Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu dari balik celah tirai kamarku, menusuk langsung ke arah kelopak mataku yang membengkak. Aku mengerang pelan, memaksakan diri untuk membuka mata. Kepalaku berdenyut hebat, seolah ada godam tak kasat mata yang menghantam tengkorakku berulang kali. Sisa-sisa air mata semalam masih meninggalkan jejak kering yang perih di pipiku.

Aku meraba sisi tempat tidur di sebelahku. Kosong. Seprai di bagian itu sudah mendingin, menandakan Ravendra sudah bangun sejak tadi.

Seketika, kesadaranku kembali sepenuhnya. Kejadian tadi malam, pemakaman, pertengkaran dengan keluarga besar, tangisan histeris, dan… Averelle.

"Elle," bisikku panik.

Aku segera menyibakkan selimut dan setengah berlari keluar kamar. Kekhawatiran langsung menyergap dadaku. Anak seusia Elle yang baru saja kehilangan ibunya secara traumatis pasti akan bangun dalam keadaan bingung, ketakutan, dan menangis mencari sosok yang biasa memeluknya. Aku sudah bersiap menghadapi tantrum jilid dua pagi ini.

Namun, saat aku melangkah menyusuri lorong menuju ruang tengah, langkahku perlahan melambat. Tidak ada suara tangisan. Tidak ada jeritan memanggil "Mama".

Alih-alih suara isak tangis, sayup-sayup aku mendengar suara denting spatula beradu dengan wajan, disusul oleh suara tawa kecil yang sangat familier.

Aku mengernyitkan dahi. Bau gurih mentega yang dilelehkan bercampur aroma manis vanila menguar dari arah dapur. Dengan langkah pelan, aku menyusul sumber suara itu, mengintip dari balik lengkungan tembok pembatas ruang makan.

Pemandangan di depanku membuatku terpaku.

Ravendra berdiri di depan kompor, mengenakan celemek kotak-kotak milikku di atas kaus putih polosnya. Tangannya dengan cekatan membalik adonan pancake di atas teflon. Dan di atas meja pantry—duduk dengan kaki kecil yang berayun-ayun riang—ada Averelle. Keponakanku itu tidak terlihat seperti anak yang semalaman menangis hingga nyaris kehabisan napas. Wajahnya memang masih menyisakan rona kemerahan di sekitar mata, tapi dia sedang tertawa.

"Om Raven, yang satu gosong, tuh! Hiii, Om Raven nggak bisa masak!" seru Elle, menunjuk ke arah teflon sambil tertawa terbahak-bahak hingga bahu kecilnya terguncang.

Ravendra ikut tertawa. Suara tawa suamiku terdengar begitu lepas, begitu hangat. Sesuatu yang jarang kulihat akhir-akhir ini karena kesibukannya di kantor.

"Enak saja gosong," balas Raven sambil mengangkat pancake itu dan meletakkannya ke atas piring kecil bergambar beruang. "Ini namanya caramelized, Sayang. Cokelat eksotis. Nanti kalau dikasih madu, rasanya meledak di mulut. Mau coba?"

Elle mengangguk antusias. "Mau! Tapi potongin kecil-kecil kayak biasa, ya, Om. Bentuk bintang!"

"Siap, Tuan Putri." Raven mengambil pisau kecil dan mulai memotong pancake itu dengan sangat presisi.

Aku terdiam di tempatku berdiri. Ada sesuatu yang mencubit dadaku. Di satu sisi, aku merasa sangat lega melihat keponakanku bisa tersenyum pagi ini. Namun di sisi lain, ada perasaan asing yang mengganjal. Kaya biasa? Sejak kapan Ravendra sering memotongkan pancake berbentuk bintang untuk Averelle? Setahuku, Raven jarang sekali ikut berkunjung ke rumah Mbak Kara karena dia lebih suka menghabiskan akhir pekannya di rumah atau bermain golf dengan klien.

Aku menghela napas panjang, menepis pikiran buruk itu. Mungkin Mbak Kara pernah bercerita pada Raven, atau mungkin Raven sekadar menebak kesukaan anak-anak. Aku melangkah maju, memaksakan sebuah senyuman di wajahku yang lelah.

"Pagi, jagoan Tante. Wah, wangi banget ini masakan Om," sapaku sambil berjalan mendekati meja pantry.

Averelle menoleh ke arahku. Senyum di wajahnya sedikit meredup, tapi dia tidak menangis. "Pagi, Tante Risa."

Ravendra ikut menoleh, menatapku dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah menjadi lebih lembut. Dia meletakkan pisau dan menghampiriku, mengecup keningku sekilas. "Pagi, Sayang. Gimana tidurmu? Kepalamu masih pusing? Tadi aku mau bangunin, tapi kamu tidurnya pulas banget."

"Lumayan, Mas. Makasih, ya," jawabku pelan. Aku menatap piring di depan Elle. Tiga lembar pancake yang sudah dipotong kecil-kecil, ditata rapi. "Kamu masak dari jam berapa, Mas?"

"Baru setengah jam yang lalu. Elle bangun duluan dan cari kamu ke kamar, tapi aku cegah biar kamu bisa istirahat. Terus dia bilang lapar, jadi ya... aku buatkan sarapan seadanya," jawab Raven santai, kembali ke depan kompor untuk menuangkan sisa adonan.

Aku mengangguk, lalu duduk di kursi bar di sebelah Elle. Tanganku terulur, merapikan rambut keriting anak itu yang sedikit berantakan. "Elle semalam tidurnya nyenyak? Ada kebangun nggak, Sayang?"

Elle menggeleng pelan sambil mengunyah makanannya. "Nggak, Tante. Elle tidur dipeluk Om Raven, nyanyi lagu."

Jantungku berdegup sedikit lebih cepat mengingat kejadian semalam. Lagu Belanda klasik itu. Aku menelan ludah, berusaha menjaga suaraku tetap santai.

"Mas," panggilku, menatap punggung suamiku. "Kamu tahu dari mana lagu yang semalam kamu nyanyikan buat Elle? Itu kan lagu kakekku."

Gerakan tangan Raven yang sedang menuang adonan mendadak terhenti di udara. Hanya sepersekon detik, tapi aku menyadarinya. Punggungnya menegang. Namun dengan cepat, dia kembali melanjutkan tuangannya dan mematikan kompor.

Dia berbalik menatapku sambil mengelap tangannya pada serbet. Wajahnya benar-benar tenang, tanpa riak kepanikan sedikit pun.

"Oh, lagu itu?" Raven tersenyum kecil. "Dulu waktu kita masih pacaran, pas kita lagi jenguk kakekmu di rumah sakit, aku kan sempat dengar beliau nyanyiin lagu itu buat kamu. Terus beberapa bulan lalu, pas aku kebetulan nganter barang ke rumah Mbak Kara, aku dengar dia nyanyiin itu juga buat nidurin Elle. Nadanya nempel di kepalaku. Lucu aja dengarnya."

Alasan yang sangat masuk akal. Sangat logis. Tapi entah mengapa, insting perempuanku merasa ada puzle yang potongannya dipaksakan untuk masuk.

"Oh... gitu," gumamku pendek.

"Lagian, yang penting Elle bisa tenang, kan?" Raven berjalan mendekat, berdiri di belakang kursi Elle dan mengacak rambut anak itu dengan sayang. "Iya kan, jagoan?"

"Iya! Om Raven suaranya enak," sahut Elle riang.

Selesai sarapan, aku meminta Elle mandi. Aku sudah menyiapkan pakaian ganti yang kemarin kubawa dari rumah Mbak Kara. Baju terusan berwarna kuning cerah. Namun, saat aku menyodorkan baju itu ke hadapan Elle yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuh mungilnya, anak itu langsung mengerucutkan bibir.

"Nggak mau pakai yang itu, Tante."

"Lho, kenapa? Ini kan bagus, Sayang. Baju kesayangan Elle kan?" bujukku, berjongkok menyamakan tinggi kami.

Elle menggeleng kuat-kuat. "Itu gatal di leher. Kata Mama, baju kuning kerahnya kasar. Elle mau pakai baju yang di laci Om Raven aja."

Aku membeku. Tanganku yang memegang baju kuning itu menggantung di udara. Udara dingin dari AC kamar tiba-tiba terasa menusuk pori-poriku.

"Baju di... laci Om Raven?" ulangku, berusaha memastikan pendengaranku tidak salah. Aku menatap manik mata cokelat terang keponakanku itu lekat-lekat. "Laci yang mana maksud Elle, Sayang? Tante kan baru bawa baju-baju Elle kemarin malam."

"Laci yang di bawah TV Om Raven, Tante!" Elle menunjuk ke arah dinding kamarnya—kamar tamu yang semalam baru kami tempati—yang memang bersebelahan langsung dengan ruang kerja Raven di rumah ini. "Waktu itu Elle pernah numpahin es krim di baju, terus Om Raven ambilin baju ganti dari laci itu. Bajunya wangi, gambarnya kelinci!"

Darahku berdesir hebat. Kepalaku terasa ringan seketika.

Waktu itu?

Kapan Mbak Kara dan Elle pernah datang ke rumah ini tanpa sepengetahuanku, sampai-sampai Elle menumpahkan es krim dan Raven menyimpan baju ganti cadangan untuk anak ini di ruang kerjanya pribadinya? Setahuku, setiap kali keluarga besar atau Mbak Kara berkunjung, aku selalu ada di rumah. Dan aku tidak pernah ingat ada kejadian es krim tumpah, apalagi Raven yang mengambilkan baju ganti.

Ruang kerja Raven. Ruangan di ujung lorong yang selalu dikunci dari luar. Ruangan yang bahkan aku sendiri jarang memasukinya karena Raven selalu beralasan itu adalah area privasinya untuk urusan kantor yang sifatnya rahasia.

"Elle... pernah ganti baju di sini? Waktu Tante Risa nggak ada di rumah?" tanyaku dengan suara yang nyaris menyerupai bisikan. Tanganku tanpa sadar mencengkeram lengan mungilnya sedikit terlalu erat.

"Sakit, Tante..." Elle meringis, berusaha menarik lengannya.

"Eh, maaf, Sayang. Maafkan Tante." Aku buru-buru melepaskan peganganku, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadaku. "Elle ingat kapan Elle ke sini sama Mama?"

Sebelum Elle sempat menjawab, pintu kamar terbuka.

Ravendra berdiri di ambang pintu, membawa segelas susu hangat. Matanya langsung menangkap raut wajahku yang pucat pasi dan tangan Elle yang sedang mengelus lengannya. Senyum suamiku perlahan memudar, berganti dengan kilat mata yang tak terbaca.

"Ada apa ini, Risa?" tanya Raven pelan, namun suaranya terdengar berat, memecah ketegangan di udara seperti beling yang pecah. "Kenapa kalian berdua belum ganti baju?"

Aku menoleh perlahan, menatap lurus ke kedalaman mata suamiku, mencari kebohongan apa yang akan dia karang kali ini jika aku bertanya tentang laci misterius itu.