Suamiku menggenggam tangan perempuan lain di layar ponselku—dan tiga ratus tamu pernikahan kami baru saja menyaksikannya.
Layar LED raksasa di belakang panggung itu seharusnya memutar video kenangan kami. Tujuh tahun pacaran, tiga bulan persiapan, satu video pernikahan yang aku rancang sendiri bersama Mas Reyhan. Tapi yang muncul di layar bukan video itu.
Yang muncul adalah foto Reyhan sedang mencium kening seorang perempuan di sebuah kamar hotel. Tanggal di pojok kanan bawah: dua hari lalu.
Aku berdiri di pelaminan, gaun putih lima puluh juta yang masih basah oleh keringat, dan otakku menolak bekerja.
"Rara—" Suara Reyhan pecah di sebelahku.
Aku tidak menoleh. Aku menatap layar itu seperti orang yang sedang menonton pemakamannya sendiri.
Foto kedua muncul. Mereka berpelukan di balkon. Foto ketiga, perempuan itu sedang menyuapinya kue. Foto keempat, mereka berdua di kasur—Reyhan tidak pakai baju.
"Mati lampu! Cepat matikan!" Mama Reyhan berteriak histeris dari meja utama.
Tapi tidak ada yang bergerak. Semua tamu berdiri kaku. Beberapa mengangkat ponsel. Aku bisa mendengar suara klik klik klik dari segala arah. Lampu kilat menyala seperti petir kecil yang berkali-kali menamparku.
"Ya Tuhan..." Tante Yuli, kakak Mama, menutup mulutnya.
"Itu kan... bukannya itu Karina? Anak Pak Bambang?" Seseorang berbisik—tapi cukup keras untuk didengar tiga meja sekaligus.
Karina.
Nama itu mendarat di kepalaku seperti palu. Karina Wijaya. Sahabatku sejak SMA. Perempuan yang baru tadi pagi memelukku dan menangis bilang, "Ra, akhirnya kamu bahagia. Aku turut senang banget."
Kakiku lemas. Aku memegang meja kue untuk tidak jatuh.
Foto kelima muncul. Karina mengenakan kemeja Reyhan. Hanya kemeja Reyhan. Dia tertawa ke arah kamera.
"Matikan layarnya! MATIKAN!" Reyhan berteriak ke arah panggung audio. Dia mencoba meraih lenganku. "Rara, ini fitnah, sayang. Ini—"
Aku menarik tanganku. Keras. Semua orang melihat.
"Jangan sentuh aku."
Suaraku keluar lebih tenang dari yang aku duga. Aneh. Padahal di dalam dadaku, ada sesuatu yang sedang dibakar hidup-hidup.
Layar akhirnya padam. Tapi terlambat. Semua orang sudah melihat. Semua orang sudah merekam.
Dari belakang, aku mendengar suara tepuk tangan tunggal. Lambat. Mengejek.
Aku berbalik.
Karina berdiri di tengah lorong tamu. Gaun merah marun, rambut tergerai, lipstik merah pekat. Dia datang—padahal kursinya kosong sejak tadi. Dia menepuk tangan dengan senyum yang tidak bisa aku lupakan seumur hidup.
"Selamat ya, Ra," katanya pelan. Tapi cukup keras. "Pestamu ramai banget."
Mama-ku—mamaku sendiri—menghampiri Karina dan menampar wajahnya. Keras. Sampai kepala Karina terdorong ke samping.
"PERGI KAMU DARI SINI!"
Tapi Karina tidak pergi. Dia mengusap pipinya, lalu tersenyum lebih lebar.
"Tante, Tante salah orang yang ditampar." Dia menatap Reyhan. "Suami Rara yang harusnya Tante tampar. Atau... Tante mau aku kasih tahu sekalian, kenapa aku ke sini?"
"Karina, jangan—" Reyhan melangkah maju. Wajahnya pucat seperti mayat.
Karina mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi. Tinggi sekali, sampai semua tamu bisa melihat.
Di jari manisnya, ada cincin.
Cincin yang sama persis dengan cincin pernikahan yang baru tiga jam lalu Reyhan pasangkan di jariku.
"Aku istri pertamanya," kata Karina. Suaranya bergetar pelan, tapi matanya menatap aku tajam. "Kami nikah siri delapan bulan yang lalu. Dan aku..." dia mengelus perutnya, "...aku lagi hamil empat bulan."
Ruangan itu meledak. Suara orang berteriak, kursi yang jatuh, ibu mertuaku yang pingsan ke pelukan tantenya.
Aku menatap Reyhan. Dia tidak menyangkal. Dia menundukkan kepala.
Itu jawabannya.
Aku melepas cincin di jariku—cincin yang baru tiga jam menjadi milikku. Aku berjalan ke arah Reyhan dengan kaki yang tidak aku rasakan lagi.
"Mas," kataku pelan. "Aku mau tanya satu hal."
Dia mengangkat wajah. Matanya basah.
Aku melemparkan cincin itu ke wajahnya. Lalu aku menampar pipinya sekuat tenaga.
"BERAPA LAMA KAMU TAHU AKU SAHABATAN SAMA DIA?!"
Reyhan tidak menjawab. Tapi yang menjawab adalah Karina—dari belakangku, dengan suara yang nyaris berbisik di telingaku.
"Tujuh tahun, Ra. Sejak kalian pacaran, Reyhan sudah jadi pacarku duluan."
Aku berbalik untuk memukulnya. Tapi tanganku terhenti di udara.
Karena aku baru menyadari sesuatu.
Di belakang Karina, di pintu masuk gedung, berdiri seorang laki-laki tinggi yang tidak pernah aku lihat dalam daftar tamu. Jas hitam, rapi, wajah yang aku kenal hanya dari foto.
Aldi.
Kakak kandung Karina yang sudah tujuh tahun tidak pernah pulang ke Indonesia.
Yang anehnya—dia tidak melihat ke arah Karina sama sekali.
Dia melihat ke arahku.
Dan di tangannya, dia menggenggam sebuah amplop cokelat tebal yang kelihatannya... ditujukan untukku.
Aldi menerobos kerumunan, tidak peduli orang-orang yang berteriak. Dia berjalan langsung ke arahku, melewati Reyhan seolah Reyhan tidak ada, dan berhenti sepuluh sentimeter dari wajahku.
"Rara," katanya. Suaranya rendah, tergesa. "Sebelum kamu melakukan apapun—sebelum kamu menggugat cerai, sebelum kamu pulang, sebelum kamu bicara sama siapapun—buka amplop ini."
Dia menyodorkan amplop itu.
"Apa ini?" tanyaku.
Aldi menatap adiknya, Karina, dengan tatapan yang membuat dadaku dingin.
"Ini bukti bahwa adikku..." dia menelan ludah, "...bukan adik kandungku. Dan bahwa kamu, Rara, tidak pernah menjadi sahabat Karina secara kebetulan."
Karina menjerit dari belakang. "ALDI, JANGAN!"
Tapi Aldi sudah meletakkan amplop itu di tanganku.
"Tujuh tahun lalu," bisiknya pelan, "kamu dipilih. Kamu dipasangkan dengan Reyhan bukan karena kebetulan, Ra. Semua ini direncanakan. Bahkan pertemuan pertama kalian di kampus—"
Layar LED di belakang panggung tiba-tiba menyala lagi.
Bukan foto.
Sebuah video.
Video aku, umur sembilan belas tahun, sedang ditandatangani oleh seseorang di sebuah ruangan yang tidak pernah aku ingat. Di pojok video, ada tanggal: tujuh tahun lalu.
Dan tanda tangan di kertas itu—tanda tangan aku sendiri—berada di sebuah dokumen berjudul:
SURAT PERSETUJUAN PERNIKAHAN POLIGAMI
Aku tidak ingat pernah menandatangani itu.
Aku tidak ingat pernah berada di ruangan itu.
Tapi itu tanda tanganku.
Lutut aku akhirnya menyerah. Aku jatuh ke lantai, gaun putih lima puluh juta tertelungkup di marmer dingin, sambil memegang amplop yang berat di tanganku.
Dan saat aku mendongak, di tengah ratusan mata yang menatapku—
Mama-ku, perempuan yang melahirkan aku, sedang berdiri di pojok ruangan.
Tangannya bergetar.
Wajahnya pucat seperti melihat hantu.
Dan dia menatap Aldi dengan satu kalimat yang bisa aku baca dari bibirnya tanpa suara:
"Kamu... seharusnya tidak datang."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar