Sinar matahari pagi menusuk mata Ragendra melalui celah gorden kamar yang berdebu. Ia terbangun dengan napas tersengal, tubuhnya berkeringat dingin meskipun suhu udara pagi itu cukup sejuk. Selimutnya berantakan di lantai.

Ia duduk di tepi ranjang, memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Kepalanya pusing akibat kurang tidur dan ketegangan semalam. Perlahan, ingatan tentang ketukan dan suara Ibunya kembali membanjiri otaknya.

Ragendra buru-buru berdiri, berjalan keluar kamar menuju ruang tamu. Semuanya tampak normal. Tidak ada yang berubah. Pintu depan masih tertutup dan terkunci rapat. Ia mengintip dari kaca es; cahaya matahari menerangi teras dengan sempurna. Pagi yang biasa. Suara knalpot motor penjual sayur terdengar sayup-sayup dari luar gang.

Ia membuka kunci dan membuka pintu lebar-lebar. Udara segar mengalir masuk, mengusir bau pengap di dalam ruangan. Ia melangkah ke teras, menunduk melihat lantai di depan pintu. Bersih. Tidak ada jejak kaki, tidak ada goresan, tidak ada apa pun yang menunjukkan bahwa semalam ada "seseorang" atau "sesuatu" yang berlutut di sana.

"Halusinasi," gumam Ragendra, mengusap wajahnya kasar. "Gila. Aku beneran bisa gila karena stres nganggur."

Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa kejadian semalam adalah manifestasi dari kelelahannya, tekanan finansial yang berat, dan kesedihannya yang belum tuntas akan almarhumah Ibunya. Kertas aturan aneh dari Pak Tirtanata memberikan sugesti yang meracuni pikiran bawah sadarnya. Ya, itu penjelasan paling logis. Otaknya bermain trik saat ia sedang dalam kondisi paling rentan.

Untuk menepis sisa-sisa rasa takutnya, Ragendra memutuskan untuk menghabiskan hari itu di luar. Setelah mandi seadanya, ia berjalan ke jalan raya, mencari sarapan nasi bungkus murah dan menumpang WiFi di sebuah minimarket untuk mengirimkan puluhan lamaran kerja via email.

Ia sengaja pulang larut sore. Saat berjalan menyusuri Gang IV, ia bertemu dengan seorang ibu paruh baya yang sedang menyapu di depan rumahnya yang berjarak tiga rumah dari kontrakannya.

"Baru pindah ya, Mas?" sapa ibu itu ramah.

"Eh, iya, Bu. Baru kemarin," balas Ragendra sambil tersenyum sopan.

"Nempati rumah nomor tiga belas, ya? Paviliunnya Pak Tirta?" tanya ibu itu lagi. Namun kali ini, senyumnya sedikit memudar. Gerakan sapunya terhenti.

"Iya, Bu. Beruntung banget saya dapet harga murah di sana."

Ibu itu menatap Ragendra dari atas ke bawah, seolah menilai sesuatu. Ada kilat keraguan di matanya. "Ya... sing betah-betah ya, Mas. Kalau malam, mending di dalam kamar saja. Banyak doa."

Sebelum Ragendra sempat bertanya apa maksud dari peringatan halus itu, ibu tersebut sudah membalikkan badan dan bergegas masuk ke dalam rumahnya, menutup pintu dengan bunyi bantingan yang tertahan.

Ragendra menatap rumah tertutup itu dengan kening berkerut. Firasat buruk kembali merayap, tapi ia segera menepisnya. Orang-orang pinggiran kota memang kadang terlalu percaya pada mitos urban. Ia meneruskan langkahnya pulang.

Malam kedua di rumah itu dimulai. Ragendra bertekad untuk tidak mengulangi ketakutan semalam. Ia menyalakan televisi tabung di ruang tamu, membiarkan volume acara sinetron lumayan keras agar rumah tidak terasa terlalu sepi. Ia juga membawa laptopnya ke kamar, berniat tidur lebih awal sebelum jam bergeser melewati tengah malam.

Pukul 22:30, Ragendra sudah berbaring di kasurnya. Ia tidak bisa tidur. Tenggorokannya terasa sangat kering. Ia teringat belum meminum setetes air pun sejak makan malam tadi, dan ia mematikan televisi satu jam yang lalu.

Ia bangkit dari kasur. Suasana rumah kembali hening dan gelap. Ia meraba dinding, berjalan keluar kamar menuju lorong pendek yang mengarah ke dapur di bagian belakang rumah. Dapur itu kecil, berbatasan langsung dengan pintu kamar mandi dan memiliki satu wastafel tua yang kerannya meneteskan air setiap beberapa detik. Tes... Tes... Tes...

Dapur gelap gulita. Ragendra mengulurkan tangannya ke dinding sebelah kanan, mencari sakelar lampu.

Cetek.

Lampu neon di langit-langit berkedip dua kali sebelum menyala. Cahayanya bukan putih terang, melainkan kekuningan yang redup dan tidak stabil. Suasananya suram, tapi cukup terang bagi Ragendra untuk mengambil gelas dari rak piring dan menuangkan air dari botol plastiknya.

Ia meneguk air itu perlahan. Dinginnya air membasahi kerongkongannya yang kering. Ia menghela napas lega, memunggungi ruangan dapur dan bersandar sebentar pada tepi meja wastafel, menatap ke arah kegelapan ruang tamu di depannya.

Tiba-tiba, lampu dapur berkedip aneh. Lalu, mati.

Dapur tenggelam dalam kegelapan total. Ragendra membeku. Gelas plastik di tangannya nyaris terjatuh. Ia yakin ia tidak menyentuh sakelar sama sekali.

Satu detik. Dua detik. Lampu itu tiba-tiba menyala sendiri.

Cetek. Bukan sekadar menyala. Terdengar bunyi fisik sakelar yang ditekan dari dinding di belakangnya.

Mata Ragendra membelalak menatap lurus ke depan, ke arah lorong ruang tamu. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Pikirannya berlari secepat kilat, menggali memori tentang kertas lusuh di atas meja ruang tamu.

Aturan Nomor 2: Jika lampu dapur menyala sendiri, matikan tanpa menoleh ke belakang.

Tubuh Ragendra mulai gemetar halus. Logikanya kembali berusaha melawan. Ini cuma korsleting. Kabelnya sudah tua. Jangan paranoid.

Tapi suara cetek sakelar tadi terlalu nyata.

"Matikan," bisiknya pada diri sendiri dengan bibir bergetar. "Cukup matikan."

Ia berdiri kaku, menghadap ke arah ruang tamu. Sakelar itu berada sekitar satu meter di sebelah kiri tubuhnya, agak ke belakang di dekat pintu masuk dapur. Untuk mematikannya, ia harus memundurkan tubuhnya, meraba dinding tanpa boleh menoleh sama sekali ke area di dalam dapur.

Ragendra mulai melangkah mundur perlahan. Satu langkah. Dua langkah. Sepatunya berdecit pelan di atas lantai ubin yang dingin. Matanya terus menatap lurus ke kegelapan lorong di depannya.

Tangan kirinya meraba dinding dengan panik. Permukaan tembok itu terasa lembap dan berdebu. Jari-jarinya menelusuri permukaan tembok, mencari kotak plastik sakelar.

Di mana? pikirnya panik.

Sementara tangannya terus meraba, pendengarannya menangkap sesuatu. Sesuatu dari arah belakangnya, dari tengah-tengah ruang dapur yang terang oleh cahaya kuning redup.

Suara gesekan. Seperti kain kasar yang diseret perlahan di atas ubin. Srrk... Srrk...

Air mata ketakutan mulai menggenang di mata Ragendra. Tubuhnya menegang maksimal. Ia menolak keras untuk menoleh. Ia terus meraba dinding. Jari telunjuknya akhirnya menyentuh pinggiran kotak sakelar.

Ia bernapas lega. Ia menempatkan jarinya di atas tombol.

Tapi sebelum ia menekannya, suhu di sekitarnya mendadak turun drastis. Sebuah udara beku, lebih dingin dari es, merayap menyentuh bagian belakang lehernya. Bulu kuduknya berdiri tegang hingga terasa menyakitkan.

Ia berhenti bernapas. Jari telunjuknya kaku di atas sakelar.

Di saat itulah, tepat di belakang telinga kirinya, ia mendengar suara itu. Sebuah tarikan napas panjang, basah, dan berderak, diikuti oleh embusan napas yang lambat dan berat yang langsung mengenai kulit lehernya.

Bulu matanya bergetar hebat. Seseorang—atau sesuatu—berdiri tepat di belakangnya. Begitu dekat hingga Ragendra bisa mencium bau tanah basah bercampur tembaga darah yang menguar dari embusan napas tersebut.

Ia hanya perlu menekan sakelar itu. Tapi tubuhnya benar-benar lumpuh oleh teror yang absolut.