Pagi itu, udara terasa sangat pengap meskipun matahari belum sepenuhnya naik. Ragendra duduk di tepi kasur dengan mata merah menyala. Ia tidak tidur sedetik pun. Semalaman penuh, ia terjaga dengan tubuh tegang, mendengarkan derit kayu di langit-langit. Langkah itu tidak pernah beranjak pergi. Sosok itu berdiri di sana selama berjam-jam, seolah mengawasinya tidur, sebelum akhirnya menghilang begitu saja saat adzan subuh berkumandang di kejauhan.

Amarah kini mulai menguasai dirinya, menyingkirkan sebagian rasa takut. Ini tidak bisa dibiarkan. Jika ada orang gila atau gelandangan yang entah bagaimana berhasil menyusup ke atapnya, ia harus mengusirnya. Ia tidak mau mati jantungan di dalam rumah kontrakan murahan ini.

Ragendra memakai jaketnya dan keluar ke halaman belakang. Area ini dipenuhi semak belukar setinggi paha dan sebuah toren air berwarna oranye yang sudah tidak berfungsi, ditopang oleh menara besi karatan.

"Pasti ada jalan masuk dari luar," gumamnya dengan rahang mengeras.

Ia mendekati menara air itu, menarik napas panjang, dan mulai memanjat besi penyangganya. Tangannya kotor oleh karat dan lumut kering. Menara itu bergetar hebat setiap kali ia melangkah naik, namun posisinya cukup dekat dengan ujung atap belakang rumah.

Dengan satu lompatan nekat, Ragendra berhasil meraih tepian atap. Tangannya lecet terkena ujung genteng tanah liat yang kasar. Ia menarik tubuhnya naik dengan susah payah, terengah-engah. Kini ia berada di atas atap rumah kontrakannya.

Ia merangkak perlahan, berhati-hati agar tidak menginjak genteng yang lapuk. Matanya menyapu seluruh permukaan atap. Di dekat cerobong ventilasi dapur yang sudah tak terpakai, ia menemukan apa yang ia cari.

Ada beberapa keping genteng kaca transparan dan papan kayu kecil yang menutupi sebuah lubang ventilasi berbentuk persegi. Susunannya terlihat tidak rapi, seolah sering digeser oleh seseorang.

Dada Ragendra bergemuruh. Ini dia jalannya.

Ia beringsut mendekat. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 06:15 pagi. Aturan ketiga berbunyi: Jika terdengar langkah kaki di loteng tengah malam, jangan naik sebelum pagi.

"Ini sudah pagi," desisnya. "Aku nggak melanggar aturan."

Dengan tangan gemetar, Ragendra menggeser papan kayu itu. Bunyi decit kayu yang bergesekan dengan genteng terdengar nyaring. Bau udara dari dalam loteng langsung menyengat hidungnya—bau debu kering, kayu lapuk, dan aroma apak yang sangat kuat, persis seperti bau pakaian yang lama disimpan di lemari lembap.

Ia menyalakan senter dari ponselnya, lalu mengarahkan kepalanya ke dekat celah persegi itu. Kegelapan di dalam loteng menelan cahaya senternya.

Loteng itu pengap dan dipenuhi sarang laba-laba tebal yang menggantung seperti tirai. Balok-balok penyangga atap melintang tak beraturan. Di sana-sini berserakan tumpukan kardus yang hancur dimakan rayap.

Ragendra menggerakkan sorot senternya dari kiri ke kanan. Jantungnya berdebar kencang, bersiap menghadapi kenyataan jika ada orang gila yang tinggal di atas sana.

Senter menyapu sudut kanan. Kosong. Menyapu bagian tengah, tepat di atas ruang tamu. Kosong.

Ia menghela napas, setengah kecewa, setengah lega. Mungkin suara semalam benar-benar hanya tikus wirok raksasa, atau kayu yang memuai karena perubahan suhu ekstrim.

Ia hendak menarik kepalanya keluar ketika sorot senternya menangkap sesuatu di sudut paling belakang loteng, tepat di atas area kamar tidurnya.

Ragendra membeku. Tangannya yang memegang ponsel berhenti bergerak.

Di sudut tergelap itu, di sela-sela dua balok penyangga utama, berdiri sebuah sosok.

Senter ponselnya hanya cukup untuk menyinari bagian pinggang ke atas. Sosok itu mengenakan kemeja putih lusuh yang penuh noda kecokelatan. Tubuhnya kurus kering, nyaris seperti kerangka yang dibalut kulit pucat. Namun, yang membuat napas Ragendra terhenti dan seluruh darahnya serasa ditarik ke tanah adalah postur tubuh entitas tersebut.

Sosok itu berdiri memunggunginya. Namun, kepalanya... kepalanya terpelintir ke belakang dengan sudut yang mustahil secara anatomis. Tulang lehernya tampak patah dan mencuat dari balik kulit.

Wajah itu menatap lurus ke arah celah tempat Ragendra mengintip. Matanya putih susu tanpa pupil, terbelalak lebar, memancarkan kengerian dan kebencian yang purba. Bibirnya terbelah dalam seringai lebar yang tidak wajar, memperlihatkan deretan gigi yang menghitam.

Sosok itu tidak bergerak. Tidak bernapas. Ia hanya berdiri di sana. Menatap Ragendra.

Dunia di sekitar Ragendra terasa berputar. Tenggorokannya terkunci rapat. Ia ingin berteriak, namun suaranya tertahan. Tangannya gemetar tak terkendali hingga ponselnya tergelincir dan membentur pinggiran atap.

Lalu, di tengah kesunyian pagi itu, sosok dengan leher patah itu mengangkat tangan kanannya yang kurus panjang dan pucat. Jari telunjuknya menunjuk tepat ke wajah Ragendra.

Bibir sosok itu tidak bergerak, namun sebuah suara berbisik pelan, bergema langsung di dalam tengkorak kepala Ragendra.

"Kamu... melanggar... aturannya..."