Udara di ruang tamu terasa anjlok beberapa derajat dalam hitungan detik. Napas Ragendra tertahan di tenggorokan. Matanya terpaku pada pintu kayu jati yang kokoh di seberang ruangan.

Ia tidak bergerak. Tangannya mencengkeram ujung sarung dengan buku-buku jari memutih. Otaknya yang logis langsung bekerja keras, mencoba memberikan rasionalisasi atas suara yang baru saja merobek kesunyian malam.

Itu pasti tetangga, pikirnya. Mungkin ketua RT yang mau minta fotokopi KTP. Ya, ketua RT. Atau orang lewat yang iseng. Atau orang mabuk dari jalan raya.

Ragendra bangkit perlahan dari sofa, meminimalkan suara gesekan bajunya dengan kain dudukan. Ia menoleh ke arah jam dinding. Pukul 00:48.

Ia berdiri di tengah ruang tamu yang remang-remang. Tidak ada suara lagi dari luar. Hanya keheningan yang terasa berat, seperti tekanan air saat kita menyelam terlalu dalam.

"Siapa?" panggil Ragendra. Suaranya serak, terdengar tidak lebih dari sekadar gumaman keras.

Tidak ada jawaban.

Ragendra menghela napas, merasa konyol sendiri. "Dasar orang mabuk," gerutunya pelan. Ia melangkah maju, berniat mendekati pintu untuk memastikan pintu itu terkunci rapat dari dalam.

Namun, baru dua langkah ia berjalan, suara itu datang lagi.

Tok. Tok.

Kali ini ketukannya berbeda. Tidak lagi keras dan solid seperti sebelumnya. Ketukan itu pelan. Sangat pelan dan berhati-hati. Tapi anehnya, suara itu terdengar lebih jelas, seolah-olah apa pun yang mengetuknya berdiri sangat rapat dengan daun pintu, hampir menempelkan tubuhnya di sana.

Langkah Ragendra terhenti. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia bisa merasakannya di pangkal lidah.

Rumah ini tidak memiliki lubang intip (peephole). Satu-satunya cara untuk melihat ke luar adalah melalui jendela dengan kaca es tebal yang mengapit pintu utama. Kaca itu memburamkan objek dari luar, hanya menampilkan siluet dan warna.

Ragendra berjalan mendekat, berjinjit agar langkah kakinya tidak bersuara di atas lantai ubin tua. Ia menempatkan wajahnya di dekat kaca es, menyipitkan mata untuk melihat bayangan di teras.

Lampu jalanan berwarna kekuningan menyala di luar pagar, menciptakan kontras yang seharusnya bisa memperlihatkan siapa pun yang berdiri di sana. Tapi, Ragendra tidak melihat apa-apa. Tidak ada bayangan tubuh manusia. Teras itu kosong.

Bulu kuduk di lengannya berdiri serentak. Jika tidak ada orang di teras, lalu siapa yang mengetuk?

Tok... Tok...

Ragendra tersentak mundur. Suara ketukan itu berasal dari bagian bawah pintu. Bukan di ketinggian tangan manusia normal. Ketukannya terdengar seperti buku jari yang mengetuk pelan di dekat lantai.

Apakah itu anak kecil? pikirnya, makin panik. Anak kecil jam segini? Di gang buntu ini?

Otaknya berteriak untuk menjauh, untuk lari masuk ke dalam kamar dan menarik selimut tinggi-tinggi. Namun, rasa penasaran yang bercampur dengan adrenalin kelelakiannya menahannya di sana. Ia ingat aturan pertama. Jangan pernah membuka pintu setelah pukul 00:47.

"Itu cuma sugesti, Ragen," bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba mencari keberanian. "Ini tahun 2026. Nggak ada hantu. Ini pasti orang iseng yang jongkok di depan pintu buat ngerjain penghuni baru."

Ia menelan ludah, mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia menempelkan sebelah telinganya ke daun pintu, mencoba mendengarkan suara napas, gesekan baju, atau suara langkah kaki dari luar.

Kosong. Tidak ada suara apa pun dari balik kayu jati tebal itu.

Baru saja ia hendak menarik kepalanya menjauh, sebuah suara muncul dari celah bawah pintu. Suara itu tidak keras, lebih mirip bisikan yang tertiup angin dingin malam, tapi kejelasannya seolah langsung menusuk masuk ke gendang telinganya.

"Ragen..."

Darah di sekujur tubuh Ragendra terasa membeku seketika. Lututnya lemas. Ia melangkah mundur dengan terhuyung, nyaris menabrak meja kayu di tengah ruangan.

Itu bukan suara orang asing. Itu bukan suara ketua RT atau anak tetangga. Itu suara perempuan. Suara yang lembut, dengan nada cemas yang sangat spesifik. Suara yang telah menemani masa kecilnya, yang selalu memanggilnya pulang ketika hujan turun terlalu deras di sore hari.

"Ragen... buka pintunya, Nak..." bisik suara di luar sana. "Di luar dingin..."

Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk mata Ragendra. Tubuhnya bergetar hebat. Nafasnya memburu tak terkendali.

"I... Ibu?" gumamnya tak percaya.

Itu suara Ibunya. Tidak salah lagi. Intonasinya, cara suaranya sedikit meninggi di akhir kata, semuanya persis.

Tapi itu mustahil. Sangat mustahil. Ibunya sudah meninggal dunia lima tahun yang lalu. Ia sendiri yang menurunkan jenazah Ibunya ke liang lahad.

"Ibu kedinginan, Ragen... Kenapa pintunya dikunci, Nak?" Suara itu terdengar lagi, kali ini disertai isak tangis tertahan yang menyayat hati. "Buka pintunya, Nak... Ibu mau masuk..."

Pikiran Ragendra kacau balau. Kesedihan, kerinduan, dan teror yang luar biasa bertabrakan di dalam kepalanya. Sisi emosionalnya menjerit, menyuruhnya membuka pintu. Bagaimana jika itu benar Ibunya? Bagaimana jika selama ini ada keajaiban? Tangannya tanpa sadar terangkat, bergerak perlahan menuju gagang kunci.

Namun, saat jari telunjuknya menyentuh logam dingin dari gagang pintu, matanya melirik ke arah meja. Kertas aturan itu tergeletak di sana, diterangi sedikit cahaya bulan yang menyelinap dari jendela.

Aturan Nomor 1: Jangan pernah membuka pintu setelah pukul 00:47.

Kata-kata Pak Tirtanata terngiang di kepalanya seperti lonceng peringatan. "Kalau kamu ingin tetap hidup... jangan mencoba melanggarnya. Jangan pernah."

Tangannya berhenti di udara. Logikanya kembali mengambil alih. Ibunya sudah meninggal. Siapa pun... atau apa pun yang ada di balik pintu itu, mengetahui namanya, mengetahui kelemahannya, dan menggunakan suara orang yang paling dicintainya untuk memancingnya keluar.

"Pergi," bisik Ragendra dengan suara gemetar, air mata mengalir turun ke pipinya.

"Ragen... anakku..." Suara di luar berubah. Isak tangis itu hilang, digantikan oleh nada yang lebih datar, lebih berat, dan kehilangan kehangatan manusianya. "Buka."

Ragendra menutup telinganya kuat-kuat. Ia memutar tubuhnya dan berlari setengah tersandung menuju kamar tidur. Ia membanting pintu kamar, menguncinya rapat-rapat, dan melompat ke atas ranjang kapuk. Ia menarik selimut kotor itu hingga menutupi seluruh kepalanya.

Di ruang tamu, suara ketukan pelan itu kembali berbunyi. Tok... Tok... Tok...

Berlangsung terus-menerus. Stabil. Tidak terburu-buru. Menggema di seluruh penjuru rumah yang mati. Ragendra meringkuk di bawah selimut, memejamkan mata rapat-rapat, berdoa kepada Tuhan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, menunggu hingga pagi akhirnya datang.