Udara siang itu terasa seperti napas naga—panas, pengap, dan mencekik. Ragendra Pradipa duduk di sebuah warung kopi pinggir jalan, menatap kosong pada selembar kertas struk ATM yang ujungnya sudah lecek karena terlalu sering dilipat. Saldo terakhirnya menunjukkan angka yang membuat ulu hatinya nyeri: Rp 850.000.
Dua minggu yang lalu, ia adalah seorang staf desain grafis di sebuah agensi periklanan dengan gaji yang cukup untuk hidup nyaman di tengah kota. Hari ini, ia adalah pengangguran yang baru saja diusir dari apartemen studionya karena menunggak sewa selama dua bulan berturut-turut. Pemutusan Hubungan Kerja itu datang tanpa peringatan, menebas rencananya, tabungannya, dan kini, tempat tinggalnya.
Ragendra menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang terasa kasar oleh debu dan keringat. Ia meraih ponselnya yang layarnya retak di ujung kiri, menggulir layar mencari grup Facebook berisi informasi indekos dan rumah kontrakan murah. Jarinya berhenti pada sebuah unggahan tanpa foto, hanya teks singkat yang terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan:
Disewakan: Paviliun tua, fasilitas cukup. Rp 500.000/bulan. Jalan Kamboja Gang IV, No. 13. Hubungi Pak Tirtanata di lokasi.
Lima ratus ribu? Di tengah kota dengan harga tanah yang mencekik ini? Ragendra mengerutkan kening. Harga standar untuk sebuah kamar kos sempit dengan sirkulasi udara buruk saja sudah menyentuh angka satu setengah juta. Ini sebuah paviliun. Pasti ada yang salah. Mungkin atapnya bocor semua, atau lokasinya berada tepat di pinggir rel kereta api.
Tapi dengan sisa uang kurang dari satu juta, ia tidak memiliki kemewahan untuk memilih.
Tiga puluh menit kemudian, Ragendra sudah berdiri di depan mulut Gang IV. Gang itu sempit, hanya muat dilewati satu motor, diapit oleh tembok-tembok tinggi berlumut dari rumah-rumah besar yang membelakanginya. Anehnya, begitu ia melangkah masuk, hiruk-pikuk suara klakson jalan raya seolah tertelan dinding gang. Udara di dalam sini terasa lebih dingin, lembap, dan sepi. Sangat sepi.
Ia berjalan menyusuri jalan paving yang beberapa bagiannya sudah hancur, mencari nomor 13. Di ujung gang buntu, rumah itu berdiri.
Sebuah bangunan satu lantai bergaya arsitektur 80-an dengan cat hijau pudar yang mulai mengelupas di sana-sini. Halamannya ditumbuhi rumput liar yang setinggi betis, dan ada sebuah pohon mangga besar yang ranting-rantingnya menaungi hampir seluruh atap rumah, membuat bagian depannya selalu berada dalam bayang-bayang meskipun matahari sedang terik di luar sana.
Seorang pria tua duduk di kursi rotan di teras rumah. Ia mengenakan kemeja batik pudar dan celana bahan yang kedodoran. Wajahnya dipenuhi keriput yang dalam, seolah hidup telah memahat terlalu banyak kepahitan di sana. Ia sedang mengisap rokok kretek, matanya yang berkabut menatap lurus ke arah Ragendra bahkan sebelum pemuda itu sampai di pagar.
"Pak Tirtanata?" sapa Ragendra ragu, membuka gembok pagar yang tidak terkunci.
Pria tua itu tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Asap rokok mengepul dari bibirnya yang kehitaman.
"Saya... saya baca iklan di Facebook. Soal kontrakan ini. Katanya lima ratus ribu sebulan? Benar, Pak?"
Pak Tirtanata berdiri perlahan. Terdengar bunyi gemeretak dari sendi-sendinya. Ia berjalan menghampiri Ragendra, membawa aroma kuat minyak kayu putih yang bercampur dengan bau kertas lapuk.
"Kau mau menyewa?" suaranya serak, rendah, dan bergetar, terdengar seperti gesekan antara dua batu kasar.
"Kalau memang harganya lima ratus ribu, iya, Pak. Uang saya pas-pasan. Apa ada syarat lain? Uang jaminan?"
"Tidak ada jaminan," jawab pria tua itu singkat. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci kuningan berbantuk panjang, jenis kunci kuno yang sudah jarang dipakai. "Lima ratus ribu. Kau bayar sekarang, kunci ini milikmu."
Ragendra terdiam. Ini terlalu mudah. "Boleh saya lihat ke dalam dulu, Pak?"
Tirtanata mengangkat bahu tipisnya, lalu menyerahkan kunci itu ke tangan Ragendra. Saat jari mereka bersentuhan, Ragendra bisa merasakan betapa dinginnya kulit pria tua itu. Sangat dingin untuk ukuran siang hari yang panas ini.
"Lihat saja sendiri. Aku tunggu di sini."
Ragendra memasukkan kunci ke lubang pintu kayu jati yang berat. Terdengar bunyi klik yang keras, disusul derit engsel berkarat saat pintu didorong terbuka.
Udara di dalam rumah terasa berat dan pengap, berbau seperti kayu tua dan debu yang sudah lama tidak tersentuh. Namun, untuk harga lima ratus ribu, tempat ini luar biasa besar. Ada sebuah ruang tamu dengan sofa reyot berdudukan kain cokelat, sebuah televisi tabung, lorong pendek menuju satu kamar tidur luas dengan kasur kapuk, sebuah dapur kecil di bagian belakang, dan kamar mandi. Semuanya kotor dan berdebu, tapi tidak ada yang rusak parah. Atapnya tampak utuh. Tidak ada tanda-tanda kebanjiran.
Ini jackpot, pikir Ragendra, hatinya melonjak lega. Ia bisa membersihkan tempat ini dalam setengah hari.
Ia kembali ke depan, menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan dari dompetnya kepada Tirtanata. Pria tua itu menerimanya tanpa menghitung ulang, melipatnya, dan memasukkannya ke saku kemeja.
"Terima kasih, Pak. Kalau boleh tahu, kenapa murah sekali? Apa airnya sering mati?" tanya Ragendra, berusaha bersikap santai.
Tirtanata tidak tersenyum. Ia menatap Ragendra dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan peringatan yang sunyi.
"Airnya lancar," kata Tirtanata pelan. Pria tua itu mulai melangkah pergi, namun ia berhenti di ambang pagar, menoleh sedikit tanpa memutar tubuhnya sepenuhnya. "Kalau kamu ingin tetap tinggal... dan tetap hidup... patuhi aturan yang ada di meja ruang tamu. Jangan mencoba melanggarnya, anak muda. Jangan pernah."
Sebelum Ragendra sempat bertanya maksud perkataan ganjil itu, Tirtanata sudah berjalan menyusuri gang dengan langkah pelan namun anehnya sangat cepat menghilang dari pandangan.
Ragendra berdiri sendirian di teras. Ia menggaruk belakang kepalanya. "Orang tua yang aneh," gumamnya pelan.
Ia masuk kembali ke dalam, menutup pintu, dan meletakkan ransel besarnya di lantai. Ruang tamu itu remang-remang karena cahaya matahari terhalang pohon mangga di depan. Matanya langsung tertuju pada meja kayu persegi di tengah ruangan.
Di atasnya, di bawah lapisan debu tipis, terdapat selembar kertas HVS yang sudah menguning dan lecek di bagian ujung-ujungnya. Seseorang tampaknya telah melaminasi kertas itu dengan kasar menggunakan lakban bening agar tidak mudah robek.
Ragendra mendekat, mengambil kertas itu. Tulisan di atasnya diketik menggunakan mesin tik tua, terlihat dari huruf 'a' dan 'e' yang tintanya lebih tebal dari huruf lainnya.
Di bagian paling atas, terdapat sebuah judul yang digarisbawahi: SEMBILAN ATURAN UNTUK TETAP HIDUP
Ragendra mendengus pelan, seulas senyum geli muncul di bibirnya. Aturan indekos macam apa ini? pikirnya. Ia mulai membaca bait demi bait.
- Jangan pernah membuka pintu setelah pukul 00:47.
- Jika lampu dapur menyala sendiri, matikan tanpa menoleh ke belakang.
- Jika terdengar langkah kaki di loteng tengah malam, jangan naik sebelum pagi.
- Jika seseorang mengetuk jendela tiga kali, tutup mata selama satu menit.
- Jangan pernah menyebut nama penghuni sebelumnya dengan suara keras.
- Jika mencium bau tanah basah di kamar mandi, segera keluar dari rumah selama lima menit.
- Jika melihat seseorang berdiri di dapur tengah malam, abaikan dia.
- Jika bayangan di cermin bergerak sendiri, jangan menatapnya lebih dari lima detik.
- Jika aturan ke delapan dilanggar, segera keluar rumah dan jangan pernah kembali.
Ragendra tertawa kecil. Tawanya menggema di dinding rumah yang sepi, terdengar hampa. "Serius? Ini buat nakut-nakutin biar aku nggak bawa cewek nginep, atau gimana?"
Ia melempar kertas itu kembali ke atas meja, tidak mau mengambil pusing. Hari sudah beranjak sore, dan ia harus membersihkan kamar sebelum malam tiba. Ia menghabiskan lima jam berikutnya menyapu debu tebal, mengepel lantai dua kali, dan menata sedikit pakaian serta laptopnya. Rasa lelah yang mendera tubuhnya berhasil menutupi keganjilan yang sempat ia rasakan.
Malam akhirnya turun menyelimuti Kota. Di dalam kontrakan, suasana berubah drastis. Lampu neon di ruang tamu tidak terlalu terang, memendarkan cahaya putih pucat yang membuat sudut-sudut ruangan tampak lebih gelap. Keheningan di rumah ini sangat absolut. Bahkan suara jangkrik di luar pun terdengar teredam.
Ragendra merebus mi instan di dapur—menyadari bahwa tidak ada satu pun cicak atau serangga yang terlihat di rumah ini. Usai makan, ia duduk di sofa ruang tamu, menyalakan laptop untuk melanjutkan mencari lowongan pekerjaan paruh waktu.
Waktu berlalu tanpa terasa. Kelelahan mulai merayapi matanya. Sesekali ia menguap, melirik jam di sudut kanan bawah layar laptopnya.
23:15. 23:40. 00:10.
Ragendra meregangkan otot lehernya. Ia memutuskan untuk tidur. Ia menutup laptopnya, merapikan bantal di sofa—karena ia terlalu malas pindah ke kamar yang udaranya masih terasa sedikit pengap. Sebelum mematikan lampu ruang tamu, matanya tanpa sengaja melirik kertas aturan di atas meja.
Pikirannya secara otomatis memutar kembali poin pertama. Jangan pernah membuka pintu setelah pukul 00:47.
Entah kenapa, sebuah rasa dingin tiba-tiba menjalar di tengkuknya. Ia melirik jam dinding bundar yang menempel di atas televisi. Jarum detiknya berdetak nyaring menembus keheningan. Tek. Tek. Tek.
Jarum pendek berada di angka 12. Jarum panjang melewati angka 9.
Pukul 00:45.
Ragendra menelan ludah. "Bodoh," bisiknya pada diri sendiri, mengusap wajahnya kasar. "Kamu ini lulusan universitas, masa takut sama kertas lelucon bapak kos."
Ia bangkit, berjalan menuju sakelar, dan mematikan lampu utama. Ruang tamu kini hanya diterangi oleh cahaya lampu jalanan yang masuk menembus celah ventilasi di atas pintu depan. Ragendra membaringkan tubuhnya di sofa, menarik sarung tipis untuk menutupi tubuh. Ia memejamkan mata, memaksakan diri untuk terlelap.
Tek. Tek. Tek. Jam dinding terus berdetak.
Ragendra membuka matanya sedikit, melirik jam dalam keremangan. 00:46.
Ia menutup matanya lagi. Berusaha mengatur napasnya agar lebih tenang. Malam yang hening membuat pendengarannya menjadi lebih tajam. Ia bisa mendengar suara darahnya sendiri yang memompa di telinga.
Jarum panjang di dinding akhirnya bergerak. 00:47.
Ragendra menahan napas tanpa sadar. Satu detik berlalu. Lima detik. Sepuluh detik. Tidak ada apa-apa. Hanya keheningan.
Ia mengembuskan napas panjang, tersenyum mengejek kebodohannya sendiri. "Tuh kan. Nggak ada apa-a—"
TOK. TOK. TOK.
Suara itu meledak di tengah kesunyian. Tiga ketukan keras dan solid di pintu kayu jati depan rumah.
Mata Ragendra membelalak lebar. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama satu detik penuh sebelum kemudian memompa darah dengan kecepatan brutal. Tubuhnya kaku di atas sofa.
Tepat malam itu... seseorang mengetuk pintunya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar