Seseorang di Depan Gedung
Nara kembali ke gang Kota Tua pada hari Sabtu, dua minggu setelah 28 Oktober.
Bukan karena ada rencana yang harus ia eksekusi atau informasi yang harus ia verifikasi di lokasi. Lebih karena ada semacam keharusan yang tidak bisa ia rasionalisasi sepenuhnya — seperti seseorang yang perlu kembali ke tempat kejadian bukan untuk mencari bukti tapi hanya untuk memastikan bahwa tempat itu masih nyata, bahwa apa yang terjadi di sana benar-benar terjadi dan bukan konstruksi pikirannya sendiri.
Ia datang sendirian. Dean masih di Bogor — ia mengirim pesan singkat kemarin: 'Butuh beberapa hari lagi. Ketemu Karin akhir minggu ini.' Nara membalas dengan oke dan tidak bertanya lebih lanjut. Ini waktu yang Dean butuhkan dan Nara mengerti cara-cara di mana waktu tertentu perlu dijaga dari gangguan.
Gang di belakang kawasan utama Kota Tua terasa berbeda dari biasanya meski secara fisik tidak ada yang berubah. Dinding-dinding yang catnya mengelupas masih sama, bau campuran got dan air hujan dan sesuatu yang lebih tua masih sama, cahaya yang selalu sedikit di sini meski siang hari masih sama. Yang berbeda hanya cara Nara merasakannya: ada pengetahuan yang kini ia bawa yang membuat semua detail yang biasanya bisa ia lihat tanpa terpengaruh sekarang terasa lebih berat dari seharusnya.
Ia membelok ke gang yang lebih kecil.
Gedung Palimpsest berdiri di sana.
Nara berdiri di mulut gang dan melihat ke arah gedung dari jarak yang cukup. Dinding abu-abu yang sama. Jendela dengan kisi-kisi yang sama. Plang yang namanya hampir luntur — P...ALIM...EST — yang sekarang, dengan konteks yang ia miliki, terasa seperti teka-teki yang sudah terjawab tapi masih terasa seperti teka-teki.
Pintu utamanya tertutup.
Dan di depan pintu itu, membelakangi Nara, ada seseorang.
Laki-laki muda — dua puluhan, mungkin awal tiga puluhan, dengan postur seseorang yang sudah lama berdiri di tempat ini dan sudah menemukan cara untuk berdiri yang tidak terlalu terasa seperti menunggu tapi juga tidak sepenuhnya bukan menunggu. Ia mengenakan jaket tipis yang tidak cukup untuk cuaca yang sebenarnya hari ini tidak terlalu dingin tapi ada angin. Rambutnya tidak rapi dengan cara yang tidak disengaja.
Ia sedang melihat ke atas gedung.
Nara mendekatinya.
Langkahnya tidak ia sembunyikan — tidak ada gunanya berpura-pura tidak ada di sini. Laki-laki itu menoleh sebelum Nara cukup dekat untuk menyapa, dengan cara seseorang yang sudah terbiasa memperhatikan sekitarnya atau mungkin sudah mendengar langkahnya dari tadi.
Wajahnya — Nara berhenti setengah langkah.
Matanya familiar. Bukan familiar seperti ia pernah bertemu orang ini sebelumnya. Familiar dengan cara yang berbeda, yang lebih dalam, yang membuat sesuatu di balik persepsi biasa Nara bergerak sedikit, seperti ada sesuatu yang mencoba mengkategorikan wajah ini tapi tidak menemukan kategori yang tepat di database yang ia punya.
Laki-laki itu tidak tampak seperti ancaman. Tidak tampak seperti wisatawan. Tidak tampak seperti warga sekitar yang lewat. Ia tampak seperti seseorang yang ada di sini karena suatu alasan yang spesifik dan sudah ada di sini cukup lama sebelum Nara tiba.
"Kamu bisa melihat gedung ini,"
kata Nara. Bukan pertanyaan.
Laki-laki itu melihatnya dengan cara yang tidak terkejut.
"Kamu juga,"
katanya.
Keduanya berdiri dan menatap gedung yang sama dari sisi yang berbeda — laki-laki itu dari posisinya yang lebih dekat ke pintu, Nara dari posisinya yang masih beberapa meter di belakang.
"Seno,"
kata laki-laki itu. Kemudian menambahkan, seolah menyadari bahwa nama saja tidak cukup konteks: "Seno Adrianto."
"Nara."
Jedah.
"Kamu sudah berapa lama di sini?"
"Dua jam. Tadi. Kemarin juga. Tiga hari yang lalu juga."
Ada pola dalam kalimat itu yang Nara langsung tangkap. Orang yang datang berulang-ulang ke tempat yang sama dengan cara seperti itu adalah orang yang mencari sesuatu — atau menunggu sesuatu — yang tidak bisa ia temukan atau dapatkan dengan cara lain.
"Kamu mencari siapa?"
Seno melihat ke pintu gedung.
"Kakak saya. Namanya Hendra. Tiga bulan lalu dia menyebut tempat ini — saya tidak tahu konteksnya waktu itu, dia bilang sesuatu tentang 'tempat di Kota Tua yang tidak ada di peta.' Saya pikir dia bergurau. Dua minggu kemudian dia tidak ada. Bukan hilang dalam artian polisi — dia masih ada di kantornya, masih keluar dari apartemennya, masih terlihat oleh kamera CCTV. Tapi orang-orang di sekitarnya berhenti melihatnya."
Nara mendengarkan tanpa menginterupsi.
"Istrinya tidak mengenalinya lagi. Kantornya menghapus namanya dari semua dokumen tapi masih bisa melihat dia secara fisik duduk di mejanya. Saya masih bisa melihat dan mengenalinya. Saya adalah satu-satunya orang yang masih bisa."
Nara melihat Seno dengan cara yang sudah ia kembangkan untuk membaca orang — bukan hanya kata-kata tapi cara kata-kata keluar, cara napas diatur di antara kalimat, cara mata bergerak atau tidak bergerak.
Seno tidak tampak panik. Tidak tampak tidak stabil. Ia tampak seperti seseorang yang sudah melewati semua tahap reaksi awal terhadap sesuatu yang tidak masuk akal dan sudah sampai di tahap yang lebih diam dan lebih keras dari semua tahap sebelumnya: tekad.
"Kamu menemukan nama kakakmu di mana?"
Seno menoleh ke Nara dengan ekspresi yang berubah sedikit — sesuatu yang lebih waspada tapi bukan curiga.
"Daftar yang saya temukan di lemari kakak saya. Dua puluh nama. Kakak saya yang kedelapan."
Nara melihat ke gedung. Nama kedelapan dari daftar Pak Wargo — yang tidak bisa dihubungi. Hendra Adrianto.
Ia menarik napas.
"Seno, ada sesuatu yang perlu kamu tahu tentang tempat ini. Dan tentang kakakmu. Tapi tidak di sini."
Seno melihat ke gedung sekali lagi — tatapan orang yang sudah sangat sering menatap sesuatu sampai menatap itu sendiri terasa seperti perbuatan, seperti sesuatu yang bermakna meski tidak menghasilkan apa pun yang bisa dipegang.
Kemudian ia berbalik dari gedung dan menghadap Nara sepenuhnya.
"Oke."
Sebelum mereka beranjak, Nara menoleh sekali ke gedung. Kisi-kisi di jendela yang sama. Dinding yang sama. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada siluet di balik tirai.
Tapi ada sesuatu yang Nara rasakan — yang bukan perasaan semata tapi sesuatu yang lebih konkret dari itu, sesuatu yang mungkin sudah bisa ia rasakan sejak kemampuannya berkembang dan baru sekarang ia punya konteks untuk mengidentifikasinya:
Gedung itu tidak kosong dari cara yang benda mati kosong. Ia kosong dari cara sesuatu yang punya kesadaran memilih untuk diam.
Nara berjalan keluar dari gang bersama Seno.
Dan di belakang mereka, dari balik dinding abu-abu yang tidak ada di peta mana pun, sesuatu mencatat keduanya dengan cara yang tidak meninggalkan jejak yang bisa dilihat — hanya tekanan udara yang berubah satu titik, hanya suara mesin kota yang turun setengah nada selama tiga detik sebelum kembali ke normal.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar