Ibu yang Pergi Lagi
Nara menyadari ibunya menghilang lagi pada hari Rabu, delapan hari setelah 28 Oktober.
Bukan karena ia secara aktif mencari — ia tidak memiliki nomor telepon ibunya, tidak memiliki alamat yang sudah dikonfirmasi, tidak punya cara yang pasti untuk menghubunginya. Yang ia punya adalah satu pertemuan di gang Kota Tua dan satu pertemuan di dalam gedung Palimpsest, keduanya dalam kondisi yang tidak memungkinkan pertukaran informasi kontak yang normal. Tapi setelah dua hari mencoba dan gagal menghubungi nomor yang sempat ia catat dari warung Pak Wargo — nomor yang Pak Wargo tulis di selembar kertas kecil ketika Nara meminta tanpa banyak harapan bahwa itu akan ada — nomor itu sudah tidak aktif.
Nara pergi ke warung Pak Wargo.
Kawasan Kota Tua di Rabu siang lebih tenang dari akhir pekan. Beberapa wisatawan dengan kamera di leher, beberapa ojek online yang menunggu di pinggir jalan, dan suara gamelan dari museum yang terdengar dari jarak satu blok. Nara berjalan ke warung dengan langkah yang sudah hafal rute ini meski tidak pernah merencanakan untuk menghafalnya.
Pak Wargo sedang merapikan meja ketika Nara datang. Ia melirik ke arah Nara, mengangguk pelan, dan melanjutkan merapikan meja tanpa komentar tentang kenapa Nara ada di sini pada jam kerja di hari biasa.
"Sinta,"
kata Nara, karena Pak Wargo adalah orang yang tidak perlu kalimat pembuka.
Pak Wargo menggeleng — gerakan kecil, tidak dramatis.
"Dia datang ketika perlu,"
katanya. Kalimat yang terasa seperti sudah diucapkan banyak kali tentang banyak hal.
"Perlu siapa? Dia atau orang lain?"
Pak Wargo memiringkan kepalanya sedikit.
"Keduanya. Biasanya bersamaan."
Nara duduk di kursi yang paling dekat dengan dirinya. Pak Wargo membawa kopi — tidak ditanya, tidak dipermasalahkan.
Nara minum kopinya dan tidak berbicara selama beberapa menit. Pak Wargo membiarkannya. Ini salah satu hal yang Nara hargai dari pria tua ini: ia tidak mengisi keheningan hanya karena keheningan ada. Ia membiarkan orang duduk dengan pikirannya sendiri tanpa merasa perlu membantu atau mengganggu.
Di gang di samping warung, suara kendaraan melewati. Di atas, langit Jakarta yang selalu sedikit berwarna abu-abu karena polusi tapi tidak pernah benar-benar gelap sampai malam.
Nara meletakkan cangkirnya.
"Dia baik-baik saja?"
"Sejauh yang saya bisa lihat."
"Kamu lihat dia?"
"Terkadang. Tidak lama. Dia tidak terlalu suka berhenti di satu tempat."
Nara melihat meja di depannya. Permukaan kayu yang sudah sangat tua, penuh dengan cincin bekas gelas yang tidak pernah bisa benar-benar dihapus. Sebuah warung yang sudah ada empat puluh tahun di sini, di mana semua yang paling ganjil dari kota ini tampaknya berputar dan kembali dan berputar lagi.
Pak Wargo menaruh sesuatu di meja. Pelan, tanpa komentar, dengan cara seseorang yang meletakkan benda di tempat yang memang seharusnya.
Selembar kertas. Dilipat dua. Tidak ada nama di luarnya.
Nara mengambilnya dan membukanya.
Tulisan tangan yang sudah ia kenali: miring lima belas derajat ke kanan, tekanan lebih keras di huruf kapital. Ibunya. Tapi bukan tulisan untuk Nara — tidak ada kata pembuka yang ditujukan padanya. Hanya sebuah daftar. Dua puluh tiga nama yang tersusun vertikal, masing-masing dengan keterangan singkat di sampingnya: tanggal, dan satu atau dua kata deskripsi. 'Sukarela 2009.' 'Sukarela 2014.' 'Tidak diketahui.' 'Sukarela 2002.' 'Dipaksa — dipaksa? — 2019.'
Nara membaca daftar itu dari atas ke bawah. Beberapa nama ia kenali dari database Dean, dari catatan Proyek Palimpsest. Tapi sebagian besar tidak ada di dokumen mana pun yang pernah ia temukan. Nama-nama yang tidak ada di mana-mana kecuali di lembar kertas ini.
"Kapan dia meninggalkan ini?"
"Kemarin pagi. Sebelum warung buka."
"Dia tidak meninggalkan pesan?"
Pak Wargo minum kopinya.
"Kertas itu adalah pesannya."
Nara melihat lagi ke daftar itu. Di bagian bawah, setelah nama terakhir, ada satu baris yang berbeda dari yang lain — bukan nama, bukan tanggal, hanya satu kalimat dalam tanda kurung yang tampak seperti catatan untuk dirinya sendiri yang ditinggalkan di tempat yang tepat karena ia tahu siapa yang akan membacanya:
(Yang bertanda 'Dipaksa' perlu diperiksa lebih dulu dari yang lain.)
Nara melipat kertas itu dan menyimpannya di dalam buku catatannya.
Ia duduk di warung Pak Wargo selama empat puluh menit lagi sambil menyelesaikan kopinya. Tidak ada percakapan yang bermakna setelah itu — Pak Wargo kembali ke ritme hariannya, dan Nara membiarkan dirinya duduk dalam ritme itu, dalam tempo yang berbeda dari tempo Jakarta yang biasanya ia tempati.
Ada sesuatu yang menenangkan tentang warung ini yang tidak bisa ia jelaskan dengan tepat. Mungkin karena tempat ini selalu ada meski sekelilingnya berubah. Mungkin karena Pak Wargo tidak pernah tampak terkejut oleh apa pun yang datang ke arahnya. Mungkin karena kopi ini lebih baik dari yang seharusnya bisa dihasilkan oleh kompor kecil dan termos tua.
Atau mungkin karena ini adalah salah satu dari sangat sedikit tempat di Jakarta di mana Nara bisa duduk tanpa merasa perlu melakukan apa-apa untuk membenarkan kehadirannya.
Di ujung jalan, melewati keramaian yang tadi terasa jauh kini terasa lebih dekat karena siang sudah mulai bergerak ke sore, Nara menoleh sekali ke arah gang di mana gedung Palimpsest berdiri. Ia tidak bisa melihat gedungnya dari sini — sudut jalan menghalangi. Tapi ia tahu ia ada di sana.
Dan ia tahu bahwa daftar nama yang ibunya tinggalkan di warung tua ini sudah ada jauh sebelum 28 Oktober, sudah dikumpulkan dan dicatat selama bertahun-tahun, sudah menunggu untuk diserahkan kepada seseorang yang bisa melakukan sesuatu dengannya.
Nara berdiri dan meletakkan uang di meja — lebih dari harga satu kopi, meski Pak Wargo tidak pernah menagih harga yang tepat.
"Kalau dia datang lagi,"
kata Nara.
"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa,"
kata Pak Wargo.
"Aku tahu. Tapi kalau datang: bilang aku butuh berbicara. Bukan sekarang, bukan besok. Tapi butuh."
Pak Wargo mengangguk. Dengan cara yang tidak mengonfirmasi bahwa ia akan melakukannya, tapi juga tidak menolak.
Itu, untuk saat ini, sudah cukup.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar