Satu detik yang terasa seperti keabadian. Hawa dingin dari embusan napas di tengkuknya membuat sekujur tubuh Ragendra kaku seperti mayat. Bau tanah basah dan karat darah itu menusuk hidungnya, membuat perutnya bergejolak hebat.
Jangan menoleh.
Dengan sisa-sisa tenaga dan kesadaran yang hampir direnggut oleh teror, Ragendra menekan sakelar itu dengan keras.
Cetek.
Dapur kembali tenggelam dalam kegelapan pekat. Bersamaan dengan padamnya cahaya, hawa dingin yang menempel di lehernya lenyap seketika, ditarik mundur oleh sesuatu yang tak kasat mata. Bau anyir itu memudar, menyisakan aroma debu tua yang biasa.
Ragendra tidak menunggu sedetik pun. Tanpa menoleh ke belakang, ia berlari terbirit-birit menembus lorong gelap, kakinya tersandung kaki meja ruang tamu, namun ia tidak peduli. Ia menerjang pintu kamarnya, membantingnya hingga berdebum keras, dan memutar kuncinya dua kali. Napasnya memburu seperti orang yang baru saja lolos dari kejaran anjing gila. Ia meluncur turun menyandarkan punggungnya di daun pintu, memeluk lututnya dalam kegelapan kamar yang pengap.
Malam itu, ia tidak tidur sama sekali. Matanya terus menatap lekat ke arah pintu, telinganya awas menangkap setiap gesekan angin di luar jendela.
Pagi harinya, Ragendra terbangun dari lamunan panjangnya saat sinar matahari mulai menyengat melalui kaca jendela. Wajahnya pucat, kantung matanya menghitam, dan tangannya masih sedikit gemetar saat ia menyeduh kopi instan di dapur—ruangan yang kini terasa sangat mengancam.
"Nggak masuk akal," gumamnya dengan suara parau. Ia menatap sakelar lampu dapur. "Pasti ada konslet. Dan bau itu... mungkin ada bangkai tikus di balik tembok."
Logikanya mati-matian berusaha merasionalisasi rentetan kejadian tersebut. Ia adalah seorang pria berpendidikan. Hantu, setan, dan kutukan hanyalah dongeng pengantar tidur untuk menakuti anak kecil. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa takut yang perlahan mengakar.
Siang itu, alih-alih mencari kerja, Ragendra memutuskan untuk membongkar misteri rumah ini. Ia mulai mengamati arsitektur bangunan secara detail. Ia mengetuk-ngetuk dinding, mencari ruang tersembunyi. Kosong. Dindingnya padat.
Lalu, pandangannya beralih ke atas. Langit-langit rumah ini terbuat dari anyaman bambu dan triplek tua yang dicat putih kusam. Beberapa bagian tampak melengkung ke bawah karena usia atau rembesan air hujan.
Ragendra berjalan mengelilingi setiap ruangan: ruang tamu, kamar tidur, lorong, dapur, dan kamar mandi. Ia terus menengadah.
Langkahnya terhenti di tengah ruang tamu. Alisnya bertaut. "Tunggu dulu..."
Ia menyadari sesuatu yang sangat ganjil. Sebuah rumah tua dengan atap setinggi ini biasanya memiliki akses menuju loteng—entah berupa kotak kayu kecil di langit-langit atau tangga lipat tersembunyi untuk memperbaiki genteng yang bocor atau instalasi listrik.
Tapi di rumah ini? Tidak ada satu pun. Langit-langitnya tertutup rapat tanpa cela. Tidak ada pintu masuk ke loteng dari dalam rumah.
"Bagaimana cara orang membetulkan kabel di atas sana?" gumam Ragendra, kebingungan.
Penemuan ini entah mengapa membuatnya merasa sedikit lega. Jika tidak ada jalan naik, berarti tidak ada hal fisik yang bisa hidup atau bersembunyi di atas sana. Pemikiran itu memberinya sedikit ketenangan palsu untuk menghadapi malam yang akan datang.
Malam ketiga tiba lebih cepat dari yang ia harapkan.
Hujan gerimis mulai turun sejak isya, menambah kelam suasana di luar. Suara rintik hujan yang menghantam atap genteng terdengar ritmis, menyamarkan kesunyian jalanan. Ragendra meringkuk di atas kasurnya, selimut ditarik sebatas dada. Ia membaca ulang kertas aturan yang sengaja ia bawa ke kamar, matanya terpaku pada poin ketiga.
3. Jika terdengar langkah kaki di loteng tengah malam, jangan naik sebelum pagi.
"Nggak mungkin ada langkah kaki," bisiknya pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Nggak ada akses ke atas. Kucing garong pun nggak bisa masuk ke dalam sana."
Waktu merayap lambat. Jarum jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul 23:45. Gerimis di luar mulai mereda, menyisakan suara tetesan air dari talang yang jatuh ke genangan di halaman.
00:00. Tepat tengah malam.
Ragendra menahan napas. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh pendengarannya. Sepuluh menit berlalu. Tidak terjadi apa-apa. Ia menghela napas panjang dan tersenyum sinis.
"Hanya kertas bodoh," rutuknya. Ia mematikan lampu meja di samping ranjang, berniat untuk akhirnya tidur.
Namun, tepat saat matanya terpejam...
DUG.
Suara itu berat dan tumpul. Berasal tepat dari atas langit-langit ruang tamunya.
Mata Ragendra seketika terbuka lebar. Ia membeku.
DUG. DUG.
Itu bukan suara tikus. Bukan pula suara musang atau kucing yang melompat di genteng. Suara itu berasal dari dalam loteng. Di balik triplek usang itu. Terdengar seperti langkah kaki telanjang dari seseorang yang bertubuh sangat besar dan berat, menapak perlahan di atas balok-balok kayu penyangga atap.
Dug... Dug... Dug...
Langkah itu memiliki ritme. Pelan. Pasti. Seseorang sedang berjalan mondar-mandir di atas sana.
Keringat dingin seketika membasahi dahi Ragendra. Ia menelan ludah, tidak berani bergerak satu inci pun. Debu-debu halus jatuh berjatuhan dari sela-sela anyaman bambu di langit-langit setiap kali langkah berat itu menghentak, mengenai wajahnya.
Arah langkah itu mulai berubah. Dari ruang tamu, suara itu bergerak menuju lorong.
Dug... Dug...
Lalu, langkah itu berbelok. Mengarah tepat ke kamarnya.
Jantung Ragendra berdegup sangat kencang hingga ia merasa dadanya akan meledak. Ia meremas ujung selimutnya kuat-kuat. Ia bisa mengikuti pergerakan entitas itu hanya dari suaranya. Langkah itu memasuki area langit-langit di atas kamarnya.
Dug... Dug... Dug...
Langkah itu berjalan menyusuri pinggiran kamar dari atas, perlahan bergerak ke arah tengah. Ke arah ranjangnya.
Dan kemudian... langkah itu berhenti.
Tepat. Di atas. Kepalanya.
Keheningan yang menyusul jauh lebih mengerikan daripada suara langkah itu sendiri. Ragendra menatap ngeri ke arah langit-langit yang melengkung hanya dua meter di atas wajahnya. Triplek itu tampak sedikit tertekan ke bawah, seolah menahan beban yang sangat berat dari atas. Terdengar bunyi derit pelan dari kayu penyangga yang merintih menahan bobot tersebut.
Ia tahu, ada sesuatu yang berdiri tepat di atas kepalanya. Sesuatu yang kini sedang menunduk, menatapnya menembus kegelapan dan penghalang kayu rapuh itu.
Ragendra menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan isak tangis ketakutan yang mendesak keluar, berdoa agar triplek itu tidak jebol.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar