Ruang kerja suamiku terasa seperti menyusut, dinding-dinding kayunya seolah merangsek maju untuk mencekik leherku. Napasku memburu, tersengal-sengal di tengah keheningan yang memekakkan telinga. Tanganku yang gemetar hebat menjatuhkan album foto bersampul kulit hitam itu kembali ke dalam laci.
Piknik kecil kita. Papa, Mama, dan kesayangan Papa. - 12 Agustus.
Sederet kalimat yang ditulis dengan tinta emas itu terus berputar-putar di dalam kepalaku seperti kaset rusak. Tulisan tangan suamiku. Tanggal saat ibuku sedang kritis di rumah sakit.
Tiba-tiba, terdengar suara deru mesin mobil dari halaman depan. Jantungku nyaris melompat keluar dari rongga dada. Mas Raven pulang!
Dengan gerakan panik dan serampangan, aku menyusun kembali tumpukan baju anak-anak itu, memastikan piyama kelinci berada di posisi semula. Aku menutup laci ketiga itu kuat-kuat hingga berbunyi klik, lalu melompat berdiri. Kakiku terasa seperti jeli, tapi aku memaksakan diri berlari kecil keluar dari ruangan, mengunci pintu kayu jati itu rapat-rapat, dan menyelipkan kunci cadangannya kembali ke dalam kantong celanaku.
Aku berlari ke dapur, meraih segelas air es dan menegaknya habis dalam satu tarikan napas panjang. Tepat saat itu, pintu utama terbuka.
"Sayang? Kamu di mana?" Suara bariton Ravendra menggema di ruang tamu.
Aku mencengkeram tepi meja pantry kuat-kuat, berusaha menetralkan raut wajahku. "Di... di dapur, Mas!" sahutku. Suaraku terdengar serak dan asing di telingaku sendiri.
Raven melangkah masuk ke dapur, melonggarkan dasi kerjanya. Wajahnya terlihat lelah, tapi bibirnya mengukir senyum hangat saat melihatku. "Kok kamu pucat banget, Risa? Kamu sakit? Elle mana?"
"Elle lagi tidur siang di kamar," jawabku cepat, menghindari kontak matanya dengan berpura-pura mencuci gelas di wastafel. "Aku... aku nggak apa-apa. Cuma agak pusing mikirin barang-barangnya Mbak Kara yang masih berantakan di rumah kontrakan. Kayaknya sore ini aku mau ke sana, mau beres-beres sisa barangnya."
Raven melangkah mendekat. Dia memeluk pinggangku dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Aroma parfumnya yang maskulin—aroma yang sama persis dengan yang menguar dari laci rahasia tadi—membuat perutku mual seketika. Aku harus menahan diri sekuat tenaga agar tidak menepis pelukannya.
"Mau aku temani?" bisiknya lembut. "Biar aku yang angkat barang-barang berat."
"Nggak usah, Mas," tolakku sehalus mungkin, perlahan melepaskan diri dari rengkuhannya. "Kamu kelihatan capek banget baru pulang kerja. Lagian aku cuma mau pilah-pilah baju mana yang mau disumbangkan. Biar aku sendiri saja. Kamu jagain Elle di rumah ya kalau dia bangun."
Raven menatapku sejenak, matanya sedikit memicing seolah mencari kebohongan di wajahku. Namun kemudian, senyum menenangkannya kembali muncul. "Ya sudah, kalau itu maumu. Tapi jangan paksakan diri ya. Kalau capek, telepon aku, nanti aku suruh orang kantor buat bantu angkut."
Satu jam kemudian, aku sudah berada di balik kemudi mobilku, membelah kemacetan jalanan Jakarta menuju rumah kontrakan almarhumah Mbak Kara di kawasan pinggiran selatan. Sepanjang jalan, radio memutar lagu-lagu pop yang tak satupun liriknya masuk ke telingaku. Kepalaku dipenuhi oleh ribuan pertanyaan yang saling bertabrakan.
Apakah itu benar fotonya? Apakah aku salah lihat? Mungkin itu editan? Mungkin itu cuma lelucon?
Tidak, Risa. Jangan bodoh. Kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, sisi rasionalku berteriak.
Sesampainya di rumah kontrakan berpagar hitam itu, suasana sepi langsung menyambutku. Daun-daun mangga kering berserakan di halaman depan. Aku membuka gembok pagar dengan kunci cadangan yang kumiliki. Derit engsel pagar terdengar menyayat hati. Rumah ini menyimpan kenangan tentang Mbak Kara, perempuan tangguh yang membesarkanku. Dan sekarang, rumah ini terasa seperti tempat kejadian perkara dari sebuah pengkhianatan yang belum bisa kucerna.
Aku masuk ke dalam, menyalakan lampu ruang tamu yang temaram. Debu tipis mulai menutupi permukaan meja kaca. Bau kamper dan pengharum ruangan rasa lavender—wangi khas Mbak Kara—membuat mataku kembali memanas. Aku berjalan ke kamar utamanya, mengambil kardus-kardus kosong yang kubeli di minimarket tadi, dan mulai mengeluarkan pakaian dari dalam lemari.
Satu per satu kemeja kerja, daster, dan gaun milik kakakku kulipat. Tangisku pecah saat memegang sebuah scarf sutra merah muda yang kuberikan sebagai hadiah ulang tahunnya tahun lalu.
"Kenapa, Mbak? Kenapa kamu pergi ninggalin aku sama teka-teki kayak gini?" isakku di tengah kamar yang sunyi. "Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku?"
"Permisi... Mbak Risa?"
Sebuah suara panggilan dari luar pagar membuatku terlonjak kaget. Aku segera mengusap air mataku dengan punggung tangan, merapikan rambutku, dan melangkah keluar menuju teras.
Di balik pagar, berdiri Bu Darmi, tetangga sebelah rumah Mbak Kara yang sudah tinggal di sana bertahun-tahun. Beliau membawa sebuah rantang susun berwarna hijau.
"Eh, Ibu Darmi. Mari, Bu, masuk," sapaku sambil bergegas membuka pagar kecil.
"Nggak usah repot-repot, Mbak Risa. Ibu cuma mau lewat sekalian nganter ini," kata Bu Darmi sambil menyodorkan rantangnya dengan senyum sungkan. "Ini ada sedikit lauk pauk, opor ayam kesukaannya almarhumah Mbak Kara. Kebetulan ibu masak agak banya. Mbak Risa pasti belum sempat masak, kan, sibuk ngurusin barang-barang begini."
"Ya ampun, Bu, repot-repot sekali. Terima kasih banyak, ya, Bu," ucapku tulus, menerima rantang itu. "Ibu mau mampir sebentar? Masuk dulu, Bu, di luar gerimis."
Melihat langit yang memang mulai mendung gelap, Bu Darmi akhirnya mengangguk. Kami duduk di kursi plastik di teras depan. Suasana canggung sempat menyelimuti, diisi oleh helaan napas panjang Bu Darmi yang menatap nanar ke arah pintu rumah yang terbuka.
"Ibu masih suka nggak percaya lho, Mbak, kalau Mbak Kara sudah nggak ada," ujar Bu Darmi memulai percakapan, matanya berkaca-kaca. "Orangnya itu baik luar biasa. Sopan, rajin sapa tetangga. Kalau ada rezeki lebih, suka bagi-bagi kue ke rumah. Apalagi si Elle, aduh... anak cantik itu gimana kabarnya sekarang, Mbak?"
"Elle sehat, Bu. Sekarang tinggal sama saya dan suami saya," jawabku.
"Syukurlah. Ibu lega dengarnya. Setidaknya Elle jatuh ke tangan yang tepat." Bu Darmi mengusap lututnya pelan. Beliau lalu menatapku dengan raut wajah yang sedikit heran. "Ngomong-ngomong, Mbak Risa ini sendirian aja ke sininya? Nggak diantar suaminya, toh?"
"Oh, Mas Raven lagi di rumah, Bu, jagain Elle. Tadi dia nawarin bantu, tapi saya bilang mau misah-misahin baju sumbangan sendiri aja, biar dia bisa istirahat," jelasku sambil tersenyum tipis, berusaha menutupi guncangan di hatiku setiap kali nama suamiku disebut.
"Oh, gitu. Bagus deh kalau suami Mbak Risa bisa dekat sama Elle. Kasihan kan anak sekecil itu butuh sosok bapak." Bu Darmi tertawa kecil, suara tawanya terdengar canggung. "Padahal ibu pikir Mas Raven itu bakal ke sini buat beres-beres juga. Suamimu sering bantu Saskara dulu ya, Mbak?"
Gerakan tanganku yang sedang merapikan ujung taplak meja plastik mendadak terhenti. Udara di sekitarku seakan berhenti mengalir. Aku menatap Bu Darmi, jantungku berdegup makin kencang.
"Maksud Ibu... bantu-bantu gimana, ya?" tanyaku dengan nada santai yang kupaksakan. Aku menumpukan siku di atas meja, mencondongkan tubuh ke arahnya seolah ini adalah obrolan sore biasa antar tetangga.
"Lho, Mbak Risa nggak tahu tah?" Bu Darmi balik menatapku dengan mata melebar. "Ya ampun, maaf kalau ibu salah ngomong. Tapi kan Mas Raven itu rajin banget dulu ke mari. Ya angkat-angkat galon, benerin genteng bocor, potong rumput... pokoknya ngerjain kerjaan laki-laki lah di rumah ini. Ibu sering banget lihat mobil sedan hitamnya parkir di depan sini kalau akhir pekan."
Mobil sedan hitam. Mobil Ravendra.
Aku menelan ludah dengan susah payah. "Oh... iya, mungkin Mas Raven lupa cerita ke saya. Lagian saya juga sibuk kerja kalau akhir pekan. Memangnya... sering banget, Bu?"
Bu Darmi mengangguk mantap, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang meruntuhkan duniaku dari dalam. "Sering, Mbak! Seminggu bisa dua-tiga kali. Malah kadang kalau mobilnya masuk malam hari, keluarnya baru besok paginya pas subuh. Ibu sampai pernah mikir, jangan-jangan Mas Raven itu bapaknya si Elle lho, saking sayang dan perhatiannya dia."
Aku membeku. Kalimat terakhir Bu Darmi menghantamku dengan telak. Napasku terasa tercekat di tenggorokan. Keluar besok paginya pas subuh.
"Ibu... pernah lihat Mas Raven nginep di sini?" Suaraku nyaris bergetar.
"Ya gimana ya, Mbak, ibu kan rumahnya mepet begini. Jadi kedengaran suara mobil kalau masuk garasi. Kadang kalau malam minggu, ibu dengar ada suara tawa dari ruang tv, suaranya Mbak Kara sama suara laki-laki. Ya karena bapak-bapak di komplek sini sering nyebut dia 'Pak Raven', ibu pikir ya itu emang tugasnya keluarga buat jagain janda. Namanya juga saudara ipar yang baik, kan?" Bu Darmi membetulkan letak jilbabnya yang bergeser.
Saudara ipar yang baik.
Perutku melilit hebat. Rasa mual kembali menyerangku. Aku berusaha menjaga agar ekspresiku tetap wajar, meskipun rasanya ingin menjerit sekeras-kerasnya dan menghancurkan semua kaca jendela di rumah ini.
"Oh, begitu ya, Bu," gumamku, memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar sangat sumbang. "Mas Raven memang orangnya kelewat peduli sama keluarga, Bu."
"Iya, suami idaman itu, Mbak. Dipertahankan." Bu Darmi menepuk punggung tanganku. Beliau tiba-tiba terdiam sebentar, raut wajahnya berubah serius, tampak ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "Tapi, Mbak Risa..."
"Ya, Bu? Ada apa?" tanyaku, merasakan firasat buruk yang jauh lebih gelap merayap dari intonasi suaranya.
Bu Darmi melongokkan kepalanya sedikit ke arah pagar, seolah memastikan tidak ada tetangga lain yang mendengar pembicaraan kami. Beliau merendahkan suaranya menjadi setengah berbisik.
"Sebenarnya, ibu ragu mau ngomong ini ke Mbak Risa. Ibu takut nambah beban pikiran orang yang lagi berduka," kata Bu Darmi, jemarinya meremas ujung jilbabnya. "Tapi karena sekarang Mbak Risa yang ngurus rumah ini, dan ibu juga ngerasa ganjal... ibu harus kasih tahu."
"Kasih tahu apa, Bu? Nggak apa-apa, bicara saja," desakku, tanganku tanpa sadar mencengkeram lengan kursi erat-erat.
"Mbak Risa tahu kan kalau polisi bilang kecelakaan Mbak Kara itu katanya murni karena ugal-ugalan atau apalah itu malam-malam hujan deras?"
Aku mengangguk cepat. "Iya. Kenapa memangnya, Bu?"
Bu Darmi menarik napas panjang. Matanya menatap tepat ke mataku dengan pancaran rasa bersalah yang mendalam.
"Malam kejadian itu, sebelum Mbak Kara pergi bawa mobil dan kecelakaan... ibu lagi buang sampah di depan pagar. Sekitar jam sebelas malam," bisik Bu Darmi. "Mbak Kara nggak sendirian di rumah. Ada Mas Raven, suamimu."
Jantungku berhenti berdetak sesaat. "Mas Raven... di sini? Malam itu?"
"Iya, Mbak. Dan mereka berdua bertengkar hebat sekali di garasi. Ibu dengar karena garasi Mbak Kara kan nempel sama tembok kamar ibu. Suara Mas Raven tinggi banget, kayak orang kalap." Bu Darmi menelan ludah, suaranya semakin pelan. "Ibu nggak dengar jelas apa yang diomongin Mas Raven. Tapi ibu dengar jeritan Mbak Kara jelas banget. Mbak Kara nangis-nangis histeris, Mbak."
Duniaku runtuh perlahan-lahan. Semua suara rintik hujan dan kendaraan yang lalu-lalang di kejauhan terasa senyap.
"Mbak Kara teriak apa, Bu?" tanyaku dengan bibir bergetar.
Bu Darmi menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Mbak Kara teriak... 'Aku nggak peduli lagi! Aku capek! Malam ini juga, aku bakal kasih tahu Risa semua kebusukanmu!' Habis itu, Mbak Kara banting pintu garasi, masuk mobil, dan langsung ngebut nerobos hujan. Mas Raven langsung ngejar pakai mobilnya sendiri. Sejam kemudian... ibu lihat di grup RT kalau mobil Mbak Kara hancur nabrak pembatas jalan."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar