Suasana di meja makan siang itu terasa lebih hening dari biasanya. Denting sendok yang beradu dengan piring porselen mendominasi ruangan. Aku mengaduk-aduk sup makaroni di depanku tanpa selera. Pikiranku masih tertinggal pada percakapan tadi pagi di kamar.
Tadi, sebelum aku sempat menanyakan lebih lanjut soal laci dan baju kelinci itu kepada Raven, dia sudah keburu memotong pembicaraan. Dia beralasan bahwa Elle pasti salah ingat antara rumah kami dan rumah salah satu teman Mbak Kara. Raven bahkan tertawa kecil, menyebut betapa imajinasi anak empat tahun sering kali mencampuradukkan ingatan.
Alasan yang lagi-lagi sangat masuk akal, dibawakan dengan nada yang begitu santai hingga aku nyaris mempercayainya. Nyaris.
"Makanannya nggak enak, Sayang?" Suara bariton Raven membuyarkan lamunanku.
Aku mendongak. Suamiku duduk di seberang meja, sedang mengelap sudut bibir Averelle dengan tisu basah. Perhatian pria itu sepenuhnya tertuju padaku sekarang.
"Eh? Nggak, enak kok, Mas. Aku cuma masih kepikiran... almarhumah Mbak Kara," dustaku. Aku belum siap mengonfrontasinya sekarang. Aku butuh kepastian, bukan sekadar kata-kata anak kecil yang bisa saja keliru.
Raven menatapku dengan sorot iba. Dia meletakkan sendoknya, merentangkan tangan melintasi meja, dan menggenggam tanganku erat. Telapak tangannya terasa hangat dan besar. "Aku tahu ini berat, Risa. Semuanya serba mendadak. Tapi kamu nggak sendirian. Ada aku di sini. Kita akan besarkan Elle sama-sama."
Kalimat itu terdengar begitu manis, begitu menenangkan. Seharusnya aku merasa beruntung memiliki suami sepertinya. Namun entah mengapa, setiap kali dia menatap Elle, aku menangkap sebuah intensitas yang tidak biasa. Bukan sekadar tatapan seorang paman kepada keponakannya. Itu adalah tatapan... kepemilikan.
"Om, Elle mau tambah sosisnya!" seru Elle tiba-tiba, menunjuk ke arah mangkuk lauk di tengah meja.
"Boleh," jawabku cepat, meraih sendok sayur. "Sini Tante ambilin—"
"Jangan, Risa!" Suara Raven menggelegar, nadanya tinggi dan memotong gerakanku seketika. Tangannya dengan sigap menahan pergelangan tanganku di udara, menghentikanku tepat sebelum sendok sayur itu menyentuh mangkuk sosis.
Aku terkesiap, menatap Raven dengan mata melebar. "Kenapa, Mas? Cuma sosis ayam."
Raut wajah Raven tampak sedikit panik. Dia segera menarik tangannya dari pergelanganku, seolah sadar reaksinya terlalu berlebihan. Dia berdeham, menetralkan suaranya kembali.
"Itu... sosis rasa keju, kan? Yang kamu beli di supermarket kemarin lusa?" tanya Raven, matanya melirik sekilas ke arah mangkuk lauk, lalu kembali menatapku.
"Iya. Kenapa memangnya?"
"Elle nggak bisa makan keju olahan yang ada di sosis itu, Risa." Raven menarik mangkuk sosis itu menjauh dari jangkauan Elle. "Dia punya intoleransi laktosa khusus untuk keju olahan pabrik jenis tertentu. Kalau dia makan itu, perutnya bakal kembung parah, muntah-muntah, dan badannya bisa demam semalaman."
Aku mematung. Angin sejuk dari pendingin ruangan tiba-tiba terasa membekukan aliran darahku.
Mataku bergantian menatap mangkuk sosis, wajah suamiku yang kini berusaha terlihat biasa saja, dan wajah Averelle yang tampak membenarkan ucapan Raven dengan anggukan polos.
"Om Raven bener, Tante. Dulu Elle pernah masuk rumah sakit gara-gara makan sosis yang ada kuning-kuningnya di dalem," celoteh Elle tanpa beban, melanjutkan menyendok makaroni ke dalam mulut kecilnya.
Aku menelan ludah yang terasa sebesar batu krikil di tenggorokanku. Aku menyandarkan punggungku ke kursi, menatap suamiku lekat-lekat.
"Dari mana kamu tahu, Mas?" tanyaku. Suaraku terdengar jauh lebih tenang dari gemuruh badai yang sedang mengamuk di dadaku. "Aku... adiknya Mbak Kara. Adik kandungnya yang tinggal satu kota dengannya. Dan aku bahkan tidak tahu kalau keponakanku punya alergi se-spesifik itu. Sejak kapan kamu begitu hafal detail medis anak ini?"
Ruang makan itu mendadak hening. Udara terasa menyusut, membuatku sulit bernapas. Raven terdiam di tempatnya. Matanya bergerak cepat, seakan sedang menyusun kalimat di dalam kepalanya dengan kecepatan kilat.
"Waktu itu," Raven mulai berbicara, suaranya sedikit lebih pelan dari sebelumnya, "aku kebetulan dengar Mbak Kara cerita sama Ibu mertua di telepon, Risa. Waktu kita ke rumah Ibumu bulan lalu. Mbak Kara bilang dia habis panik bawa Elle ke IGD karena salah makan sosis keju. Mungkin kamu lagi ke toilet waktu itu, makanya kamu nggak dengar."
"Bulan lalu?" Aku menyipitkan mata. "Bulan lalu Ibu sudah mulai susah bicara karena stroke ringannya memburuk, Mas. Ibu jarang angkat telepon lama-lama, apalagi bahas detail medis."
Rahang Raven menegang sekilas. Dia tersenyum kaku, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Mungkin... dua bulan lalu? Risa, aku nggak ingat detail waktunya. Yang penting kan sekarang kita bisa mencegah Elle sakit."
Raven berdiri dari kursinya. "Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Aku harus ke ruang kerja sebentar, ada email penting dari klien yang harus kubalas. Kalian selesaikan saja makannya."
Tanpa menungguku membalas, Raven berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ruang makan. Aku menatap punggung tegapnya yang menjauh hingga menghilang di balik tikungan lorong. Aku meremas ujung taplak meja dengan kuat.
Alasan demi alasan. Kebetulan demi kebetulan. Semuanya mulai terasa seperti sebuah naskah sandiwara yang disiapkan dengan sangat rapi, tapi bocor melalui celah-celah kecil yang tak terduga.
Sore harinya, saat Elle sedang tertidur pulas di kamarnya setelah kelelahan bermain, rasa penasaranku tidak bisa lagi dibendung. Pikiranku terus kembali pada ucapan Elle pagi tadi. Laci di bawah televisi Om Raven. Baju kelinci yang wangi.
Aku memastikan suasana rumah benar-benar sepi. Raven sudah berangkat ke kantor setelah makan siang tadi, mengatakan ada rapat dadakan.
Dengan langkah mengendap-endap bak seorang pencuri di rumahku sendiri, aku berjalan menuju ruang kerja Raven. Pintunya terbuat dari kayu jati tebal yang solid. Aku memutar kenop pintunya. Terkunci.
Tentu saja terkunci. Raven selalu menguncinya.
Aku bergegas ke kamar utama, membuka laci nakas tempat Raven biasanya menyimpan barang-barang printilan sepulang kerja. Tanganku membongkar tumpukan struk tol, koin, dan beberapa bolpoin. Mataku tertuju pada sebuah gantungan kunci kulit berwarna cokelat yang tersembunyi di sudut laci paling dalam. Kunci cadangan ruang kerjanya. Jantungku berdebar sangat kencang saat mengambilnya, jariku gemetar saat menggenggam logam dingin itu.
Apa yang sedang kulakukan? batinku menjerit. Kalau Mas Raven tahu aku menggeledah ruangannya, dia pasti marah besar. Tapi rasa penasaran ini sudah berubah menjadi bongkahan es tajam yang terus menusuk lambungku. Aku harus tahu. Aku harus membuktikan bahwa ucapan anak empat tahun tadi pagi hanyalah omong kosong belaka. Bahwa suamiku adalah pria setia yang tulus, bukan seseorang yang menyembunyikan masa lalu di balik pintu kayu ini.
Klik.
Kunci berputar mulus. Pintu terbuka dengan suara derit halus.
Ruang kerja Raven sangat rapi. Aroma khas parfum maskulinnya menguar kuat di udara bercampur bau kertas dokumen. Meja kayu mahoninya bersih, rak-rak buku tertata rapi sesuai abjad. Pandanganku langsung tertuju pada sebuah televisi layar datar berukuran sedang yang menempel di dinding. Tepat di bawahnya, terdapat sebuah kabinet kayu pendek dengan tiga laci tarik.
"Laci di bawah TV Om Raven," bisikku pada diri sendiri, mengulang kalimat Elle.
Kakiku melangkah pelan mendekati kabinet itu. Tanganku yang bergetar meraih kenop laci pertama. Kosong, hanya ada tumpukan map kosong. Aku menarik laci kedua. Berisi beberapa kabel charger dan flashdisk.
Napas tertahan di tenggorokanku. Aku berjongkok, meraih laci terbawah—laci ketiga.
Begitu laci itu kutarik, mataku membelalak lebar. Tanganku langsung membekap mulutku sendiri untuk menahan pekikan yang nyaris pecah.
Laci itu sama sekali tidak berisi peralatan kantor.
Di dalamnya, tertata dengan sangat rapi, beberapa pasang baju anak-anak berbahan katun lembut yang masih tampak sangat baru namun tidak memiliki label harga. Ada kaus bergambar beruang, celana pendek warna-warni, dan di sudut kanan laci... sebuah setelan piyama warna merah muda dengan gambar kelinci besar di bagian dada.
Aku menyentuh kain piyama kelinci itu dengan ujung jari yang gemetar. Bahannya sangat halus. Bukan hanya itu, dari serat kainnya menguar aroma khas detergen bayi yang manis. Wangi yang sangat spesifik, persis wangi tubuh Averelle sehabis mandi.
Namun, bukan baju itu yang membuat lututku seketika kehilangan tenaga hingga aku merosot jatuh terduduk di lantai berkarpet.
Di bawah tumpukan baju-baju anak itu, menyembul ujung sebuah album foto kecil bersampul kulit hitam. Tanganku yang dingin menarik buku itu perlahan.
Dengan napas yang memburu liar, aku membuka halaman pertamanya.
Sebuah foto polaroid menempel di sana. Gambarnya sedikit buram, diambil dari dalam sebuah mobil dengan pencahayaan yang remang-remang. Namun, wajah-wajah di dalamnya terlalu jelas untuk disangkal.
Ravendra sedang tersenyum lebar ke arah kamera, tangannya memeluk pundak seorang wanita yang menyandarkan kepalanya dengan manja ke dada suamiku. Wanita itu tertawa bahagia, memamerkan deretan giginya yang putih. Di pangkuan wanita itu, duduk seorang balita perempuan yang memakai piyama bergambar kelinci.
Wanita itu adalah Saskara. Kakak kandungku. Dan di bagian bawah foto itu, tertulis sebuah coretan rapi dengan tinta emas yang sangat kukenali sebagai tulisan tangan suamiku:
"Piknik kecil kita. Papa, Mama, dan kesayangan Papa. - 12 Agustus"
12 Agustus. Bulan lalu. Saat aku sedang mati-matian merawat ibu kami yang tergolek sakit di rumahnya, suamiku ternyata sedang menjalani hidup sebagai "Papa" bagi keluarga kecil yang disembunyikan dalam kegelapan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar