Hujan turun dengan sangat deras malam itu, memukul-mukul kaca jendela kamar kami seolah membawa pesan darurat yang tak bisa ditunda. Jarum jam berpendar hijau di atas nakas, menunjukkan angka 02:15 dini hari. Aku baru saja menarik selimut lebih tinggi, mencoba mencari kehangatan di balik punggung suamiku, Ravendra, ketika suara melengking itu memecah kesunyian.
Telepon genggamku berdering.
Bunyinya memekakkan telinga. Aku mengerang pelan, meraba-raba meja nakas dengan mata setengah tertutup. Siapa yang menelepon di jam selarut ini? Tanganku menyentuh layar yang dingin, dan dengan pandangan kabur, aku membaca sederet nomor tak dikenal berkedip di sana.
"Halo?" sapaku dengan suara serak, masih setengah mengantuk.
"Selamat malam. Benar ini dengan Ibu Elvarisa Kalandra?" Suara di seberang sana terdengar asing. Berat, cepat, dan diiringi suara latar yang riuh—seperti suara sirine dan langkah kaki yang terburu-buru.
"Iya, saya sendiri. Ini siapa?" Mataku kini terbuka sepenuhnya. Rasa kantukku menguap entah ke mana, digantikan oleh firasat dingin yang mulai merayap di tengkuk.
"Saya Suster Nita dari Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Medika Pusat. Kami menghubungi Anda dari daftar kontak darurat di ponsel pasien bernama Saskara Lethari. Pasien baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas tunggal yang sangat parah. Beliau saat ini dalam kondisi kritis. Apakah Anda bisa segera datang?"
Duniaku berhenti berputar.
Udara di sekitarku seolah tersedot habis. Tanganku yang memegang ponsel bergetar hebat hingga benda persegi itu nyaris tergelincir dari genggamanku. Mbak Kara? Kecelakaan? Kakak perempuanku satu-satunya, janda beranak satu yang selama ini hidup mandiri dan selalu berhati-hati dalam segala hal?
"S-suster, bilang sama saya kalau ini cuma salah paham," suaraku bergetar, napasku memburu. "Kakak saya tidak mungkin… Suster, dia luka parah? Apa dia sadar?"
"Maaf, Bu Elvarisa. Kondisi pasien sangat tidak stabil. Beliau mengalami pendarahan hebat. Tolong segera kemari."
Telepon terputus. Bunyi tut-tut-tut menggemakan rasa panik yang kini meledak di dadaku.
"Mas! Mas Raven, bangun!" Aku mengguncang bahu suamiku dengan kasar. Air mata sudah mulai menggenang di pelupuk mataku.
Ravendra mengerang pelan, perlahan membuka matanya dan menatapku bingung. Wajahnya yang tampan terlihat kusut, garis-garis kelelahan dari pekerjaannya seharian masih tersisa. "Ada apa, Sayang? Jam berapa ini?"
"Mbak Kara, Mas! Mbak Kara kecelakaan! Di rumah sakit sekarang, kritis!" teriakku histeris. Aku tidak bisa menahan isak tangisku lagi. Aku melompat dari ranjang, menyambar kardigan apa pun yang bisa kuraih dari dalam lemari.
Gerakan Ravendra berhenti. Untuk sedetik, aku bersumpah aku melihat raut wajahnya menegang parah, matanya membelalak lebar seakan ada yang menikamnya tepat di jantung. Namun, itu hanya terjadi sekilas sebelum dia langsung melompat dari kasur dengan kecepatan yang membuatku terkejut.
"Kita berangkat sekarang. Pakai jaketmu yang tebal, Risa," ucap Raven dengan nada yang anehnya terdengar… bergetar? Aku tidak sempat memikirkannya. Pikiranku hanya tertuju pada Mbak Kara.
Perjalanan menuju Rumah Sakit Medika Pusat terasa seperti masuk ke dalam ruang hampa. Hujan masih menderas. Wiper mobil bekerja keras menyingkirkan air dari kaca depan, tapi pandanganku tetap buram oleh air mata.
Aku menoleh ke arah kemudi. Tangan Raven mencengkeram setir sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya terkatup rapat, urat-urat di lehernya menonjol. Dia memacu mobil dengan kecepatan tinggi, menerobos genangan air hujan seolah nyawanya sendiri yang sedang dipertaruhkan.
"Mas, hati-hati, jalanan licin," tegurku di sela isak tangis.
Dia tidak menjawab. Pandangannya kosong, lurus ke depan, dengan sorot mata yang tak bisa kuartikan. Dia menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil kami membelah jalanan Jakarta yang basah dan gelap gulita bak peluru.
Sesampainya di lobi IGD, aku langsung berlari masuk. Bau tajam antiseptik dan darah menyengat hidungku. Ruangan itu terang benderang dengan lampu neon yang menyilaukan mata.
"Suster! Pasien atas nama Saskara Lethari!" teriakku di meja perawat.
"Ibu keluarga pasien? Silakan ikut saya, beliau ada di Ruang Resusitasi," kata seorang perawat pria sambil bergegas memimpinku. Raven mengikutiku di belakang, langkahnya berat dan panjang.
Ketika pintu ganda bertuliskan 'Ruang Resusitasi' itu terbuka, lututku seketika melemas. Aku hampir rubuh jika Raven tidak menahan lenganku dari belakang dengan cengkeraman yang sangat kuat.
Mbak Kara berbaring di atas ranjang dorong. Tubuhnya dikelilingi oleh dokter dan perawat yang bergerak cepat. Pakaiannya terkoyak, darah merendam kemeja putihnya. Wajahnya yang selalu cantik dan tenang kini dipenuhi luka memar dan goresan kaca. Berbagai macam selang terpasang di mulut dan tubuhnya. Mesin monitor jantung di sebelahnya mengeluarkan bunyi beep yang tidak beraturan, cepat dan memekakkan telinga.
"Mbak Kara!" Aku menjerit, mencoba menerobos masuk, namun seorang perawat menahanku.
"Ibu, tolong di luar dulu, dokter sedang melakukan tindakan," tahan perawat itu.
"Itu kakak saya! Lepaskan saya!" Aku meronta. Air mata mengalir deras membasahi pipiku. "Mbak! Bangun, Mbak! Ini Risa!"
"Biar istrinya mendekat, Sus," ucap dokter yang menangani. "Tekanan darahnya terus turun. Kita hampir kehilangan dia."
Perawat itu melonggarkan pegangannya. Aku melangkah gontai mendekati ranjang. Tanganku gemetar saat meraih telapak tangan Mbak Kara yang terasa sedingin es. Darah menempel di jari-jariku, namun aku tidak peduli.
"Mbak, tolong bertahan," isakku, mencium punggung tangannya berkali-kali. "Mbak Kara harus kuat. Averelle nungguin Mamanya di rumah, Mbak. Kasihan Elle, dia masih kecil, Mbak."
Mendengar nama anaknya disebut, kelopak mata Mbak Kara yang bengkak perlahan terbuka. Tatapannya sayu, redup, tidak fokus. Dia menatap langit-langit sejenak sebelum kepalanya sedikit menoleh ke arahku.
Lalu, matanya bergerak melewati bahuku. Menatap ke arah pintu masuk ruang resusitasi.
Aku menoleh sedikit. Ravendra berdiri di sana, mematung di ambang pintu. Wajah suamiku pucat pasi, seperti mayat hidup. Dia tidak berani melangkah masuk. Dadanya naik turun dengan cepat.
Mbak Kara tiba-tiba terbatuk hebat, darah segar keluar dari sudut bibirnya. Mesin monitor jantung berbunyi semakin nyaring dan panik.
"Dok! Detak jantung pasien menurun drastis!" teriak seorang perawat.
Genggaman tangan Mbak Kara di tanganku tiba-tiba mengerat. Sangat erat, seolah dia menuangkan seluruh sisa tenaga terakhirnya ke dalam genggaman itu. Dia menarikku sedikit lebih dekat ke arah bibirnya yang gemetar.
Aku mendekatkan telingaku ke wajahnya.
"Risa..." suaranya hanya berupa embusan angin yang parau dan serak, bercampur dengan suara cairan di dalam tenggorokannya.
"Iya, Mbak. Aku di sini. Risa di sini. Mbak jangan banyak bicara dulu," tangisku pecah.
Mata Mbak Kara kembali menatap lurus ke mataku. Ada keputusasaan yang begitu dalam di sana. Sebuah permohonan yang menyayat hati.
"Tolong... jaga Elle..." bisiknya lemah, namun setiap suku katanya terdengar sangat jelas di telingaku.
Aku mengangguk cepat, air mataku menetes mengenai pipinya. "Pasti, Mbak. Pasti. Tapi Mbak harus janji Mbak bakal bangun. Kita rawat Elle sama-sama."
Mbak Kara tidak menjawab. Genggaman tangannya perlahan mengendur. Matanya yang tadi menatapku, kini kembali bergeser, menatap Ravendra di ambang pintu untuk detik terakhir yang panjang, sebelum perlahan-lahan tertutup.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.
Garis bergelombang di layar monitor jantung itu kini berubah menjadi satu garis hijau lurus yang konstan. Bunyi melengking dari mesin itu menggema, menghentikan waktu di ruang IGD tersebut.
"Waktu kematian, 03:02 pagi," suara dokter memecah keheningan, terdengar profesional namun penuh empati.
"Enggak... Dokter, tolong lakukan sesuatu! Tolong setrum dadanya! Lakukan apa saja!" Aku berteriak histeris, mengguncang tubuh kaku kakakku. "Mbak Kara! Bangun!"
Dua orang perawat segera menarik tubuhku mundur. Aku meronta, menangis sejadi-jadinya hingga suaraku habis. Di ambang kesadaran yang nyaris hilang karena duka, aku merasakan sepasang lengan kekar menarikku ke dalam pelukan. Ravendra.
Dia memelukku sangat erat. Aku membenamkan wajahku di dadanya, menangis meraung-raung. Namun, di tengah tangisanku, aku merasakan tubuh Raven bergetar dengan cara yang aneh. Bukan getaran menenangkan. Dia bernapas dengan sangat berat, tangannya mencengkeram bahuku terlalu kuat hingga menyakitkan.
Sekitar satu jam kemudian, setelah pihak rumah sakit mengurus jenazah Mbak Kara, aku dan Raven duduk di ruang tunggu yang dingin. Aku masih tidak bisa berhenti menangis, menatap lantai dengan pandangan kosong. Mbak Kara, kakak yang membesarkanku sejak orang tua kami sakit-sakitan, kini telah tiada.
"Keluarga mendiang Ibu Saskara Lethari?"
Seorang pria berseragam polisi menghampiri kami. Raven langsung berdiri, tubuhnya tegak seketika, menempatkan dirinya sedikit di depanku seolah menjadi perisai.
"Saya suaminya dari adik korban," jawab Raven cepat. Suaranya serak, tapi bernada tegas. "Ada apa, Pak?"
Polisi itu mengeluarkan sebuah kantong plastik bening berisi ponsel yang layarnya retak parah, dompet berlumur darah, dan beberapa perhiasan.
"Kami menemukan barang-barang ini di dalam mobil korban. Tapi, ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada pihak keluarga," kata polisi itu dengan nada serius.
Aku mendongak, menatap wajah polisi itu dengan mata sembap. "A-ada apa, Pak? Kakak saya kecelakaan murni karena hujan parah kan?"
Polisi itu menggeleng pelan, raut wajahnya penuh tanda tanya. "Itulah masalahnya, Bu. Dari hasil olah TKP awal, kami menemukan kejanggalan. Di aspal, tidak ada satu pun tanda-tanda pengereman. Dan dari bekas tabrakan di pembatas jalan beton..."
Polisi itu menjeda kalimatnya, menatap lurus ke arahku.
"...mobil itu melaju di atas kecepatan seratus kilometer per jam. Seolah-olah korban sengaja memacu mobilnya, atau..."
"Atau apa, Pak?" tanyaku dengan jantung berdebar keras.
"Atau malam itu, di tengah hujan deras, mendiang kakak Anda sedang berusaha melarikan diri dari sesuatu yang mengejarnya di jalan tol."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar