnya ia tidak tahu bahwa ia punya referensi untuk Bogor yang bisa ia bandingkan. Tapi sekarang ada: kenangan yang kembali sejak 28 Oktober, perlahan dan tidak seluruhnya, seperti foto yang dicuci di kamar gelap dan gambarnya muncul bagian demi bagian. Bogor adalah kota dengan hujan yang lebih sering dan lebih sungguh-sungguh dari Jakarta. Pohon-pohonnya lebih besar. Dan ada bau tertentu di udaranya — tanah basah dan sesuatu yang hijau dan hidup — yang sekarang Dean kenali sebagai bau masa kecil meski ia tidak bisa mengatakan dengan pasti dari kenangan yang mana.

Ia memesan ojek online dari stasiun. Alamatnya ada di dokumen yang ia bawa dalam tas, tapi ia juga sudah menghafalnya — angka dan nama jalan yang terasa familiar dengan cara yang berbeda dari cara ia menghafal alamat narasumber untuk liputan. Lebih ke dalam. Lebih ke belakang.

Rumah itu ada di gang kecil tiga belokan dari jalan utama. Satu lantai dengan pagar rendah yang catnya sudah mulai terkelupas di beberapa bagian. Di teras ada pot tanaman yang dirawat dengan serius: tanaman-tanaman kecil yang tidak asal diletakkan tapi ditata dengan pertimbangan, beberapa berbunga, beberapa hanya hijau, semuanya dalam kondisi hidup. Seseorang di dalam rumah ini peduli dengan hal-hal kecil.

Dean berdiri di depan pagar selama beberapa detik yang terasa tidak proporsional lamanya.

Kemudian ia membuka pagar dan berjalan ke pintu.

Ia mengetuk.

Suara dari dalam: langkah yang tidak terburu-buru, suara kunci yang diputar, lalu pintu yang terbuka. Dan di balik pintu itu, seorang perempuan. Enam puluhan, mungkin awal tujuh puluhan. Rambut yang sudah memutih di bagian depan tapi masih hitam di belakang. Tubuh yang tidak tinggi tapi berdiri tegak dengan cara seseorang yang sudah lama belajar tidak membungkuk meski ada banyak hal yang memintanya untuk membungkuk.

Perempuan itu melihat Dean.

Dan Dean melihat perempuan itu.

Ada beberapa detik di mana keduanya hanya berdiri dan saling menatap — dan dalam beberapa detik itu Dean merasakan sesuatu yang aneh terjadi di dalam dirinya: kenangan yang tadinya hanya sebagian mulai mengisi dirinya sendiri, seperti air yang menemukan celah dan mengisi ruang yang ada. Wajah perempuan ini — ia mengenalinya. Bukan dari foto kartu yang Pak Wargo simpan, bukan dari dokumen mana pun yang ia pelajari. Dari tempat yang lebih tua dari semua itu.

Perempuan itu membuka mulutnya. Menutupnya. Membuka lagi.

"Dean?"

Bukan pertanyaan dalam arti ia tidak yakin. Lebih seperti kata yang sudah ia simpan sangat lama dan baru sekarang diizinkan keluar — dengan hati-hati, seperti mengeluarkan sesuatu yang berharga dari tempat penyimpanan dan memeriksa apakah masih utuh.

"Iya,"

kata Dean.

Perempuan itu tidak langsung memeluknya. Ia tidak langsung menangis. Ia melihat Dean dengan cara seseorang yang sedang memverifikasi sesuatu yang terlalu besar untuk langsung dipercaya — memeriksa detail per detail, seperti membandingkan foto dengan orangnya. Tinggi badan. Bentuk rahang. Cara ia berdiri dengan satu kaki sedikit lebih maju dari yang lain.

Kemudian ia melangkah ke samping.

"Masuk."

Rumah itu kecil tapi terasa luas karena rapi — bukan rapi yang kaku, tapi rapi yang berasal dari kebiasaan bertahun-tahun yang sudah menjadi sifat. Furniturnya tua dengan cara yang terawat: sofa yang sudah sedikit kusam tapi tidak lusuh, lemari kayu yang warnanya sudah memudar di tepinya. Di dinding ada beberapa foto dalam bingkai — dan Dean menoleh ke foto-foto itu dengan cara yang tidak bisa ia kendalikan.

Di foto-foto itu ada anak laki-laki. Berbagai usia: bayi, balita, sekolah dasar, remaja yang sedang canggung-canggungnya. Dean melihat foto-foto itu dan tahu — dengan cara yang tidak perlu logika, hanya tahu — bahwa anak laki-laki itu adalah dirinya.

Dan di beberapa foto: anak perempuan yang lebih kecil. Yang di foto terakhirnya sudah cukup besar untuk berdiri sendiri, mungkin lima atau enam tahun, dengan ekspresi yang Dean baru pertama kali lihat tapi sudah familiar.

"Duduk,"

kata perempuan itu. Ibunya. Dean duduk. Ibunya pergi ke dapur dan kembali dengan dua gelas teh.

Mereka duduk berhadapan selama beberapa saat dalam keheningan yang tidak canggung tapi tidak nyaman juga — keheningan yang terlalu penuh untuk disebut kosong.

"Tujuh belas tahun,"

kata ibunya akhirnya.

"Iya."

"Mereka bilang kamu kecelakaan. Tidak ada jenazah yang bisa diidentifikasi. Aku tidak percaya sampai setahun kemudian."

Dean melihat teh di tangannya.

"Maaf."

"Bukan salahmu,"

kata ibunya. Cepat. Dengan cara yang terdengar seperti kalimat yang sudah dilatih untuk diucapkan dalam kondisi ini.

"Aku tidak tahu detailnya. Aku tidak ingat — bukan lupa biasa, ada yang hilang. Tapi aku kembali sekarang."

Ibunya mengangguk. Ia melihat Dean dengan cara yang Nara pernah deskripsikan — cara membaca apa yang ada di antara kata-kata. Dan apa yang ada di antara kata-kata Dean adalah: masih banyak yang belum bisa ia jelaskan, dan mungkin tidak semua bisa dijelaskan, dan ia meminta ruang untuk itu tanpa harus memintanya secara eksplisit.

"Karin tahu kamu mau ke sini?"

"Belum. Aku belum—"

Dean berhenti. Nama itu di mulutnya terasa seperti sesuatu yang belum sepenuhnya familiar meski sudah ia tahu sejak tadi pagi.

"Belum hubungi dia."

"Dia di sini minggu depan. Biasanya tiap awal bulan dia ke sini sama suaminya dan anaknya."

Anaknya. Dean menghitung: Karin yang di foto terakhir sudah lima atau enam tahun berarti sekarang sudah dua puluh tiga atau dua puluh empat. Sudah berkeluarga. Sudah punya anak. Kehidupan yang tumbuh dan berkembang selama Dean ada di suatu tempat yang tidak bisa ia pertanggungjawabkan.

"Boleh aku lihat kamarku?"

Pertanyaan yang keluar sebelum ia terlalu banyak berpikir tentang apakah itu pertanyaan yang wajar.

Ibunya berdiri tanpa berkata apa-apa dan berjalan ke koridor. Dean mengikutinya ke pintu ketiga di kanan.

Ibunya membuka pintu.

Dan Dean berdiri di ambang kamar itu.

Tidak ada yang berubah. Bukan tidak ada yang berubah dalam artian terlihat sama seperti kamar yang masih dihuni — tapi tidak ada yang berubah dalam artian harfiah: kasur yang sama, selimut yang sama meski sudah dicuci ratusan kali, meja yang sama dengan noda tinta di sudut kanan bawahnya yang sudah ada sejak Dean kelas tiga SMP. Poster band yang sudah tidak ada lagi di mana-mana tertempel di dinding, tepinya sudah sedikit menggulung. Buku-buku di rak yang sudah ia baca meski tidak ingat isinya. Foto di meja: dirinya dan seseorang yang wajahnya sudah pudar di bagian foto.

Ibunya berdiri di belakangnya.

"Aku tidak bisa mengubahnya,"

kata ibunya. Bukan permintaan maaf. Bukan penjelasan. Pernyataan tentang sesuatu yang tidak bisa dilakukan, yang tidak ada pilihan lain selain tidak dilakukan.

Dean melangkah masuk.

Ia duduk di tepi kasur. Permukaan yang sedikit lebih keras dari yang ia ingat — tapi ia ingat. Itu yang paling mengejutkannya: ia ingat cara kasur ini terasa. Kenangan yang tersimpan di tempat paling tidak terduga, bukan di otak tapi di tulang, di otot, di cara tubuhnya secara otomatis menyesuaikan diri dengan permukaan yang sudah lama dikenalnya.

Di laci meja — ia membukanya tanpa berpikir, gerakan otopilot yang tidak pernah benar-benar lupa — ada buku kecil dengan sampul hijau.

Jurnalnya.

Dean mengambilnya. Merasakan beratnya. Kovernya yang sudah sedikit melengkung di sudut kiri bawah. Ia membukanya ke halaman pertama dan membaca tulisan tangannya yang lebih muda — tulisan yang lebih energik, lebih tidak sabar, tapi masih bisa ia kenali sebagai miliknya.

Ibunya masih berdiri di pintu.

"Aku bisa tinggal di sini malam ini?"

Jeda singkat. Bukan ragu — lebih seperti menyesuaikan diri dengan kalimat yang sudah lama tidak pernah ditujukan kepadanya.

"Tentu saja."