Dingin. Itu hal pertama yang menyengat kulit Arga ketika kesadarannya perlahan ditarik paksa dari alam mimpi.
Bukan dingin sejuk dari pendingin ruangan yang memang selalu ia atur di suhu dua puluh empat derajat setiap malam. Ini berbeda. Ini jenis dingin yang ganjil, merayap masuk melalui celah-celah selimut tebal, menusuk pori-pori, dan membuat bulu kuduk di tengkuknya meremang tanpa alasan yang jelas. Udara di dalam kamar tidur utama itu mendadak terasa begitu berat dan kaku, seolah oksigen baru saja disedot habis dari ruangan.
Arga mengerjap perlahan. Pandangannya masih kabur, berusaha menyesuaikan diri dengan kegelapan pekat yang hanya sesekali dipecahkan oleh cahaya lampu jalanan dari balik tirai jendela. Tangannya, secara refleks, meraba sisi ranjang di sebelah kanannya.
Kosong.
Seprai di bagian itu terasa datar dan sudah mendingin, menandakan penghuninya sudah cukup lama bangkit dari sana.
"Nad?" suara Arga keluar berupa gumaman serak, memecah kesunyian yang terasa terlalu menekan telinga.
Tidak ada sahutan. Hanya terdengar suara detak jam dinding analog pemberian ibu mertuanya yang entah kenapa malam ini terdengar berkali-kali lipat lebih keras. Tek. Tek. Tek. Iramanya seolah menghantam gendang telinga Arga, seirama dengan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat.
Arga menoleh ke arah nakas di sampingnya. Angka digital berwarna merah menyala dari jam meja kecil miliknya berkedip konstan: 03:00.
"Nadira? Kamu di kamar mandi, Sayang?" tanyanya lagi, kali ini dengan volume suara yang sedikit lebih keras sambil mengangkat kepalanya dari bantal.
Masih hening. Bahkan suara gemercik air atau putaran engsel pintu kamar mandi yang biasanya terdengar jika istrinya terbangun tengah malam, sama sekali tidak ada.
Arga menghela napas panjang, menyingkap selimut tebal yang menutupi separuh tubuhnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadaran. Ia baru saja akan memutar tubuh untuk menurunkan kaki ke lantai berkarpet ketika ekor matanya menangkap sebuah siluet gelap di ujung ruangan.
Napas Arga seketika tertahan di tenggorokan. Paru-parunya seolah menolak bekerja.
Di ujung ranjang, membelakanginya, siluet itu duduk mematung. Nadira. Istrinya itu duduk dengan postur yang sangat kaku, punggungnya tegak lurus dengan cara yang sama sekali tidak wajar bagi seseorang yang sedang bersantai atau mengantuk. Kepalanya menunduk dalam, membuat rambut panjangnya yang hitam pekat tergerai jatuh menutupi seluruh sisi wajahnya.
Ia tidak bergerak sama sekali. Bahkan, dalam keremangan cahaya pucat yang menembus celah tirai, bahu dan dada Nadira nyaris tidak terlihat naik-turun mengambil napas. Ia lebih terlihat seperti sebuah manekin kayu yang sengaja diletakkan di sana daripada seorang manusia yang hidup.
"Astaga, Nad. Bikin jantungan aja," Arga memaksakan tawa kecil. Terdengar hambar dan bergetar di telinganya sendiri. Dadanya bergemuruh tidak karuan. "Kamu ngapain duduk gelap-gelapan di situ? Nggak bisa tidur? Perut kamu kram lagi?"
Hening. Nadira tidak bergeming sedikit pun. Ujung piyama sutra putihnya bahkan tidak bergoyang.
"Sayang?" panggil Arga lagi. Kali ini nada suaranya berubah menjadi khawatir, namun juga diwarnai keraguan yang dalam.
Ada yang salah. Perasaan tidak nyaman mulai merayap naik dari perutnya, melilit dadanya erat-erat, mengirimkan sinyal bahaya ke otak purbanya. Nadira adalah tipe orang yang sangat mudah terkejut. Jangankan dipanggil dengan suara keras, mendengar suara gesekan selimut saja biasanya wanita itu akan langsung menoleh.
"Nadira, kamu sakit? Kamu butuh air hangat? Biar aku ambilin ke bawah."
Arga menelan ludah yang terasa kering bagai pasir gersang. Tenggorokannya sakit saat ia menelan. Perlahan, ia menggeser tubuhnya mendekat. Lututnya menekan kasur empuk itu, merangkak pelan demi pelan ke arah ujung ranjang tempat istrinya membatu. Kasur berderit pelan di bawah beban tubuhnya, tapi sosok di depannya tetap tidak memberikan respons.
"Sayang, jawab aku dong. Kamu kenapa? Jangan diam aja, aku beneran jadi takut nih kalau kamu begini," bisik Arga. Jarak mereka kini hanya terpaut kurang dari satu meter. Bau harum sampo stroberi yang biasa dipakai Nadira tercium samar, namun entah mengapa malam ini aroma itu bercampur dengan bau apak yang asing—seperti bau tanah basah setelah hujan bercampur logam berkarat.
Arga mengulurkan tangan kanannya yang mulai berkeringat dingin, berniat menyentuh bahu Nadira yang terbalut piyama tipis.
"Nad..."
Namun, tepat sebelum ujung jari telunjuknya bersentuhan dengan kain sutra itu, kepala Nadira bergerak.
Sangat pelan. Patah-patah. Seolah-olah tulang-tulang di lehernya sudah lama berkarat dan dipaksa berputar. Terdengar bunyi gemeretak halus, seperti tulang rawan yang saling bergesekan dengan kasar.
Tangan Arga membeku di udara. Jantungnya memompa darah begitu cepat hingga telinganya berdenging nyaring.
Nadira menolehkan kepalanya ke arah bahu kiri, perlahan memutar wajahnya ke arah Arga. Tapi wajahnya masih tertunduk. Kemudian, dengan gerakan menyentak yang aneh, wajah itu terangkat sepenuhnya.
Cahaya rembulan dari luar jendela menerpa sebagian wajahnya secara diagonal.
Arga mundur satu sentimeter secara refleks. Matanya terbuka lebar, napasnya tersengal.
Mata Nadira terbuka lebar—terlalu lebar, hingga bagian putih matanya mendominasi. Kelopak matanya sama sekali tidak berkedip. Ia menatap lurus menembus manik mata Arga dengan pandangan yang kosong, mati, dan sama sekali tidak bernyawa. Tidak ada kehangatan yang biasa memancar dari mata cokelat terang itu. Tidak ada sorot cinta, tidak ada rasa kantuk. Hanya kekosongan absolut yang mengisap semua cahaya di ruangan itu.
"Nad... kamu kenapa? Kamu tidur sambil jalan?" suara Arga nyaris hanya berupa embusan angin yang gemetar. Ia mencoba mencari rasionalitas di tengah kepanikannya. "Ini aku, Nad. Arga. Suami kamu."
Bibir Nadira yang terlihat sangat pucat dan kering di bawah cahaya rembulan itu perlahan terbuka. Rahangnya turun dengan kaku. Suara yang keluar dari tenggorokan itu membuat darah di seluruh tubuh Arga seakan membeku dan berhenti mengalir saat itu juga.
Itu memang pita suara istrinya, tapi nadanya... sangat datar. Tanpa intonasi. Tanpa emosi. Menggema tipis dan serak di ruangan yang mematikan itu.
"Kamu bukan yang pertama."
Arga tersentak mundur hingga punggungnya berbenturan keras dengan kepala ranjang dari kayu jati. Napasnya memburu cepat. Matanya membelalak ngeri melihat istrinya.
"Hah? Apa? Maksud kamu apa, Nad? Pertama apa?" tanya Arga dengan suara tinggi, kepanikan kini mengambil alih rasionalitasnya. "Kamu ngigau? Bangun, Nadira! Bangun!"
Mata kosong dan melotot itu terus menatapnya tanpa terganggu sedikit pun oleh teriakan Arga. Perlahan, sudut-sudut bibir Nadira mulai berkedut. Ujung-ujungnya tertarik ke atas, melawan gravitasi. Terus tertarik hingga melampaui batas kewajaran otot wajah manusia, membentuk sebuah senyuman yang sangat lebar dan asimetris.
Tapi itu bukan senyum.
Itu seringai. Seringai gila, asing, dan mengerikan yang menampilkan deretan giginya dalam keremangan. Seringai yang belum pernah, dan tidak akan pernah, Arga lihat di wajah perempuan lembut yang ia nikahi tiga tahun lalu. Seringai itu menatapnya dengan penuh kemenangan yang bengis.
Tubuh Arga gemetar hebat. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari senyum itu, dan tepat ketika jam dinding berdetak sekali lagi, kesadarannya serasa ditarik paksa ke dalam kegelapan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar