Suara tanah basah yang berdebum mengenai peti kayu terasa seperti pukulan godam di dadaku. Bau bunga melati yang bercampur dengan aroma tanah khas pemakaman menguar di udara, membuat dadaku semakin sesak. Hujan rintik-rintik masih turun, seakan langit ikut berkabung atas kepergian Saskara Lethari yang terlalu cepat.

"Mama! Mama di mana?! Elle mau Mama!"

Jeritan melengking itu membuat semua orang yang melayat meneteskan air mata. Averelle Nisaka, keponakanku yang baru berusia empat tahun, meronta-ronta dalam pelukanku. Pakaian hitam kecilnya basah oleh gerimis dan air matanya sendiri. Wajah mungilnya memerah, tangannya yang kecil berusaha menggapai-gapai gundukan tanah yang baru saja selesai ditutup.

"Elle, sayang... Mama sudah istirahat di surga. Elle sama Tante Risa, ya?" Aku memeluk tubuh mungil yang gemetar itu, mencium puncak kepalanya berkali-kali, walau air mataku sendiri tak berhenti mengalir membasahi rambutnya.

"Enggak mau! Mama janji mau beliin Elle es krim cokelat! Mama bohong! Mama jahat!" Averelle memukul-mukul dadaku, tangisannya tak kunjung reda.

Di sebelahku, Ravendra berdiri memegang payung hitam besar, memayungi aku dan Elle. Sejak dari rumah sakit, dia lebih banyak diam. Namun matanya tak pernah lepas dari Averelle. Tangan kirinya yang bebas kini terulur, mengelus punggung kecil anak itu dengan gerakan ritmis yang pelan. Ajaibnya, sentuhan tangan Raven membuat rontaan Elle perlahan mengendur, meski isak tangisnya masih terdengar menyayat hati.

Aku menatap gundukan tanah merah itu. Permintaan terakhir Mbak Kara kembali terngiang di telingaku. "Tolong... jaga Elle..."

Itu bukan sekadar igauan orang sekarat. Itu adalah jeritan hati seorang ibu tunggal yang tahu bahwa anak perempuannya tak lagi memiliki siapa-siapa di dunia ini. Ayah kandung Elle meninggal karena sakit jantung saat Elle baru berusia enam bulan. Dan sekarang, ibunya menyusul pergi dengan cara yang tragis.

Sore harinya, setelah pemakaman selesai dan tahlilan singkat diadakan, ruang tamu rumah peninggalan orang tuaku terasa pengap. Keluarga besar berkumpul. Ibu kami duduk di kursi rodanya di sudut ruangan, hanya bisa menangis dalam diam karena kondisinya yang stroke ringan tak memungkinkan beliau banyak bicara.

Di tengah-tengah karpet, keluarga besar sedang menggelar rapat darurat. Rapat yang sejak awal sudah membuatku muak.

"Jadi, bagaimana ini?" Bude Ningsih, kakak tertua dari pihak almarhum ayahku, memulai pembicaraan sambil menyesap teh hangatnya. Matanya melirik sekilas ke arah kamar tempat Elle sedang tertidur karena kelelahan menangis. "Saskara sudah nggak ada. Bapaknya Elle juga sudah lama meninggal. Ibumu sakit-sakitan begini, nggak mungkin bisa ngurus anak balita yang lagi aktif-aktifnya."

Pakde Haris berdeham, membetulkan letak kacamatanya. "Kalau Pakde, bukannya nggak mau, Risa. Tapi kamu tahu sendiri, anak Pakde yang bontot baru saja masuk kuliah. Biayanya besar. Istri Pakde juga sibuk ngurus cucu dari anak pertama kami. Rumah kami sudah penuh."

Satu per satu, om, tante, dan kerabat jauh lainnya mulai membuka suara. Menyusun seribu satu alasan yang pada intinya sama: tidak ada yang mau dibebani dengan tanggung jawab merawat anak yatim piatu.

"Biaya hidup sekarang mahal. Susu anak kecil itu sebulan bisa berapa ratus ribu," celetuk Tante Ratih sambil berbisik kepada kerabat di sebelahnya, namun suaranya cukup keras untuk kudengar.

Aku mengepalkan tangan yang bertumpu di pangkuanku. Rasanya darahku mendidih mendengar betapa mudahnya mereka melempar tanggung jawab. Averelle bukan barang! Dia anak dari darah daging mereka sendiri.

"Lagipula," Bude Ningsih kembali bersuara, nadanya terdengar sok bijak. "Saskara kan punya asuransi jiwa atau tabungan, tidak? Daripada kita semua repot, apa tidak sebaiknya Elle dititipkan di yayasan panti asuhan saja? Yayasan Darul Aitam di ujung jalan sana kan bagus. Kita bisa jenguk sebulan sekali, bawa beras atau susu. Jadi gugur kewajiban kita."

"Bude bicara apa?!" Suaraku meledak seketika, memecah gumaman di ruang tamu.

Aku berdiri. Wajahku memerah menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. Semua mata langsung menatapku dengan terkejut.

"Panti asuhan? Bude mau buang cucu keponakan Bude sendiri ke panti asuhan?!" bentakku, suaraku bergetar hebat. "Mbak Kara itu kerja keras banting tulang dari pagi sampai malam buat besarin Elle, buat memastikan anaknya bahagia! Dan sekarang, saat tanah kuburannya belum juga kering, kalian mau buang anaknya ke panti?!"

"Risa, jaga nada bicaramu! Bude cuma memberi solusi realistis!" balas Bude Ningsih tak terima, wajahnya ikut memerah. "Kamu sendiri sudah nikah dua tahun, belum punya anak. Apa suamimu mau ngurus anak orang lain? Ngurus anak balita itu repot, Risa! Harus bangun malam, ngurusin sekolahnya nanti, belum lagi sakitnya!"

Aku menoleh ke arah Ravendra yang sejak tadi duduk diam di sampingku. Jantungku berdebar tak karuan. Bude Ningsih menembak di titik yang paling rentan. Benar. Aku dan Raven baru menikah dua tahun. Kami sedang menikmati masa-masa awal pernikahan, berencana menabung untuk membeli rumah yang lebih besar sebelum memutuskan punya anak.

Membawa anak empat tahun ke dalam rumah tangga kami bukanlah keputusan kecil. Itu akan mengubah total dinamika pernikahan kami. Itu akan menyita waktu berdua kami. Aku tidak tahu bagaimana harus meminta Raven menerima beban sebesar ini. Seorang suami umumnya pasti akan berkeberatan, atau setidaknya meminta waktu untuk berdiskusi matang-matang.

Aku menarik napas panjang. Apapun risiko yang harus kuhadapi dengan suamiku nanti, aku sudah membulatkan tekad.

"Biar Risa yang asuh Elle," kataku tegas, menatap tajam satu per satu kerabat yang ada di ruangan itu. "Mbak Kara menitipkan Elle padaku sebelum dia meninggal. Elle darah dagingku. Elle ikut aku saja."

Ruangan mendadak hening. Semua orang terdiam, beberapa tampak bernapas lega secara terang-terangan karena lepas dari tanggung jawab.

Aku perlahan memutar tubuhku menghadap Ravendra. Menatap matanya dengan rasa bersalah bercampur permohonan yang putus asa. "Mas... aku tahu ini mendadak. Aku tahu ini berat buat kamu, kamu berhak marah atau protes, tapi aku... aku mohon, Mas. Aku janji aku yang akan urus semua keperluannya. Aku nggak akan biarin Mas repot. Aku mohon izinkan Elle tinggal sama kita, Mas."

Aku bersiap menerima penolakan, atau setidaknya raut wajah keberatan dan helaan napas panjang.

Namun, reaksi Ravendra di luar semua dugaanku.

Dia langsung berdiri dari duduknya. Tanpa ragu sedetik pun, dia melangkah mendekat dan merangkul bahuku dengan protektif di depan seluruh keluarga. Raut wajahnya tidak menunjukkan keterpaksaan atau keraguan. Sebaliknya, suaranya terdengar sangat mantap, nyaris... terlalu bersemangat.

"Kamu bicara apa, Sayang?" ucap Raven lembut, namun cukup keras untuk didengar semua orang. Dia menatap keluarga besarku dengan tatapan dingin. "Tentu saja Elle akan tinggal bersama kita. Dia bukan beban. Elle anak kita sekarang. Kita yang akan merawat dan membesarkannya dengan layak."

Aku menatap suamiku dengan mulut sedikit terbuka. Air mata haru dan rasa syukur yang luar biasa seketika tumpah membasahi pipiku. Tuhan, pria macam apa yang menikahiku ini? Dia begitu baik, begitu sempurna, begitu berjiwa besar.

Bude Ningsih terbatuk canggung. "Ya sudah... baguslah kalau suamimu rela. Selesai sudah masalahnya."

Malam harinya, setelah keluarga besar pulang, kami mengemas barang-barang Elle di rumah kontrakan almarhumah Mbak Kara. Suasananya begitu sepi dan mencekam. Aroma khas Mbak Kara masih tertinggal di bantal dan selimut, membuat air mataku kembali menetes berkali-kali.

Kami membawa Elle—yang kembali menangis mencari ibunya saat bangun tidur—pulang ke rumah kami.

"Ssst... Sayang, Elle sama Tante Risa ya malam ini," bujukku saat kami tiba di rumah. Aku membawa Elle masuk ke kamar tamu yang akan kuubah menjadi kamarnya.

"Gak mau Tante! Mau Mama! Mau pulang ke rumah Mama!" Elle meronta, menendang-nendangkan kakinya di atas kasur, membuat seprei berantakan. Wajahnya merah padam, napasnya tersengal-sengal karena terlalu banyak menangis.

Aku merasa tidak berdaya. Semua bujukanku mentah. Aku menyodorkan susu cokelat kesukaannya, dia menepisnya. Aku memberikan boneka beruang dari tasnya, dia melemparnya ke lantai. Aku sudah kelelahan secara fisik dan emosional, kepalaku berdenyut hebat.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Ravendra melangkah masuk. Dia sudah mengganti kemeja hitamnya dengan kaus santai.

"Biar aku yang coba," kata Raven pelan, menepuk bahuku lembut.

Aku mundur beberapa langkah, ragu. "Mas, dia lagi tantrum parah. Aku takut kamu ditendang."

Raven hanya tersenyum tipis. Dia duduk di tepi ranjang. Bukannya membujuk dengan kata-kata manis, Raven justru langsung menarik tubuh kecil yang sedang meronta itu ke dalam dekapannya dengan gerakan yang sangat mantap dan luwes, seolah dia sudah melakukan gerakan itu ribuan kali.

"Lepas! Mau Mama!" jerit Elle.

Raven tidak melepaskannya. Dia menepuk-nepuk punggung Elle dengan ritme pelan dan mulai bergumam. Bukan bernyanyi, melainkan menggumamkan sebuah nada lagu.

Hmm... hmmm... hmmm...

Aku terdiam di ambang pintu, mataku memicing. Itu bukan lagu anak-anak biasa. Itu adalah nada lagu Nina Bobo berbahasa Belanda klasik yang dulu selalu dinyanyikan oleh almarhum kakek kami. Lagu yang sangat spesifik, yang setahuku hanya diwariskan kepada Mbak Kara karena dia adalah cucu kesayangan kakek. Mbak Kara selalu menyanyikan lagu itu untuk Elle setiap malam. Aku sendiri bahkan tidak hafal nada penuhnya.

Dari mana suamiku tahu nada lullaby itu?

Namun hal yang membuatku benar-benar membeku adalah reaksi Averelle.

Mendengar gumaman Raven, rontaan anak empat tahun itu perlahan berhenti. Tangisannya yang histeris mereda menjadi isakan-isakan kecil. Tangannya yang tadinya memukul dada Raven kini mencengkeram kaus suamiku erat-erat. Elle membenamkan wajahnya di ceruk leher Raven dengan posisi yang sangat pas, senyaman bayi yang kembali ke pelukan ayahnya.

"Om Raven..." panggil Elle dengan suara serak bercampur isak tangis.

"Iya, Sayang. Om di sini. Om Raven di sini," jawab Raven lembut, mengecup puncak kepala Elle.

Averelle mendongak sedikit, menatap wajah Raven dengan mata bulatnya yang sembap. Dan di keheningan malam itu, kalimat polos yang keluar dari bibir kecil keponakanku membuat aliran darahku terasa berhenti berdesir.

"Om Raven... Mama kok nggak jemput Elle sama Om Raven lagi kayak biasanya? Mama janji mau main ke taman bertiga sama Om lagi."

Aku berdiri mematung. Angin malam yang berembus dari celah jendela tiba-tiba terasa jauh lebih dingin menusuk tulang.

Jemput Elle? Bertiga? Seperti biasanya?

Mataku menatap suamiku. Raven tampak sedikit terkejut, namun dengan cepat mengubah raut wajahnya menjadi senyum menenangkan untuk anak itu. Tapi bagiku, ada sesuatu di balik senyum itu. Sesuatu yang tersembunyi dengan sangat rapi. Rahasia.